Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 230 : Suku Niao


__ADS_3

"Lihat! Bukankah itu daratan?"


Xiao Nie yang sedang bersantai di tempat duduk gantung pun segera berdiri mendengar tampak daratan di depan. Dia menggunakan kekuatannya untuk mendorong kabut menghindar agar penampakan daratan yang dimaksud lebih jelas.


Sayang, daratan itu tidak tampak seperti tempat yang dihuni oleh manusia. Berbatu dan hampir setiap permukaannya dilapisi tanah berwarna hitam.


"Ah, sepertinya bukan," sesal Song Yixue.


Xiao Nie menghela nafas pelan. Lalu berkata, "Kita masih beberapa minggu di lautan. Sepertinya memang terlalu dekat jika sudah menemukan Daratan Zhen Yang."


Song Yixue menganggukkan kepala. "Kakek, kau harus kembali beristirahat karena nanti malam sudah harus menggantikan Yu Gege."


"Itu benar. Kakek akan tidur sebentar, jangan lupa bangunkan kakek jika menemukan sesuatu."


Baru juga Xiao Nie berjalan dari tempatnya, sebuah batu besar terlontar dari atas menghantam bagian kapal tepat di sampingnya.


Blam!


Xiao Nie tersentak kaget. Matanya fokus pada batu vulkanis yang hampir menghancurkan lantai kapal angkasa.


"Apa-apaan ini!" batinnya.


Itu sungguh bukan masalah jika kapal ini miliknya. Tetapi kapal ini hanya barang yang dipinjamkan padanya dan tentu saja sewaktu-waktu harus dikembalikan pada pemiliknya.


Xiao Nie mengeluarkan batu vulkanik itu dari kapal. Membuangnya di lautan tapi tak lama kemudian datang batu yang sama dan jumlahnya berkali lipat.


Blam!


Blam!


Awalnya Xiao Nie berpikir batu vulkanik ini hasil dari luapan gunung atau semacamnya. Tapi melihat semua batu ini mengincar titik yang sama, ini jelas bukan suatu yang tak disengaja.


"Kakek, sepertinya kita kedatangan musuh tak diundang."


Xiao Nie menyipitkan mata sambil melirik Zhang Yu yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Kenapa kau di sini? Kau tetaplah di pusat mekanisme. Kakek yang akan mengurus sisanya."


Namun Zhang Yu tidak mau pergi dari sana. "Kakek tenang saja. Aku sudah menyisakan sedikit energi kekuatanku untuk menyetabilkan kapal. Selama tidak ada kekuatan yang terlalu besar, kapal ini akan baik-baik saja."


Xiao Nie ingin membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi kalimatnya hanya berakhir di tenggorokannya saat melihat gerombolan burung besar terbang di langit dan berputar di atas kapal.


Yang menarik perhatian adalah orang-orang berkulit hijau yang mengendalikan burung-burung itu yang terlihat seperti penunggang kuda.


"Apa mereka manusia?" tanya Song Yixue tanpa sadar. Memang aneh melihat penampilan mereka yang seperti itu. Juga, jika diperhatikan tubuh mereka lebih besar dari pada manusia pada umumnya.


Ciat!

__ADS_1


Suara pekikan burung besar berparuh runcing itu ketika melempar batu di kaki mereka. Sontak, puluhan batu vulkanik berukuran tiga kali lipat kepala orang dewasa melesat menghantam lantai kapal.


Blam!


Blam!


Sebagian dihalau oleh Zhang Yu dan juga Xiao Nie. Tapi sebagian lain berhasil menghantam kapal hingga suaranya terdengar begitu nyaring.


Meski lantai kapal sangat kuat, tapi jika terus-menerus digempur batu sebesar itu juga kemungkinan akan rusak. Xiao Nie mengeluarkan pedangnya. Saat belasan manusia burung itu hendak mengambil batu vulkanik, tanpa segan dia menyerang mereka hingga berhasil melukai beberapa sayapnya.


Sayap adalah bagian penting yang dimiliki oleh burung. Begitu sayap terluka mereka langsung oleng dan jatuh ke pulau yang ada di bawah.


Manusia burung yang tersisa tentu sangat marah melihat temannya di serang. Mereka yang berhasil mendapatkan batu vulkanik dari puncak gunung langsung melemparkannya ke arah kapal.


Blash!


Percikan api menyambar seperti kilat. Tidak berhenti di sana, manusia burung menyemburkan semacam cairan dari mulut mereka.


Wush!


Api bertambah besar dan melahap separuh badan kapal.


Zhang Yu bertindak cepat memadamkan api sebelum menjalar ke bagian utama. Setelah berhasil memadamkannya, dia melompat ke tiang kapal paling tinggi kemudian menangkap manusia burung yang terbang di sekitar kapal.


Hap!


"Yu Gege!" Song Yixue berseru dengan khawatir melihat Zhang Yu bergelantungan di kaki burung yang sedang terbang.


Manusia burung lainnya sempat berpikir akan menyerang, tapi akhirnya menahan niat itu karena ada rekan mereka di sana.


"Kami hanya melintas di jalur ini. Kami sama sekali tidak berniat mencari masalah dengan kalian." Zhang Yu berusaha berbicara dengan manusia burung. Namun sikap diam darinya membuat Zhang Yu bertanya-tanya apakah manusia burung mengerti ucapannya.


Ck!


Zhang Yu berdecak. Dia menarik pedangnya lalu menusuk sayap burung besar itu hingga memekik sangat keras.


Kwak...


Cara terbangnya pun berubah tak terkendali. Manusia burung di atas terlihat ketakutan dan berpegangan dengan sangat erat.


Dari sana Zhang Yu mengambil inisiasi dengan mengarahkan burung itu jatuh ke kapal.


Blam!


Suaranya lebih keras dari batu yang dilempar.

__ADS_1


"Zhang Yu, kau baik-baik saja?" tanya Xiao Nie.


"Aku baik-baik saja. Tapi sepertinya dia tidak." Zhang Yu menunjuk manusia berkulit hijau yang terkapar tak sadarkan diri.


"Sepertinya dia sakit," ucap Song Yixue. Ketika dia ingin memeriksa lebih jauh, seruan datang dari satu manusia burung.


"Lepaskan Pangeran!" Satu orang itu mendekat ke kapal lalu melompat dari atas burung tunggangannya.


"Lepaskan Pangeran. Kami akan melakukan apapun asal kalian melepaskan Pangeran."


Zhang Yu cukup terkejut karena sebelumnya berpikir manusia burung tidak mengerti bahasanya. Tapi sekarang manusia burung bahkan bicara padanya.


"Sepertinya ada kesalahpahaman. Kami hanya melintas di wilayah ini. Tidak berniat melakukan suatu yang buruk pada kalian. Kami menyerang hanya untuk bertahan karena kalian menyerang terlebih dahulu."


Pria itu diam beberapa saat, kemiri dia menangkupkan kedua tangan untuk meminta maaf. "Maafkan kami. Kami berpikir kalian pendatang yang berniat buruk pada kami, Suku Niao."


"Karena semua ini hanya kesalahpahaman, kami tidak akan lagi mengganggu perjalanan kalian," tambahnya sebelum merengkuh 'pangeran' yang terkapar.


"Tunggu!"


Orang Suku Niao itu berhenti mendengar suara Song Yixue. Setelah menahan cukup lala Song Yixue memutuskan untuk memberitahunya. "Dia sakit. Kau harus mengobatinya atau nyawanya akan terancam."


"Kami tahu. Pangeran sudah sakit lama, tapi tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakitnya," kata orang Suku Niao itu.


Song Yixue menggigit jarinya kemudian meneteskan beberapa tetes darah ke mulut pangeran Suku Niao.


Secara mengejutkan tubuh pangeran Suku Niao bersinar. Tangannya yang pucat dan keriput langsung kembali seperti semula. Fenomena ini tentu saja mengejutkan pria yang menggendongnya.


"Dewi! Hidup Dewi!" seru pria itu.


Orang-orang Suku Niao yang masih di atas segera turun dan memberi hormat pada Song Yixue.


Tak ayal Song Yixue kebingungan dengan sikap mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Jangan memanggilku seperti itu."


Namun mereka menolak.


"Karena Dewi telah menyelamatkan pangeran, maka Dewi adalah Dewi."


"Turuti saja keinginan mereka agar cepat berakhir. Lagi pula ini bukan hal buruk dan tidak akan merugikan."


Song Yixue menatap Zhang Yu dengan ragu. Perlahan dia menegakkan tubuhnya dan meminta orang-orang Suku Niao bangkit dari sikap hormat mereka.


"Seperti keinginan Dewi, kami Suku Niao benar-benar berterima kasih pada Dewi," ucap mereka kompak sembari berdiri.

__ADS_1


Song Yixue masih diam di tempat karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Sebelumnya dia hanya gadis terlantar yang tidak memiliki siapapun. Kemudian bertemu dengan Zhang Yu dan Xiao Nie, lalu sekarang tiba-tiba menjadi dewi yang sangat dihormati.


Semua ini terasa seperti mimpi.


__ADS_2