Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 52 : Tabir Ilusi (Mayat Hidup)


__ADS_3

Hari sudah malam. Akan tetapi suasana di sekitar panggung naga malah semakin ramai.


Berita seorang murid baru mencapai panggung keempat dan masuk dalam peringkat seratus lima puluh teratas menjadi buah bibir.


Bukan hanya murid pelataran luar, bahkan beberapa murid pelataran dalam pun datang karena penasaran.


Wu Zetian, pagi tadi dia pergi ke menara kultivasi. Akan tetapi karena tidak ada ruangan kosong di lantai satu sampai tiga membuatnya kembali dengan kecewa.


Sore hari dia mencari keberadaan Zhang Yu yang tak terlihat batang hidungnya. Mendengar berita ada seorang murid baru menaiki panggung naga, dia memiliki firasat itu adalah temannya.


Dan benar saja. Itu benar-benar Zhang Yu. Temannya ini sekarang membuat kehebohan dengan pencapaiannya yang sanggup mencapai panggung keempat.


"Sebelumnya aku merasa diriku sudah sangat genius dengan mencapai tingkat ahli bintang lima di usia dua puluh tiga tahun. Tapi sekarang ...."


Zhang Yu ini sangat tidak adil. Dia mengambil semua hal bagus tanpa melewatkannya sedikitpun. Entah dari wajah yang tampan hingga bakat yang mengerikan. Keberadaannya benar-benar membuat iri banyak orang.


Tak jauh dari tempat Wu Zetian, dua pria memandang pilar peringkat dengan wajah yang kusut. Melihat nama Zhang Yu terus mengalami peningkatan, wajah mereka semakin tak bisa dideskripsikan.


"Jiang Fu, dia bukan orang yang mudah. Bagaimana kau akan menghadapinya sekarang?" tanya Yu Tianze.


Jiang Fu tak mengalihkan pandangannya dari pilar peringkat. Tangan mengepal dan terlihat rahangnya juga mengeras.


Siapa yang mengira Zhang Yu ternyata memiliki kemampuan yang tidak dapat diremehkan. Dirinya bahkan baru mencapai panggung ketiga setelah berusaha setengah mati. Tapi Zhang Yu sekarang sudah berada di panggung keempat.


Apa ini hanya keberuntungan?


Sayangnya tidak ada hal semacam itu di panggung naga. Semua tahu, Jiang Fu pun tahu hanya orang-orang yang memiliki cukup kekuatan bisa sampai di panggung keempat.


Itu akan berbeda untuk panggung kelima. Karena yang dibutuhkan untuk mencapai panggung kelima adalah bakat dan tekad. Kultivasi memang berpengaruh, tapi tidak begitu besar karena ujian yang datang akan menyesuaikan.


...


Kembali ke tempat Zhang Yu. Dengan sedikit paksaan dan kenekatan dia akhirnya menginjakkan sebelah kakinya di tangga ke seratus tiga puluh lima.


Di sampingnya ada Guang Zhou yang masih begitu fokus. Melihat dari ekspresi wajahnya sepertinya dia tidak menemukan kesulitan dalam ujian tahap kedua.

__ADS_1


Tiba-tiba matanya terbuka. Ketika menyadari ada orang di sebelahnya, Guang Zhou menyatukan alis dengan kerutan samar di keningnya.


Namun dia tidak mengatakan apapun lalu bertahap melangkahkan kakinya menaiki tangga seratus tiga puluh enam.


Untuk beberapa waktu Zhang Yu hanya memandang punggung Guang Zhou yang kian menjauh. Dia mulai menarik kaki kirinya untuk menapak di tangga seratus tiga puluh lima.


Di waktu yang sama kesadarannya kembali ditarik ke sebuah tempat. Hanya saja kali ini sebuah pusara dengan penampakan yang cukup menyeramkan.


"Aneh sekali. Kenapa aku ada di tempat seperti ini?" Zhang Yu mengedarkan pandangannya dan mencari ujian tahap kedua yang akan dilaluinya.


Akan tetapi selain penampakan tempat yang menyeramkan dengan nisan-nisan berjajar, tidak ada hal lain yang harus diperhatikan.


Zhang Yu tetap bergeming di tempat sampai perhatiannya tertuju pada peti mati besar yang berdiri dalam jarak sepuluh meter dari tempatnya.


Tak berselang lama peti mati tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan mayat seseorang yang hanya tersisa tulang belulang.


Ada sebuah pedang berwarna hitam menggantung di sebelah kiri. Pedang itu kemudian mengeluarkan asap hitam yang cukup banyak hingga peti mati dipenuhi dengan asap.


Lima detik, sepuluh detik ... Asap masih berputar-putar di sekitar peti mati.


"Ini tidak mungkin!"


Dia bahkan berkedip beberapa kali berusaha memastikan penglihatannya baik-baik saja.


Zhang Yu sulit untuk percaya hal ini. Namun sebanyak apapun berkedip, apa yang ada di depan mata tidak pernah berubah. Itu benar-benar dirinya. Tulang belulang yang berceceran di dalam peti mati sekarang berubah menjadi dirinya.


"Ini adalah ilusi. Jadi tidak ada yang mustahil." Sekali lagi kalimat itu membuat Zhang Yu lebih memahami situasinya. Sekarang dia di sini hanya untuk mengalahkannya. Tapi apakah semudah itu?


Saat Zhang Yu masih diam dan berpikir, mayat hidup yang memiliki wajah sama itu mengambil pedang yang menggantung di dalam peti mati.


Tidak hanya menyalin wajah dan tampilan. Mayat hidup itu juga dapat menyalin kekuatan bahkan teknik serangan.


Ekspresi wajah Zhang Yu menjadi lebih serius melihat bayangan cakar berwarna merah dengan kuku tajam yang mengambang di atas kepalanya.


Itu adalah teknik pedang pembunuh milik Klan Zhang!

__ADS_1


Zhang Yu masih berusaha menyingkirkan keterkejutan di wajahnya. Tepat pada saat ini mayat hidup melesatkan serangan itu ke arahnya.


Untuk menghadapi serangan itu Zhang Yu mengeluarkan teknik serupa. Begitu dua serangan yang sama bertemu, ledakan tak dapat dielakkan.


Zhang Yu melebarkan kaki memegang pedang dengan kedua tangan. "Bukan hanya serangan yang sama, tapi juga kekuatan serangan itu pun juga sama."


Setelah diam beberapa saat, mayat hidup memutar pedangnya lalu melesat. Gerakan yang sangat mirip dan cara berlari yang mirip.


Mayat hidup dapat menyalin semua hal tentangnya. Ini benar-benar konyol dan tak masuk akal.


Namun Zhang Yu tidak punya waktu untuk mempermasalahkan hal ini sekarang. Mereka bertarung beradu pedang meski gerakan dan kekuatan benar-benar seimbang. Tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan. Bahkan ketika waktu terus berlalu, belum ada tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


"Ujian macam apa ini?!" keluh Zhang Yu.


Membandingkan ujian tahap kedua dan ujian tahap pertama, boneka kayu jelas lebih kuat dibanding mayat hidup. Akan tetapi menghadapi mayat hidup jauh lebih sulit karena dia seperti dapat menyimpulkan gerakan dan teknik yang akan ia kerahkan


Setiap kali mau menyerang dengan teknik lain, mayat hidup akan menirukannya bahkan menyerang lebih dulu.


Eh!


Tiba-tiba Zhang Yu mengukir seulas senyum di bibirnya. Tidak lagi bicara, dia langsung melompat dengan bayangan tinju melesat dari ujung pedangnya.


Seperti dugaan mayat hidup akan menirukan teknik serangannya. Serangan itu pun berakhir seperti serangan-serangan sebelumnya. Akan tetapi itu sesuai rencana. Setelah dua siluet tinju berwarna emas hancur, Zhang Yu menyerang dengan pedangnya.


Bukan serangan yang teratur. Tapi serangan kacau dan sama sekali tak berirama. Dibanding teknik pedang, itu lebih seperti ayunan ledang asal-asalan.


Namun di sinilah letak keistimewaannya. Karena gerakan yang acak dan tak jelas. Mayat hidup kesulitan untuk menyalin gerakan serangannya. Semakin dia bergerak mayat hidup semakin kewalahan.


Satu goresan mulai tercipta di pinggang mayat hidup. Senyum Zhang Yu kian mengembang, dia tak pernah menyangka gerakan pedang otodidak yang dipelajari waktu tak bisa berkultivasi sekarang akan berguna.


Mungkin ini yang dinamakan tidak ada perjuangan yang sia-sia.


Setelah mempertahankan cara bertarungnya kurang lebih setengah jam, tebasan diagonal dengan dua tangan mengakhiri pertarungan. Tubuh mayat hidup terbelah menjadi dua. Langsung jatuh dan kembali menjadi tulang belulang.


Asap hitam membawanya masuk ke dalam peti dan peti besar itu secara bertahap lenyap tak bersisa.

__ADS_1


Ujian tahap kedua pun selesai. Zhang Yu dinyatakan lolos dan dapat melanjutkan perjuangan menuju panggung kelima. Akan tetapi masalah belum berakhir. Masih ada ujian tahap tiga yang akan menunggunya di anak tangga terakhir.


__ADS_2