
Huh..
"Percuma kalian tahu tentang pagoda naga jika tidak tahu lokasinya. Lebih baik lupakan saja."
Wu Zetian mendengus dan menatap pria berkepala plontos itu sinis. "Kami tidak tahu. Tapi bukankah kau mengetahuinya?"
Kalimat ini langsung mengubah raut wajah pria botak. "Apa maksudmu? Aku tidak akan memberitahu kalian di mana letak pagoda naga."
"Kau tentu saja tidak mau memberitahukannya. Tapi aku punya cara agar kau mau membuka mulut." Wu Zetian kembali ke atas pohon dan memegang tali dengan tangan kanannya.
Tanpa banyak bicara lagi dia menggoyangkannya hingga membuat tubuh pria botak luntang-lantung tak beraturan.
"Hei! Ku- wekkk ...." Pria botak memuntahkan isi perutnya lagi. Namun ini masih terlalu awal untuk membuatnya menyerah. Dia menutup mulut rapat dan memejamkan mata.
Wu Zetian tertawa sangat puas. Tangannya bergerak lebih cepat dan keras.
Zhang Yu dan yang lain cukup menyaksikan bagaimana pria botak diinterogasi. Benar-benar malang melihatnya sangat tersiksa.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Tang Yue pada Zhang Yu.
"Dengan cara seperti ini tidak akan membunuhnya. Cepat atau lambat pasti akan menyerah."
"Aku tidak mengkhawatirkan pria itu. Tapi dahannya. Dahan sekecil itu tapi harus menahan tubuh sebesar anak gajah. Aku benar-benar khawatir dahannya akan patah."
Zhang Yu terdiam. Sedetik kemudian perhatian semua orang tertuju pada pria botak yang baru saja menyerah.
Wu Zetian melepas ikatannya. Tubuhnya langsung jatuh seperti karung beras.
"Keterlaluan. Kalian benar-benar keterlaluan!"
"Banyak omong! Bicara lagi aku akan menggantungmu lagi di atas."
Pria botak langsung ciut mendengarnya. Matanya melirik Zhang Yu sekilas, tapi langsung mengalihkannya karena tak berani.
Jika bukan karena kemunculannya tiga orang ini bukan lawannya. Mereka pasti sudah mati di tangannya. Tapi dia datang dan membuat semua kacau berantakan.
"Siapa namamu?"
Mungkin karena masih kalut dalam pikiran dia tak mendengar pertanyaan yang diajukan Zhang Yu. Wu Zetian segera menendang pinggangnya hingga terdengar suara "Duk".
"Temanku bertanya siapa namamu. Kenapa kau hanya diam? Tidak bisa bicara?"
Pria botak itu seperti akan meledak. Matanya terlihat ganas. Tapi kembali melirik Zhang Yu dan segera menghilangkan kemarahan itu
"Namaku Hong Men."
"Hong? Tiga klan kuno dari Kekaisaran Yang?"
Hong Men tertegun beberapa detik dan menatap Xuan Yin. "Kau tahu klan kuno? Ya, aku Hong Men dari Klan Hong, satu dari tiga klan kuno."
"Kalian sudah tahu bukan aku dari klan kuno? Sebaiknya kita mengakhiri masalah ini sampai di sini. Aku ...."
__ADS_1
"Persetan! Diam kau. Jangan bicara suatu yang tidak ditanyakan!" Wu Zetian menepuk punggungnya membuat Hong Men terbatuk dua kali.
"Zhang Yu, menurutmu apa yang harus kita lakukan terhadapnya?"
Zhang Yu tersadar setelah mendengar suara Wu Zetian. Dia sempat merenung ketika Hong Men memperkenalkan diri dan menyebut klan kuno.
"Namamu Hong Men, benar?"
"Benar." Hong Men menatap dengan ragu dan sedikit rasa khawatir.
"Ikut denganku. Aku ingin bicara berdua denganmu." Setelah itu Zhang Yu membalikkan badan lalu berjalan menjauh.
Hong Men masih diam di tempat. Pada saat ini dia melihat kesempatan untuk kabur. Tapi setelah memikirkan kemungkinan akan ditangkap kembali membuatnya mengikuti alur situasi ini.
Wu Zetian diam di tempat. Tapi ada rasa penasaran yang tergambar nyata di wajahnya. Begitu pula dengan Tang Yue, He Jiao, bahkan Xuan Yin.
"Entah ini hanya perasaanku saja atau memang dia menjadi serius ketika mendengar klan kuno," batin Xuan Yin.
"Wu Zetian, apa kau tahu apa yang ingin dibicarakan Zhang Yu?" tanya He Jiao.
Wu Zetian menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Tidak perlu memikirkannya. Saat dia kembali pasti sudah membawa informasi tentang keberadaan pagoda naga."
He Jiao menatap ke arah Zhang Yu. Memang masih tampak, tapi tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Dari pada hanya diam tanpa melakukan apapun. Lebih baik kita bakar daging dan makan bersama, bagaimana?" Wu Zetian sangat cepat jika membahas tentang makanan. Dia menyusun kayu bakar lalu menyalakan api.
"Dasar babi gendut. Aku yakin di kepalamu hanya ada makanan dan makanan. Benar bukan?"
"Kau selalu saja cerewet. Tidak makan ya sudah. Lagi pula siapa yang mengajakmu? Aku hanya mengajak He Jiao dan Senior Yin. Senior Yin, aku akan membakar daging untukmu."
Wajahnya Tang Yue langsung kesal mendengarnya. Dia merampas daging yang ditawarkan Wu Zetian pada Xuan Yin dan membakarnya di atas api.
"Tiba-tiba aku merasa lapar. Dari pada nanti kelaparan saat dalam perjalanan lebih baik mengisi perut saat ada kesempatan."
Wu Zetian meliriknya sinis. Tapi dia tak mengambil kembali daging itu dan mengeluarkan yang baru.
Sambil memegang ranting yang digunakan untuk membakar daging sesekali mereka akan memperhatikan Zhang Yu yang masih sibuk bicara.
Hal yang sama juga dilakukan Xuan Yin. Dia membakar dua daging. Membalik dengan telaten memastikan tidak ada bagian yang gosong.
Eh...
"Kenapa aku tiba-tiba membakar dua daging?" Dalam kepala seperti ada dua pikiran yang baru bersatu. Xuan Yin menatap dua daging di tangannya dan menatapnya bingung.
"Aku bingung sampai berpikir menyiapkan makanan untuknya. Lebih baik menyimpannya saja." Xuan Yin hendak menyimpan salah satu daging itu, tapi sebuah tangan terlebih dahulu meraihnya.
"Apa ini untukku?"
Ah!
Xuan Yin berdiri saking terkejutnya dengan kemunculan Zhang Yu.
__ADS_1
"Putri ketujuh sangat perhatian. Aku akan memakannya karena putri ketujuh sendiri yang menyiapkannya." Zhang Yu berbisik tepat di telinganya lalu segera duduk dan mematangkan daging setengah matang itu.
Xuan Yin masih berdiri, matanya menatap tajam Zhang Yu. "Pria ini ...."
Shut..
Dia kembali merampas dagingnya. "Siapa yang bilang ini untukmu. Aku sangat lapar dan sengaja menyiapkan dua daging. Jika kau ingin makan maka siapkan sendiri."
Zhang Yu diam menatap dengan bingung. Wu Zetian di depannya mulai bicara setelah menghabiskan daging bakarnya. "Di mana pria itu? Kenapa lau datang sendiri?"
Tang Yue dan He Jiao mengangkat wajahnya. "Apa kau melepaskannya?"
"..."
Beberapa saat sebelumnya.
"Kenapa kau mengajakku ke sini? Aku akan mengatakannya bahkan jika ada di sana." Hong Men menatap Zhang Yu dengan serius.
"Aku tidak bertanya tentang pagoda naga. Ada hal lain yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?"
Zhang Yu sejenak diam, lalu sekilas melirik ke tempat Wu Zetian dan yang lain. "Klan Xiao,"
"Ha? Apa?" Hong Men mendadak tuli. Dia menggosok telinganya dan meminta Zhang Yu memperjelas kalimatnya.
"Sepertinya aku salah dengar. Bisa kau mengulanginya?"
"Klan Xiao."
Dua kali mendengar kalimat yang sama. Hong Men tak berpikir ada yang salah dengan telinganya.
"Kenapa kau membahasnya? Maksudku, kenapa kau bertanya tentang mereka?"
"Ini masalah pribadi. Aku hanya ingin kau menjelaskan di mana Klan Xiao. Di bagian Kekaisaran Yang mana?"
Hong Meng menghembuskan nafas sambil menggelengkan kepala. "Pertanyaanmu ini jauh lebih sulit dari pertanyaan tentang pagoda naga. Aku tidak tahu."
"..."
"Kau punya pilihan untuk tidak mengatakannya. Tapi aku tidak menjamin kau akan keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa."
Nafas Hong Men langsung tercekat. "Kurang ajar! Kau ini sangat keterlaluan. Tidak bisakah kita berdamai? Aku akan mengatakan posisi pagoda naga."
"Kau punya waktu sepuluh detik untuk memikirkannya."
Zhang Yu sudah menggenggam pedangnya. Hong Men gemetar ketakutan.
"Ba-baiklah, aku akan mengatakannya. Tapi kau harus berjanji untuk melepaskanku."
"Kau dapat memegang ucapanku."
__ADS_1