
"Hei, kau tidak mendengar peringatanku? Cepat pergi atau aku akan melemparmu ke sungai!"
Pria berjubah hitam bernama Duan Jian itu tersenyum remeh. Terlebih melihat di hadapannya ini hanya seorang bocah bau kencur. Bahkan jika memiliki keberanian, memangnya dapat dibandingkan dengannya yang memiliki kultivasi tingkat ahli bintang enam?
Sungguh pria bernama Duan Jian ini tidak tahu siapa yang ada di hadapannya. Saat akan kembali berkata untuk menggertak, Zhang Yu mengayunkan tangan dengan keras menampar wajahnya.
Plak!
Suara nyaring itu mengejutkan pasangan setengah baya yang sebelumnya tertindas. Mereka secara kompak mengangkat wajah dan menemukan Duan Jian bersimpuh di lantai sambil memegang pipinya yang membekas jejak tamparan.
"Kurang ajar! Aku akan membunuhmu!" Duan Jian merasa telah dipermalukan. Dia meraung kesetanan lalu melayangkan pukulan membalas penghinaan terhadapnya.
Akan tetapi sebelum kepalan tangan menyentuh wajah, Zhang Yu menahan hanya dengan tangan kirinya.
Bam!
Duan Jian tercengang. Kekuatan pukulan yang sangat ia banggakan, tapi di hadapan bocah bau kencur ini sama sekali tidak berarti. Bagaimana mungkin?!
"Paman, Bibi, kalian bisa pergi. Serahkan sampah masyarakat ini kepadaku." Zhang Yu bicara pada pasangan setengah baya itu dengan pengertian. Mereka berterima kasih lalu dengan segera berpindah ke bagian belakang.
"Sekarang giliranmu."
Terdengar santai. Tapi tubuh Duan Jian menegang mendengarnya. Punggung berkeringat dan wajah menjadi pucat.
"Lawan yang salah! Bocah ini ternyata tidak lemah!"
Pada waktu itu Duan Jian menyadari telah salah memilih lawan. Dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Zhang Yu kemudian berniat menghindar.
Namun bagaimana mungkin dia mundur dengan begitu mudah? Semua harus dipertanggung jawabkan.
Zhang Yu tak lantas melepaskan tangan Duan Jian. Dia maju, menekuk dan memelintirnya hingga satu jeritan keluar dari mulutnya.
"Lepaskan lepaskan. Ini sakit ...." Duan Jian mulai memohon. Seolah lupa bagaimana pasangan setengah baya itu sebelumnya memohon tapi dia tetap mengabaikannya.
Orang seperti ini tidak layak mendapat belas kasihan.
Zhang Yu menarik tangan Duan Jian ke tepi pembatas. Duan Jian yang memiliki firasat buruk lalu berpegangan pada tiang di sampingnya. Dia bertanya dengan ketakutan.
"A-apa yang ingin kau lakukan?!"
Huh...
__ADS_1
"Bukankah kau sebelumnya ingin membuangku ke sungai?"
Glek!
Duan Jian memegang tiang semakin erat. "Tidak. Jangan! Aku mohon padamu, kita bisa jadi teman. Bagaimana?"
Pria ini bisa melakukan apa saja demi tujuannya. Tidak ada kata teman! Tidak perlu pertimbangan!
Detik berikutnya Zhang Yu menarik tangan Duan Jian yang berpegangan pada tiang. Duan Jian memberontak, tapi dia tidak bisa menahan ketika Zhang Yu menendang tubuhnya.
Byur!
Ombak besar tercipta di samping kapal. Beberapa orang yang ada di belakang spontan berlari ke samping kanan melihat apa yang baru saja jatuh.
Pasangan setengah baya tertawa begitu puas. "Rasakan! Dia pantas mendapatkannya!"
Duan Jian melambai-lambai meminta pertolongan. "Tunggu! Jangan tinggalkan aku."
Beberapa orang merasa kasihan. Tapi ketika pasangan paruh baya menceritakan jika Duan Jian ingin merampas harta mereka, para penumpang dengan kompak tertawa sambil melambaikan tangan seperti mengejek Duan Jian.
"Hahahaha... Mampus! Biarkan dia menjadi makanan ikan."
Du Xiong saat itu berada di dalam ruangan. Keributan di luar tak ayal membuatnya keluar. "Zhang Yu, ada apa?"
Zhang Yu kembali ke bagian depan. Dia melirik sekilas Du Xiong yang baru saja datang. "Tidak ada apa-apa. Hanya masalah kecil."
Masalah kecil?
Du Xiong tidak bertanya lebih lanjut. Dia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan tidurnya karena perjalanan masih lama.
Cit.. Cit..
Sun turun dari pundak Zhang Yu. Berdiri di atas kepala patung naga yang ada di bagian depan kapal.
"Sun masih belum melakukan penerobosan sejak satu minggu yang lalu. Aku pikir tidak butuh waktu lama mengingat dia naik tingkat dengan sangat cepat. Ternyata ...." Zhang Yu mendesah pelan. Tangannya kembali mengelus permukaan liontin hati perak di lehernya.
Setidaknya hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang untuk mengingat tentang ibunya.
...
Sore.
__ADS_1
Ketika langit yang putih cerah berubah agak merah, kapal baru saja memasuki teluk Kota Heishan. Bendera-bendera berwarna hitam dengan lambang bunga matahari menjadi tanda jika mereka mendarat di jalur yang tepat.
Awal kapal mulai membalik layar untuk mengurangi kecepatan. Sepuluh orang berada di sisi kanan membawa tambang siap untuk mengaitkan tali saat sampai di dermaga.
Du Xiong keluar dari ruangan sambil menguap. Dia berjalan ke arah Zhang Yu yang tak beranjak sedikitpun dari geladak bagian depan.
"Bagaimana? Apa kau merasa kota ini sangat bagus?" Dia tersenyum. Berusaha membanggakan wilayahnya dengan membandingkan Kota Qian Gu.
Tidak dapat dipungkiri. Dua kota ini sangat berbeda.
"Paman Gendut, arah mana yang harus aku ambil untuk ke Akademi Kekaisaran?" tanya Zhang Yu.
Namun bukannya di jawab, Du Xiong malah mengerutkan kening heran. "Apa kau akan langsung melakukan perjalanan ke Kota Xue He? Setidaknya berkunjunglah ke Keluarga He. Tuan Besar juga ingin bertemu denganmu."
"Mungkin lain kali saja. Aku akan langsung ke Akademi Kekaisaran dan bertemu dengan guru. Baru setelah itu, aku akan berkunjung jika ada kesempatan." Zhang Yu mengulurkan tangan pada Sun. Kera kecil itu langsung melompat dari atas kepala naga.
Haih...
"Sayang sekali. Tapi mau bagaimana lagi ... Karena kau tidak mau aku tidak bisa memaksa."
Zhang Yu merasa tidak enak. Du Xiong berkata seolah dirinya menolak untuk datang ke sana. Padahal tidak begitu. Dia hanya tidak bisa datang sekarang. Mungkin lain kali.
"Ini, kau ambil peta ini." Du Xiong melemparkan sebuah gulungan yang semula ada di balik pakaiannya.
Zhang Yu membukanya dan perlahan ekspresinya menjadi serius.
"Peta itu tidak begitu rinci, tapi aku yakin kau mengerti."
"Ya, terima kasih Paman Gendut. Aku bisa membacanya." Peta yang diberikan Du Xiong hanya gambaran kasar wilayah Kekaisaran Xuan. Meliputi empat kota, Kota Qian Gu, Kota Heishan, Kota Xue He dan Kota Nuli.
Melihat dari tampilan itu, jelas Kota Qian Gu adalah yang terkecil dan terletak paling timur. Kota Heishan berada di atas sebelah kanan dan mempunyai wilayahnya dua kali lebih luas dari Kota Qian Gu. Di atas sebelah kiri Kota Qian Gu ada Kota Xue He, ibukota Kekaisaran Xuan yang merupakan kota terluas setara dengan tiga wilayah Kota Heishan.
Paling barat sendiri adalah wilayah Kota Nuli. Tidak lebih luas dari Kita Heishan, tapi juga tidak lebih kecil dari Kota Qian Gu. Luas wilayahnya berada di antara dua kota tersebut.
"Zhang Yu, jaga dirimu baik-baik. Aku akan kembali ke Keluarga He bersama yang lain."
Kapal baru saja menurunkan layar, Du Xiong dan empat orang lainnya melompat lalu sekejap hilang dalam jarak penglihatan.
Zhang Yu menggulung peta pemberian Du Xiong sebelum menyimpannya di balik pakaian. Dia menuruni papan penghubung dengan santai sembari memperhatikan orang-orang berlalu lalang di dermaga.
Benar kata Paman Gendut. Kota ini tampak lebih baik dibandingkan Kota Qian Gu.
__ADS_1