
Dimensi gelap yang tenang tiba-tiba bergejolak tidak menentu. Pusaran cahaya muncul di depan mata disertai dengan bilah-bilah pedang yang mengandung kekuatan jiwa.
Zhang Yu mencengkeram pedangnya erat sambil menatap kumpulan bilah pedang yang terus berputar.
Tidak ada kata yang dapat ia katakan dalam situasi ini. Sungguh, ini adalah badai ruang yang mengerikan. Pantas saja makhluk bayangan lari setelah mendeteksinya.
"Zhang Yu! Kita terkepung!"
Zhang Yu mengedipkan mata dan baru sadar posisinya telah terperangkap dalam pusaran cahaya. Dengan bilah-bilah pedang yang berputar di sekelilingnya, itu bagai sebuah penjara tanpa celah sedikitpun.
Situasi pun bertambah mencekam saat bilah-bilah pedang berputar semakin cepat. Satu sayatan berhasil mendarat di lengan kanan Xiao Nie.
Sret!
Darah menetes. Hampir saja Xiao Nie kehilangan lengannya jika tidak segera menariknya ke belakang. Tetapi hal itu tidak merubah apapun. Mereka masih terjebak dan bilah-bilah pedang berputar semakin cepat.
Pada detik ini Xiao Nie membentangkan pedangnya sambil memasang kuda-kuda. Dia berkata, "Zhang Yu, Kakek akan membuka jalan. Kau harus selamat dan kembali ke klan."
Mulut Zhang Yu seolah kelu dan tak bisa menahan kakeknya. Dengan perasaan tercengang Zhang Yu hanya menyaksikan bagaimana Xiao Nie membuka jalan untuknya.
Semua berjalan lancar sampai di penghujung jalan tiba-tiba satu bilah pedang menyayat tubuh Xiao Nie dari belakang.
Sret!
"Kakek!"
Sontak Zhang Yu berteriak dari tempatnya. Dia ingin melompat ke sana untuk membantu tapi kakinya arah terikat di tempat dan tak dapat beranjak.
"Kakek baik-baik saja." Xiao Nie berbalik dengan senyum berhiaskan darah. Dia mengangkat pedangnya hendak mengeluarkan serangan terkuatnya untuk membuka jalan. Sayangnya sebelum serangan dapat dilancarkan, belasan bilah pedang menusuk tubuhnya dari berbagai arah.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Lagi-lagi Zhang Yu tidak dapat melakukan apapun. Matanya memerah dengan air mata. Dia bahkan tak bisa menahan kakinya untuk tetua berdiri. Jatuh berlutut dengan wajah yang sangat menyesal.
"KAKEEK ...."
Zhang Yu tersentak bangun dari mimpi. Tiba-tiba matanya terbuka lalu perlahan mengedarkan pandangan untuk menelisik ruangan yang ditinggalinya.
__ADS_1
Bahkan Zhang Yu baru menyadari jika kedua tangannya terikat di belakang punggung sementara dirinya dalam posisi duduk bersila.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Zhang Yu dalam benaknya.
Seketika Zhang Yu mengingat kembali saat dirinya berada di dimensi gelap dan berhadapan dengan badai ruang. Sungguh sangat berbahaya dan mengerikan karena badai ruang itu hampir merengut nyawanya.
Entah kenapa Zhang Yu dapat memimpikan situasi yang jelas berbeda. Zhang Yu samar-samar mengingat saat itu dirinya dan kakek memang terjebak dalam pusaran bilah-bilah pedang. Tetapi mereka berhasil lolos meski terluka sangat parah setelah memaksa menerobos.
Terakhir yang ada dalam ingatan Zhang Yu adalah saat pusaran cahaya yang menjadi pusat badai tersebut tiba-tiba membesar lalu menelan semua bilah pedang dan terjadi ledakan yang sangat kuat.
"Tapi ... Di mana Kakek," Zhang Yu mencari ke beberapa titik di ruangan itu tetapi tidak menemukan Xiao Nie.
"Long Shen! Apa kau mendengar ku?" Zhang Yu juga berusaha memanggil dewa naga tapi sepertinya tekanan yang kuat saat badai ruang itu sedikit mempengaruhinya.
Tak tak tak...
Terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan. Zhang Yu yang sebelumnya berniat menghancurkan rantai itu pun segera mengurungkan niatnya memastikan siapa yang datang. Zhang Yu juga berpura-pura masih pingsan agar tidak ada yang curiga.
Klak!
Dua orang berpakaian coklat memasuki ruangan. Tampak dari wajah mereka bisa dikatakan usia paruh baya. Mereka berjalan menghampiri Zhang Yu lalu memeriksa kondisinya.
"Sayang sekali dia masih pingsan. Kita harus menunggu dia bangun sebelum membawanya ke tempat pemimpin."
Mereka berdua membicarakan kesepakatan. Zhang Yu mendengus pelan ketika kedua pria paruh baya itu berjalan kembali ke arah pintu. Dia memegang rantai di tangannya, lalu mengayunkannya dengan kuat hingga menyambar dua pria paruh baya.
Blam!
Keduanya terhempas hingga menghancurkan pintu.
"Kurang ajar! Siapa!" raung marah mereka.
Ketika menyadari orang yang menyerang adalah tawanan yang pingsan, mereka berdua terkejut hingga tak bisa mengatupkan bibir.
"Bukankah dia terluka parah?" tanya satu pria itu sambil berbisik. Tetapi pria lain yang tidak tahu hanya menggelengkan kepala.
"Kekuatannya di atas kita. Sebaiknya memanggil yang lain untuk menghadangnya." Keduanya sepakat. Naasnya tidak ada kesempatan seperti itu karena sedetik kemudian rantai yang sama menyambar kepala mereka hingga jatuh terkapar.
Wajah bengkak dan hidung mimisan. Keduanya tidak bisa bergerak karena fungsi motorik telah hancur.
"Ka-kau ...."
__ADS_1
Krak!
Zhang Yu melilit leher mereka dengan rantai dan mengakhiri hidup keduanya saat itu juga.
Sampai saat ini Zhang Yu tidak tahu tempat macam apa ini. Tetapi yang pasti Zhang Yu yakin tempat ini tempat penjahat yang berusaha mengambil keuntungan darinya.
Oleh karena itu, Zhang Yu tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Tolong ...."
Kening Zhang Yu mengerut mendengar suara dari beberapa arah. Ketika Zhang Yu melepas rantai di tangannya lalu berdiri di lorong, dapat terlihat beberapa ruangan seperti ruangannya yang berjajar selayaknya penjara bawah tanah.
Dari pintu masing-masing ruangan tampak tangan yang melambai berusaha meminta pertolongan.
"Tolong ...."
Zhang Yu juga masih harus menemukan kakeknya. Jadi Zhang Yu menghampiri setiap ruangan untuk mencari.
Sayangnya dari belasan ruangan yang ada, tidak satupun tawanan di dalamnya adalah kakeknya.
Tentu saja ini membuat Zhang Yu sedikit kecewa dan frustrasi karena keberadaan kakeknya tidak diketahui.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan kami," kata seorang gadis muda yang mengenakan jubah merah. Wajah putih agak pucat dengan rambut hitam. Bola matanya kuning dan sangat berkilau.
Zhang Yu ragu jika gadis ini manusia. Namun dia tak mengatakan apapun saat gadis itu berterima kasih padanya.
"Mereka datang," kata gadis itu.
Zhang Yu bahkan baru merasakan kehadiran mereka. Sungguh mengejutkan karena gadis muda ini memiliki jangkauan persepsi yang sama dengannya.
"Apa kalian mengenal tempat ini? Ambil arah lain, aku akan menghadapi mereka."
Gadis muda itu awalnya terlihat ragu. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi dia memilih untuk pergi sembari mengajak yang lain.
Dalam sekejap di sana hanya ada Zhang Yu dan dua mayat pria paruh baya. Tetapi itu tak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian belasan orang berpakaian coklat muncul dari ujung lorong lainnya.
"Apa-apaan ini!"
Mereka terkejut melihat kekacauan di depan mata mereka. Terlebih ketika melihat dua mayat yang tergeletak dengan kepala hancur. Wajah belasan orang itu secara pasti berubah kelam dan merah.
"Semua ini pasti ulahnya!" kata seseorang dari mereka sambil menunjuk Zhang Yu.
__ADS_1
Tidak menunggu banyak waktu mereka langsung mengeluarkan pedang dan bersiap menyerang. Sama halnya dengan Zhang Yu yang juga mulai mengalirkan Qi ke telapak tangannya.
"Maju jika kalian ingin mati,"