
Zhang Yu baru saja mengaktifkan kembali pembatas yang sempat ia hilangkan. Cukup mengalirkan Qi ke salah satu batu kapur merah dan dalam waktu singkat pembatas itu kembali seperti sebelumnya.
"Zhang Yu, mungkinkah mereka adalah kelompok yang kau maksud?" tanya Zhang Lei sambil menunjuk kapal yang tenggelam.
"Benar. Mereka adalah kelompok Menara Iblis," jawab Zhang Yu.
Sebelumnya Zhang Yu sudah menceritakan sedikit tentang menara iblis pada Zhang Lei dan beberapa tetua. Meski awalnya mereka sulit percaya, tapi mengingat bagaimana keberadaan orang-orang Suku Niao memaksa mereka berpikir lebih terbuka.
Sekarang mereka menyaksikan sendiri kelompok menara iblis itu secara langsung. Juga sudah melihat bagaimana kekuatan satu di antara mereka yang memiliki tingkat kekuatan setengah abadi.
Dari sini Zhang Lei mulai menyadari ancaman bahaya yang mungkin saja terjadi dan menimpa Kota Qian Gu. Sebagai patriark klan Zhang dan juga penguasa kota, mau tidak mau Zhang Lei harus mencari cara untuk mengatasinya.
Namun, Zhang Lei tidak terlalu yakin apakah dirinya benar-benar mampu mengingat tingkat kekuatannya saat ini masih di tingkat surgawi bintang satu.
"Patriark, apakah kau bisa menempatkan beberapa orang untuk berjaga di kawasan ini? Pembatas itu mungkin dapat menahan serangan di bawah tingkat setengah abadi. Namun menara iblis memiliki beberapa orang yang ada di tingkat setengah abadi. Jadi sebisa mungkin kita harus mendeteksi keberadaan mereka sebelum pembatas itu hancur."
Zhang Lei manggut-manggut. "Setelah kembali aku akan mengaturnya. Lima sampai sepuluh orang setiap harinya, itu bukan masalah kan?"
"Seharusnya tidak. Itu cukup untuk memantau wilayah pesisir."
Zhang Yu menyerahkan masalah koordinasi penjagaan pada patriark. Sementara yang lain mulai membersihkan beberapa kekacauan yang disebabkan pertarungan, Zhang Yu kembali ke kediaman bersama Zhang Long dan Xiao Mei.
"Kau benar-benar ingin membuat senjata untuk mereka?" Sejak tadi Long Shen melihat Zhang Yu terus memperhatikan beberapa senjata yang ada di tangan orang-orang Klan Zhang. Hal itu membuatnya bertanya-tanya tentang apa maksud tujuannya. Dan yang ada dalam kepalanya saat ini adalah Zhang Yu berniat membuat senjata untuk mereka.
Namun, bukankah senjata yang bagus juga akan sia-sia jika pemiliknya tidak memiliki kualifikasi untuk menggunakannya? Long Shen penasaran apa yang direncanakan Zhang Yu saat ini.
"Kau benar. Setelah aku memberikan mereka semua senjata setidaknya kelas menengah yang berkualitas, aku berniat membantu mereka untuk meningkatkan kekuatan."
"Meningkatkan kekuatan mereka? Bagaimana kau akan melakukannya? Itu terdengar mustahil." Long Shen masih tidak mengerti.
"Aku berniat membuat ruangan yang memiliki konsep seperti menara kultivasi yang ada di akademi. Menggunakan biji petir sebagai sumber kekuatan."
__ADS_1
Long Shen tercengang. Dia bertanya dengan ragu. "Apa itu dapat dilakukan? Ruangan seperti itu membutuhkan teknik formasi untuk menangkap energi dari biji petir."
"Jangan-jangan kau berniat ...."
Sebelum Long Shen menyelesaikan kalimatnya Zhang Yu segera memotongnya. "Benar. Aku ingin mencoba membuat susunan formasi seperti itu."
"Lagipula aku sudah membuat pembatas yang merupakan teknik formasi kelas menengah. Aku yakin dapat melakukannya," ucap Zhang Yu.
Zhang Yu dan Long Shen terus berbicara tentang hal itu sampai tak sadar jika mereka sudah sampai di kediaman Klan Zhang.
Zhang Long dan Xiao Mei saling memandang, memperhatikan Zhang Yu yang diam di depan gerbang tanpa berniat untuk masuk ke dalam.
"Zhang Yu, kenapa kau hanya di sana? Kau tidak ingin pergi menemui istri dan putramu?" kata Xiao Mei.
Zhang Yu segera mengangkat wajahnya. "Ah, Ibu, aku akan menemui mereka."
Pada saat itu Xuan Yin sedang duduk di teras kediaman sambil mengawasi Zhang Chao yang berlari di halaman. Dia terlihat sesekali berdiri sambil menatap ke arah gapura berharap Zhang Yu dan kedua mertuanya kembali.
Sebenarnya Xuan Yin juga ingin ikut bersama yang lain pergi ke pantai timur setelah mendengar terjadi pertarungan di sana. Xuan Yin ingin memastikan secara langsung bagaimana keadaan suaminya yang sejak beberapa hari lalu tidak memberinya kabar.
Perhatian Xuan Yin teralihkan saat Zhang Chao tiba-tiba berlari ke arah gapura.
Dengan langkah kecilnya, bocah dua tahun itu terus berlari sambil mengangkat tangannya seperti menyambut sesuatu.
Xuan Yin segera beranjak dari tempatnya. Ketika dia hendak mengejar, langkah kakinya terhenti menyaksikan Zhang Chao tiba-tiba melompat sambil membentangkan tangannya ke pelukan seorang pria.
Siapa lagi jika bukan Zhang Yu, ayahnya.
Mungkin karena memiliki ikatan batin sehingga Zhang Chao dapat merasakan kehadiran Zhang Yu. Dia enggan melepas pelukannya, dan menempel dengan erat.
Butuh beberapa waktu bagi Xuan Yin untuk menyadarkan dirinya sendiri. Namun Xuan Yin lega setelah melihat Zhang Yu kembali tanpa terluka.
__ADS_1
"Kenapa kalian hanya berdiri di luar? Tidak masuk?" Zhang Long dan Xiao Mei baru saja tiba. Xuan Yin mengambil alih Zhang Chao, lalu berjalan di samping Xiao Mei.
"Syukur lah kalian juga baik-baik saja," ucapnya.
Xiao Mei hanya tertawa mendengar kalimat Xuan Yin. Sontak reaksi ini membuat Xuan Yin bertanya-tanya apa ada yang salah dari ucapannya.
"Ketika kami baru saja sampai, pertarungan itu sudah selesai. Jadi kami tidak mungkin terluka karena tidak ikut dalam pertarungan. Musuh-musuh itu dikalahkan oleh suamimu seorang diri." Xiao Mei begitu bangga saat mengatakan hal itu. Seolah ada rasa puas melihat putranya kini menjadi pria yang tangguh dan kuat.
"Benarkah?" Xuan Yin melirik Zhang Yu. Tentu dia tahu jika suaminya itu sangat kuat. Bahkan mungkin masuk dalam daftar orang terkuat di Kekaisaran Xuan. Tetapi dia mendengar musuh yang datang tidak satu atau dua orang, melainkan satu pasukan.
"Yin'er, apa kau meragukan kemampuan suamimu?" Zhang Yu tiba-tiba berada di samping Xuan Yin yang berhenti dan berbisik tepat di telinganya.
Tak lupa dia menghembuskan nafasnya sehingga membuat telinga Xuan Yin memerah.
Xuan Yin langsung merinding dan tubuhnya bergetar. Sedetik kemudian dia menatap Zhang Yu dengan penuh peringatan.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya bersungut-sungut.
Sudah tahu ada ibu dan ayahnya, tetapi Zhang Yu malah dengan sengaja menggoda. Ini membuat Xuan Yin malu. Tetapi dia tidak bisa bertindak lebih jauh saat kedua mertuanya itu mulai menatap ke arahnya.
"Kenapa kalian sangat lama? Cepat masuk ke sini." Xiao Mei melambaikan tangan. Dia sudah cukup lelah setelah perjalanan dan masih harus pergi ke pantai. Dia ingin istirahat dan menikmati waktunya.
"Chao'er, kemari! Ayo ikut nenek," seru Xiao Mei sambil melambaikan tangan.
Zhang Chao juga terlihat antusias. Xuan Yin pun menurunkannya yang kemudian berlari ke arah sang nenek.
"Sepertinya ada musuh yang merepotkan." Xuan Yin menarik tangan Zhang Yu, lalu menemukan beberapa luka yang tersembunyi di balik lengan pakaiannya.
Zhang Yu tersenyum tipis. "Ya. Memang ada satu yang cukup kuat. Tapi aku telah membunuhnya."
Xuan Yin hanya membulatkan bibirnya seolah berkata "oh". Dia mengeluarkan satu botol porselen yang tak lain berisi obat luka luar.
__ADS_1
"Berhari-hari tidak memberi kabar, sekali muncul kembali dengan terluka." Xuan Yin terlihat gemas dan ingin menekan luka itu. Tapi dia tahu luka seperti itu tidak akan terlalu berasa bagi Zhang Yu. Dia hanya bisa meratakan obat luka luar itu sebelum menurunkan kembali lengan pakaiannya.
Zhang Yu terus memperhatikan wajah Xuan Yin. Di matanya, istrinya ini terlihat sangat cantik saat memasang ekspresi serius. Terlebih saat sedang memarahinya seperti ini. Jika tidak ingat dia masih memiliki tugas untuk membuat senjata, mungkin telah terjadi sesuatu yang diinginkan.