Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 213 : Benua Naga


__ADS_3

"Kita sampai,"


Zhang Yu mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar setelah mendengar ucapan Song Yixue. Gadis tujuh belas tahun yang memutuskan untuk mengikutinya setelah pertemuan di markas bandit.


Dari Song Yixue, Zhang Yu mendapat banyak informasi tentang tempat tersebut. Ternyata Zhang Yu sampai ke sebuah tempat yang sama sekali tidak berhubungan dengan Daratan Zhen Yang. Entah Kekaisaran Xuan, Kekaisaran Yang ataupun Kekaisaran Long. Tempat ini disebut Benua Naga.


Sekarang mereka berada di wilayah utara Benua Naga. Tepatnya Kota Dongguan, sekitar perbatasan pesisir laut mati. Wilayah yang cukup terkenal dengan banyaknya kejahatan, salah satunya bandit kuda laut yang beberapa waktu lalu telah dihancurkan.


"Yu Gege, apa kau sungguh bukan berasal dari Benua Naga?" tanya Song Yixue dengan raut wajah penasarannya.


Karena Zhang Yu terus bertanya hal-hal dasar yang diketahui banyak orang, Song Yixue memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Kecurigaannya pun semakin kuat saat Zhang Yu seolah menghindari pertanyaan tersebut.


"Itu pasti benar. Yu Gege pasti berasal dari tempat lain. Itu menjelaskan dia memiliki kekuatan di atas rata-rata generasi seumurannya," batin Song Yixue.


"Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Jadi Yu Gege tak perlu khawatir." Dia melakukan sumpah. Bahkan menggigit jari kelingkingnya hingga berdarah untuk menyempurnakan sumpahnya.


Zhang Yu yang melihat sikap Song Yixue pun hanya mengerutkan kening tanpa mengatakan apapun.


"Bukankah kau bilang ingin menunjukkan tempat bandit kuda laut mengumpulkan orang-orang yang ditangkap?"


Mata Song Yixue membulat terkejut. "Aku hampir saja lupa. Yu Gege, ikut denganku!"


Dengan segera Song Yixue mengenakan tudungnya sebelum berlari. Zhang Yu mengikutinya di belakang dan mereka masuk lebih dalam ke wilayah Kota Dongguan.


Tidak begitu lama mereka berhenti tepat di sebuah bangunan yang ada di wilayah padat. Bangunan yang terlihat seperti kedai dari luar tapi sebenarnya adalah tempat perdagangan manusia.


Meski Song Yixue bukan asli Kota Dongguan, tapi dia cukup lama berada di kota ini. Paling tidak beberapa hal yang populer tidak akan luput dari dirinya.


"Yu Gege, apa kau benar-benar harus masuk ke sana?" tanya Song Yixue ragu. Gadis itu dapat melihat banyak penjaga yang berada di luar. Tidak tahu ada berapa banyak orang yang bersembunyi di sekitar. Jika terjadi sesuatu, bukankah akan ada terlalu banyak musuh untuk dilawan?


"Kau tunggu di sini, aku akan masuk." Zhang Yu melenggang masuk tanpa menghiraukan pertanyaan Song Yixue. Itu karena Zhang Yu ingin mencari keberadaan kakeknya yang terpisah saat keluar dari celah dimensi.

__ADS_1


Zhang Yu harus memastikan apakah kakeknya juga ditemukan oleh kelompok bandit kuda laut atau tidak. Satu-satunya cara adalah melakukan pemeriksaan secara langsung di tempat mereka yang tersisa.


"Tuan, apa yang dapat kami bantu?" tanya seorang pria dengan tahi lalat besar di atas bibirnya.


Sekilas Zhang Yu memperhatikan sekitar. Ketika menemukan pintu yang cukup mencurigakan, tanpa banyak membuang waktu berjalan mendekatinya.


"Hei! Berhenti! Apa kau tuli?!" lantang pria itu seraya menghentikan Zhang Yu.


Langkah kaki Zhang Yu pun tertahan saat pria itu menahan pundaknya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.


Zhang Yu sejenak menatap pria itu yang terlihat begitu berani. Mungkin itu karena dia memiliki belasan pelindung yang siap siaga mengorbankan nyawa yang bersembunyi di beberapa sudut ruangan ini.


"Bukankah tempat ini menjual budak? Aku ingin melihat terlebih dahulu sebelum membelinya."


Sontak dait wajah pria itu membeku mendengar ucapan Zhang Yu. Sedetik kemudian dia menggeser tubuhnya sambil mengunci pintu tersebut.


Namun alih-alih mendengar ucapan pria itu untuk pergi, Zhang Yu malah mencengkeram tangan yang memegang kunci dan mengambilnya dengan paksa.


Krak!


Tangannya patah dan kunci itu jatuh ke lantai. Zhang Yu menghentakkan kakinya kemudian dengan respon yang cepat menangkap kunci yang terbang ke atas.


"Sebaiknya kau tidak menghalangiku," Zhang Yu menarik pria paruh baya yang menghalangi jalannya hingga tersungkur di antara susunan meja dan kursi.


Pengunjung segera pergi, belasan pelindung pun keluar dari persembunyian melihat sang majikan diperlakukan begitu kasar.


"Tangkap dia! Aku ingin menyiksanya dengan tanganku sendiri!" seru pria paruh baya pemimpin keempat kelompok bandit kuda laut.


Zhang Yu kembali berhenti di ambang pintu. Matanya menatap belasan orang yang bersiap menyerangnya dengan pedang di tangan mereka. Senyum di wajahnya mengembang seperti memberi mereka peringatan.

__ADS_1


Bam!


Serangan mata pedang tahap pertama menghempaskan mereka. Tentu saja hal ini benar-benar mengejutkan pemimpin keempat yang hanya bisa menyaksikan dengan mulut setengah terbuka.


"Pe-pemimpin, dia sangat kuat. Bagaimana jika kita meminta bantuan dari markas untuk mengirim beberapa orang?"


Mendengar ini mata pemimpin keempat berkedut. Sebelum dia mengambil keputusan, lima dari dia belas pelindung baru saja terjatuh dengan luka sayatan yang sangat parah.


Siapa lagi jika bukan Zhang Yu. Setelah melakukan aksi nya dia berdiri dengan tenang sambil menatap pemimpin keempat. "Tidak ada gunanya kau meminta bantuan. Mereka semua sudah tiada."


Pemimpin keempat masih tercengang dengan lima orang yang terbunuh. Tetapi dia masih tidak bisa menerima kalimat Zhang Yu tentang kematian tiga pemimpin lainnya.


"Omong kosong! Kau hanya membual!"


Zhang Yu kembali tersenyum. "Itu terserah padamu jika tidak mempercayainya. Tetapi tidak lama lagi kau akan bergabung dengan mereka."


"Jangan banyak bicara! Aku akan membunuhmu!" raung pemimpin keempat dengan mata memerah. Dia mengeluarkan pedangnya lalu membentuk siluet tebasan dengan energi darahnya.


Dia cukup yakin karena itu adalah serangan terkuatnya. Sungguh dia tidak menyadari kekuatan Zhang Yu yang berada jauh di atasnya. Ketika serangan itu baru saja tercipta, Zhang Yu cukup mengayunkan pedangnya untuk membuatnya hancur tak bersisa.


Tidak sampai di sana. Zhang Yu berkelebat cepat berpindah dari tempat semula lalu menendang perut pemimpin keempat hingga memuntahkan banyak darah.


Blam!


Tubuhnya menghantam pintu yang setengah tertutup setelah menghancurkan meja dan kursi. Kondisi cukup buruk dan ia tidak akan selamat.


Memastikan sang lawan tidak akan bisa bertarung lagi, Zhang Yu beralih pada tujuh pria yang berdiri ketakutan di pojok ruangan. Mereka mundur, lalu berusaha kabur.


Sayangnya tidak ada celah untuk lari pada situasi ini.


Zhang Yu menyimpan pedangnya. Tepat saat itu tujuh jarum spiritual menembus kepala mereka lalu meledakkan tubuh mereka.

__ADS_1


Benar-benar kacau. Tetapi Zhang Yu tidak menghiraukan mereka dia melangkah memasuki ruangan di balik pintu untuk mencari keberadaan kakeknya. Tentu saja Zhang Yu berharap kakeknya berada di sana agar mereka dapat memikirkan cara untuk kembali ke domain Klan Xiao.


__ADS_2