
"Boleh aku melihat pedangmu?"
Setelah diam cukup lama akhirnya Liu Bei mengungkapkan pertanyaannya. Namun hal ini membuat Zhang Yu tertegun beberapa saat di tempatnya.
"Aku hanya merasa pedangmu terlihat akrab. Seperti pernah melihatnya tapi entah itu di mana," kata Liu Bei lagi berusaha menjelaskan niatnya.
Zhang Yu mengerti. Dia mengeluarkan pedang semesta kemudian meletakkannya di atas meja.
"Boleh aku memegangnya?" tanya Liu Bei. Baru setelah mendapat persetujuan dia mengambil pedang semesta dan secara hati-hati mengayunkannya.
Satu detik, dua detik ... Waktu terus berlalu tapi Liu Bei masih serius mengamati pedang semesta. Pada satu momen dia menjadi yakin tentang firasatnya. Dia mengenal pedang ini, pernah melihatnya atau bahkan pernah berhadapan dengannya.
"Wang Chen! Apa kau mengenal pria ini?"
Wajah Zhang Yu menjadi rumit ketika Liu Bei menyebut nama gurunya. Dia tidak terburu-buru menjawabnya, karena tidak tahu ada hubungan seperti apa antara gurunya dengan Tuan Besar Liu.
"Aku yakin pedang ini milik Wang Chen. Dia temanku, kami pernah berpetualang bersama. Namun puluhan tahun yang lalu dia tiba-tiba menghilang dan sampai sekarang aku tidak tahu kemana dirinya pergi."
Zhang Yu mengamati ekspresi Liu Bei. Begitu tenang dan lurus. Dia tidak mengada-ada atau sekadar mengarang cerita.
"Benar kan, ini milik Wang Chen?" tanya Liu Bei memastikan.
"Benar. Pedang itu miliknya dan aku adalah muridnya."
Nafas Liu Bei tercekat mendengar pengakuan Zhang Yu. "Kau sungguh muridnya?" tanyanya memastikan.
"Jika kau muridnya di mana dia sekarang? Aku sungguh ingin bertemu dengannya. Bagaimana bisa dia pergi tanpa kabar. Aku ingin menghajarnya dengan tanganku sendiri."
"..."
__ADS_1
Melihat Liu Bei yang cukup emosional, Zhang Yu dapat memastikan hubungan antara dia dan gurunya cukup dekat. Zhang Yu juga penasaran kenapa gurunya melakukan hal itu.
Sementara itu di luar ruangan, dua orang berdiri di balik pintu berusaha menguping pembicaraan. Mereka adalah Liu Mengqi dan Liu Cang.
"Paman, bukankah ini tidak benar? Kita seharusnya tidak berada di sini."
Namun alih-alih mempedulikan kalimat Liu Mengqi, Liu Cang masih fokus menempelkan telinganya di pintu ruangan.
"Keponakan, bukankah sikap ayahmu cukup aneh? Kau yakin tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan di dalam?"
Liu Mengqi terdiam. Meski mengetahui apa yang mereka lakukan ini salah, tapi juga tidak bisa menyangkal jika dirinya penasaran apa yang dibicarakan ayahnya di dalam.
"Ayahmu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia cukup selektif terkhusus pada orang baru. Tapi sekarang dia bahkan mengajak Zhang Yu bicara berdua di ruangan. Mungkinkah ...."
"..." Raut wajah Liu Mengqi menjadi serius ketika mendengar hal ini. Dia menatap pamannya dan menunggu jawabannya.
"Mungkin apa Paman?"
Sekali lagi Liu Mengqi terdiam. Raut wajahnya membeku dan tatapannya menjadi dingin.
"Kau pikir saja, ini adalah pertemuan pertama mereka. Tapi ayahmu yang biasanya tidak terbuka dengan orang baru kini mengajak Zhang Yu bicara berdua. Aneh sekali," tambah Liu Cang yang semakin membuat Liu Mengqi berpikir keras.
Gadis dua puluh lima tahun itu masih termenung, kemudian menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangan. "Tidak! Tidak mungkin! Ayah bukan orang seperti itu. Paman kau bicara sembarangan. Aku akan mengadukanmu pada Ayah."
Pada saat itu pintu terbuka. Liu Bei dan Zhang Yu keluar bersama. Mendapati Liu Mengqi dan Liu Cang ada di depan ruangan, keduanya pun menatap dengan curiga.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Liu Bei.
Liu Cang tertawa canggung sambil menggaruk tengkuk kepalanya. "Ha-haha, Kakak. Aku hanya ingin mencari Zhang Yu. Dia adalah orang yang sebelumnya aku ceritakan yang telah membantuku."
__ADS_1
Dengan kalimat ini Liu Cang berhasil lolos dari kecurigaan. Liu Bei melirik Zhang Yu dan menganggukkan kepala dengan tenang. "Xiao Qi, tunjukkan ruangan untuk Zhang Yu. Dia akan tinggal di sini sampai waktu pertarungan surga."
"Baik Ayah," jawab Liu Mengqi.
Liu Bei pergi setelah mengatakan itu. Dia mengajak Liu Cang karena ada satu hal yang ingin dibicarakan. Sementara di sana sekarang hanya ada Zhang Yu dan Liu Mengqi.
"Ayo ikut denganku," ajak Liu Mengqi yang kemudian mengantar Zhang Yu ke ruangan untuk tamu. Masih di lantai empat dan tidak begitu jauh dari ruangan Liu Bei sebelumnya.
Setelah dibukakan pintu Zhang Yu masuk ke dalam. Dia akan menutup pintu, tapi melihat Liu Mengqi bergeming di sana membuatnya menahan niatnya.
"Apa Nona Liu ingin mengatakan sesuatu?"
Liu Mengqi meremas pakaiannya dan terlihat mencebikkan bibir.
"Apa yang kau bicarakan dengan ayahku?" tanya Liu Mengqi.
Awalnya Zhang Yu mengira ada sesuatu yang penting. Tapi tidak disangka ternyata hanya untuk bertanya hal itu.
"Nona Liu, kenapa kau tidak bertanya langsung pada Tuan Besar Liu?"
"Apa begitu sulit bagimu untuk mengatakannya? Jika tidak mau ya sudah. Aku tidak akan bertanya lagi." Setelah itu Liu Mengqi membalikkan badan dan pergi.
Namun meski begitu dia masih berharap Zhang Yu menahan kepergiannya dan mengatakan hal yang ingin didengarnya.
Siapa yang menduga Zhang Yu bukan hanya tidak menghentikannya, tapi juga langsung menutup pintu ruangan. Ini membuat Liu Mengqi tercengang dan menghentakkan kaki dengan kesal.
"Keterlaluan! Aku baru pertama kali bertemu pria punya sikap seperti ini!" dengusnya.
Liu Mengqi akhirnya pergi masih dalam suasana hati yang kacau. Dia kesal, dia juga penasaran apa yang dibicarakan Zhang Yu dengan ayahnya.
__ADS_1
"Ah! Kenapa aku jadi mengkhawatirkan asumsi paman yang tidak masuk akal. Dia tidak mungkin saudara ku. Ayah tidak mungkin punya anak di luar pernikahan."