Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 282 : Prasasti Batu


__ADS_3

"Apa kalian menemukan sesuatu?" Shin bertanya pada Zhang Yu dan Long Shen karena menyadari fokus mereka hanya tertuju pada prasasti batu sejak masuk ke gua warisan leluhur.


"Kau tak merasakannya?" Zhang Yu balik bertanya.


Tentu saja Shin bingung karena dia tak merasakan apapun.


"Aneh. Dengan hawa keberadaan sekuat ini seharusnya tidak ada yang tidak merasakannya. Namun dia tak terlihat sedang berbohong." Zhang Yu mencoba mendeskripsikan hawa keberadaan yang terpancar dari prasasti batu.


"Mungkinkah ini karena Long Shen?" batin Zhang Yu.


Walau bagaimanapun yang terhubung dengan kunci rahasia itu adalah Long Shen. Dirinya dapat merasakan hawa keberadaan dari prasasti batu bisa jadi karena memiliki keterikatan dengan Long Shen.


Perlahan Long Shen turun dari pundak Zhang Yu dan mendekat ke arah prasasti batu. Dia memandangi tulisan yang ada di sana. Tulisan yang terlihat tidak bisa dibaca tapi Long Shen memahaminya.


Beberapa lama setelahnya, tubuh kecil Long Shen bersinar. Prasasti batu merespon cahaya itu dan mengeluarkan rantai yang dengan cepat mengikat Long Shen.


Zhang Yu dan Shin dapat menyaksikannya. Tapi seolah ada pembatas yang muncul di depan mereka yang memisahkan mereka dengan tempat prasasti batu.


"Kakak Yu, apa ini akan baik-baik saja?" Shin mulai terlihat khawatir saat tubuh Long Shen dilahap cahaya dan rantai yang muncul dari prasasti batu semakin banyak.


"Tenang saja. Dia baik-baik saja," ucap Zhang Yu, menenangkan. Meskipun dia tak bisa melihat apa yang terjadi pada Long Shen, tapi melalui gelang naga yang ada di tangannya dia dapat mengetahui keadaan Long Shen.


"Ayo kita keluar."


"Apa? Keluar?" Shin berpikir telah salah mengartikan kata yang diucapkan Zhang Yu. Dia mencoba mengulanginya.


Namun memang begitulah kalimat yang ada. Zhang Yu mengajak Shin keluar dari gua warisan leluhur.


"Ayo keluar,"


Sejenak Shin masih bergeming di tempatnya. Dia melihat Ling Shen yang masih berada di depan prasasti batu. "Kakak Yu, apa tidak masalah untuk meninggalkannya sendirian di sini?" tanyanya.


"Tidak akan jadi masalah. Lagipula, bukankah dia yang telah kalian tunggu selama ini? Ini adalah takdirnya. Keberadaan kita di sini sama sekali tidak akan membantunya."


Shin menganggukkan kepala mendengar ucapan Zhang Yu. Dia pun mengikuti Zhang Yu dan menunggu di luar.

__ADS_1


Tak lama setelah mereka keluar, aura yang kuat memancar dari dalam ruangan itu. Zhang Yu dan Shin yang ada di luar dapat merasakannya.


"Ada begitu banyak energi yang masuk ke dalam gelang naga. Ini sama seperti saat dia menyerap energi gelap. Mungkinkah prasasti batu itu memberinya kekuatan?" batin Zhang Yu. Sayangnya Zhang Yu tak bisa memastikan hal ini karena penglihatannya terhalang oleh cahaya yang sangat terang.


Eh...


"Auranya terus bertambah kuat ...." Belum selesai Zhang Yu bicara, Shin yang ada di sampingnya sudah tampak pucat dengan aura kekuatan yang dikeluarkan dari dalam ruangan.


"Celaka! Aku harus menutup pintu batu ini untuk mencegah auranya merangsek keluar." Zhang Yu tahu Shin mungkin sulit menggerakkan tubuhnya, jadi dia berinisiatif mengambil kunci di tangannya dan segera menutup pintu batu.


Setelah pintu batu kembali ke tempatnya, aura kekuatan yang menekan itu seketika menghilang. Shin mulai menstabilkan nafasnya dan wajahnya yang pucat perlahan kembali normal.


"Kekuatan macam apa itu? Sangat kuat!" Shin hampir berpikir dirinya mungkin tiada jika Zhang Yu tak segera mengembalikan pintu batu ke posisinya. Tekanan yang kuat itu seperti ular yang melilit lehernya. Benar-benar sesak.


"Pangeran!" Yi dan Gui datang bersamaan. Mereka memaksa masuk setelah merasakan tekanan aura yang kuat dari luar.


Namun saat sampai tekanan aura itu tiba-tiba menghilang. Mereka pun terlihat bingung, terlebih melihat sang pangeran tampak baik-baik saja.


"Pangeran, apa yang sebetulnya terjadi?" tanya Yi.


"Ayo kita keluar," ajak Zhang Yu.


Yi dan Gui saling memandang. Saat mereka akan mengatakan sesuatu, Shin segera memotong dan mengajak mereka keluar. "Ayo keluar," ucapnya.


Mereka benar-benar meninggalkan Long Shen sendiri di dalam gua warisan leluhur. Menunggu di luar gua raja sambil berkumpul dengan puluhan orang Suku Niao lainnya.


Tiba-tiba Zhang Yu teringat dengan batu kristal inti api yang sebelumnya ditemukan. Dia beranjak dari tempatnya untuk mencari mayat Phan Gu.


Meskipun sudah memiliki satu batu kristal inti api, tapi tetap saja batu kristal inti api adalah barang langka yang berharga. Barang seperti ini jangan sampai lepas dari genggamannya. Namun ....


"Kenapa tidak ada?" Zhang Yu memeriksa beberapa kali isi cincin penyimpanan Phan Gu tapi tetap tidak menemukannya.


"Pangeran, di sini ada jejak darah." Shihwa berseru dari depan gua tempat wanita dan anak-anak sebelumnya disekap.


Shin dan beberapa orang Suku Niao mendekat. Tak ketinggalan Zhang Yu yang masih membawa cincin penyimpanan Phan Gu.

__ADS_1


"Jejak darah? ...." Zhang Yu menatapnya dengan serius. Tak lama dia sadar jika jejak darah itu mengarah ke pantai, tempat kapal berada.


Mata Zhang Yu terbuka sempurna. Dia segera menghubungkan kejadian ini dengan hilangnya kristal inti api di dalam cincin penyimpanan Phan Gu. "Ternyata ada satu yang masih selamat."


Di sisi lain, pria setengah baya berusaha lari secepat mungkin. Meskipun tubuh penuh darah, dia tak menghiraukannya dan terus berlari menuju ke tempat kapal berada.


"Kurang ajar! Bagaimana mungkin keadaan bisa berubah begitu cepat?! Kami masih menguasai pulau pagi ini, tapi dalam sekejap semua berbalik dan semua anggota menara iblis terbunuh."


"Beruntung tidak ada yang tahu jika posisi jantungku berada di sebalah kanan. Dengan pill yang dapat mematikan organ beberapa saat, akhirnya mereka mengira aku sudah meninggal." Pria itu tertawa. Dan jika diperhatikan, dia adalah pria yang memegang kipas dan selalu berada di samping Phan Gu.


"Hahahaha ... Itu dia bendera menara iblis. Aku sudah sangat dekat!" Pria itu tertawa dan berlari semakin cepat.


"Sekarang yang terpenting adalah meninggalkan pulau ini dan kembali ke Pulau Naga. Masalah ini harus segera diketahui oleh patriark dan para tetua."


"Selain itu ...." Pria setengah baya mengeluarkan batu berwarna merah kekuningan dari cincin penyimpanannya. Dia tertawa dan terlihat sangat puas.


"Phan Gu bodoh itu berpikir dapat memilikinya. Tapi pada akhirnya batu kristal inti api ini jatuh ke tanganku."


Setelah berlari jauh dari gua, akhirnya pria itu sampai di pantai. Dia kembali mengukir senyum di wajahnya sambil terus berlari ke salah satu kapal.


"Setelah ini aku akan selamat!"


Baru juga dia mengatakannya, satu siluet tebasan tiba-tiba menghantam tepat di sampingnya.


Blam!


Meskipun tidak terkena langsung, tapi dampak serangannya membuat pria itu kehilangan keseimbangannya saat berlari. Dia terjatuh tengkurap di bibir pantai.


Ketika dia bangkit dan membalikkan badan ke belakang, wajahnya yang berseri langsung berubah pucat. "Celaka! Bagaimana mungkin aku ketahuan?!"


Pria setengah baya menggigit ujung bibirnya. Dia mengepalkan tangan, kemudian berlari sekuat tenaga menuju kapal. Hal itu dikarenakan dia tahu tidak ada peluang menang jika bertarung.


Namun sayang sekali, seharusnya dia juga tahu jika tidak ada kesempatan untuk melarikan diri.


"Mati!"

__ADS_1


Zhang Yu bergerak secepat bayangan dan menebas tubuh pria itu hingga langsung terjatuh. Dia pun meninggal dan batu kristal inti api ia dapatkan.


__ADS_2