Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 287 : Batu Delima


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Zhang Yu sudah kembali ke domain Klan Xiao enam bulan yang lalu. Tentu saja ia tak sendirian, ada Xuan Yin sang istri, Zhang Chao, Zhang Long, Xiao Mei dan Long Shen.


Dalam kurun waktu ini Zhang Yu kembali ke rutinitasnya untuk membantu sang kakek menjalankan kewajibannya sebagai patriark. Lalu juga tak melupakan tujuannya untuk menyempurnakan pedang semesta yang sekarang hanya kurang satu bahan setelah tujuh bulan lalu mendapatkan batu biru langit dari gedung cabang Saturnus yang ada di Kekaisaran Xuan.


Satu bahan yang tersisa adalah batu delima. Akan tetapi Zhang Yu tak berpikir akan menemukannya dalam waktu dekat mengingat batu delima adalah bahan terlangka dari dua bahan lainnya.


"Ayah ...." Suara Zhang Chao dari luar ruangan membuyarkan lamunan Zhang Yu yang fokus pada kedua batu di tangannya. Dia menyimpan kedua bahan langka tersebut, lalu berjalan keluar dari ruangannya.


"Chao'er, ada apa?"


Alih-alih langsung menjawabnya, Zhang Chao menyodorkan sebuah gulungan dengan kedua tangannya.


"Dari siapa?" tanya Zhang Yu.


Zhang Chao meniup pipinya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Chao'er tidak tahu karena ibu hanya bilang surat itu untuk Ayah."


Zhang Yu manggut-manggut dan bersiap membukanya. Tapi jemarinya terhenti saat melihat Zhang Chao yang masih berdiri di sana seolah ada sesuatu yang ingin disampaikannya.


Haih...


"Chao'er, ke sini," lambai Zhang Yu pada sang putra.


Zhang Chao dengan semangat mendekat.


"Katakan, beritahu ayah sekarang," pinta Zhang Yu dengan lembut.


Sejenak Zhang Chao ragu. Matanya yang bulat terus memandang ke arah pintu seolah takut seseorang datang dari sana.

__ADS_1


Melihat reaksi Zhang Chao, Zhang Yu dengan segera mengetahuinya. "Apa Chao'er ingin buku panduan dasar teknik berpedang?"


Hem!


Zhang Chao segera menganggukkan kepala dan cukup bersemangat.


Zhang Yu tahu jika putranya sangat terobsesi dengan apapun yang berhubungan dengan kultivasi. Meskipun dengan usianya yang bahkan belum genap lima tahun itu terkesan belum waktunya, tapi pemahaman Zhang Chao seperti anak delapan tahun yang membuat Zhang Yu memutuskan memberinya kesempatan.


Namun di sisi lain, Xuan Yin sang istri masih membatasi keinginan Zhang Chao. Dia memperbolehkan Zhang Chao membaca panduan dasarnya kultivasi karena itu adalah langkah awalnya, tapi untuk mempelajari teknik berpedang itu terlalu jauh untuk anak usia lima tahun.


Karena alasan inilah Zhang Chao khawatir jika sang ibu tiba-tiba datang dan sekali lagi melarangnya untuk mempelajari buku teknik dasar berpedang.


"Ayah, Chao'er pergi dulu," ucap Zhang Chao.


"..."


"Ada apa dengan anak ini?" batin Xuan Yin.


Ketika dia ingin mengejar Zhang Chao untuk memastikan, Zhang Yu segera membuat alasan untuk menahan istrinya tetap di sini.


"Yin'er, kebetulan kau datang. Bisakah ambilkan aku minuman?"


Dua alis Xian Yon saling bertautan. "Bukankah gelasnya ada tepat di sampingmu? Itu bahkan lebih jauh dari tempatku," keluhnya.


Zhang Yu melirik ke arah nakas dan satu gelas teh yang masih penuh.


"Sial!" Dia mengumpat.


Tanpa banyak bicara Zhang Yu dengan segera mengubah posisinya menjadi tengkurap di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ambilkan saja, aku juga ingin merasakan pijatan tanganmu." Zhang Yu melambaikan tangan dan berkata dengan nada yang rendah.


Walaupun terbesit kecurigaan yang sangat besar, tapi Xuan Yin tetap mengikuti ucapan Zhang Yu dengan mengambilkan gelas teh di nakas dan memijatnya.


Pada saat itu Zhang Yu menghela nafas katenantelag berhasil mengalihkan perhatian istrinya dari Zhang Chao yang kabur membawa kitab teknik dasar berpedang.


"Chao'er, kau harus ingat pengorbanan ayahmu kali ini. Jangan sampai ibumu tahu, karena sudah pasti ayah akan dimarahi habis-habisan jika hal itu terjadi," ucap Zhang Yu dalam hati.


"..."


" .... Yu Gege, apa kau sudah membuka gulungan dari guru?" Xuan Yin bertanya setelah mengingat kembali tujuannya datang ke sini.


Tapi Zhang Yu bahkan baru tahu itu adalah surat yang dikirim oleh gurunya. Zhang Yu segera bangkit dari tengkurap nya lalu membaca surat tersebut.


"Zhang Yu, ini aku, Gu Bo, yang menghubungimu." Kalimat pertama pada surat itu.


"Aku mendengar kau sudah menemukan batu kristal inti api dan batu biru langit. Kebetulan aku mendapatkan satu bahan yang belum kau dapatkan, batu delima. Apa kau menginginkannya?"


"Batu delima itu ada di cincin penyimpanan yang datang bersama surat ini."


Mata Zhang Yu membulat sempurna mendengar kalimat yang ada pada pesan tersebut. Dia mengambil kembali pita yang sebelumnya dibuang karena mengira sudah tak berharga, dan mencari cincin yang dimaksud.


"Mungkinkah ini cincinnya?" tanya Xuan Yin setelah mengambil satu cincin dari lantai.


"Benar,"


Zhang Yu segera membuka cincinnya itu dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya.


Seketika perhatiannya tak bisa lepas dari sebuah batu transparan yang berwarna merah terang. "Batu delima!"

__ADS_1


__ADS_2