
"Ini sudah jauh, mereka tidak akan bisa mengejar." Zhang Yu berhenti setelah melesat tanpa henti memasuki Desa Ne. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum puas.
"Tidak tahu siapa mereka sebenarnya, ... Ah, tidak penting memikirkan mereka saat ini. Aku harus segera melanjutkan perjalanan." Zhang Yu memeriksa kotak dalam cincin ruangnya, setelah memastikan semua aman dia benar-benar melanjutkan perjalanannya.
Waktu berlalu dan Zhang Yu meninggalkan Desa Ne tengah malam. Dia sampai di istana saat pagi-pagi buta, lalu kemudian prajurit penjaga membukakan gerbang untuknya. Dia masuk begitu mudah tanpa pemeriksaan karena menunjukkan surat kaisar.
Bahkan seorang prajurit menjadi pemandu khusus untuknya untuk mengantar ke ruangan kaisar. Zhang Yu mengikutinya, karena mengemban perintah untuk menyerahkan secara langsung, ia tidak akan melepaskan stempel kekaisaran itu jika bukan kepada kaisar.
"Ini adalah ruangan Perdana Menteri," ucap prajurit itu yang seketika membuat kening Zhang Yu mengerut.
"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia."
Prajurit itu melirik dengan sinis lalu lanjut bicara. "Yang Mulia untuk saat ini tidak ingin bertemu dengan siapapun. Semua urusan akan dialihkan kepada Perdana Menteri Song Wejin."
Bersama dengan itu pintu ruangan terbuka menampakkan seorang pria tua berkumis tipis. Dia menatap Zhang Yu sejenak, melirik pada prajurit. "Kau bisa pergi," titahnya yang dengan segera dipatuhi oleh prajurit.
"Ayo masuk," katanya lagi kepada Zhang Yu.
Song Wejin tidak basa-basi, dia berjalan masuk dan meminta Zhang Yu mengikutinya. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Zhang Yu masuk ke dalam.
"Untuk saat ini Yang Mulia tidak ingin menemui siapapun. Kau dapat menyampaikan nya kepadaku." Song Wejin meminta Zhang Yu duduk dan berbicara tentang tujuan kedatangannya.
Zhang Yu perlahan duduk, tapi mata terus menelisik diam-diam sosok di depannya. "Kepala Akademi memberiku misi ini dan mengatakan harus menyerahkan stempel kekaisaran secara langsung. Sangat aneh jika Yang Mulia tidak ingin bertemu. Ini mencurigakan!"
"Kenapa kau hanya diam? Katakan saja padaku. Aku akan menyampaikan urusanku kepada Yang Mulia ketika dia sudah mau bertemu dengan orang lain." Song Wejin yang berkata demikian malah semakin membuat Zhang Yu curiga. Tapi sangat disayangkan tidak ada bukti yang dapat memperkuat dugaannya.
"Tidak masalah Perdana Menteri, aku akan menunggu sampai Yang Mulia ingin bertemu. Siapa yang tahu besok atau mungkin nanti Yang Mulia sudah ingin bertemu."
"Kau yakin begitu? Tapi kau akan kecewa karena Yang Mulia akan tetap seperti itu hingga satu tahun ke depan." Song Wejin mengatakan dengan pelan.
__ADS_1
Hem?
"Kau mengatakan sesuatu Perdana Menteri?"
"Tidak, kau mungkin salah dengar." Song Wejin tersenyum kaku, terlihat sekali dia memaksakan diri untuk tersenyum dalam suasana hati yang tidak baik.
"Oh atau begini saja, aku akan menghadap Yang Mulia Permaisuri. Aku rasa itu dapat dilakukan."
"Tidak!"
Zhang Yu menatap heran Song Wejin. "Apa ada yang salah, Perdana Menteri?"
Song Wejin seolah tahu telah terlalu berlebihan. Dia berdehem dan duduk dengan tenang. "Yang Mulia Permaisuri tidak ada di istana."
Zhang Yu semakin heran dengan sikap Perdana Menteri Song Wejin. Setelah hanya diam beberapa lama Zhang Yu bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan untuk kembali. "Karena Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri tidak bisa bertemu. Maka aku akan kembali lain waktu."
Zhang Yu berjalan dan membuka pintu, tapi pada saat ia akan melangkah keluar, sebuah tangan mendorong pintu itu kembali tertutup.
Bukannya terkejut Zhang Yu hanya menampilkan senyum sinis, sembari perlahan memutar tubuhnya. "Perdana Menteri, ada apa ini?"
Song Wejin diam, tapi matanya melirik cincin di tangan Zhang Yu. Bertahap tatapannya menjadi tajam dan aura kuat menyebar dari tubuhnya. "Kau terlalu banyak omong. Serahkan stempel dan plakatnya."
Zhang Yu tidak begitu panik dan terlihat tenang. Sikap Perdana Menteri yang sejak tadi sangat aneh telah menunjukkan bagaimana wataknya yang asli.
"Stempel apa? Plakat apa? Sepertinya Perdana Menteri salah paham." Dia mengangkat tangan dan berbicara layaknya seorang yang tidak tahu apa-apa.
"Jangan bersikap bodoh di depanku. Cepat serahkan plakat dan stempel Kekaisaran Xuan." Mata Song Wejin bertambah suram, dia mengeluarkan aura kekuatannya yang tidak lemah untuk menekan Zhang Yu.
Zhang Yu untuk pertama kalinya merasakan tekanan yang menyiksa tubuhnya. Mungkin tidak sekuat guru, tapi lebih kuat dari ayahnya bahkan patriark.
__ADS_1
"Apa dia berada di tingkat suci?" batin Zhang Yu masih berusaha bertahan.
Song Wejin tidak dipungkiri terkejut melihat Zhang Yu. Padahal ia berpikir dapat melumpuhkan pemuda di depannya ini, tapi bahkan aura penuhnya belum mampu untuk menumbangkannya.
"Kau memiliki bakat yang sangat langka, aku kagum. Tapi sangat disayangkan kita tidak berada di jalan yang sama, oleh karena itu aku hanya dapat membunuhmu." Dengan berkata begitu Song Wejin menarik sebuah pisau kecil dari pinggangnya. Akan tetapi pada saat ia akan mengayunkan tangan, sebuah kekuatan besar menghempaskan tubuhnya.
Song Wejin benar-benar tidak mengira serangan kuat itu berasal dari seorang pemuda di depannya. Ketika ia mengangkat wajah, pemuda itu tidak lagi berada di tempatnya.
"Di mana dia?!" Raut-raut kemarahan tampak jelas di wajahnya, Song Wejin berjalan membuka pintu lalu mengumpulkan penjaga istana yang ada di sekitar ruangannya.
Kendati demikian, keberadaan pemuda yang membawa plakat dan stempel kekaisaran itu tidak diketahui. Semua prajurit hanya saling memandang dan tampak kebingungan.
Song Wejin semakin murka dan memerintahkan seluruh prajurit untuk menutup pintu keluar istana, menahan semua orang yang mencoba untuk keluar.
Tidak ada yang berani menentang perintahnya, dia bagaikan penguasa di mata mereka.
...
Sementara itu, setelah menggunakan artefak pelindung pemberian guru dan memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri, Zhang Yu berusaha meninggalkan istana.
Akan tetapi sekelompok prajurit sudah melakukan penjagaan di sekitar gerbang. Tidak sampai di sana, mereka juga melakukan patroli keamanan memaksa Zhang Yu untuk bersembunyi dan terus berpindah tempat.
"Tidak masuk akal! Sekarang aku terlihat dalam masalah internal istana. Apa yang harus aku lakukan?" Zhang Yu merasa menyesal menerima misi untuk menyerahkan stempel dan plakat emas. Jika tahu akan jadi seperti ini, bahkan jika diberi hadiah satu gunung emas pun ia harus berpikir puluhan kali untuk menerimanya.
"Tapi membicarakan masalah internal, apa ini termasuk pemberontakan?" Melihat dari bagaimana keadaan istana saat ini, pemerintah berada di bawah kekuasaan Perdana Menteri, sedang Kaisar, Permaisuri dan Ratu tidak tampak keberadaan mereka.
Zhang Yu menjadi penasaran apa yang dilakukan Perdana Menteri terhadap keluarga kekaisaran. Sangat yakin seratus persen jika Perdana Menteri melakukan sesuatu terhadap mereka.
Namun anehnya, semua orang di luar istana tidak ada yang tahu perbuatan Perdana Menteri. Jika terus dibiarkan, maka Kekaisaran Xuan akan jatuh dan Perdana Menteri akan mengambil kursi pemerintahan.
__ADS_1
Zhang Yu semula masih bersembunyi di tempatnya, sampai sekelompok prajurit tampak berjalan ke arahnya.
Tidak menunggu waktu lama Zhang Yu melompat mencari tempat persembunyian lain. Di sana dia tidak diam, dia harus mencari jalan keluar.