Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 150 : Tantangan Xiao Yuze


__ADS_3

Uhuk! Uhuk!


Hong Xiu memuntahkan beberapa teguk darah. Pada saat ini wujud jiwanya setengah hancur, tapi dia masih bisa mempertahankannya.


"Tidak salah lagi! Dia memang berada di atas tingkatan ku," gumamnya. Keringat membanjiri wajahnya yang kini tampak kelelahan. Harus diakui menahan dua serangan Zhang Yu sangat-sangat merepotkan dan menguras banyak tenaganya.


"Eh.. Di mana dia?!"


Hong Xiu sedikit khawatir saat tak melihat Zhang Yu di tempatnya. Dia mengedarkan pandangan tiga ratus enam puluh derajat hanya untuk mencarinya. Dia baru bisa tenang saat menemukan Zhang Yu ternyata berdiri di seberang lain dari posisinya.


"Aku bahkan khawatir dia mulai menyerang saat aku belum siap," batin gadis itu. Perlahan dia mengelap keringat lalu mengikat rambutnya ke belakang.


"Transformasi Wujud Jiwa!"


Begitu Hong Xiu berseru, dia menggigit kelingkingnya hingga berdarah. Lalu darah itu menyebar ke wujud jiwanya saat dia mengangkat tangannya ke atas.


"Woah... Kekuatan ini lebih kuat dari sebelumnya." Dewa naga terkejut. Dia berusaha mengingatkan Zhang Yu, tapi melihat reaksi Zhang Yu sepertinya dia juga mengetahui hal itu.


"Mungkin ini juga termasuk teknik rahasia Klan Hong. Dia lebih berbakat dibanding saudaranya."


Dewa naga mendengus. "Apa pentingnya membicarakan hal itu? Sekarang dia bersiap menyerang!"


Zhang Yu juga dapat melihatnya. Wujud jiwa itu sekarang bergerak ke arahnya. Dengan pedang cahaya, menebas mengeluarkan gelombang api yang bergerak seperti ombak.


Tidak begitu cepat, tapi cukup lugas.


"Tinju batu!" Zhang Yu memposisikan tangan kirinya lurus ke depan, lalu bayangan tinju melesat menerjang ombak api yang siap menggulung dirinya.


Wush!


Gelombang api terbelah diikuti suara angin yang kacau. Bayangan tinju menerobos tak tertahankan membuat gelombang api itu terkoyak seperti ombak yang menerjang karang. Berantakan.


Serangan Zhang Yu mungkin berhasil menahan serangan tersebut. Tetapi Hong Xiu tidak berhenti sampai di sana. Sejak menyadari serangannya akan mudah ditangani, dia menyembunyikan wujud jiwanya di antara uap panas.


Matanya terus bergerak, mencari celah untuk menyerang.

__ADS_1


"Sekarang! Ini waktunya!" Hong Xiu tersenyum dengan percaya diri. Dia mengangkat pedangnya dengan gerakan spontan sebagai tanda, lalu wujud jiwa yang bersembunyi dalam luapan uap panas muncul dari titik yang tidak terpikirkan.


Blam!


Ledakan sangat kuat terjadi. Uap panas menyebar lalu menghilang tertiup oleh energi kuat dari ayunan pedang cahaya.


"Apa ini sudah berakhir?" tanya beberapa orang di bangku penonton.


Hong Xiu tidak yakin, tapi dia ingin memastikannya. Namun saat mendekat ia menyadari ternyata yang berada di pusat serangannya hanyalah pedang tanpa pemiliknya.


"Apa?! Di mana dia?"


Hong Xiu menjadi sedikit bingung. Tepat pada saat ini bayangan hitam berkelebat cepat dari arah belakang.


Seketika dengan respon yang cepat Hong Xiu membalikkan badan. Tetapi usahanya tidak lebih cepat dari gerakan Zhang Yu. Dalam kurun waktu itu Zhang Yu mendorong telapak tangannya yang terbuka, memukul Hong Xiu di antara perutnya.


Bug!


Sret...


"Adik, kau baik-baik saja?" tanya Hong Shen dari tempat duduk klan Hong. Karena dirinya sudah tersingkir lebih awal jadi harapan klan berada di pundak adiknya. Namun melihat lawannya adalah Zhang Yu, tentu saja sulit baginya untuk mencapai babak berikutnya.


Hong Xiu masih bergeming. Namun sedetik kemudian dia menarik nafas panjang sebelum memanggil Jendral Ji Han sebagai pengadil pertarungan mereka.


"Jendral Ji Han, kau dapat mengakhiri pertarungan ini." Tatapan yang ditujukan semua orang kepadanya, entah anggota klan ataupun orang luar, jelas saat ini situasi tidak berpihak kepadanya. Dia kalah. Mau atau tidak, dirinya harus mengakuinya.


Jendral Ji Han segera turun ke arena untuk mengesahkan Zhang Yu sebagai pemenang. Hong Xiu menyimpan pedangnya, kemudian meninggalkan arena lebih awal.


Saat melintas di sebelah Zhang Yu, Hong Xiu menyempatkan diri berhenti beberapa detik. "Selamat atas kemenangannya. Tapi boleh aku tahu bagaimana kau lolos dari serangan ku?"


Hong Xiu yakin seratus persen sudah mempersiapkannya sangat matang. Menjumpai fakta jika serangannya hanya menyasar bidang kosong membuatnya sedikit tidak menerima akhir pertarungan ini.


Zhang Yu mengambil pedang semesta yang menancap di tempat serangan sebelumnya. Mengambil kembali sedikit energinya yang masih berkumpul di dalamnya.


Seketika hal itu membuat Hong Xiu kehilangan kata. Dia tertawa saat tahu akar masalahnya. "Ha-haha ... Aku pikir aku sudah selangkah di depanmu. Ternyata kau bahkan sudah melangkah lima kali tanpa sepengetahuanku. Aku sungguh merasa konyol."

__ADS_1


Zhang Yu tidak mengatakan apapun. Dia pun kembali ke tempat duduknya.


Serangan gelombang api yang dikeluarkan Hong Xiu sebelumnya tidak memenuhi ekspektasinya. Karena sudah melihat serangan Hong Shen pada pertarungan babak kedua, dia berpikir serangan itu akan lebih kuat. Namun ternyata serangan itu langsung hilang begitu mudah saat ia mengeluarkan serangan.


Dari titik tersebut terlihat ketidakberesan situasi dalam pertarungan. Dirinya sengaja meninggalkan sedikit Qi dalam pedang semesta sebelum menancapkannya di tempatnya berdiri. Hal itu berdasar pada respon Hong Xiu yang cenderung sangat peka terhadap aura.


Terbukti pada serangan kejutan pertama saat dirinya menyerang dari atas. Reaksinya yang cepat menjelaskan semuanya.


"Apa tujuanmu sebenarnya?"


Zhang Yu baru saja duduk. Xiao Yuze menggeser posisinya hingga berada satu tempat di sebelahnya.


"..."


Namun alih-alih memperhatikannya, Zhang Yu bahkan tudak meresponnya. Tentu saja sikap diam Zhang Yu membuat Xiao Yuze kesal. Pemuda itu membuang muka, lalu mendengus dengan suara yang dalam.


"Kau ingin mendapat pengakuan dari Klan Xiao, kan? Itulah tujuanmu datang ke kompetisi ini dan menunjukkan bakatmu di depan semua orang terkhusus tetua klan."


Zhang Yu menarik nafas sejenak. Dia mulai menatap Xiao Yuze yang terlihat tidak senang dengan keberadaannya.


Dia benar-benar marah? Konyol. Bukankah dirinya yang punya hak itu sekarang? Perlakuan tidak adil yang telah didapatnya dan kedua orang tuanya. Apa klan Xiao tahu bagaimana hidupnya dan hidup ayah ibunya?


"Benar. Itu memang tujuanku. Apa itu membuatmu tidak nyaman?" tanya Zhang Yu sinis.


"Ka-kau ...." Wajah Xiao Yuze berubah merah. Kalimat Zhang Yu sungguh telah memprovokasinya. Namun sedetik kemudian dia berusaha mengendalikan emosinya dan tertawa dengan mencemooh. "Kau sama seperti ayahmu yang berasal dari klan antah berantah. Tidak akan ada yang mengakui keberadaanmu bahkan jika kakek membawamu pulang. Kau hanyalah aib bagi klan."


Setiap kata seperti jarum yang menembus jantungnya. Zhang Yu mengepalkan tangan tapi dia begitu lihai menyembunyikan ekspresinya.


"Jika aku adalah aib, lantas kau apa? Ku dengar kau memaksa seorang wanita menikah sedang dia tidak menginginkannya, bukankah itu menyedihkan?"


"Apa katamu?!" Xiao Yuze kembali terpancing. Akan tetapi saat akan bicara, suasana di sekitar tiba-tiba menjadi riuh saat dua peserta yang tersisa turun ke arena untuk babak ketiga.


Huh!


"Tunggu saja. Aku akan menunjukkan siapa Xiao Yuze yang sebenarnya pada babak final."

__ADS_1


__ADS_2