
"Song Ya, bagaimana ini? Sepertinya rencana kita sudah gagal."
Wanita yang mengenakan pakaian penjaga bertanya dengan cemas pada wanita yang mengenakan pakaian pelayan.
"Tidak disangka mereka mengetahuinya dengan cepat. Bahkan sudah mengganti persedian arak dengan yang baru," wanita berpakaian pelayanan yang bernama Song Ya itu menggigit jarinya sambil memasang wajah kesal.
"Ru Li, rencana kuta benar-benar gagal. Kau harus pergi dari sini sebelum penjagaan diperketat."
"Lantas bagaimana denganmu?" tanya wanita bernama Ru Li.
"Aku harus menyelesaikan tujuan ku. Bahkan jika harus tertangkap, aku harus membunuh kaisar. Ini untuk balas dendam untuk ayahku yang sudah difitnah olehnya sebagai pengkhianat," ucap gadis muda itu.
Dia segera mengenakan penutup wajahnya, kemudian berjalan sambil membawa nampan dan arak yang sudah di campurnya dengan racun.
"Tidak. Jangan lakukan itu Song Ya. Kau akan tertangkap."
Namun Song Ya tidak menghiraukan ucapan temannya dan berjalan dengan tenang melewati lorong.
Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk sampai di kamar kaisar. Tetapi ketika masuk ternyata dia tak menemukan ada orang di sana.
Dengan identitas pelayan yang dimilikinya saat ini, Song Ya dapat berjalan bebas di istana tanpa seorang pun mencurigainya. Dia masuk ke dalam aula pesta lalu mencari Xuan Zou yang menjadi targetnya.
"Di sana!" batinnya, kemudian segera melangkah ke tempat Xuan Zou yang sedang bersama seorang pria yang jelas tak dikenalnya.
"Yang Mulia, engkau terlihat haus. Apa engkau ingin arak ini?"
Xuan Zou sejenak terdiam. Dia lantas melirik sosok pelayan yang menutup setengah wajahnya itu lalu perlahan mengambil gelas arak tersebut.
"Kau bisa pergi," ucap Xuan Zou.
Song Ya terus memperhatikan sampai Xuan Zou benar-benar menghabiskan arak beracun itu. Dia pun tersenyum di balik kain yang menutup wajahnya dan pergi dari aula pesta.
Gadis itu tidak menyadari jika sebenarnya Xuan Zou tidak meminum arak tersebut. Dia membuang arak dalam gelas itu ke lengan pakaiannya tapi tetap berpura-pura menghabiskannya.
__ADS_1
"Sepertinya kita sudah menemukannya," ucap Xuan Zou.
Zhang Yu tersenyum. Mereka berdua kemudian pergi dari aula pesta untuk mengikuti pelayan yang telah memberikan arak beracun. Mereka sengaja tak memperbesar masalah ini di aula agar acara tak berantakan dan tamu tidak terganggu.
Song Ya menyadari jika dirinya diikuti, jadi dia mempercepat langkahnya sambil memegang kain yang menutup wajahnya.
Dia menjadi panik saat menyadari dua orang yang mengejar juga semakin cepat. Dia membuang nampan di tangannya secara sembarangan lalu berlari sekuat tenaga.
Sayang. Ketika dia berbelok ke satu arah, beberapa orang sudah mencegatnya.
"Ternyata kau yang mencoba mengacaukan pesta pernikahan putriku?" kata Tuan Besar Liu dengan nada marah.
Song Ya menjadi panik saat menyadari tidak ada jalan untuknya melarikan. Dia berpikir keadaan ini sudah tidak akan menjadi lebih buruk. Namun siapa yang menyangka, dua orang lagi datang sambil memegang temannya.
"Ru Li!" gumamnya dengan tertahan.
Ru Li pun sadar dari pingsannya. Dia menatap ke arah lengannya yang dipegang oleh seorang wanita dan berusaha meronta. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukannya.
Xuan Zou melihat dua pelaku ini masih sangat muda. Dia semakin penasaran apa motif mereka melakukan semua ini.
"Kau ingin temanmu lepas kan? Jika begitu, katakan apa tujuanmu," kata Xuan Zou.
Song Ya mengangkat wajahnya menatap sosok pria yang di matanya sangat jahat. Dia menggertakkan gigi. "Kau! Aku ingin kau mati!" ucapnya sambil menunjuk wajah Xuan Zou.
Jelas apa yang dilakukannya sangat berani. Jendral Zhao Yun yang mendengarnya sontak menjadi marah dan ingin melayangkan pedang, tapi segera ditahan oleh Xuan Zou.
"Simpan pedang mu, Jenderal Zhao."
Zhao Yun menganggukkan kepala dan segera menyimpan pedangnya kembali.
"Kenapa kau ingin aku mati?" tanya Xuan Zou.
Nafas Song Ya yang menggebu-gebu perlahan teratur. "Kau sudah memfitnah ayahku sebagai pengkhianat. Kau harus mati untuk meminta maaf langsung kepadanya. Ayahku bukan pengkhianat!" seru gadis itu.
__ADS_1
Mereka yang mendengar ucapan Song Ya sontak bertanya-tanya tentang siapa ayahnya. Karena tidak mungkinkan mereka tahu jika gadis itu masih tidak mengatakan ayahnya.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Xuan Zou.
"Song Wejin. Dia adalah Perdana Menteri Song Wejin. Ayahku tidak mungkin berkhianat. Dia bukan pengkhianat!" kata Song Ya menjadi sangat emosional.
Sekali lagi ucapannya berhasil mengejutkan semua yang ada di sana.
"Perdana Menteri Song Wejin? Jadi dia adalah putri Perdana Menteri Song Wejin?" ucap orang-orang itu.
Bersama dengan itu Tuan Besar Jim datang. Dia adalah saudara ipar Song Wejin. Paman dari pihak ibu Song Ya.
"Song Ya, kenapa kau melakukan ini?"
"Paman ...." Suara Song Ya tertahan ketika melihat wajah pamannya. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu, mungkin enam atau tujuh tahun yang lalu saat usianya masih tiga belas tahun.
Tuan Besar Jim hendak mendekat, tapi langkah kakinya ditahan oleh penjaga yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Baru setelah Xuan Zou memberi tanda, penjaga itu baru menarik diri dan membiarkan Jim Young berjalan ke arah Song Ya.
"Paman, ayah dituduh sebagai pengkhianat. Aku bagaimana mungkin diam saja? Aku tak bisa menerima ini. Ayahku bukan pengkhianat."
Jim Young memeluk Song Ya, keponakannya. "Song Ya, tapi itulah kebenarannya. Ayahmu telah berkhianat. Dia mencoba merebut kekuasaan dengan melakukan pemberontak."
"Tidak! Itu tidak benar. Itu fitnah!" seru Song Ya.
Jim Young kembali menenangkan Song Ya. Dia lalu mengeluarkan sebuah surat yang sudah cukup lama ditulis oleh kakak perempuannya, ibu Song Ya. "Lihatlah, kau akan tahu semua kebenarannya."
Dalam surat itu ibu Song Ya yang bernama Jim Shui menulis surat peringatan untuk keluarga Jim tentang rencana yang akan dilakukan Song Wejin, suaminya. Jim Shui tidak mendukung rencana suaminya, tapi juga tidak bisa mengkhianatinya. Jadi dia hanya bisa mengingatkan keluarga Jim untuk tidak terlibat di dalamnya.
Air mata Song Ya menetes membaca surat itu. Dia jelas mengenali tulisan tangan ibunya. Tidak mungkin salah, itu adalah tulisan yang sama. Tetapi, bagaimana semua kebenaran itu sangat berbeda dengan yang ia ketahui? Apa ayahnya membohonginya selama ini?
Song Ya terduduk lemas dengan air mata. Dia menatap kantong di pinggangnya yang berisi racun dan mulai menyesalinya perbuatannya.
"Pa-paman, apa aku juga termas berkhianat? Apa yang aku lakukan ini kejahatan?" Song Ya seperti mendapatkan pencerahan. Selama ini dia hanya mengetahui hal dari yang dikatakan ayahnya. Bahkan sampai ayahnya meninggal ia masih terbelenggu dengan kebohongan yang diciptakannya selama ini dan membuatnya mengambil langkah yang benar-benar salah.
__ADS_1