
Mendengar nama pemuda di depannya, pria tua itu mengangguk seraya tersenyum ramah. Tampak sekali dia memiliki kesan yang cukup baik terhadap Zhang Yu.
"Meski tidak lagi merasakan efek racun es dan api saat ini, tapi itu akan kembali kambuh dalam beberapa hari. Alangkah baiknya segera pergi dari sini." Zhang Yu memberi pendapatnya pada sembilan orang di depannya. Siapa yang mengira kebiasaan membaca kitab-kitab di perpustakaan akan sangat bermanfaat.
"Pemuda ini benar Yang Mulia, kita harus segera pergi. Belum lagi jika Song Wejin datang kemari, kita tidak akan bisa menghadapinya." Seorang wanita paruh baya berkata.
Namun, dibandingkan dengan mendengarkan ucapan wanita itu. Zhang Yu terfokus pada sebutan yang ditujukan kepada pria tua.
"Yang Mulia?" Matanya membulat.
Pria tua itu terkekeh melihat keterkejutan Zhang Yu.
"Benar, menurutmu aku siapa? Aku adalah Kaisar Kekaisaran Xuan, Xuan Zou. Dia adalah Permaisuri Ling Qiao. Lalu mereka dua istriku lainnya Ratu Ju Qianchen dan Ratu Yu Wen. Sedang mereka adalah jendral, bendahara dan kasim." Pria tua mengarahkan tangannya kepada delapan orang di sekitarnya.
Zhang Yu benar-benar tidak menyangka. Dia memang datang ke istana untuk bertemu dengan kaisar, tapi karena satu dan lain hal semua itu harus ia urungkan. Sungguh kebetulan ia malah bertemu dengan kaisar di ruangan seperti ini.
"Yang Mulia, maafkan pemuda ini yang sangat tidak sopan." Zhang Yu dengan menyesal mengakui ucapannya yang sebelumnya sangat tidak pantas ditujukan kepada seorang kaisar.
Namun, tanggapan Xuan Zou begitu santai terhadap Zhang Yu. "Tidak perlu begitu. Kau sudah menyelamatkanku, juga semua yang ada di sini. Kami berutang nyawa kepadamu."
"Seperti yang dikatakan Yang Mulia, kau tidak perlu merasa bersalah. Itu karena kau tidak tahu," kata Permaisuri Ling Qiao.
Hal ini berhasil membuat Zhang Yu memiliki pandangan baik tentang keluarga kekaisaran. Terlepas dari identitas mereka yang tinggi dan agung, tapi masih memiliki hati yang begitu rendah dan bersih.
"Yang Mulia, sepertinya ada seseorang yang datang." Jendral Zhao Yun, pria yang sebelumnya berada di ruang tahanan nomor satu itu berdiri sembari memandang lorong.
Xuan Zou mengangkat kepalanya. "Jendral Zhao, kau alihkan batu yang ada di sana."
Zhao Yun tidak tahu apa yang diinginkan kaisarnya itu, tapi tanpa banyak bertanya dia melakukan sesuai permintaannya.
__ADS_1
Baru dipindahkan, terlihat lubang menuju ke bawah hanya seukuran dua kali lebar badan.
Zhang Yu menyipitkan mata. Tidak pernah terpikir olehnya jika batu di pusat ruangan ini ternyata adalah pintu akses jalur rahasia. Jangankan Zhang Yu yang baru pertama kali ke istana, bahkan tiga istri kaisar dan Jendral Zhao Yun yang puluhan tahun tinggal di istana juga baru tahu keberadaan jalur rahasia tersebut.
"Kita turun," kata Xuan Zou lalu dia turun terlebih dahulu.
Sepuluh orang masuk ke dalam lubang bergantian, Zhang Yu yang menjadi orang terakhir menarik batu agar menempati posisi semula. Lalu dia turun mengikuti sembilan orang lainnya.
"Yang Mulia, kemana jalur rahasia ini akan membawa kita?"
Xuan Zou berjalan dan menarik sebuah tuas di dinding. Tidak lama kemudian keadaan menjadi terang dengan obor yang berjajar.
Mereka berada di sebuah ruangan luas masih dalam bentuk yang sama. "Ini bukan jalur yang dapat membantu kita keluar. Tapi setidaknya adalah tempat paling aman untuk bersembunyi saat ini."
"Di sini kita akan menghilangkan racun es dan api. Aku harap kau bersedia membantu kami." Xuan Zou berkata sembari melirik Zhang Yu.
Tentu saja hal ini membuat Zhang Yu menunjukkan raut wajah yang menyesal. "Yang Mulia, melakukan itu memang bukan mustahil. Tapi tidak ada bahan-bahan yang dibutuhkan di sini."
"Ruangan rahasia?" Semua orang berjalan mendekat. Tidak terkecuali Zhang Yu.
Awalnya semua orang berpikir itu sekedar ruangan rahasia biasa. Tapi ketika masuk ke dalamnya, mata tidak bisa berhenti menatap indah rak-rak yang penuh dengan sumber daya.
"Yang Mulia, apa semua ini milik istana?" Ju Qianchen bertanya kepada suaminya.
Xuan Zou mengangguk. "Tentu saja. Ini adalah milik istana, milik Kekaisaran Xuan. Bisa dikatakan ini adalah peninggalan dari Kaisar sebelumnya, Ayah Kaisar."
"Zhang Yu, kau coba cari di dalam bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menetralkan racun es dan api. Aku pikir semua pasti ada di dalam," ucap pria tua itu yang kemudian masuk terlebih dahulu.
Zhang Yu benar-benar masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan sumber daya, dia melihat dari sudut ke sudut dan itu sungguh luar biasa.
__ADS_1
Namun meski semua itu terlihat menarik di matanya, tapi sekali lagi kondisi fisiknya membuatnya sadar. Selain itu untuk saat ini tiada kepedulian lain selain mencari bahan yang dibutuhkan untuk menetralkan racun es dan api.
Sebenarnya Zhang Yu juga belum pernah menyembuhkan orang yang terkena racun es dan api. Tapi dari buku yang pernah ia baca, terdapat beberapa sumber daya yang dapat menyerap dua kekuatan berlawanan. Jika mendapatkan sumber daya itu, kemungkinan untuk menetralkan racun es dan api bukan lagi sekadar omong kosong.
Namun, sejauh mana Zhang Yu bergerak, tidak terlihat satu pun sumber daya yang memiliki ciri tersebut.
"Bagaimana? Apa tidak ada?" Xuan Zou menampilkan ekspresi yang rumit. Dia memegang dagunya, lalu berjalan mendekat pada salah satu rak.
Hem...
"Sepertinya di balik sini juga ada," gumamnya laku menggerakkan tak tersebut.
Benar saja, di balik rak yang bersandar di dinding itu ternyata juga menyimpan sumber daya.
Zhang Yu memperhatikan barisan sumber daya yang ada di sana, kemudian tatapan matanya tertuju pada buah bulat dengan ukuran tiga kali kepalan tangan. Warnanya merah dan ada beberapa bagian seperti sirip dengan warna yang sama tapi ada sedikit kehijauan di ujungnya.
Buah naga?!
Tidak butuh waktu lama bagi Zhang Yu untuk mengetahui buah di depan matanya. Tanpa banyak berkata dia mengambil buah naga itu lalu berjalan keluar dari ruangan.
Xuan Zou memandang Zhang Yu, matanya sesaat menatap buah yang dibawa pemuda di depannya. "Apa itu bahan untuk menetralkan racun es dan api?"
Meski tahu jika buah naga memiliki khasiat yang luar biasa, tapi Xuan Zou sama sekali tidak tahu jika buah tersebut dapat menetralkan racun es dan api.
"Itu belum dapat dipastikan, Yang Mulia. Hal pertama kita harus mencobanya."
Xuan Zou sejenak terdiam mendengar jawaban Zhang Yu. Padahal awalnya ia berpikir jika Zhang Yu memiliki keyakinan untuk menetralkan racun es dan api. Tapi sekarang malah berkata akan mencobanya.
Hem...
__ADS_1
"Baiklah." Lagi pula jika dipikir kembali Zhang Yu tidak mungkin memiliki niat buruk terhadapnya. Jika memiliki niat buruk dia tidak akan repot-repot menolongnya saat sekarat di dalam ruang penjara.
Setelah mengembalikan ruangan seperti semula, Xuan Zou duduk bersila di depan Zhang Yu. "Aku percaya kepadamu, kita bisa mencobanya."