
"Yang Mulia?!"
Di tengah pertarungan tiba-tiba satu pasukan yang terdiri tidak kurang dari lima ratus orang datang.
Pasukan Song Wejin yang hanya tersisa dua ratusan orang dengan segera mundur menjauh karena perbedaan jumlah yang signifikan.
"Yang Mulia, maafkan kami karena terlambat." Pria yang baru saja datang itu menoleh ke belakang, mengenali siapa pria itu Xuan Zou menunjukkan seulas senyum di antara bibirnya.
"Komandan Fang."
Berbeda dengan Xuan Zou yang tersenyum melihat kemunculan pasukan tambahan, wajah Song Wejin berubah buruk dengan kedatangan pasukan yang sebelumnya sudah ia tahan di ruang penjara.
"Fang An?! Bagaimana kalian kaluar dari sana?"
Fang An hanya mendengus mendengar pertanyaan Song Wejin. "Tidak penting untuk mengatakannya kepadamu Perdana Menteri. Sama sekali tidak penting."
"Fang An, siapa yang memberitahumu kita ada di sini?" tanya Xuan Zou.
"Permaisuri dan Ratu, Yang Mulia. Dia ditemani seorang pemuda, pemuda itulah yang menghancurkan segel gembok penjara."
Pemuda?
Xuan Zou hanya mengenal satu pemuda pada saat ini. Tidak lain adalah Zhang Yu. "Fang An, di mana Permaisuri, Ratu dan pemuda itu sekarang?"
"Di sini Yang Mulia," Satu suara yang membuat semua mata mengalihkan pandangan.
Xuan Zou mendongak dan melihat ketiga istrinya datang dengan pedang berwarna emas. Masih dengan Zhang Yu di sampingnya.
"Aku mengambil pedang milikmu, Yang Mulia." Setelah berkata Ling Qiao melempar pedang itu kepada suaminya.
Xuan Zou menangkap pedang yang dilemparkan kepadanya, menatap lekat pedang berwarna emas yang merupakan pedang kesayangannya. Matanya kembali menatap Song Wejin. Sebuah amarah terpancar nyata.
"Ini adalah hari kematianmu!" lantangnya lalu melesat dengan ratusan pasukan yang baru saja datang.
Dalam waktu singkat pertarungan langsung berubah, Song Wejin dan dua ratusan orangnya yang semula berada di atas angin sekarang berganti kewalahan dengan desakan pasukan Fang An. Terlebih dengan keberadaan Jendral Zhao Yun serta Xuan Zou, tidak butuh waktu lama jumlah mereka menjadi seratusan orang.
Zhang Yu masih tetap di samping Ling Qiao, matanya menatap Song Wejin yang kini kewalahan menghadapi dua lawan sekaligus. Xuan Zou dan Zhao Yun. Mungkin jika satu lawan satu dia masih dapat bertahan, tapi jika dua lawan sekaligus adalah keberuntungan jika masih dapat pergi dengan selamat.
"Kau tidak perlu ikut campur dalam pertarungan ini, kau sendiri dapat melihat sekarang kendali sudah berada di tangan Yang Mulia. Tidak lama pasti akan berakhir."
__ADS_1
Zhang Yu menengadahkan wajahnya. Meski darahnya ikut mendidih melihat pertarungan di depan matanya, tapi yang dikatakan Permaisuri Ling Qiao benar, tanpa dia ikut terlibat langsung pertarungan akan segera berakhir.
Zhang Yu hanya memperhatikan pertarungan dari kejauhan, tidak lupa dengan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Kaisar kepadanya agar tetap di samping Permaisuri. Awalnya semua baik-baik saja, sampai sebuah suara lantang menusuk masuk telinganya.
"Awas! Menyingkir dari sana!"
Spontan mata Zhang Yu berpendar, alangkah terkejut dirinya ketika melihat serangan kuat mengarah kepadanya. Atau yang lebih tepat kepada Permaisuri Ling Qiao.
"Permaisuri, ...."
Whut...
Boom!
Zhang Yu segera membentangkan pedang di depan tubuhnya, menciptakan satu perisai Qi yang menahan serangan tersebut.
Usahanya tidak sia-sia, meski harus hancur perisai tersebut mampu menahan serangan.
Ketiga istri kaisar terkejut hingga tidak bisa bereaksi, Zhang Yu mengajak mereka pergi menjauh dari tempat pertarungan. Namun, terdapat beberapa prajurit yang mengejar.
Tentu saja mereka diperintahkan oleh Song Wejin. Karena berpikir tidak ada kesempatan untuk menang dalam pertarungan, dia mencoba memikirkan satu cara lain yakni dengan memanfaatkan keberadaan Permaisuri dan Ratu.
Sementara itu, Xuan Zou yang mengetahui niat Song Wejin dengan marah memburu pria tua itu. "Kurang ajar! Beraninya kau menyerang istriku. Ku bunuh kau!"
Song Wejin seperti telah mengaktifkan bom bunuh diri untuknya sendiri. Amarah Xuan Zou langsung memuncak ketika tahu ia memiliki niat buruk terhadap ketiga istrinya.
Luka demi luka bersarang di tubuh Song Wejin, pria tua itu dalam keadaan terdesak terus mencari cara agar dapat meninggalkan istana dengan selamat.
"Yang Mulia, ...." Song Wejin ingin berkata, tapi Xuan Zou dengan cepat melesatkan pedang hampir menyumpal mulut dengan bilah tajamnya.
Tentu saja hal ini sangat mengejutkan bagi Song Wejin. Dia secepat kilat menarik kepalanya menunduk lalu melompat menjaga jarak.
"Yang Mulia, kau memang dapat membunuhku saat ini dengan pasukanmu. Tapi kau harus ingat jika masih memiliki tujuh putra."
Langkah Xuan Zou berhenti mendengar ucapan Song Wejin. "Apa maksudmu?!"
Song Wejin tersenyum lalu berkata, "Lebih dari separuh pasukan yang pergi ke perbatasan adalah orang-orangku. Jika sampai berita kematianku tersebar, siap-siap saja kau juga akan mendapatkan berita kurang menyenangkan."
Mata Xuan Zou benar-benar merah mendengar ucapan Song Wejin. Tapi ia tidak bisa bertindak gegabah karena tidak tahu apakah ucapan itu sungguh kenyataan atau hanya gertakan. Dia tidak ingin sesuatu terjadi terhadap darah dagingnya.
__ADS_1
"Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Xuan Zou.
Song Wejin menurunkan pedangnya lalu mata berpendar ke sekitar. "Beri aku jalan untuk pergi."
Tanpa banyak berpikir Xuan Zou langsung menghentikan pertarungan. Meski hanya sedikit langkah lagi dan kemenangan didapatkan, tapi ia tidak tenang jika menyangkut tentang anak-anaknya.
"Kalian semua mundur!" Zhao Yun, tiga kasim dan ratusan pasukan mundur sesuai perintah sang kaisar.
"Sekarang kau bisa pergi,"
Song Wejin tersenyum, lalu melesat pergi meninggalkan wilayah halaman belakang.
"Yang Mulia, kau tetap saja naif. Kau sendiri tahu seperti apa karakter putra-putramu. Tapi kau tetap saja percaya dengan ucapanku. Omong-omong, terima kasih atas kemurahanmu, aku akan kembali suatu saat nanti." Song Wejin melesat dengan cepat dan menghilang dari pandangan semua orang.
Xuan Zou hanya merapatkan gigi setelah tahu jika semua ini hanya gertakan.
Xuan Zou jelas tahu karakter ketujuh anaknya. Mereka semua adalah genius yang memiliki bakat menakjubkan dan memiliki pendirian yang kuat.
Namun, intuisi nya sebagai orang tua memaksanya untuk menahan diri walau kemungkinan itu benar-benar kecil.
"Yang Mulia ...." Zhao Yun mendekat.
"..."
"Biarkan saja. Anggap dia beruntung." Xuan Zou mendengus geram.
"Tapi jangan berpikir dia dapat macam-macam. Kapanpun dia kembali, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."
Xuan Zou menurunkan pandangannya, raut wajahnya berubah ketika melihat puluhan prajurit yang sebelumnya ada di pihak Song Wejin masih di halaman belakang.
"Kenapa kalian masih ada di sini?" tanya Xuan Zou dengan suara tertahan.
Puluhan prajurit itu menundukkan kepala.
"Ya-Yang Mulia, kami tidak bermaksud berkhianat. Perdana Menteri mengancam kami dengan menggunakan keluarga kami, kami tidak memiliki pilihan lain kecuali menuruti ucapannya."
Xuan Zou bergeming tak merespon. Sampai Ling Qiao mendekat dengan Zhang Yu di sampingnya. "Yang Mulia, mereka tidak berbohong. Kali ini adalah sepenuhnya ulah Perdana Menteri, mohon agar Yang Mulia memberi mereka ampunan."
Xuan Zou menatap istrinya, lalu menghela nafas. "Kalian beruntung karena Permaisuri berkata demikian. Berterima kasih lah pada Permaisuri."
__ADS_1
Serentak puluhan prajurit itu bersujud dan berterima kasih pada Ling Qiao, juga tak lupa kepada Xuan Zou selaku adalah Kaisar mereka.