
"Kenapa mengajakku kemari? Tidak bisakah bicara di sana?" Zhang Yu menatap Xuan Yin yang hanya diam berdiri di depannya.
Xuan Yin melepas ikat rambutnya setelah memastikan tidak ada orang di sekitar. Meskipun begitu Zhang Yu agak cemas dengan tindakannya.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika ada yang tahu?" Zhang Yu berusaha menutupi sambil menahan tangannya.
Namun Xuan Yin tidak menghiraukan. Dia menangkap tangan Zhang Yu dan menatapnya dengan lekat.
Untuk pertama kalinya Zhang Yu agak gugup. Dia menelan ludahnya dengan sulit berusaha menenangkan diri.
"Bukankah kau ingin bicara? Apa ...."
Sebelum Zhang Yu menyelesaikan kalimatnya, Xuan Yin maju mendorong bibirnya. Dalam satu waktu mereka bersatu. Zhang Yu tentu saja terkejut dengan keberanian Xuan Yin. Tapi dia tak berpikir untuk menolaknya.
Entah dari mana Zhang Yu melihat bulir kristal air mata menetes di lengannya. Dalam hati langsung berpikir, "Dia menangis? Apa yang terjadi?"
Akan tetapi Zhang Yu membiarkan hal ini tetap bertahan. Baru setelah Xuan Yin menarik tubuhnya ke belakang, Zhang Yu mencoba melihat lebih jelas wajahnya.
Wajah yang putih halus seperti salju hari ini agak merah dan sembab.
"Katakan saja jika ada masalah. Ceritakan padaku, aku akan membantumu menyelesaikannya."
Xuan Yin hanya menggigit bibirnya lalu bertahap mengusap sudut matanya yang basah. "Aku berharap kita dapat bertemu lagi setelah ini. Tapi mungkin itu tidak akan pernah terjadi."
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" Kalimat Xuan Yin yang lirih tak bisa di dengar oleh Zhang Yu. Ketika Zhang Yu bertanya padanya, Xuan Yin hanya diam lalu berlari pergi meninggalkannya.
Zhang Yu bahkan tak sempat mengatakan sesuatu. Saat akan mengejar, Wu Zetian datang dari belakang.
"Zhang Yu, ternyata kau ada di sini. Aku mencarimu kemana-mana."
Zhang Yu hanya menoleh sebentar, tapi Xuan Yin sudah menghilang dari pandangan. Dia menyentuh bibirnya, mengingat apa yang baru saja terjadi seolah itu adalah ucapan perpisahan untuknya.
"Apa dia sedang dalam masalah?" batinnya.
Wu Zetian yang tidak tahu apa yang dipikirkan Zhang Yu pun menepuk pundaknya karena hanya diam ketika dirinya bicara. "Sebenarnya siapa yang baru pergi hingga kau mengabaikanku?!"
Alih-alih meminta maaf atau menjawab kalimatnya, Zhang Yu berjalan pergi menyusul kepergian Xuan Yin.
Wu Zetian tak percaya dia akan ditinggal sendirian. Dia bertepuk tangan lalu mencibir dengan suara lantang. "Bagus sekali! Kau mengabaikanku lagi! Kau tidak ingat siapa yang membantumu mengukur waktu hingga bisa ikut dalam ujian?"
"Zhang Yu! Tunggu aku!"
Namun Zhang Yu tidak peduli. Dia masih melangkah menyusuri jalan itu mencari keberadaan Xuan Yin.
...
Arena pelataran dalam. Setelah jeda istirahat yang diberikan habis, seluruh murid yang akan mengikuti babak kedua berkumpul kembali di sana tak terkecuali Zhang Yu dan Wu Zetian.
Sambil melihat tetua berbicara Zhang Yu terus mencari keberadaan Xuan Yin yang tak ada di tempat sebelumnya. Bahkan sekarang keenam pangeran juga tak datang.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Zhang Yu terus memikirkan ini. Bahkan ketika namanya disebut untuk maju, dia masih termenung sampai Wu Zetian menepuk pundaknya agak keras.
"Apa yang kau pikirkan? Cepat naik ke atas."
Zhang Yu menatap tetua yang memandang ke arahnya. Sekali lagi melihat ke sekitar kemudian melangkah naik ke atas arena.
"Gu Bei! Naik ke atas!"
Murid bernama Gu Bei berdiri dari tempat duduknya setelah namanya disebut. Tapi dia tak berani naik mengingat siapa lawan yang akan dihadapinya. "Tetua, bolehkah aku langsung mengaku kalah?"
Tetua sontak menyipitkan mata. Tapi juga tak bisa berpendapat lain. "Baiklah, Gu Bei menyerah. Zhang Yu menang!"
"Kau dapat kembali ke tempat dudukmu."
"Maaf Tetua, bisakah aku melakukannya sekaligus?"
Kalimat Zhang Yu agak membingungkan. Sepuluh tetua pengawas memandang dengan bingung. "Apa kau maksud dengan melakukannya sekaligus?"
"Maaf Tetua. Dalam babak kedua setiap peserta ujian maksimal akan bertarung dua kali sebelum diputuskan menjadi murid dalam. Benar begitu kan? Oleh karena itu murid ingin melakukan dua pertarungan ini sekaligus." Zhang Yu menolak untuk turun dan mengambil keputusan untuk menantang semua peserta yang ingin menghadapinya.
Keinginan Zhang Yu ini benar-benar tidak biasa dan bisa dikatakan belum pernah terjadi. Sepuluh tetua pengawas saling memandang masih berunding.
"Tidak bisa. Kami tahu kau punya kemampuan. Kami juga tahu peluangmu menjadi murid dalam lebih besar dari siapapun. Tapi peraturan tetap adalah peraturan. Kau tidak boleh melakukannya dengan semarangan," kata tetua dengan marah.
"Kembalilah ke tempatmu," tambah tetua mengakhiri kalimatnya.
Semua diam. Wu Zetian juga diam. Dia tak tahu apa yang ada dalam kepala Zhang Yu. Sejak bertemu dengannya tadi Zhang Yu sangat aneh. Ia berpikir akan baik-baik saja, tapi sekarang Zhang Yu bertambah aneh.
"Murid Zhang Yu, sebenarnya apa yang inginkan?" tanya tetua.
Zhang Yu masih fokus dengan murid yang duduk di kursi peserta babak kedua. Melihat mereka tidak bersuara, dia mengangkat tangannya.
"Tetua dapat melihatnya sendiri. Tidak ada yang ingin berhadapan denganku. Bahkan jika aku mengikuti babak ini sampai akhir, aku akan lolos tanpa bertarung. Oleh karena itu, dari pada membuang waktu, lebih baik memutuskannya lebih awal."
Sepuluh tetua kehilangan kata saat Zhang Yu mengatakan hal ini. Tidak bisa menyangkal tapi ingin membantahnya.
Satu tetua bangkit dari tempat duduknya lalu menatap puluhan murid yang akan mengikuti babak kedua. "Apa di antara kalian tidak ada yang ingin menghadapinya?"
Lagi-lagi diam.
Mereka cukup pintar untuk tidak menjawab pertanyaan ini. Siapa yang ingin berhadapan dengan Zhang Yu dan mengubur keinginan menjadi murid dalam? Tidak satu pun.
Dengan memilih diam mereka mungkin akan kehilangan satu jatah untuk menjadi murid dalam. Tapi di waktu yang sama satu orang di antara mereka yang harusnya menghadapi Zhang Yu masih bertarung dan merebutkan satu jubah murid dalam.
"Guang Zhou, apa kau juga tidak ingin menghadapi Zhang Yu?" tanya tetua pada pria yang duduk tenang di kursi pojok belakang.
Semua mata langsung tertuju padanya. Guang Zhou sendiri cukup terkenal di akademi. Dengan kemampuan yang bisa dibandingkan dengan murid dalam, dan sikapnya yang misterius, dia menyembunyikan kekuatan yang tak terbayangkan.
__ADS_1
Namun Guang Zhou juga menolak untuk menghadapi Zhang Yu. "Maaf Tetua, tapi aku juga tidak ingin melawannya."
Meski dalam hati Guang Zhou sangat ingin bertarung menghadapi Zhang Yu. Tapi dia melihat Zhang Yu seperti memiliki satu urusan yang sangat penting. Jadi dari pada mereka berhadapan dalam keadaan tidak fokus, lebih baik cari kesempatan lain untuk mengadu kekuatan.
Tetua menghela nafas karena dari delapan puluhan murid tidak ada satupun yang berani maju menghadapi Zhang Yu.
"Karena tidak ada yang maju, Zhang Yu menjadi murid luar pertama yang menjadi murid dalam pada ujian tahun ini."
Semua bertepuk tangan memberi selamat. Tapi Zhang Yu yang terburu-buru langsung meninggalkan arena setelah mengambil token murid dalam yang diberikan tetua.
Wush...
Dia menghilang dari pandangan. Sepuluh tetua menghela nafas tak berdaya. "Bagaimana bisa ujian jadi seperti ini? Tapi juga tidak bisa melakukan apapun karena semua murid lebih memilih menyerah dari pada menghadapinya."
...
Di kediaman Kepala Akademi.
Wang Chen sedang duduk santai di gazebo sambil menulis sesuatu di atas lembaran kertas. Tak lama Zhang Yu datang dengan terburu-buru seperti dikejar setan.
"Guru, apa Yin'er di sini?"
Wang Chen menggulung kertas itu sebelum mengikatnya dengan pita. "Sepertinya dia sudah mengatakannya padamu masalahnya."
Zhang Yu tercengang. "Masalah? Masalah apa yang kau maksud Guru?"
Wang Chen seperti telah mengatakan sesuatu yang salah. Dia segera menariknya kembali. "Masalah apa? Tidak ada masalah di sini."
Zhang Yu memiringkan kepala tak percaya. "Aku serius. Katakan padaku apa masalah yang sedang dihadapi Yin'er?"
"Masalah apa? Tidak ada masalah yang ...."
"Guru!" potong Zhang Yu.
Wang Chen pun terdiam melihat wajahnya Zhang Yu yang penuh emosi. Cemas, khawatir, semua bercampur jadi satu.
Huft....
"Ceritanya panjang ...." Wang Chen menghela nafas.
"Aku ingin mendengarnya. Lengkap," tambahnya.
Wang Chen kembali menghela nafas. "Kau ingat bukan apa yang Guru katakan waktu itu?"
Zhang Yu diam untuk mengingatnya. "Waktu itu". Tiba-tiba raut mukanya membeku ketika berhasil mendapatkan ingatannya.
"Apa ini tentang masalah yang membuatnya menyembunyikan identitasnya? Masalah yang kau bilang berhubungan dengan klan kuno?"
Wang Chen mengangguk. "Benar. Meski telah menyembunyikan identitas, pada akhirnya tetap ketahuan ketika usianya menginjak dua puluh dua tahun saat tubuh dewi bulan aktif. Bulan lalu utusan Klan Xiao datang dan ...."
__ADS_1
"Tunggu! Klan Xiao?" Mata Zhang Yu berkedut mendengar sang guru menyebut nama klan ibunya.