Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 45 : Bertahan Paling Akhir


__ADS_3

Perlahan tapi pasti langit yang semula cerah berubah gelap. Di sebuah ruangan, Meng Hua baru saja selesai menulis daftar nama murid baru dan ingin menyerahkannya pada tetua pelataran luar.


Tiba-tiba dari arah pintu seorang murid yang mengenakan seragam biru memasuki ruangan.


"Senior Meng Hua, ...." Suara pria muda itu langsung tercekat melihat tatapan tajam Meng Hua.


Dia menyadari kesalahannya karena tidak mengetuk pintu sebelum masuk. Dia mengayunkan kakinya ke belakang, lalu mengetuk pintu dua kali.


"Aku selalu mengatakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk. Apa hal itu terlalu berat untuk dilakukan?"


"Maaf," Murid itu menundukkan kepala dengan menyesal sambil meminta maaf.


Meng Hua sendiri adalah murid pelataran dalam yang karena dipercaya oleh beberapa tetua sehingga dapat menjadi pengawas pelataran luar. Oleh karena itu tidak satu pun murid pelataran luar berani macam-macam padanya. Posisi di pelataran luar hanya berada di bawah tetua dan itu sudah cukup untuk membuat beberapa keputusan.


"Lupakan. Sekarang katakan ada urusan apa?" tanya Meng Hua pada murid pria di hadapannya.


"Begini ...." Murid itu menjelaskan panjang lebar. Intinya adalah meminta Meng Hua datang ke tempat Tetua Xin Fei, salah seorang tetua pelataran luar untuk menyerahkan daftar nama murid baru dan beberapa informasi dasar tentang mereka.


Ini sungguh kebetulan. Meng Hua memang berniat menyerahkan daftar nama karena baru saja selesai. Karena murid ini datang kepadanya, jadi minta saja dia yang memberikannya pada tetua.


"... Senior Meng Hua, tapi ...."


"Jangan banyak tapi-tapi. Segera pergi, atau kau ingin membuat marah Tetua Xin Fei?"


Kalimat Meng Hua berhasil menakuti murid pria itu. Tanpa menunggu lebih lama dia berlari keluar sambil membawa daftar nama murid baru.


Satu tugas selesai. Tapi Meng Hua masih memiliki satu lagi tugas yang harus dilakukan.


"Ini sudah waktunya melihat ke lapangan." Senyum di wajahnya terlihat bersinar ketika membayangkan banyak yang gagal dalam pelatihan pertama.


Mereka semua pasti menyerah di pertengahan waktu, pikirnya.

__ADS_1


Karena di dua periode sebelumnya tidak ada murid baru yang sanggup bertahan sampai batas waktu yang diberikan. Tentu saja ada beberapa murid yang memiliki rencana nakal dengan diam-diam menggunakan Qi. Tapi itu akan percuma dan malah akan membuat mereka tersingkir lebih cepat karena kendi akan hancur begitu merasakan Qi.


Meng Hua keluar ruangan lantas berjalan menuju lapangan. Setelah melalui jarak yang lumayan akhirnya dia sampai. Akan tetapi situasi di lapangan jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya.


"Hei! Apa yang kalian lakukan di sini?!" seru Meng Hua pada ratusan murid luar yang berkerumun.


Mereka berkumpul seperti menyaksikan sesuatu yang menakjubkan. Bahkan mereka yang biasanya mendengar ucapannya, kini seolah menutup telinga karena fokus dengan sesuatu di depan sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Meng Hua menyipitkan mata dan mulai penasaran.


Seorang murid baru saja meninggalkan kerumunan dan terlihat wajahnya yang frustrasi tapi juga disertai jejak kekaguman.


"Kau bisa jelaskan apa yang terjadi?"


Ketika Meng Hua menahan pundak murid pria itu, dia malah bersikap seperti melihat hantu.


"Se-Senior Meng Hua, kau ...."


"Ada apa di sana?" tanya Meng Hua tidak menunggu lebih lama.


Murid pria merenung beberapa saat, setahap berikutnya dia mengangkat tangannya menunjukkan ke raja kerumunan. "Ada satu murid baru yang bertahan. Dia menahan kendi berisi air masih dengan satu kaki. Dari pagi hingga malam. Sepertinya ini adalah pertama untuk beberapa tahun terakhir."


"Senior Meng Hua, aku harus pergi dan melatih diri. Aku tidak rela jika sampai kalah dengan murid baru. Aku akan menjadi lebih hebat!" Setelah mengatakan itu murid pria pergi dengan semangat yang membara.


Berbeda dengan Meng Hua yang secara perlahan mengerutkan keningnya mendengar informasi tersebut.


Ada satu murid yang bertahan? Apa benar-benar ada yang bertahan?


Meng Hua berkedip beberapa kali lalu selanjutnya berjalan maju membongkar kerumunan.


"Menyingkir! Menyingkir!"

__ADS_1


Mengetahui siapa yang datang, ratusan murid langsung terpecah menjadi dua bagian. Meng Hua berjalan dengan langkahnya yang mantap dia penasaran siapa sosok yang bisa bertahan dalam latihan pertama murid baru. Dia bersemangat untuk mencari tahu. Akan terapi semangat itu dalam sekejap lenyap ketika melihat dengan jelas siapa satu-satunya murid yang masih membawa kendi di atas kepalanya.


"Di-dia ...."


Zhang Yu melihat kedatangan Meng Hua. Wajahnya penuh keringat dan kaki kanannya terlihat merah.


Itu jelas terlalu pegal. Tapi Zhang Yu masih bisa menunjukkan wajah tenang dan bertanya pada Meng Hua. "Senior Meng Hua, apa aku sudah boleh menurunkan kendinya?"


Meng Hua gugup ketika melihat penampilan Zhang Yu. Kendi khusus yang ia berikan kepada Zhang Yu adalah kendi yang akan semakin berat seiring berjalannya waktu.


Dia berpikir Zhang Yu tidak akan kuat dan menyerah lebih cepat dari siapapun. Namun yang tak pernah ia bayangkan Zhang Yu malah menjadi orang terakhir dan satu-satunya murid baru yang bertahan sampai batas waktu berakhir.


"Ka-kau dapat mengakhirinya."


Mendengar ini Zhang Yu langsung melempar kendi di atas kepalanya hingga hancur dan berserakan. Air tumpah kemana-mana membuat pakaian basah kuyup.


Namun siapa yang peduli lagi dengan pakaian, Zhang Yu berjalan ke arah Meng Hua, menatap dalam diam dengan mata yang tenang.


Meng Hua semakin gugup. Dia juga merasa bersalah.


"Zhang Yu, kau sungguh mengejutkan. Kau satu-satunya yang bisa bertahan sampai akhir. Aku akan mentraktirmu untuk merayakannya." Wu Zetian si tuan muda gendut datang dan langsung mengalungkan tangan ke leher Zhang Yu.


Zhang Yu memalingkan wajahnya dari Meng Hua dan membalas ajakan Wu Zetian. "Baiklah. Aku ingat perkataanmu."


Mereka berdua pergi meninggalkan kerumunan karena pelatihan pertama telah selesai. Meninggalkan juga Meng Hua yang masih berdiri di sana dengan kegelisahannya.


Beberapa murid lama menilai sikap Zhang Yu sedikit berlebihan. Dia bahkan tidak menyapa Meng Hua. Itu jelas tidak menghargai keberadaannya.


Meng Hua mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun dibanding dengan mempermasalahkan hal itu, dia merasa bersalah karena telah menindas Zhang Yu dengan memanfaatkan kekuasaannya sebagai pengawas.


Selain itu, Zhang Yu memang masuk melalui jalur belakang. Tapi kekuatannya jelas tidak kalah dibanding murid baru lainnya. Bahkan mungkin lebih baik dari murid baru periode-periode sebelumnya.

__ADS_1


"Mungkin setelah ini aku harus meminta maaf padanya,"


__ADS_2