
"Kalian bisa mulai jika sama-sama siap," kata Tetua.
Ji Gou langsung memandang Zhang Yu dan bertanya padanya.
"Ayo mulai!" ucap Zhang Yu setelah mengeluarkan pedang semesta.
Ji Gou menarik sedikit sudut bibirnya. Dia mengayunkan pedang secara vertikal mengeluarkan satu bayangan tebasan.
Boom!
Secara mengejutkan Zhang Yu berhasil menahannya. Semua terpukau dengan aksinya tapi Ji Gou baru memulai pertarungan ini. Detik berikutnya pria berotot kekar itu melompat.
Wajah Zhang Yu terangkat mengikuti gerakannya. Melihat Ji Gou melakukan tebasan, dia spontan menahan dengan membentangkan pedang.
Trank!
Meski berhasil menahan, tapi kekuatan Ji Gou berada di luar perkiraan Zhang Yu. Pria ini seperti gorila. Kekuatannya sangat mengerikan. Tak heran murid-murid begitu mengagungkannya.
"Tinju batu!" Zhang Yu menarik pedangnya membuat pedang Ji Gou menghantam lantai arena dengan keras.
Setelah cukup mengambil jarak, pedang semesta mengatur posisi sebelum mengeluarkan bayangan tinju sepanjang sembilan meter.
Blar!
Bayangan tinju meledak cukup kuat tepat di posisi Ji Gou berdiri. Tapi pria berusia tiga puluh tahun itu masih baik-baik saja. Dia tak terluka, bahkan tak ada jejak apapun pada pakaiannya.
"Apa kau sungguh yakin bisa bertahan sepuluh menit?" tanya Ji Gou terkesan meremehkan.
"Kau hanya akan membuat pertarungan ini menjadi mudah bagiku dengan banyak bicara. Satu kalimat lima detik, lima kalimat satu menit. Teruslah bicara dan aku akan lolos ke babak kedua."
Cih!
Ji Gou mendengus. "Satu menit tidak berarti. Mari kita lihat sampai mana kau akan bertahan."
Begitu kalimat ini selesai dikatakan, Ji Gou memegang pedang sejajar di depan dada. Kemudian pedang itu secara ajaib mengeluarkan cahaya kuning.
"Mata pedang! Itu teknik mata pedang!" seru beberapa murid yang mengenali teknik bertarung Ji Gou.
Zhang Yu tak bicara. Perhatiannya fokus pada pedang yang terasa semakin mencekam.
Tentu Zhang Yu tahu sang lawan tidak lagi bermain-main. Dia mengeluarkan teknik andalannya, jadi dirinya juga harus menggunakan apa yang dimilikinya.
"Teknik Pedang Utara!"
Ji Gou dapat melihat reaksi Zhang Yu. Tapi dia tidak begitu peduli. Entah apa yang dikeluarkannya juga tak akan bisa mengimbangi teknik mata pedang, pikirnya.
Ji Gou berkelebat dengan cepat. Saking cepatnya dia seperti berpindah tempat.
Namun, ketika pedang menyerang dari samping kanan, Zhang Yu yang terlihat tidak bisa bereaksi tiba-tiba sudah menempatkan pedangnya sambil menarik tubuh ke belakang.
Sekali lagi serangan dipatahkan. Hal ini cukup mengejutkan Ji Gou, tapi pria itu hanya berpikir ini kebetulan dan kembali menyerang dari arah berlawanan.
Secara tidak terduga Zhang Yu kembali menahan serangan ini dengan pedang yang sama.
__ADS_1
"Apa?!"
Ji Gou terkejut karena serangannya kembali ditahan. Dia menarik sekali lagi pedangnya berniat menyerang. Akan tetapi raut wajahnya berubah merasakan energi kekuatan berada tepat di atas kepalanya.
"Tinju Batu!"
Siluet tinju raksasa berwarna emas itu melesat cepat mengincar Ji Gou. Ketika bergerak lonjakan energi terasa cukup nyata di sekitarnya, juga luapan Qi berkumpul seperti membentuk lapisan sarung tangan di bagian luarnya.
Celaka!
Ji Gou cepat-cepat menarik diri untuk menghindar. Tapi karena tidak sempat, dia langsung menaruh pedangnya di atas kepala dengan lapisan Qi sebagai perisai.
Ledakan lebih kuat terjadi. Tubuh Ji Gou tertekan ke bawah hingga alas kakinya menghancurkan lantai arena.
"Mengejutkan! Sejak kapan dia menyiapkan jebakan untukku?"
Ji Gou tak menyadari rencana Zhang Yu. Mau tak mau dia harus mengakui lawannya ini cukup cerdik. Jika bukan karena basis kultivasi yang tinggi, kemungkinan sudah terkapar dengan serangannya.
Bukan hanya Ji Gou. Semua yang ada di arena pelataran dalam tak terkecuali murid dalam, murid luar, bahkan tetua pengawas juga tak menyangka pertarungan ini akan sangat seru.
Kebanyakan dari mereka berpikir Zhang Yu akan kalah dengan cepat dari Ji Gou. Jika bisa bertahan sepuluh menit juga pastinya dia akan menggunakan trik dan bertarung pasif.
Siapa yang menyangka, bukan hanya bertarung aktif tapi juga memberikan perlawanan di luar dugaan.
"Sejak awal aku Zhang Yu adalah murid luar yang berbeda dari kebanyakan murid luar lainnya. Namun setelah melihat pertarungannya ini, aku berpikir dia bukan hanya berbeda tapi luar biasa!" kata salah seorang tetua dari meja pengawas.
"Saudara Ketujuh, apa Zhang Yu memang sekuat itu? Saudara Kedua bahkan tidak mampu mengimbangi Ji Gou, tapi Zhang Yu memberi perlawanan yang mengejutkan!" Xuan Wu tak bisa mengendalikan ekspresinya.
"Ya, ... Bagaimana dia bisa meningkat begitu pesat dalam satu tahunan? Apa itu sungguh hanya karena ber kultivasi di lantai kelima menara kultivasi?" batin Xuan Yin. Namun dia juga ikut senang melihat perkembangannya.
Kembali ke atas arena.
Pertarungan di antara Zhang Yu dan Ji Gou semakin panas. Teknik mata pedang yang selama ini menjadi andalan Ji Gou, berhasil diimbangi oleh Zhang Yu dengan teknik pedang utara.
Ji Gou pun menggunakan cara lain untuk menghadapi Zhang Yu. Dia mengambil jarak cukup lebar sebelum melancarkan satu tebasan besar.
"Teknik Sirip Pedang!"
Tepat ketika pedang Ji Gou menyentuh permukaan arena, muncul sirip hiu yang bergerak ke tempat Zhang Yu. Berwarna abu-abu dengan lapisan kabut tipis menyelimuti nya.
"Telapak tangan api!"
Dalam sekejap muncul telapak tangan raksasa di depan Zhang Yu. Telapak tangan berwarna merah menyala dilapisi kekuatan api.
Boom!
Dua kekuatan itu bertemu tepat di tengah-tengah arena. Memicu ledakan dahsyat yang diiringi dengan suara memekak telinga.
Zhang terdorong tiga langkah dari posisinya. Ji Gou masih bisa menahan dorongan, tapi keningnya berkerut tak menduga serangan Zhang Yu bisa mengimbangi serangannya.
Mereka berdua berdiri sejajar di garis lurus. Saling menatap tajam masih menggenggam pedang.
Penonton berharap cemas untuk menunggu apa yang akan terjadi. Namun Ji Gou tiba-tiba berbalik kemudian melompat turun dari arena.
__ADS_1
"Kau menang. Aku tak bisa mengalahkanmu dalam waktu sepuluh menit." Ji Gou berjalan tanpa menghiraukan tatapan orang di sekitar.
"Sudah sepuluh menit? Ini sudah berakhir?"
Tidak ada yang menduga waktu akan berjalan begitu cepat. Alur pertarungannya yang sangat seru dan menegangkan membuat mereka larut dalam setiap serangan.
Jika bukan karena Ji Gou yang tiba-tiba turun, mungkin mereka dapat menyaksikan pertarungan sampai malam. Benar-benar menakjubkan!
Ehem...
Suara Tetua menarik perhatian semua orang. Mereka pun bertahap diam untuk memberi waktu dan tempat bagi Tetua bicara.
"Karena Zhang Yu berhasil bertahan dalam sepuluh menit. Dia berhak lolos ke babak kedua. Apa ada di antara kalian yang keberatan?" tanya Tetua, khususnya pada peserta yang lolos babak pertama.
"..."
"Karena tidak ada jawaban. Maka Zhang Yu dinyatakan lolos ke babak kedua."
Peserta ujian murid dalam juga tak bisa mengatakan apapun lagi. Mereka harus menyisakan satu tempat untuk Zhang Yu dalam babak kedua. Mereka hanya berharap tidak bertemu dengannya sampai dipastikan lolos menjadi murid dalam.
Ji Gou ternyata setelah meninggalkan arena pergi ke tempat Xuan Yang. Meski menyadari tatapan menghina darinya, Ji Gou mencoba tak menghiraukannya.
"Aku masih menahan kekuatanku," katanya demi pembelaan.
Xuan Yang mencibir. "Kalah ya kalah. Jangan banyak alasan."
"Aku mengakuinya. Aku kalah darinya dalam pertarungan ini. Harus diakui dia berbakat. Mungkin lebih berbakat darimu."
"Jadi sekarang kau tak akan datang menggangguku kan? Kau sudah menemukan orang lain yang lebih baik dariku untuk kau jadikan rival," kata Xuan Yang.
Namun Ji Gou menggelengkan kepala sambil tertawa. "Bagaimana mungkin. Dia mungkin berbakat, tapi rivalku tetap adalah kau. Ayo kita bertarung setelah ini. Aku sudah menyiapkan satu teknik untukmu."
"Sirip ikan itu?"
"Itu bukan sirip ikan! Itu sirip hiu!" dengus Ji Gou.
"Lupakan. Kau saja tak bisa mengalahkan Zhang Yu. Bagaimana kau akan mengalahkan ku?" Xuan Yang melirik sekilas lalu tertawa.
Ji Gou semakin kesal dibuatnya. "Aku tidak peduli! Aku sudah pergi tiga tahun untuk mengasah diri, kita harus bertarung malam ini. Di tempat biasa. Aku akan menunggumu!"
Setelah mengatakan itu Ji Gou benar-benar pergi. Xuan Yang menghembuskan nafas pasrah, Xuan Wu yang penasaran mendekatkan kepalanya dan bertanya, "Apa dia mengajakmu bertarung lagi?"
Xuan Yang melirik Ji Gou sesaat dan menghela nafas.
"Dia gila! Dia terobsesi untuk mengalahkan Saudara Pertama," gumam Xuan Wu.
"Ayo pergi! Babak Kedua akan dimulai setelah jeda istirahat. Sebaiknya pergi mencari makan." Xuan Yang mengajak adik-adiknya untuk pergi. Namun dia menyadari jika mereka hanya berenam, bukan bertujuh.
"Di mana Saudara Ketujuh?"
Kelima saudaranya seketika mencari Xuan Yin ke sekitar tapi tak menemukannya.
Xuan Wu meletakkan telunjuk di bawah dagu, lalu bergumam pelan. "Aneh sekali, padahal beberapa saat lalu aku yakin dia masih berdiri di sampingku. Lantas kemana dia pergi?"
__ADS_1