Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 111 : Petaka


__ADS_3

"Pangeran Ketujuh, apa ada yang salah?" Jiang Fu berdiri tegak sambil berusaha menunjukkan wajah tak bersalah. Dia masih berpikir Xuan Yin tidak tahu apa-apa tentang rencananya.


Namun itu salah besar. Xuan Yin melihat dengan jelas apa yang ingin dilakukan murid ini. Dia hendak menghancurkan pilar batu besar tempat Zhang Yu naik sebelumnya. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu berjalan sempurna.


Sebelum melakukannya, maka harus berhadapan dengannya.


"Saudara Ketujuh, apa yang sebenarnya terjadi di lantai ketujuh?" tanya Xuan Yang, Pangeran Pertama.


"Kalian berempat sudah kembali. Tapi Zhang Yu masih di atas. Apa kalian berada di tempat yang terpisah?" tanya Xuan Wu.


"Tidak perlu menunggu atau mencarinya. Dia tidak akan kembali. Mungkin dia sudah mati di atas sana."


Bukan Xuan Yin, melainkan Yan Xou. Berjalan dengan beberapa orang, dia mendekat ke tempat Xuan Yin dan yang lain.


Semua yang mendengar kalimat tersebut seketika mengangkat wajah masing-masing dengan penasaran. Mereka masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.


Namun di antara banyak keterkejutan, Jiang Fu tersenyum mengembang mendengar berita itu.


"Dia sudah mati! Itu sangat bagus! Jauh lebih bagus!" Dia tak sabar untuk merayakannya. Tapi masih harus menahan diri mengingat situasi di antara banyak orang.


Xuan Yin mengepalkan tangan. Dia hampir kehilangan kontrol jika tidak dengan cepat menarik nafas dalam. "Dia tidak mati! Jangan mengatakan suatu yang tidak masuk akal!"


"Saudara Ketujuh ...."


Keenam saudaranya merasa sikap Xuan Yin tidak seperti biasa. Baru melihatnya sangat ekspresif bahkan ketika masalah ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Yan Xou menggelengkan kepala dengan mencibir. "Di atas sana, dia duduk seperti orang mati saat seluruh ruangan bergetar hebat. Langit-langit runtuh, tapi dia masih bergeming di tempat."


"Jikapun saat ini dia masih hidup, pada akhirnya dia akan mati jika tidak segera keluar dari lantai ketujuh."


"Mungkin kalian juga akan berakhir begitu jika tidak segera keluar dari pagoda ini." Yan Xou menjauh dengan kelompoknya. Meninggalkan ruangan yang masih diguncang getaran berkelanjutan.


Dia tidak mau mempertaruhkan hidup dengan tetap berada di sana bahkan dengan tawaran apapun.


Semakin lama getaran itu bukan mereda malah semakin kuat. Retakan pada dinding lantai keenam mulai terlihat jelas. Hal ini membuat para pangeran juga mulai khawatir.


"Ayo keluar dari sini! Tempat ini mungkin akan roboh."


Xuan Yin masih bergeming. Pandangan mengarah pada pilar batu besar berharap Zhang Yu muncul di sana.


Dia masih ingat jelas sesaat sebelum cahaya merah melahap tubuhnya dan membawanya kembali ke lantai keenam. Padahal saat itu dia tidak ingin pergi melihat Zhang Yu masih dalam posisinya. Namun apa daya, dia tidak bisa mengontrol kekuatan tempat ini.

__ADS_1


"Saudara Ketujuh, kenapa kau hanya diam? Ayo kita pergi dari sini!"


Langit-langit ruangan berjatuhan. Suara keras menggema diiringi dengan debu yang berterbangan khas seperti reruntuhan. Hampir saja satu puing jatuh menimpa kepala Xuan Yin. Xuan Yang yang berada paling dekat langsung mengeluarkan serangan hingga puing besar itu hancur berkeping-keping.


"Saudara Ketujuh, ...."


Pada situasi ini, mustahil bagi Xuan Yin untuk tidak khawatir. Dia melihat lantai keenam yang luas sekarang berubah menjadi reruntuhan kacau.


"Kalian turun saja terlebih dahulu. Ada satu hal yang ingin aku lakukan."


Xuan Yang menyipitkan mata dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi tepat pada saat itu puing besar jatuh tepat di depannya. Memutus jalan di antara dirinya dengan Xuan Yin yang ada di bagian dalam lantai keenam.


"Saudara Pertama, aku tidak bisa melihat Saudara Ketujuh dari sini. Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan? Tidakkah dia tahu di sini sangat berbahaya?" Xuan Si, pangeran keempat berkata dengan khawatir.


Sekali lagi beberapa puing besar jatuh dari atas. Keenam pangeran segera melompat ke belakang untuk menghindar. Penampakan lantai keenam semakin kacau. Tidak ada yang bisa dilihat kecuali debu dan puing berserakan.


"Saudara Ketujuh! Cepatlah keluar jika sudah selesai. Pagoda ini akan roboh dalam waktu dekat, jadi jangan berlama-lama!"


Setelah mengatakan itu Xuan Yang melambaikan tangan mengajak adik-adiknya pergi.


Mereka berlari mengikuti jalur yang sudah pernah dilalui untuk sampai di luar pagoda naga.


"Pangeran Pertama, apa teman kami masih di dalam?" Wu Zetian segera bangkit melihat kedatangan enam pangeran.


Xuan Yang mengenali Wu Zetian sebagai teman Zhang Yu. Dia mengingatnya karena penampilannya yang mudah dikenali. "Temanmu masih di lantai ketujuh saat kami meninggalkan lantai keenam. Tidak ada tanda dia akan turun sampai saat itu."


Wu Zetian sontak menahan nafasnya mendengar kalimat pangeran pertama. Dia jatuh terduduk, bersimpuh dan terlihat frustrasi.


"Zhang Yu! Brengsek! Kembalilah dengan selamat!" gumamnya. Meski terkadang Zhang Yu sangat menjengkelkan di matanya, tapi dia teman yang baik. Satu-satunya teman yang cukup mengerti dirinya.


"Kalian akan kecewa!"


Yan Xou berjalan dengan orang-orang klan Yang lainnya. Dia tertawa dengan cukup bahagia.


"Dia tidak akan kembali. Lebih baik kalian pergi dan tak menangisinya lagi. Sebentar lagi pagoda naga akan roboh. Siapapun yang terjebak di dalam akan mati."


"Omong kosong! Berhentilah mengatakan hal buruk! Itu tidak akan terjadi!" balas Xuan Wu. Bagaimanapun saudaranya masih berada di dalam. Jangan sampai pagoda ambruk sebelum waktunya. Jangan pernah!


"Yan Xou, dari pada kau banyak bicara di sini. Lebih baik kau pergi."


Siapa lagi jika bukan Hong Shen. Dia adalah satu-satunya yang ditakuti oleh Yan Xou. Jadi ketika Hong Shen bicara, Yan Xou tak lagi membuka mulutnya.

__ADS_1


Namun tepat pada detik ini tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari pondasi pagoda naga. Tanah halaman yang berada di luar pun bergetar membuat suasana langsung mencekam.


"Lihat! Pagoda nya terbelah!"


Suara ini dengan cepat menjadi tanda untuk semua orang agar mengangkat kepalanya melihat ke bagian atas pagoda naga.


Setelah terbelah dalam waktu singkat, retakan terus menyebar.


Dalam detik ini semua orang menahan nafas dua sampai tiga detik. Melihat beberapa orang yang berlarian keluar pada saat terakhir, gerbang kematian terasa begitu nyata di depan mata mereka.


Sungguh beruntung bagi mereka yang berhasil mencapai titik aman. Meski jantung berdegup kencang dengan keringat dingin membasahi pakaian, tapi mereka patut bersyukur karena masih memiliki kesempatan.


"Dia tidak keluar bukan?" tanya Yan Xou dengan senyum di wajahnya setelah melihat pagoda naga berubah menjadi tumpukan puing-puing yang berserakan. Dibanding dengan pertanyaan, kalimatnya lebih seperti ucapan penuh kesenangan.


Wu Zetian kembali berdiri dan mencari Zhang Yu di antara beberapa orang yang keluar terakhir.


Sayangnya dia tak menemukannya.


"Keterlaluan! Apa sebegitu penting warisan itu hingga kau tidak mau turun!" Wu Zetian memaki sambil memukul tanah. Tubuh gemuknya seolah telah kehilangan satu kilogram lemak karena larut dalam kesedihan.


"Saudara Kelima, Saudara Keenam, apa kalian menemukannya?" Enam bersaudara ini mencari keberadaan Xuan Yin. Sayangnya semua harus sia-sia.


"Tidak ada."


Xuan Yang mengepalkan tangan. Bertahap mengedarkan pandangan kemudian melompat ke atas salah satu dinding untuk memeriksa area reruntuhan.


"Xuan Yin! Jangan sampai terjadi sesuatu kepadamu!" Xuan Yang bergumam dengan khawatir. Dia melesat sambil berpindah dari satu titik ke titik lain untuk mencari keberadaannya.


Kelima pangeran lainnya tak tinggal diam. Mereka juga mencari keberadaan adik terkecil. Namun dengan luas wilayah yang mencapai sepuluh ribu meter dan wilayah yang berantakan, tentu bukan hal mudah untuk melakukannya.


"Kakak Yan Xou, apa kita juga akan ikut mencari?" tanya seorang anggota klan Yan yang seketika mendapat tatapan tajam dari Yan Xou.


"Kau bodoh atau apa? Kenapa kita susah-susah mencarinya? Bukankah bagus Zhang Yu mati dalam reruntuhan itu?"


"Tapi apa dia benar-benar mati? Maksudku, bagaimana jika dia punya artefak pelindung rahasia? Dia bisa saja selamat dari kematian."


Mendengar hal ini pikiran Yan Xou menjadi lebih terbuka. "Benar juga apa yang kau katakan. Mungkin kita harus menunggu di sini sampai mayatnya ditemukan."


Andai Zhang Yu benar-benar memiliki artefak pelindung kelas atas dan selamat dari kematian, dia akan membunuhnya langsung dengan tangannya sendiri saat keluar.


Rencana sempurna, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2