Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 95 : Apa Itu Pagoda Naga?


__ADS_3

"Putri ... Maksudku namanya adalah Yin Xiongmeng."


"Yin Xiongmeng? Dengan kecantikan seperti dewi, bagaimana mungkin dia tidak terkenal? Tapi aku belum pernah mendengar namanya di akademi. Ini aneh." Wu Zetian mengelus dagunya dan kembali memperhatikan Xuan Yin.


Sedetik kemudian dia mengubah raut wajahnya lalu berjalan menghampiri Xuan Yin. "Senior Yin Xiongmeng? Apa kau murid dalam?"


"Apa?"


Xuan Yin tertegun mendengar nama Yin Xiongmeng. Siapa yang dengan berani mengubah namanya? Apa itu Zhang Yu?


Ketika tatapan mereka bertemu Xuan Yin memberinya tatapan tajam. Namun itu hanya berlangsung beberapa saat karena setelahnya Xuan Yin memalingkan wajahnya.


"Ya, aku murid dalam."


Wu Zetian terlihat seperti akan mengajukan pertanyaan lagi. Tapi Zhang Yu menekan pundaknya dan menariknya menjauh. "Sudah cukup. Jangan bicara lagi, kau harus mengobati luka, bukan?"


Ah...


"Lihat, masih terasa sakit. Kau harus cepat mengobatinya."


Wu Zetian mendengus dan menatapnya kesal. Dia menyingkirkan tangan Zhang Yu yang menekan luka di pinggangnya lalu berkata dengan marah. "Teman kurang ajar! Kau takut aku merebutnya darimu ya? Katakan saja kau takut kalah saingan dengan pesona tuan muda ini. Benar begitu kan?"


"Sepertinya aku kurang menggunakan tenaga, bagaimana ...."


"Hentikan itu! Tidak lagi, aku tidak akan melakukannya. Aku pergi sekarang." Wu Zetian pergi dengan panik.


Menggunakan sedikit tenaga saja sudah sangat sakit. Bagaimana jika meremasnya penuh kekuatan. Sudah pasti itu akan membuatnya mati kesakitan.


Zhang Yu hanya tersenyum seperti itu tidak berhubungan dengannya.


Wu Zetian menyadarinya dan kembali mendengus. "Teman biadab!"


Meski mendengar keluhan Wu Zetian tentangnya, Zhang Yu tetap bergeming di tempat bersikap seolah tidak mendengarnya. Dia terus diam sampai Xuan Yin berdiri di sampingnya.


"Tidak tahu malu! Bagaimana bisa kau memberi orang lain nama secara sembarangan?" Xuan Yin bersedekap sambil melirik sinis.


"Tapi bukankah nama ini sangat cocok dengan Putri Ketujuh?"


Mata Xuan Yin terbelalak. "Apa maksudmu? Apa aku terlihat galak? Ganas?!"


"Jika nama itu cocok denganku, maka namamu adalah Hundan. Itu sangat cocok, bukan?" tambah Xuan Yin dengan tawa di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"Hundan? Bajingan? Apa aku terlihat begitu buruk?"


"Tidak. Tapi kau lebih buruk dari itu."


Mereka terus berdebat. Xuan Yin yang kesehariannya terus berada dalam tekanan sekarang benar-benar bebas seperti menjadi dirinya sendiri.


Menjadi pangeran bahkan harus menyembunyikan identitasnya sebagai perempuan, sungguh adalah hal sulit sekaligus rumit baginya.


Wu Zetian, Yang Yue dan He Jiao memperhatikan perdebatan dari kejauhan.


"Wu Zetian, bukankah kau bicara beberapa kalimat dengannya? Siapa dia?" tanya He Jiao penasaran.


"Namanya adalah Yin Xiongmeng. Dia murid dalam," jawab singkat Wu Zetian.


Tang Yue menyipitkan mata mendengarnya adalah murid dalam. "Siapa namanya? Yin Xiongmeng? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?"


"Aku juga heran. Dengan wajah yang begitu sempurna seperti dewi bagaimana mungkin tidak terkenal di antara murid akademi." Wu Zetian memperhatikan wajah Xuan Yin diam-diam. Sungguh, dia tidak mengerti kenapa semua wanita cantik tertarik pada Zhang Yu.


Apa karena dia tampan? Ya, dia memang tampan. Apa karena bakatnya? Ya, dia punya bakat mengerikan.


Semakin membandingkan dengan dirinya sendiri Wu Zetian merasa sangat putus asa.


"Entah kenapa aku merasa langit sangat tidak adil," batinnya. Wu Zetian masih larut dalam pikirannya sampai Tang Yue tiba-tiba memukul punggung sambil berseru.


Wu Zetian meringis dan langsung menatapnya tajam. "Lampir jelek! Apa kau hanya mengajari tanganmu untuk memukul orang? Keterlaluan sekali!"


Ck...


"Aku hanya menepuk pelan. Jangan terlalu berlebihan."


Wu Zetian memutar mata dengan malas. "Apa yang kau tahu? Katakan dengan jelas."


"Jadi begini ... Dia mungkin benar murid dalam. Tapi sepertinya dia bukan murid dalam biasa. Dia mungkin adalah murid salah satu tetua dan selama di akademi dia hanya menghabiskan waktunya untuk berkultivasi."


Wu Zetian manggut-manggut. "Masuk akal. Seperti murid-murid teratas dalam daftar murid dalam. Mereka tidak lagi perlu melakukan misi untuk mendapatkan poin kontribusi. Setiap bulan akan mendapat bagian dari guru masing-masing."


"Tapi yang menjadi pertanyaan, bagaimana Zhang Yu mengenalnya?" gumam Wu Zetian.


Kali ini Tang Yue diam beberapa saat, sebelum menjawabnya dengan ragu. "Kau murid baru apakah tidak tahu alasan Zhang Yu bisa masuk akademi? Dengar dengar dia bisa masuk karena gurunya di akademi."


"Ah itu benar! Aku ingat sekali saat dia menolak menjadi Tetua Xin Fei guru karena sudah punya guru. Tapi apa ini ada hubungannya?" Wu Zetian menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal. Memikirkan situasi rumit ini membuat kepalanya sakit dan tak bisa berpikir dengan lancar.

__ADS_1


Tang Yue mengeluh. "Tidak diragukan lagi isi kepalamu memang hanya ada makanan. Bahkan sudah seperti ini pun masih tidak mengerti?"


"Tang Yue, jadi maksudmu adalah mereka berdua memiliki guru yang sama?"


"Benar! He Jiao sangat pintar. Tidak seperti seseorang yang hanya tahu makan dan makan," sindir Tang Yue sangat jelas.


Wu Zetian berdecak. "Dasar lampir jelek. Tidak perlu bicara di belakang. Katakan saja dengan jelas kalimat terakhirmu."


"Babi gendut! Berhenti memanggilku lampir!"


Pertengkaran dimulai. He Jiao yang melihat ketidakharmonisan mereka memilih untuk menjauh. Pandangannya tertuju pada Zhang Yu dan sosok wanita di sampingnya.


"Wanita itu sangat cantik. Selain itu hubungan mereka terlihat sangat baik." Meski dia bisa mengatakannya dengan tenang, tapi seperti ada yang salah dengan dirinya.


He Jiao menarik nafas dalam kemudian mengalihkan perhatiannya pada pria berkepala plontos yang secara samar menggerakkan tangan. Keningnya berkerut, dia dengan cepat memanggil yang lain untuk datang.


"Tang Yue! Zhang Yu, pria ini sepertinya akan sadar."


Zhang Yu segera mengalihkan perhatian pada pria berkepala plontos. Dan benar seperti perkataan He Jiao, pria ini akan bangun dari pingsan.


Sebelumnya Wu Zetian sudah mengikat pria itu dengan tapi yang kuat. Menggantung di udara seperti akan menjadi umpan memancing ikan.


"A-apa? Apa yang terjadi padaku? Kalian, lepaskan aku!" teriak pria botak itu dengan suara marah.


Saat akan bicara lebih banyak, Wu Zetian naik ke atas pohon lalu menggoyangkan tali sehingga pria botak itu terayun tak teratur.


"Tercela! Hentikan sekarang juga! Kau membuatku ingin muntah ... Hei, ampun. Lepaskan aku." Dia benar-benar memuntahkan isi perutnya.


Wu Zetian melompat turun dengan puas, lalu bertanya seperti orang menginterogasi. "Sekarang katakan pada kami letak pagoda naga yang kau maksud sebelumnya."


Pagoda naga?


Zhang Yu menyatukan kedua alisnya dan mendekat kepada Wu Zetian. "Pagoda naga apa? Tempat macam apa itu?"


"Aku tidak tahu secara pasti. Tapi kami sempat bertemu dengan kelompoknya yang saat itu sedang membahas pagoda naga. Kami yang melintas tidak tahu apa-apa tapi mereka berpikir kami telah menguping dan menyerang kami."


"Setelah pertarungan yang panjang kami mengalahkan mereka, tapi pria ini datang dan kau tahu sendiri kekuatannya."


"Aku tahu tentang pagoda naga." Xuan Yin diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Itu adalah warisan utama dalam dunia ini. Siapapun bisa pergi ke sana. Tapi tak semua memiliki kesempatan untuk mendapatkan warisannya."


"Wah, bukan hanya cantik, tapi Senior Yin memiliki pengetahuan yang luas. Luar biasa!" Wu Zetian hendak menyanjung lebih jauh, tapi ketika melihat tatapan Zhang Yu dia langsung membalikkan badan dan kembali menatap pria botak.

__ADS_1


"Bukankah hubungan di antara mereka hanya saudara seperguruan? Kenapa menatapku seperti aku menggoda istrinya. Benar-benar keterlaluan!"


__ADS_2