
Setelah lolos ujian tahap kedua Zhang Yu melangkah naik melewati belasan anak tangga sebelum sampai ke anak tangga seratus lima puluh.
Namun percayalah, untuk sampai ke sana dia memaksakan diri hingga kakinya mati rasa dan dadanya terasa sesak menahan tekanan. Jika sebelumnya tekanan setiap anak tangga setara dengan kultivator tingkat grand master bintang lima, saat ini tekanan itu setara dengan kultivator tingkat grand master bintang sembilan atau bahkan tingkat senior.
"Bocah, kau terlalu memaksakan diri. Masih ada kesempatan untuk mundur sebelum ujian tahap ketiga dimulai. Apa kau ingin mendengar saran gurumu ini untuk mundur?"
Zhang Yu terkekeh geli. Ekor matanya melirik ke bawah. Melihat perjuangan yang panjang, apakah pantas jika dirinya menyerah sekarang?
Itu sama sekali tidak layak! Bahkan jika harus gagal ia akan mencoba melakukannya.
"Guru, kau tenang saja. Muridmu ini akan mencapai panggung kelima. Yang perlu kau lakukan adalah bersiap memenuhi permintaan ku setelah selesai." Zhang Yu tertawa lirih dan melihat ke atas. Meski tidak tahu dari mana gurunya berbicara, tapi harusnya ekspresinya ini dapat dilihat olehnya.
Guru sejenak diam, lalu berkata, "Karena kau sangat percaya diri. Maka lakukan saja sesuai keinginanmu. Tapi di sisi lain kau harus siap menanggung resikonya."
Zhang Yu merenungkan kalimat sang guru. Dia menganggukkan kepala samar. "Aku sudah memutuskannya. Guru tidak perlu khawatir."
Bersama dengan hilangnya suara guru, kesadaran Zhang Yu untuk ketiga kalinya ditarik ke suatu tempat.
Jika pertama adalah arena pertarungan dan kedua adalah pusara. Maka yang ketiga ini adalah danau luas dengan air yang begitu jernih.
Tidak ada perasaan mencekam atau suatu yang berbahaya. Sontak hal ini membuat Zhang Yu merasa aneh. Di saat yang sama dia mulai bertanya-tanya apa ujian tahap ketiga yang akan dilaluinya.
"Anak muda, apa kau siap menjalani ujian tahap ketiga?"
Entah datang dari mana, seorang pria tua kerdil tiba-tiba berada di atas batu yang ada di tepi danau. Padahal beberapa saat yang lalu Zhang Yu sangat yakin tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi pria ini ....
Anehnya ketika Zhang Yu mencoba menelisiknya, pria tua kerdil ini tidak memiliki aura. Dia seperti boneka kayu, tapi dia bisa bicara layaknya manusia pada umumnya.
"Anak muda, aku hanya gumpalan roh yang mendiami tempat ini. Kau tidak akan bisa merasakan keberadaan ku."
Penjelasan sosok pria tua kerdil ini membuat Zhang Yu mengerti.
"Senior, apa kau bisa menjelaskan tentang ujian tahap ketiga ini?"
__ADS_1
Pria tua kerdil menggelengkan kepala. "Maaf, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Tapi yang pasti kau akan tahu saat ujian berlangsung."
Zhang Yu merenung untuk beberapa waktu. "Baiklah jika begitu, mari kita lakukan ujian tahap ketiga."
Roh tua tertawa dengan semangat Zhang Yu. Dia dapat melihat kondisi tubuh Zhang Yu yang lemah, tapi hal itu seolah tidak menjadi halangan baginya.
"Ini akan menarik," gumamnya.
Setelah bertanya lagi pada Zhang Yu untuk memastikan kesiapannya, roh tua menunjuk ke tengah-tengah danau dan pada saat itu juga muncul panggung batu di sana.
"Duduklah di sana."
Zhang Yu tidak tahu apa yang akan dialaminya dalam ujian tahap ketiga. Namun sekali lagi tekadnya untuk mencapai panggung kelima tidak bisa padam sebelum mencapainya.
"Bukankah hanya duduk? Aku akan melakukannya!"
Zhang Yu melompat ke panggung batu yang ada di tengah-tengah danau itu. Dia mengingat perkataan roh tua lalu duduk bersila di sana.
"Apa aku hanya akan diam di sini tanpa kejelasan?" Zhang Yu mendengus. Dia merasa kemungkinan dirinya lolos dalam ujian tahap ketiga kian mengecil.
Akan tetapi, tepat pada saat ini gumpalan awan berwarna putih berkumpul di atas kepalanya. Sejurus kemudian cahaya berwarna emas turun menyinari tubuhnya.
Zhang Yu sempat berpikir ini adalah awal ujian tahap ketiga. Tapi yang mengejutkan ternyata cahaya emas ini memulihkan kondisi tubuhnya. Tenaga yang terkuras kembali terisi dan Qi yang mengering benar-benar dipulihkan kembali.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa ...." Sebelum Zhang Yu menyelesaikan kalimatnya, kesadarannya telah kembali ke tubuhnya.
Zhang Yu masih bingung. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk melangkah naik ke panggung kelima. Dia pun menyelesaikan tantangan dari guru dan masuk dalam daftar peringkat seratus teratas.
"Tekad yang kuat. Aku mengakuimu!"
Suara guru kembali terdengar. Zhang Yu segera bertanya bagaimana dirinya dianggap lolos dalam ujian tahap ketiga. Bahkan seingatnya ujian tahap ketiga lebih seperti memulihkan kembali kekuatannya. Itu tidak bisa disebut ujian. Itu pengobatan.
"Bocah, ini bukan hanya tentang bertarung atau bertahan dari bahaya. Ini yang dinamakan dengan tekad."
__ADS_1
Mendengar perkataan guru, Zhang Yu seperti mendapat pencerahan. Dia mengingat apa yang dilakukan gurunya sebelum ujian tahap ketiga. "Guru, aku pikir kau hanya bertanya karena iseng. Ternyata kau ingin menguji tekadku untuk mencapai panggung kelima."
"Ya, seperti itu. Tak disangka kau masih memiliki tekad yang kuat meski tubuh sudah lemah."
Semua menjadi jelas. Gurunya terus berusaha menguatnya mundur, sementara roh tua di dalam terus menanyakan kesiapannya menghadapi ujian tahap ketiga. Sama-sama ingin menguji tekadnya.
Beruntung sejak awal Zhang Yu tidak berniat mundur. Meski sempat pesimis untuk berhasil di ujian babak ketiga, tapi tetap memaksakan diri menghadapinya.
"Guru, bagaimana dengan kesepakatannya? Aku berhasil kan?" tanya Zhang Yu.
"Guru?"
"Guru! Apa kau bisa mendengarku?!" Satu sampai dua kali memanggil tidak ada jawaban dari guru. Raut wajah Zhang Yu seketika berubah.
"Keterlaluan! Guru, apa kau berniat tidak menepati janji?" batin Zhang Yu.
Mentang-mentang bisa menggunakan pesan suara gurunya langsung menghilang ketika dirinya berhasil menyelesaikan tantangannya. Ini namanya tidak bertanggung jawab!
Pada saat ini beberapa murid mendekat. Mereka semua mengenakan jubah murid pelataran dalam. Karena Zhang Yu tak mengenakan jubah dan wajahnya yang asing, membuat mereka sangat penasaran.
Mungkin saat ini Zhang Yu bukan satu-satunya murid pelataran luar yang sanggup mencapai panggung kelima. Tapi nama Guang Zhou sudah lama terkenal dan mereka tidak terkejut saat Guang Zhou mampu mencapai panggung kelima. Ini berbeda dengan Zhang Yu karena dia benar-benar asing.
"Siapa namamu?" tanya mereka.
Zhang Yu menjawab. "Namaku Zhang Yu, murid pelataran luar angkatan 175."
Mereka manggut-manggut ketika belum menyadari Zhang Yu adalah murid baru. Ketika mereka lebih teliti air muka dengan segera berubah.
"Tunggu! Kau benar-benar angkatan 175?" Senior rambut keriting bertanya sambil menahan nafasnya.
"Tidak! Tidak mungkin! Kau pasti membohongi kami." Senior perempuan melipat tangan di depan dada lalu menggelengkan kepala.
Tidak ada yang percaya jika Zhang Yu adalah murid baru. Ketika dia mengeluarkan token identitas, baru semua murid itu terdiam dan tampak tercengang.
__ADS_1