
"Kemampuanmu sudah sangat berkembang. Delapan orang di tingkat setengah abadi pun tak berkutik dengan teknik jarum jiwa penakluk."
Zhang Yu hanya tertawa lirih mendengar pujian dari Xiao Nie. "Itu karena tingkatan jiwa mereka sangat rendah sehingga tak bisa menghadapi serangan jarum spiritual. Andai mereka memiliki setidaknya tingkat jiwa kuning, sudah pasti aku kesulitan untuk menahan mereka."
"Kakek, apa teknik jarum jiwa penakluk itu semacam teknik warisan?" tanya Song Yixue penasaran.
"Jika benar, apa kakek dapat mengajariku juga?" tambahnya.
Xiao Nie sejenak terdiam. Namun, dia akhirnya mengangguk setelah melihat wajah Song Yixue yang penuh harap. "Jika kau menginginkannya dan bersedia berlatih, saat sampai di klan kakek sendiri yang akan membimbingmu."
"Benarkah? Terima kasih kakek," serunya dengan mata berbinar.
Mereka bertiga naik ke atas kapal, kemudian pergi ke geladak depan.
Setelah perjalanan beberapa waktu, kapal pun mendarat di Kota Fuzhou. Dari sini Zhang Yu, Xiao Nie dan Song Yixue berjalan ke arah pesisir di wilayah barat. Hamparan pasir kuning yang luas dengan deburan ombak yang tak terlalu besar.
"Menurut peta ini, jika kita berlayar ke arah barat dari Kota Fuzhou, kita dapat sampai di Daratan Zhen Yang." Xiao Nie membuka sobekan kertas itu di hadapan Zhang Yu. Catatan dari penjelajah samudra yang merupakan nenek moyang keluarga Gong. Meski di sana tidak dijelaskan seberapa jauh jarak di antara dua tempat ini, tapi sudah cukup sebagai harapan dengan memastikan nama daratan tersebut adalah daratan Zhen Yang.
"Kita akan berlayar?" gumam Song Yixue. Dengan matanya yang bulat dia memandang jauh ke bibir pantai. Tidak ditemukan satu pun kapal yang membuatnya bertanya-tanya bagaimana mereka akan berlayar.
"Tidak perlu mengkhawatirkan kapal. Tuan Besar Gong sudah meminjamkan apa yang kita butuhkan."
Sulit untuk memahami kalimat kakeknya yang satu ini. Zhang Yu mengerutkan keningnya dan berpikir cukup keras.
Kapal? Dia tak melihat ada kapal di sekitarnya. Tidak mungkin kan ada di udara?
Entah kenapa Zhang Yu spontan mengangkat kepalanya. Namun bagaimana mungkin ada kapal terbang. Itu sangat tidak masuk akal.
Seolah dapat membaca pikiran Zhang Yu, Xiao Nie segera mengeluarkan giok putih dari saku jubahnya.
Bum!
Ketika giok putih di lempar ke tanah, muncul kapal besar yang melayang di hadapan mereka.
"..."
Zhang Yu tercengang. Song Yixue membuka mulutnya agak lebar.
"Kakek, kapal ini ...."
Melihat keterkejutan mereka, Xiao Nie tertawa cukup puas. "Sama seperti kalian, Kakek juga terkejut saat pertama kali melihatnya. Kapal ini adalah kapal angkasa. Merupakan artefak tingkat tinggi milik keluarga Gong. Kemampuannya seperti yang kalian lihat, dapat melayang di udara, anti badai dan gelombang energi."
"Ayo naik!" seru Xiao Nie.
__ADS_1
Zhang Yu dan Song Yixue ikut melompat ke atas. Sesaat mereka melihat-lihat penampakan kapal yang cukup lengkap dengan ruangan yang sangat nyaman. Sungguh menggambarkan kehidupan seorang keluarga bangsawan.
"Kakek, bagaimana cara mengendalikan kapal ini?" tanya Song Yixue.
Ketika diperhatikan kapal ini ternyata tidak punya layar. Hanya satu hal ini yang membuat orang penasaran.
Xiao Nie tertawa. "Pasti kalian mencari layarnya. Benar bukan? Tapi kapal ini menggunakan energi kekuatan untuk mengendalikannya."
Sambil menjelaskan Xiao Nie berjalan ke arah pusat mekanisme kapal yang ada di tengah. Ada sebuah bola kristal berwarna biru yang bersinar cukup terang.
Xiao Nie meletakkan tangannya di permukaan bola kristal itu. Tak lama setelahnya secara ajaib kapal angkasa naik semakin tinggi kemudian bergerak maju.
Wah...
Zhang Yu dan Song Yixue terpukau. Bahkan Long Shen pun mengagumi kapal ini.
"Aku baru tahu ada kapal seperti ini. Jika ada satu lagi, aku harus membelinya," ucapnya.
...
Perjalanan menuju daratan Zhen Yang dimulai. Pagi, siang dan malam. Dingin atau panas, tidak menahan keinginan mereka untuk terus berlayar lebih jauh menuju ke arah barat. Dengan hanya berbekal peta kuno yang didapat dari keluarga Gong, mereka mengarungi samudera demi dapat berkumpul kembali dengan keluarga yang sudah menunggu.
"Yu Gege, apa kau merasa kapal ini sedikit melambat?" tanya Song Yixue.
"Kakek, kau sudah terlalu lelah. Biarkan aku yang menggantikanmu," kata Zhang Yu.
"Tidak. Kakek masih ...."
Drrt...
Baru juga dia ingin berkata, kapal bergetar seakan mau jatuh.
"Lihat, kau sudah tidak kuat. Biarkan aku yang menggantikanmu." Kali ini Zhang Yu tidak menunggu persetujuan Xiao Nie. Dia memegang pundak kakeknya, kemudian menggantikan posisinya dalam mengendalikan kapal.
"Kakek, biarkan Yu Gege yang melakukan. Ikutlah denganku ke ruangan. Kau harus beristirahat." Song Yixue membantu Xiao Nie berdiri.
Meski Xiao Nie memiliki sangat banyak Qi dalam tubuhnya, tapi kapal membutuhkan saya yang sangat besar agar dapat bergerak. Tiga hari adalah waktu yang tepat untuk saling bergantian. Tapi Xiao Nie sudah berdiri di depan bola kristal tujuh hari, itu lah yang membuatnya dalam kondisi yang sangat lemah.
Bukan karena Zhang Yu tidak mau menggantikannya, tapi Xiao Nie sendiri yang enggan digantikan sampai kondisinya benar-benar tidak kuat.
"Kakek, minumlah terlebih dahulu."
Xiao Nie menatap gadis muda yang begitu perhatian padanya. Juga, entah kenapa Xiao Nie merasa Song Yixue sangat mirip dengan Xiao Mei muda. Terlepas dari penampilannya, setiap aspek hampir sama bak pinang dibelah dua.
__ADS_1
Ehem...
Song Yixue berdehem.
"Apa ada sesuatu di wajahku? Kenapa Kakek menatapku seperti itu?"
Xiao Nie menggelengkan kepala. "Tidak tidak. Kakek hanya ingin melihat cucu Kakek. Apa tidak boleh?" candanya.
Song Yixue ikut tertawa melihat Xiao Nie tertawa. Tapi sesaat kemudian dia menjadi serius ketika mengingat sesuatu. "Oh ya, Kakek. Yu Gege pernah sekali mengungkit tentang kakak ipar. Apa Kakek dapat menceritakan tentang kakak ipar padaku? Aku penasaran wanita sahebat apa yang bisa menarik perhatian pria dingin seperti Yu Gege."
"Hem ...." Xiao Nie mengelus dagunya dengan misterius.
"Kakek bingung bagaimana harus mengatakannya. Yang jelas kakak iparmu memiliki karakter yang baik. Dia juga sangat perhatian pada Kakek."
"Oh satu lagi. Ada cerita menarik tentang kakak iparmu."
"Apa itu kakek?" tanya Song Yixue menjadi sangat antusias.
"Sebelum menikah identitas kakak iparmu adalah pangeran Kekaisaran Xuan."
Song Yixue mengerutkan kening begitu mendengarnya. "Pangeran? Apa maksud Kakek putri kekaisaran?"
"Tidak. Yang Kakek maksud adalah pangeran. Kakak iparmu hidup dengan identitasnya sebagai laki-laki."
Song Yixue menahan nafas karena terkejut. Dia seperti mendengar suatu yang sangat luar biasa.
"Awalnya Kakek juga heran kenapa dia melakukannya. Tapi setelah tahu itu karena Klan Xiao, kakek benar-benar merasa bersalah padanya." Tawa di wajah Xiao Nie seketika lenyap. Song Yixue yang menyadari suasana berubah pun segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Kakek, siapa nama kakak iparku itu?"
"Xuan Yin."
...
"Yin'er!"
Suara datang dari dalam rumah memanggil untuk yang kesekian kalinya. Tetapi wanita yang berdiri di halaman itu seolah bergeming dan menatap bintang di langit malam.
"Yin'er, apa yang kau lakukan di luar? Udara sangat dingin, sebaiknya masuk ke dalam."
Dia masih berada di sana. Sambil mengelus perutnya yang semakin membesar, bergumam dalam benaknya menyebut satu nama yang sangat dirindukan.
"Zhang Yu!"
__ADS_1