Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu

Kaisar Petarung : Perjalanan Zhang Yu
Chapter... 37 : Menangkap Basah


__ADS_3

Sejak kedatangan Zhang Xu ke tambang untuk menemui Du Xiong, hari-hari berikutnya dia datang lagi dengan niat yang sama.


Pertama mengakrabkan diri dengan Du Xiong lalu perlahan menciptakan peluang dan kemudian menawarkan beberapa kerjasama untuk mendapat keuntungan. Rencana yang brilian. Juga sebuah langkah menakjubkan.


Namun dia tidak tahu jika setiap bertemu pada malam harinya, Du Xiong selalu mengatakan apa yang direncanakan Zhang Xu kepada Zhang Yu. Semua pergerakannya diketahui oleh Zhang Yu tanpa terkecuali.


Seperti pagi ini. Zhang Yu datang untuk melihat situasi tambang dengan ayahnya. Ketika Zhang Long masuk ke dalam goa tambang, Zhang Yu memanfaatkan kesempatan untuk bertemu Du Xiong. Mereka mencari tempat yang sepi sebelum berbicara.


"Zhang Yu, sebaiknya kau siapkan beberapa orang untuk bertindak malam ini. Zhang Xu dan putranya itu berkata akan membawa orang untuk menjual kristal sumber daya malam ini."


Ketika mendengar ucapan Du Xiong, raut wajah Zhang Yu sedikit berubah. Tapi tidak bertahan lama karena sejurus kemudian dia tersenyum lebar. "Aku pikir akan berapa lama mereka terus berbasa-basi, akhirnya sekarang tidak sabar untuk beraksi."


"Mulut ayah dan anak itu tidak dipungkiri sangat manis ketika menjilat. Jika aku tidak di pihakmu, mungkin aku sudah mendukung mereka."


"Paman Gendut, apa kau ingin berkhianat?" Wajah Zhang Yu berubah datar dan menatap Du Xiong hati-hati.


Du Xiong menggelengkan kepala sambil menghindari tatapan Zhang Yu. "Aku bilang jika tidak di pihakmu. Tapi karena sudah di pihakmu jadi tidak mungkin aku mendukung mereka."


Zhang Yu tersenyum. "Baguslah jika begitu."


Du Xiong tak mengatakan apapun saat Zhang Yu berdiri lalu berjalan keluar dari tempat penyimpanan. Dia hanya memandang punggung yang perlahan menghilang di balik tumpukan peti.


Berkhianat untuk Zhang Xu? Itu sungguh bodoh jika ia melakukannya.


Pertama karena pasangan ayah dan anak itu tidak terlihat menjanjikan. Kedua karena ia tidak mungkin memutus hubungan dengan Zhang Yu yang mempunyai guru dengan identitas guru besar Akademi Kekaisaran.


Di sisi lain. Setelah mengetahui rencana Zhang Xu malam ini, Zhang Yu kembali ke kediaman dan melupakan ayahnya di gua tambang. Hal pertama yang ada dalam benaknya adalah menceritakan semua pada patriark.


Saat itu kebetulan patriark sedang duduk di halaman kediamannya sambil menikmati teh. Zhang Yu datang lalu menceritakan dari awal dan berakhir pada rencana Zhang Xu malam nanti.


Dapat dipastikan, ketika Zhang Lei mendengar cerita Zhang Yu dia agak tidak percaya. Namun, sejatinya memang sudah ada kecurigaan dalam hatinya tentang Zhang Xu.


"Zhang Yu, jika benar dia senekat itu. Dia tak pantas menjadi tetua Klan Zhang karena hanya ada keuntungan pribadi dalam kepalanya. Kita harus menangkap basah tetua pertama!"


Zhang Yu mengangguk, lalu memberi saran ide yang sudah ia pikirkan. Dia berbicara pelan sembari mendekatkan mulutnya ke telinga Zhang Lei.

__ADS_1


"..."


"Itu ide yang bagus! Aku setuju. Kita lakukan malam ini!"


...


Malam hari.


"Tetua Zhang Xu, apa ini sungguh tidak masalah? Bagaimana jika kita ketahuan?" Tiga pria setengah baya berjalan di belakang Zhang Xu.


Mereka mengenakan pakaian merah gelap dengan ikat pinggang hitam dengan lambang api di bagian depan.


Klan Wen, siapapun pasti dapat mengenali sabuk yang ketiga pria itu kenakan. Jika Klan Zhang memiliki lambang naga, Klan Jiang lambang tiga garis sejajar, maka Klan Wen memiliki lambang api. Tiga lambang ini adalah identitas paling terkenal di Kota Qian Gu.


"Tetua Wen Mo, apa kau begitu pengecut? Kita tidak akan ketahuan karena aku punya bekingan orang terpercaya."


"Apakah begitu?"


Zhang Xu menatap tetua kelima Klan Wen itu dengan serius. "Tentu saja. Nanti, setelah mengambil peti-peti berisi kristal sumber daya yang telah dimurnikan, kalian pergi ke Kota Heishan untuk menjualnya. Hasilnya kita bagi sesuai kesepakatan awal. Bagaimana?"


Mendengar perkataan ini, Wen Mo menganggukkan kepala samar. "Sepertinya kalian benar," ucapnya.


Karena sudah tidak ada lagi keraguan, tiga orang Klan Wen, Zhang Xu dan Zhang Feng, melangkah bersama-sama menuju gua tambang.


Mereka mengendap-endap sambil memperhatikan situasi memastikan tidak ada orang.


Ketika sampai di sisi bangunan tempat ekstraksi, Zhang Xu berjalan lebih dahulu menuju tempat penyimpanan yang ada di bagian belakang. Dia menyandarkan tubuh di sebuah papan, lalu memanggil Du Xiong.


"Kasim Du, kau di mana?"


Tidak keras, tapi juga tidak pelan. Suaranya sangat pas untuk sebuah panggilan diam-diam.


"Aku di sini." Du Xiong muncul dari balik tumpukan peti.


Zhang Xu tersenyum, menghela nafas lalu melambaikan tangan meminta empat orang di belakang untuk keluar. "Cepat keluar, di sini sudah aman."

__ADS_1


"Kalian lakukan dengan cepat. Aku akan berjaga di luar."


Saat Zhang Feng, Wen Mo dan dua orang Klan Wen masuk, Du Xiong sudah berjalan menjauh. Kening mereka mengerut kecuali Zhang Feng.


"Tetua Zhang Xu, apa itu bakingan yang kau maksud?" tanya Wen Mo sambil menunjuk punggung Du Xiong.


"Benar."


Wen Mo masih memperhatikan punggung Du Xiong. Sedikit akrab, seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Auranya juga familiar, tapi ....


"Tetua Wen Mo, kau jangan hanya diam. Cepat lihat berapa banyak yang kita dapatkan."


Wen Mo mengalihkan perhatiannya dari punggung Du Xiong yang menjauh. Sayang sekali ruangan ini kekurangan pencahayaan sehingga tidak bisa melihat dengan jelas. Andai ada lebih banyak obor di sini, mungkin dapat mengenalinya.


Mereka berlima sekarang berdiri di hadapan beberapa peti berwarna hitam. Zhang Xu, dia tak sabar dan langsung membuka peti itu untuk melihat berapa banyak kristal di dalamnya.


Wen Mo tak ingin ketinggalan lalu membuka satu peti. Zhang Feng dan dua orang lainnya juga ikut membuka masing-masing satu peti.


Mereka semua berharap melihat tumpukan kristal yang banyak. Tapi saat dibuka peti-peti itu malah kosong!


Ekspresi wajah mereka berubah. Wen Mo menutup kembali peti itu dan bertanya pada Zhang Xu. "Tetua Zhang Xu, apa kau salah mengenali petinya?"


Zhang Xu mengedikkan bahu, dia menutup petinya dan beralih ke beberapa peti di sekitar. Namun secara mengejutkan peti-peti lain juga kosong. Bahkan seluruh peti dalam ruangan penyimpanan kosong melompong.


"Ini bagaimana mungkin? Aku yakin kemarin malam telah memeriksa dan semua masih di dalam peti. Tapi sekarang ...."


Saat masih berkata, tiba-tiba dari beberapa sisi ruangan muncul percikan api.


Satu, dua, tiga .... Ada lebih dari dua puluh obor menyala dan membuat ruangan yang semula remang-remang menjadi terang benderang.


Zhang Xu dan empat orang lainnya sangat terkejut hingga hampir terjatuh. Mata mereka dengan kompak menyuluh ke arah obor pertama dan secara pasti wajah berubah pucat sepucat-pucatnya.


Tubuh menjadi lemas, tangan dan kaki gemetar.


"Pa-patriark?!"

__ADS_1


"Patriark Zhang?!"


__ADS_2