Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 1 : PERTEMUAN TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Blak! Pintu ruang meeting terbanting. Seorang wanita berparas ayu berdiri di garis pintu dengan percaya diri setelah menyentak semua orang di dalam ruangan.


Lampu paling terang menyorot ke sosok pemuda tampan dengan tinggi kurang lebih 185an, yang terlihat menghentikan presentasi dan menatap ke arah si perempuan dengan nyalang.


Tuk! Tuk! Tuk!


Suara sepatu hak memecahkan keheningan mengambil alih perhatian semua orang. Pria yang sejatinya paling tampan dan muda, yang sedang presentasi itu terlihat geram melihat perempuan bertubuh gitar spanyol, berbalut gaun merah, mengalihkan fokus beberapa calon investornya.


Seolah dari tatapan mata para hidung belang itu, menikmati kemolekan dan kilau rambut hitam. Bahkan calon investor di situ tersenyum sambil mengedipkan mata memberi kode nakal.


"Maaf mengganggu, Tuan-Tuan terhormat." Lala menyapa semua bapak-bapak dalam pakaian rapih di depan. Mereka lelaki hanya tersenyum terpesona.


Langsung si perempuan melipat tangan di depan dada. Memutar tubuhnya dan mendadak merasakan aura kuat dari pria yang menatapnya, seolah tatapan itu adalah lemparan anak pisau tajam.


"Keluar dari ruangan saya!" Tanpa ba-bi-bu Kevin dengan suaranya yang tinggi, menggema ke seluruh ruangan dan wajah para investor langsung pucat pasi.


"Keluar? Lalu bagaimana denganmu?" Lala menggeram, tetapi berusaha tersenyum. Dia sampai tak sadar menarik otomatis dasi pria itu yang berwarna biru, hingga tertarik ke arah Lala.


Wanita itu terhipnotis oleh warna mata pria itu yang sebiru lautan dalam. Saat pria itu berkedip, Lala menjauh untuk menambah jarak. Namun, dada berotot dengan wangi maskulin itu justru mendekat.


Aura mendominasi membuat Lala melepas cengkraman, tanpa sadar membuatnya terjerembab ke belakang.


Namun, tangan pria itu refleks menangkap punggungnya. Dada mereka begitu dekat, meski tidak bersentuhan.


Mereka tersadar dan pria itu refleks melepaskan Lala dan pantat montok wanita itu mendarat keras di lantai putih.


"Agrrrrrhhh!"


"Siapa? berani sekali memasuki ruangan saya!" kata pria itu dengan menendang kasar ke sepatu hitam berhak tinggi.


"Anda mencampuri minuman saya dengan obat!" teriak Lala sambil meringis kesakitan.


Dengan sigap Lala berdiri dan beringsut ke meja terdekat. Melindungi kopi dan melindungi pipinya yang terlihat memerah pertanda malu.

__ADS_1


Aroma kopi tak dapat menghilangkan cemas. Lala makin membeku karena desisan tak sabar pria itu. Terlihat tangan berotot itu melonggarkan dasi yang sempat mencekik leher itu.


Masih duduk di meja Lala mengamati setelan Jas warna navi, dan terus meyakinkan diri sendiri. Dia mengumpulkan air kopi ke dalam mulut. Berkumur dan memuntahkan kembali ke cangkir. "Wuh."


Tanpa mau membuang waktu. Lala melayangkan isi cangkir hingga air melayang dan mendarat di wajah tampan yang kini terlapisi tetesan cairan hitam. Bulir air menetas melewati dagu leher dan ke sebagian kecil jas biru navi.


"SIAL !" Kevin mengusap cairan di wajah dengan jijik dan geli karena sesuatu licin.


"Saya akan laporkan anda ke polisi!!" Lala dengan wajah geram saat semua orang yang berwajah pucat itu melotot tajam kearahnya.


Prang!


Kevin melempar vas bunga. Tepat mengenai sepatu berhak wanita itu. Serpihan kaca tercecer membuat wanita itu mundur. "Beraninya!"


Dua penjaga masuk dan menjagal wanita penyusup dan memaki Kevin. Jagalan penjaga terlepas karena kaget mendengar teriakan Kevin yang mata itu sudah seperti iblis dan memanggil dengan suara mengerikan.


"Jangan mimpi!" Lala mengambil seribu langkah melarikan diri. Menyelinap, melewati rombongan tamu yang turun dari bis di lobi. Dia berhasil menjauh dari mereka.


"Nafasku sudah habis rasanya, aku tidak sanggup lari lagi. Obat si mesum, seperti mulai bereaksi," batinnya.


Kaki tersandung oleh kaki lain. Wajah itu mendarat duluan ke susunan paving. Nyeri langsung menjalar ke kepala saat dia memegangi hidung yang sakit tak ketulungan.


"Apa kamu baik-baik saja?"


DEG. Suara pemuda. Jantung terasa mau copot, Lala menoleh ke belakang. Dia berusaha berdiri namun gagal, begitu lelah setelah berlari jauh.


Terlihat celana jeans biru itu semakin jongkok, ternyata pemuda tampan yang seumuran. Di belakang sana, tidak ada penjaga yang mengejar. Parkiran ini sangat sepi.


"Tolong .... " Lala memelas dan mengatupkan kedua tangan di depan dada, semoga pria itu mau membantu. "Sembunyikan saya. Kaki saya tidak mampu berdiri."


Cukup lama pemuda itu terdiam. Rasanya, Lala tidak memiliki harapan. Sampai dia menjerit karena syok saat tubuhnya melayang. Eh, pemuda itu menggendongnya di depan. Ternyata lalu memasukan dalam mobil, di jok penumpang.


Tak lama Lala mendengar suara orang-orang berdatangan setelah si pemuda menutup pintu dan menghampiri mereka. Jantung Lala berdegup kencang. Dia terbaring sambil menutup rapat wajah dengan kedua tangan. Seluruh tubuh terasa bergetar dan pikiran sudah tidak karuan.

__ADS_1


Terdengar pria-pria dewasa itu saling mengumpat dan menyalahkan.


"Tuan, apa kau melihat seorang wanita?"


"Wanita? aku baru tiba."


Beberapa saat keadaan sunyi. Lala mengintip setelah mendengar mereka berlari. Dia mematung pemuda itu membuka pintu dan menatapnya. "Mereka sudah pergi?"


"Sudah, kau lihat sendiri. Apa masalah mu dengan mereka?" Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana.


"Terimakasih sudah menolong saya, tapi ini bukan urusan kamu."


"Menarik ya?" Pria itu melihat layar hp lalu memasukan ponsel itu ke dalam saku kembali.


"Tunggu sebentar ya, kakiku linu." Lala memijit kaki, dengan kepala mulai terasa pening.


Pemuda itu masuk mobil dan menyalakan mesin. "Tidak mungkin sebentar sepertinya."


"Eh !"


"Aku hanya menyalakan AC. Kau terlihat berkeringat. Bisa tutup pintunya!?"


Lala menurut dan menarik pintu dengan ragu sampai tertutup. "Sudah, Mas."


"Mas? Kau bilang apa? Namaku, JOHAN. Panggil itu saja." Johan melirik ke spion tengah, lalu tertawa.


"Aku LALA."


...**...


"Tenaga saya sudah kembali Jo, terimakasih ya." Lala bergegas turun dari mobil.


Johan ikutan turun. Boleh aku mengantar mu?" Dia menggaruk kening.

__ADS_1


__ADS_2