Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 21 : BAGAI PUNUK MERINDUKAN BULAN


__ADS_3

Hari mulai siang namun aku masih nyaman rebahan, menatap langit-langit kamar memikirkan ucapan Johan.


...‘Aku tidak pandai berucap tapi aku berjanji dengan segala kesungguhan tenaga dan upaya untuk tidak mengecewakanmu. Aku melamarmu dengan cincin keluarga Lewis pemberian Mama. Aku Johan akan menjagamu sampai akhir hayat. Memang mendadak jadi maukah kamu menjalani hari-hari bersamaku? jadilah istriku, Clarissa.’...


Kala itu aku menatap cincin keluarga Lewis. Kemudian kulihat Johan sedang menatapku dengan raut yang sukar ditebak. Apa ini yang membuat Johan banyak diam, sampai Johan pulang aku tidak bisa menjawabnya.


Johan telah banyak menyelamatkan jiwaku. Ia menolong kabur dari penjaga hotel. Dan tetap menolong di malam paling kelam dalam hidupku bahkan dirinya sampai terkena dua peluru panas karenaku. Menolong di hari-hari terberat menghadapi traumaku, Ia bersama mamanya selalu membujuk untuk masuk kuliah agar aku bisa mengejar cita-cita. Johan juga yang sering mengantar jemputku dan merawatku saat sakit.


Tapi masa lalu Johan begitu kelam sampai aku menjadi sasaran dari mantan-mantan dan penggemarnya. Mereka melampiaskan amarahnya terhadapku karena kedekatan diantara aku denganya, padahal kami cuma teman. Bahkan mereka di kampus jadi sekongkol mengerjaiku habis-habisan. Tidak cukup sampai disitu mereka juga menyerangku di luar kampus bahkan sampai aku dirawat seminggu karena ulah mereka, ya walaupun  beberapa orang mendapat hukuman dari kampus.


Tapi bukan itu masalahnya, aku cukup sadar diri pada posisiku, kami orang tak mampu. Walaupun Ayah Alen kini bekerja di tempat Lewis tapi latar belakang kehidupan kami sangat berbeda. Dia orang  kaya dan aku orang tak punya. Mama Tiara dan Kakek Lewis baik kepadaku tapi tetap saja kami tak mungkin bisa bersama.


-Kilas balik hari dimana  dibully-


Budi Saputra, usia 17 tahun berkulit asia dengan tinggi 182 cm, rambut hitam, alis tipis, dengan mata sipit, dikenal anak-anak kampus sebagai orang yang suka pamer dengan kekayaannya dan sangat pelit penuh perhitungan. Anak pintar yang selalu jadi saingan nilaiku.


Dialah yang kemana-mana selalu menempel pada Johan, karena dari Johan dia juga banyak mendapat pundi-pundi sampingan yang nilainya bukan nilai kecil, Lala pernah mendengar sekali Budi mengerjakan tugas kuliah milik Johan, anak itu langsung di transfer 10 juta. Lala tertohok dengan kenyataan pahit, bukan karena iri, Ia berjualan seharian di danau Permata paling banyak mendapat 100 ribu, sungguh latar belakang kehidupan aku dan mereka sangat berbeda.


Saat itu di depan gudang aku harus mengembalikan barang yang sudah kupinjam, hari itu Johan tidak masuk kuliah.


“Kau harus sadar posisimu, kamu hanya penjual gorengan. Jauh-jauhlah dari Johan ! kau mengotorinya saja. Lihat apa yang kau kenakan ini? … kau itu jauh di bawah sana ! rakyat kelas bawah, kau anak kolong kotor menjijikan. Jangan mendekati kami ! kau membawa kuman-kuman kotor pada dunia kami. Ah kau membuat malu team basketku ! dia itu kapten basket. Johan harus dibawa kerumah sakit karenamu !! pertandingan antar kampus gagal semua karenamu, Sial!!! Kau pungguk merindukan bulan ya!” Budi mendorongku sampai aku jatuh terduduk, Ia meludahiku lalu pergi.


BYUR-


Air kotor dilemparkan kepadaku.


“Apa ini ? Amanda ! Bianca !” Bajuku basah semua, kotor, mataku perih, aku mengucek-ngucek mataku tambah perih, aku berdiri akan berlari ke kamar mandi.


Bruk!


“Agh!” Aku meringis kesakitan, tubuhku didorong hingga jatuh kembali, aku tersungkur, kepalaku terbentur lantai, sakit.

__ADS_1


Brak!


“Aaah!!” Mereka melemparkan kursi dengan kekuatan penuh ke kepalaku. Aku yang tadi sudah bangun kini badanku kembali terkapar. ”Kalian apa Ihg” aku meringis  kesakitan memegangi kepala yang tiba-tiba terasa nyeri dan pusing hebat, kepalaku terasa berputar, hidungku mimisan.


“Hei Lala, Jangan sok kecantikan gadis sampah! Bren*sek kau kumal tak tau diri ja*ang! menjauhlah dari Johan … kami gak selevel harus bersaing dengan gadis m*larat sepertimu, pakaianmu saja seperti kain pel ! Kau tau kan? anak-anak kampus sini tidak ada yang memakai setelan di bawah harga 30 juta ! ya kecuali teman satu kampungmu... kalian sama-sama miskin ! Mengotori kampus kami  dasar siswa-siswa beasiswa. Mati aja kau !!” cela Bianca meludahiku berkali-kali.


“Sial gara-gara elo Kevin batal kuliah disini! Ah emang pembawa sial!  Gara-gara elo mereka tidak berteman, asal elo tahu mereka dulu di SMA ... bertengkar pun tak pernah ! gara-gara elo ni ya ! Bahkan sekarang Johan tak pernah mau menjawab teleponku ! Dam*! Rasain ini !! gue udah berkali-kali mengingatkan elo untuk menjauhi Johan! malah dengan seenaknya jidat membuat Ia masuk rumah sakit! Luu tahu gak si, pertandingan basket itu sangat penting untuk kampus Melalang Buana !!!” decak Amanda lalu menendang kasar tubuhku.


-Kilas balik selesai-


Usiaku masih 18 tahun, aku masih mau mengejar cita-citaku, aku harus menabung yang banyak! Aku akan membangun restoran. Aku ingin berada di posisi ibu.


Kata ayah, ibu memiliki restoran tapi karena ada masalah, restoran itu harus dilelang.


Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan restoran itu demi Ibu. Walaupun Ibu sudah di surga tapi aku akan tetap membuktikannya.


Lalu bagaimana aku harus menjawab lamaran Johan? Lamaran Kevin juga belum dijawabnya , aku harus bertemu Ayah, aku akan minta pendapatnya. Aku tidak mau menyakiti Kevin dan juga Johan.


“Ah sudah jam 11 aku harus beres-beres, bisa kena damprat pak manager lagi!”


Tok-


Tok-


Ah siapa lagi itu, gak tahu orang lagi buru-buru, ya.


Ceklek.


“Siang...Ah ! Maaf. Ini bukannya kosnya Bella? Apa aku salah kamar ya” ujar pria dewasa itu.


“Maaf Anda siapa? Iya ini benar kamar Bella kok, saya teman sekamarnya. Anda belum menghubungi Bella?”

__ADS_1


“Perkenalkan saya Aris, Kakaknya Bella, siapa namamu? Apa saya boleh masuk sebentar?” tanya orang itu penuh harap.


Cukup lama aku berbincang dengan Kakaknya Bella sekitar setengah jam  sampai aku melupakan sesuatu.


“Lala, kamu ga kerja?” Panggil seseorang di depan pintu.


“Mas Luca? Ah iya lupa sumpah!” aku berdiri mengambil tasku, ku menoleh pada kak Aris yang sudah berjalan keluar, "Maaf ya kak Aris, aku buru-buru. Nanti aku bilang ke Bella deh”


“Siapa?“ tanya Luca sambil mengendarai mobilnya.


“Kaka’ na’ Bell” jawab dengan lolipop di mulutku, tanganku memegang hp membuka  grup chat dan memeriksa daftar bahan baku makanan yang sudah di purchasse.


“Temani aku makan sebentar ya, gak enak makan sendirian. Bisa?” tanya Luca menambah kecepatannya.


“Hmm”


“bisa apa ega?” tanya Luca lagi.


“Iya-iya bisa, bentar aku ngecek ini dulu,” aku melepas lolipopku untuk menjawab Mas Luca. Kulihat aku masih punya waktu setengah jam.


____________________________________


...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....


Ya, namanya manusia hanya bisa berencana, tapi apakah takdir bisa semulus itu? Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya bisa dengan like, koment, vote, atau tambahin ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2