
Richie menyobek roti, mencelupkan ke mangkuk sup dan memakannya dengan lahap. Jam 11 siang baru sempat sarapan setelah keributan dengan wanita yang terus mengusiknya pagi, siang, dan malam.
Mata Richie melirik ke kanan, mencoba mengingat setiap kata-kata wanita itu yang sebentar-sebentar memanggilnya. Mengingat semua cerita wanita itu, tentang semua yang sudah mereka lewati bersama.
'Mengapa saya tidak ingat apa-apa? mengapa wanita itu menghantui dalam mimpi? mungkin saya terlalu setres karena dia terus mengganggu.' Batin Richie saat menyeruput sup hangat.
Tangan Richie menyentuh masakan Lala, dia menyendok akan di masukan ke piring, tapi diurungkan dan dikembalikan lagi. Dia merasa harus menjauhkan diri dan tidak boleh mempercayai istri dari pembunuh.
Pak Pram datang terburu-buru, memberi hormat, mengelap keringat di ujung kening. "Nyonya Saint pingsan dan sedang dirawat, Tuan," kata Pak Pram dengan takut-takut. Dia ingat betul saat Tuannya belum hilang ingatan, begitu mendengar Lala sakit - pasti langsung marah-marah.
"Kenapa kau merawatnya disini, bawa dia ke rumah sakit. Saya tidak mau dokter-dokter saya juga memeriksanya," kata Richie dengan datar, membuat nafsu makannya sirna.
"Rumah sakit jauh, Tuan. Dan lagian rumah sakit dikota ini milik Tuan, jadi sama saja kan. Itu, Nyonya Saint mengalami tekanan darah rendah, dan dia sedang hamil, Tuan."
Richie tersentak dan duduk semakin tegak, dia tidak tahu dengan reaksi apa pada tubuhnya. "Dia mau pingsan, hamil, atau apa, saya tidak peduli, paham!?"
"Mungkin, Tuan, harus melihatnya. Saya hanya tidak ingin Tuan menyesalinya. Bukankah sejak muda anda terus mencari wanita itu, bahkan sampai membuat dia berada di negara ini." Pak Pram menceritakan kembali tentang perjuangan keras yang sudah dilakukan sang Tuan.
"Untuk apa saya melakukan itu? hah! apapun yang saya lakukan dulu ya dulu. Sekarang, saya tidak peduli. Richie yang sekarang tidak akan tunduk pada siapapun. Mengerti?!"
Pak Pram mengggerakan jemari dalam genggamannya tak beraturan. "Baik Tuan."
Di ruang penjara, Richie tengah di temani pak Pram. Beberapa saat besi yang menutupi penjara pada bagian pintu turun perlahan, dan tersisa kaca tebal memperlihatkan Kevin sedang duduk dengan rambut tidak beraturan.
__ADS_1
Richie mengamati orang yang tampak asing baginya. Dia masih belum percaya alasan lelaki itu membunuhnya hanya karena istrinya, itu menurut rekaman cctv. "Hei, kau."
"Apa dia tak apa-apa, Richie?" tanya Kevin tanpa menoleh masih menatap pahanya.
Alis Richie naik sebelah, "dia siapa? oh maksudmu istrimu? tak usah membahasnya, saya muak. Jadi, kenapa kau membunuh saya?"
Kevin merasa bingung, dia menoleh ke kiri, terlihat lelaki tua dibelakang Richie hendak pergi tapi dilarang Richie.
"Ayo jawab, kenapa?" tanya Richie ingin mencari tahu lebih dalam, memang suasana hatinya terasa berubah menghangat melihat Kevin, ada yang aneh dengan gejolak tubuhnya. Padahal sudah jelas-jelas bertemu dengan pembunuh, seharusnya marah, tapi reaksinya justru kebalikan kasian melihat Kevin terlihat kacau.
"Apa kau puas, dia minta cerai?"tanya Kevin dengan wajah tak berekspresi.
"Hah? kau tinggal jawab pertannyaanku kan. Tak usah curhat. Untuk apa aku puas? memang_"
"Cih! pantas kau mau membunuh saya. Ternyata lelaki gila."
"Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan memberitahu, jika Tuan hilang ingatan. Kevin juga orang yang pernah dekat dengan anda, mungkin anda akan tahu rahasia anda dengannya," bisik Pak Pram di telinga Richie.
"Cih!" Richie tidak menyalahkan saran Pak Pram yang ada benarnya, tapi lucu sekali rasanya jika harus menunduk ke pembunuh. Richie bingung sendiri dengan hatinya, mengapa tidak ada niatan untuk membunuh Kevin
"Richie bebaskan saya. Saya akan memberi sesuatu yang belum pernah saya beri tahukan padamu. Saya tahu, kamu tidak akan menolaknya," kata Kevin tegas, matanya menatap dinding tanpa melihat ke Richie.
Sikap Kevin membuat dua alis Richie naik. 'Lihat gayanya, bukankah dia dipenjara harusnya memelas pada saya kan? Cih dia justru terlihat lebih sombong.'
__ADS_1
"Percaya diri mu tinggi sekali." Richie tertawa. "Apa yang kau tawarkan. Saya mau tahu sebagus apa rahasiamu?"
"Richie, kau tidak pernah kecewa atas hasil kerja dan otak pintar saya kan? Jadi, akan saya memberikan itu sekembalinya dari wilayah barat."
"Apa? wilayah barat?" tanya Richie lebih bingung apa yang dibicarakan Kevin.
"Tuan, itu wilayah pesaing Anda. Kita di wilayah utara. Dan anda tidak pernah menginginkan wilayah barat. Wilayah barat, wilayah yang sama-sama menjanjikannya dengan wilayah timur. Anda dulu pernah menargetkan wilayah timur. " Bisik kepala Pelayan di telinga Richie, lalu kembali berdiri tegap.
"Terserahlah kau mau berbuat apa. Namun, perempuan mu akan jadi jaminan."
"Baik..."Jawab Kevin, merasa aneh dengan gelagat Richie. Namun, tempat teraman untuk Lala hanya di tempat ini. Dia akan kembali lagi menjemput Lala setelah membawa pulang sang putra.
Mudah sekali jawabannya? bukankah dia membunuhku karena istrinya? sekarang tak menolak sama sekali istrinya jadi jaminan? sebenarnya apa yang tidak saya ketahui si? Batin Richie, dia memberi kode dengan tangan menyuruh Pak Pram melepaskan lelaki aneh itu.
Para penjaga melepas Kevin dengan diamati Richie. Lelaki yang kehilangan ingatannya itu mengamati Kevin yang kesulitan berdiri. Sampai di ruang kesehatan, Richie pun mengamati dari luar kaca adegan Kevin dan wanita itu. Richie masih tidak bisa mencerna semuanya, melihat Kevin dan wanita itu berantem berdebat dan berakhir dengan Kevin meninggalkan wanita yang menangis itu.
"Tuan?" tanya Pak Pram bingung melihat raut wajah Richie yang berkerut dalam. "Apa anda baik-baik saja?"
"Kenapa wanita itu menangis?" tanya Richie, merasa tidak nyaman melihat bibir wanita yang melengkung ke bawah, dan mewek, terlihat begitu jelek dimata Richie.
"Saya kurang tahu, Tuan. Tapi dari rekaman CCTV mereka ribut, Nyonya Saint meminta cerai," kata Pak Pram, dia memgamati Tuannya yang susah di tebak. Sesekali Tuannya terlihat penasaran, sesekali selalu tidak suka bila ada ada yang menyebut wanita itu, sesekali raut wajah tuannya memperlihatkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Pak Pram menggaruk kepalanya.
"Buat mereka bercerai."
__ADS_1
"Apa! Tuan?"