
-POV LALA-
Aku terjaga dan langsung sesenggukan. Hal luar biasa jika tubuh saya masih utuh. Mengingat bagaimana adrenalin saya meningkat drastis tadi malam. Saya tidak ingin menjumpai malam gila lagi. Tulang saya terasa menghimpit saya semalam.
Oh! saya harus bisa pulang.
Saya memperhatikan bagaimana kulit yang membiru, luka-luka membengkak membleh, baju lembab dan jari-jari saya memutih dan mengeriput.
Saya pingsan semalam, setelah menggigil begitu hebat. Dimana badan saya sakit demam seperti dalam himpitan batu besar.
"Agh," menahan sesuatu melilit dari dalam perut, saya begitu lapar. Oh! seharian kemarin saya tidak makan. Tenggorokan saya sangat kering mencekik. Demam semakin menjadi.
Cahaya Matahari mengintip, menerobos diantara dedaunan. Saya berjuang untuk memindahkan punggung dan bersandar pada pohon.
Siapapun orangnya, yang saya temui pertama, saya janji akan menjadikan dia orang terdekat.
Pergelangan kaki kanan saya bermasalah, ini terkilir. Saya tertatih, berjalan bungkuk agar baju depan saya tak mengenai lecet di perut saya.
Menuruni bukit dengan menyibak tanaman Sepaha, saya tidak ingin menginjak ular.
Pletak-pletak ranting kecil dan lapuk terinjak kaki saya, perih. Saya menjaga untuk tidak terpeleset dari tanah lempung yang terlapisi daun-daun busuk, yang masih basah dan lembab.
Saya memaksa kaki polosku yang sempat tertusuk ranting kemarin. Aku mencoba bertahan. Dan terus memikirkan cara mencari dan membawa Vino, sekarang aku belum tahu dimana putraku. Oh, susu apa yang dia minum, aku belum pernah memberinya susu formula.
Di depan saya dahan pohon mati menghalangi saya, saya tidak bisa menggeser karena tumbuhan merambat penuh duri. Sementara sisi lain, semak-semak lebih tinggi dan lebat.
Pisau, saya membutuhkan pisau. Ah saya teringat Kevin.
"Kau tahu, kenapa saya memberimu pisau, Babe?" tanya Kevin. Dan saya menggeleng.
"Dalam kondisi tertentu," Kevin menembakan semua isi peluru ke danau."Pistol yang habis peluru seperti ini, akan menjadi sampah dan tidak berguna. Sementara pisau, kau ... bisa menggunakannya tanpa lekang oleh waktu. Babe, Jadi, apakah kamu suka ini?"
Saya menyesali tidak membawa hadiah itu dua tahun lalu. Mengapa saya tidak mendengarkan Kevin, itu satu-satunya senjata yang sangat berguna.
Saya harus memutar kembali? menaiki bukit. Oh tidak.
Saya membungkuk. Meraih sebuah kayu sebesar pelepah pisang. Meski kotor oleh tanah, di bawah pohon mati itu. Ujungnya cukup runcing dan kuat.
Entah, saya bisa menggunakan mungkin untuk mencari cacing.
Tanah sangat licin, saya pergi ke sisi lain.
Sampai di tanah lembab saya mulai menggali menggunakan kayu, mengumpulkan beberapa cacing merah-ungu, terkdang begitu berwarna gelap nyaris hitam. Saya takut yang gelap berbahaya, atau ini hanya berisi tanah.
Mereka cacing-cacing yang sudah terkumpul, menggeliat dan menggelung, mereka membentuk bola! saya mual geli menatapnya. Setidaknya cacing-cacing itu pasti senang, tidak sendirian. Berbeda dengan aku ... ini gila,
Mengapa aku melakukan ini. Saya kira kemarin, akan banyak jalan dan saya bisa minta tolong penduduk. Kenyataannya , justru hutan!
Sekarang aku akan ikuti cara paman Pedro. Jika saya tahu akan seperti ini, saya akan benar-benar memperhatikan semua kata-kata paman.
Cukup jauh saya berjalan sampai saya mendengar sumber air, begitu bahagianya saya.
Saya pikir saya tidak akan mendapatkan air.
Namun pinggiran sungai sangat curam, saya nyaris terpeleset, beruntung saya bertahan meraih dahan pohon.
Saya kembali berjalan jauh, menyisikan benda-benda tajam seperti duri dengan tongkat saya. Kaki saya sungguh tidak bisa untuk jalan lagi, perih.
Sampai tepian itu sedikit landai, saya sedikit lompat ke sungai dan tumit saya membentur batu di balik pasir.
Ngilu sekali, saya pikir itu hanya pasir.
__ADS_1
Saya langsung meraup air, bulir tetesan takjub dan rasa syukur menetes dalam cekungan air, saya mendekatkan bibir dan membasahi tenggorokan saya. sesulit ini hanya demi seteguk air.
Saya pikir tidak akan mendapatkan air.
Mendaratkan pantat di batu kali, saya mendorong semua tanah dari tubuh cacing. Mencuci cacing-cacing menggeliat. Kemudian membungkus dalam -daun kekuningan yang setengah kaku-. Demi apapun saya tidak ingin makan ini, tapi saya sangat lapar.
Di pinggir sungai, di batu, saya menatap langit biru, burung-burung berkicauan.
-Ingatan saya kembali pada saat setelah kami meninggalkan Moskow-
"Nak, Jika kamu terjebak di hutan. Cari tahu jalan mana yang 'menurun'. Orang-orang hidup 'menurun' di lembah-lembah. Di situlah semua air mengalir," kata ayah yang sedang membakar ikan. Sementara saya bermain bunga yang diberikan ayah.
"Berdiam lah saat malam, cari pohon dimana di atas banyak burung karena di sana sangat minim predator. Jika ada kotoran sebesar manusia menjauhlah, itu kotoran predator."
"Ayah, Risa tidak akan pernah ke hutan! Ayah ayo pulang. Risa merindukan Eros!" Saya cemberut.
"Nak, kita tidak bisa kembali ke Moskow. Kita akan pergi ke tempat yang lebih indah."
"Risa, mau Moskow! Risa mau menikahi Eros, Ayah!"
Saya memperhatikan ayah yang tertawa lalu terdiam.
"Risa, mau Eros!"
"Nak, kemari, ayah ajarkan sulap dengan batu ini."
"Risa mau Eros bukan Sulap!"
"Risa sayang, jika Risa ke hutan dan membuat api, buatlah api di antara batu dan duduk disana, batunya bisa menahan panas berjam-jam mampu menghangatkan saat malam."
"Ayah, Risa, mau pulang," isak saya.
Seseorang datang memeluk ayah dan bercakap-cakap.
Ayah lalu pergi.
"Paman, ayah kemana?"
"Ayah, mau mandi, ayo bantu om, om mau cari cacing."
"Cacing?"
"Iya, kamu harus lihat ini seru."
Paman Pedro menggali. Dia membelah dan mencuci cacing, lalu memakannya. "Kamu mau coba? gigitlah ini enak."
Saya mengunyah satu gigitan dan langsung menyepah, saya terus menjulurkan lidah, lalu meludah. "Paman, ini sangat tidak enak, seperti daging busuk."
Paman Pedro tertawa, "kamu akan membutuhkannya, saat di hutan sayang, kecuali kamu bisa menjebak burung atau menangkap ikan!" kata Paman penuh semangat.
"Risa, lihat, paman memiliki tongkat, ini akan menyelamatkan kita dari binatang berbahaya, ingat ya..."
"Paman, Risa tidak butuh tongkat. Risa ada ayah, yang akan melindungi Risa," bibir saya mengerucut.
"Baiklah. Ayo kita bikin rumah-rumahan," paman menuntunku, dia membuat kayu dan diatasnya diberikan ranting penuh daun-daun. Setelah itu paman mengajariku membuat api dari batu, tentu saja, saya tidak memperhatikan.
"Ingatlah Risa, upaya terakhir mengikuti sungai, kamu harus mencari sungai," kata paman.
"Makan rumput dengan warna tidak mencolok, Risa."
"Risa bukan sapi, Paman.Tidak akan!"
__ADS_1
"Risa, di hutan, hindari juga sinar matahari saat siang, sehingga jika malam ... tubuhmu tidak terlalu kedinginan.
"Ketahuilah bahwa lereng 'menurun' biasanya mengarah ke air , dan mengikuti anak sungai atau anak sungai ke hilir biasanya akan membawamu ke peradaban.
"Idenya adalah bahwa air mengalir menuruni bukit, dan karena itu kamu akan menemukan sumber air, yang akan kamu perlukan jika kamu tersesat untuk sementara waktu. Dan kemudian kamu dapat mengikuti sumber air itu ke peradaban.
"orang menempatkan rumah-rumah di sepanjang sungai, para nelayan sering mengunjunginya. Anak sungai. Dan sungai akhirnya mengalir ke sungai, yang membawamu ke laut. Sebagian besar sungai besar memiliki pelabuhan di atasnya, dan jika sungai yang kamu ikuti tidak seperti itu, kamu dapat berjalan di pesisir sampai kamu menemukan tempat tinggal, atau jalan yang harus diikuti.
"Ingat Risa, hutan belantara berarti kematian dalam waktu dua minggu. Kecuali mereka menjadi sangat, sangat beruntung."
"Paman, saya tidak akan pernah ke hutan! Risa akan menikahi Eros, Eros akan membawa Risa ke Paris!"
"Siapa Eros, Risa?"
"Moy paren."
"Pacar?" paman mengulang kembali.
Saya mengangguk sebagai tanggapan dan paman pedro tertawa. "Milaya! siapa yang mengajarimu, kau baru enam tahun, Moya Milaya." Paman sampai menggendongku.
Moya Milaya(sayang, sayangku)
"Eros." Saya tersenyum teringat perkataan Eros. "Paman turunkan! Risa, sudah besar, malu."
"Kamu, masih bayi Milaya!" Paman mencubit hidung saya, saya mengerucut bibir.
Saya tersadar, potongan ingatan itu membingungkan.
"Eros? Moskow..."
Saya memijat kening menatap tajam pada cacing yang telah dibersihkan.
Saya menarik nafas dalam.
"Wah perkenalkan Lala, inilah mie limited edition! di buat dengan rasa paling luar biasa enak! Mie terlezat!" teriak saya sambil menggulung cacing. Kemudian menelan dengan bantuan air!
Saya mual sekali, INI MIE LIMITED EDITION. MIE. MIE
Glek- saya menelan kasar. Mengulangi beberapa kali sampai habis.
Ini menjijikan!
Saya hampir muntah.
Tidak boleh.
SPAGHETTI. TERASI. TELUR ASIN.
Saya terus memikirkan makanan beraroma kuat. JENGKOL.
Say bersyukur masih menelan asupan protein. Saya minum banyak air untuk mengenyangkan. Airnya jernih
Saya menyesal, mengapa tidak belajar membuat api dari paman.
"Ayah," isak ku...
"Eros, siapa Eros," saya duduk dibawah pohon, mengamati aliran air, mencongkel ingatan lama.
Eros.
Eros.
__ADS_1
Kakak laki-laki berkaca mata.
"Estarchus ... "