Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 125 : UNCLE


__ADS_3

Mobil Buggati Veyron yang dikendarai Lala memasuki komplek pemukiman termahal di inggris.


Pintu gerbang terbuka otomatis setelah Lala menekan remote kecil di dalam mobil.


Tak berapa lama di belakangnya tepat mobil yang biasa untuk menjemput anaknya berada persis di belakang Lala.


Di lobi Luca turun, diikuti Lala yang memberikan kunci pada penjaga, setelah memberi hormat penjaga itu segera memarkirkan mobil kesayangan Lala itu.


"Mommmm!" pekik salah satu anak berambut hitam lurus sebahu, yang baru turun dari mobil, "Eh uncle Luca!!!" teriaknya sambil berlari menuju lelaki -usia berkepala empat- yang masih menyendiri itu.


Luca membuka kedua tangan, menangkap putri Lala dalam pelukannya, "Irish! ... " di dekap kepala dengan erat dan di remas rambut gadis itu di dadanya.


"Uncle tidak mengabari Irish! huh!" Irish melepaskan pelukan dan meninju dada pamannya itu.


"Jika aku memberitahumu, itu bukan kejutan sayang!" Luca menjembreng pipi cubby keponakannnya, lalu menarik Irish berjalan dalam rengkuhannya, mengikuti Lala yang sibuk membawa dua buket bunga mawar merah dan bunga Lily.


"Irish, biarkan uncle mu istirahat dulu, dia habis penerbang jauh pasti lelah," kata Lala sesampai di ruang keluarga, sambil masukan beberapa mawar di vas kaca di meja ruang keluarga.


Ivy meletakan tas di nakas, lalu berbicara kepala pelayan agar diambilkan jus jeruk dan camilan favoritnya, dan kembali berjalan memeluk punggung mamahnya yang kini di dekat tivi, "pasti uncle sudah istirahat di jalan mah," menengok ke Luca yang sedang mengeluarkan sesuatu dari kantung jas,"iya kan uncle pasti sudah istirahat kan?"


Luca mengangkat kotak panjang biru di tangan, mengarahkan pada irish dengan masih asik duduk di sofa,"iya aku sudah cukup tidur, ini spesial untuk mu ,Irish," katanya sambil tersenyum saat melihat Irish berbinar-binar dan melepaskan pelukan dari Lala, dan terus menghambur ke sang paman merebut hadiahnya.


"Apa ini," Irish membuka hadiah, terlihat kalung dengan bandul patung liberty, "wah !!! makasih uncle!!" Irish mencium pipi kanan Luca, dan meminta di pasangkan kalungnya.


"Baguslah jika kamu suka," dikaitkan kalung pada leher Irish, lalu berbisik, "apa kamu sudah punya pacar, Irish?"


Irish melihat ke arah mamanya yang masih memindahkan bunga di vas dekat tivi. Lalu menghadap uncle dan menggelengkan kepala, "mama dan papa melarang kami pacaran, uncle!" bisik Irish.


"Ha.. ha... ha.. "


Luca tertawa, membuat Lala menoleh, "apa yang kalian omongin?" tanya Lala dengan satu alisnya naik ke atas.


"Tidak Mam, hmmm Irish naik ke atas dulu," kata Irish pada Lala dan bangkit dari duduk, sebelum pergi Irish berbisik pada Luca, membuat Luca semakin tertawa.


Lala dibuat penasaran, setelah Irish pergi, Lala menghampiri Luca, "jangan mengajari dia macam-macam, mas Luca," kata Lala sedikit curiga, karena kaka Iparnya itu selalu membantu anak-anaknya lolos dari peraturan yang telah di buat dirinya dengan sang suami.


"Memang aku bikin apa? aku baru pulang, kan?" Luca berdiri di depan Lala, "hmm kau tidak merindukanku, adik ipar?" tanya Luca dengan lembut dan nada menggoda tanpa bermaksud melecehkan adik iparnya.


Lala memiringkan kepala karena tatapan nakal Luca, "berani kau macam-macam lagi seperti dulu, aku akan mematahkan kakimu mas Luca," kata Lala penuh penekanan.

__ADS_1


Luca lebih mencondongkan badan ke Lala, membuat Lala sedikit menekuk tubuh ke belakang menjauh dari Luca.


"Oh iya? aku penasaran apa kamu bisa melawanku, adik ipar," kata Luca menyeringai , lalu meniup hidung Lala, dan berlalu meninggalkan Lala.


Lala menggelengkan kepala menatap punggung Luca, lelaki mulai menaiki tangga, kakak iparnya itu kembali membuatnya kesal, bedanya sekarang Lala sudah banyak berlatih untuk menepis segala gangguan pria yang hendak macam-macam dengan dirinya.


Kepala pelayan berjalan mendekati Lala, "Nyonya, Tuan sudah di depan," kata kepala pelayan diangguki Lala dan bergegas menyambut Kevin.


Di Loby suaminya itu turun dengan wajah sudah lelah, dibelakangnya Parker yang nampak semakin tua tapi tetap gagah sedang membawa tas kerja suami.


Kevin terdiam sejenak menatap Lala dan, menyunggingkan senyum, disambut Lala yang menyambut Kevin dengan ciuman selamat datang.


Semua bawahan menunduk disaat kemesraan majikan berlangsung, baik sepulang, atau diwaktu berangkat kerja, atau dimanapun.


"Ka Luca sudah datang?" tanya Kevin saat Lala menggelayut manja, dengan kedua tangan di leher Kevin.


"Jangan pura-pura tidak tahu, pasti kamu lebih tau duluan, bahkan mungkin jauh sebelum dia terbang dari New york, kan?" sahut Lala sambil memainkan jemari lentik di dada suaminya, dan jari-jari itu di tangkap Kevin, lalu menggendong Lala sejak dari loby.


Setiba dikamar, Kevin membanting Lala ke kasur.


"Ahhhhhh sayang, ampun tidak ada lembut-lembutnya huh," kata Lala dengan lembut dan sedikit kaget saat terhenyak di atas kasur empuk, menatap suami yang melihat dengan tatapan dalam penuh nafsu, sambil meletakan sabuk yang sudah di lepas disebelahnya.


"kamu terus menggoda saya, kamu minta dihajar kan Babe," mulai merangkak diatas Lala, menatap Lala dengan senyum seringai saat wanita itu semakin kelihatan gugup.


"Ya?"Kevin duduk di atas paha Lala, "apa istriku? bukankah kamu meminta ini," menatap Lala yang menelan salivanya saat Kevin melepas dasi dengan dua tangan.


Shet!


Lala membanting tubuh Kevin hingga lelaki itu kini terperanga dan terlentang dibawah, dan Lala sudah duduk diatas tubuh sang suami.


Lala tersenyum menang karena suami sudah menegang keras. Kejantanan di bawah pantat itu semakin di gosoknya dengan pelan, dan membuat bongkahan teraniyaya itu jadi semakin membesar.


"Lihat, yang kamu lakukan Babe, tanggung jawanb," pinta Kevin menatap tubuh dan tatapan seksi istrinya.


Kevin yang tadi wajahnya nampak kelelahan kini tampak pasrah saat Lala dengan cepat telah mengingat kedua -pergelangan tangan Kevin- ke depan.


"Aw," sentak Kevin, saat Lala mendorong -tangannya yang terikat- ke atas kepala, wanita itu tersenyum semakin menantang Kevin dan langsung melahap bibir Kevin yang masih terperanga.


Mata Kevin yang membelalak terpejam dengan perlahan merasakan kelembutan dan kehangatan bibir Lala, terutama saat Lala mulai menjulurkan Lidah dan semakin dalam menciumnya.

__ADS_1


Dua bukit kenyal hangat itu menekan dalam pada dada bidangnya, membuat Kevin semakin blingsatan menerima perlakuan dan ciuman istrinya, sementara dua tangan lentik itu menarik keras bagian tengah kemeja lelaki yang tubuhnya semakin memanas, sampai kancing-kancing itu lepas dari tempatnya.


Desiran darah Kevin semakin membumbung ke ubun-ubunnya saat saat sang istri mulai meraba kemana-mana, membuat dirinya semakin menegang terutama saat lidah sang istri mengecup dan bermain di dada. Sedangkan tangan lain membelai kejantanan miliknya, membuat itu terbebas dari celana yang membelitnya, dan bebas mengacung menghadap langit dalam permainan tangan lembut halus nan hangat.


Shet!


Sang istri telah memutar tubuh, setelah mengangkat dresnya dan menghadapkan daging berlapis g-string itu di hadapan Kevin, daging yang minta dilahap.


" hhhhhh," er..ang Kevin saat lidah Lala menyentuh lubang kejantanannya.


Kevin yang tangannya terikat ke atas, mulai mengangkat kepala dan menyentuh ujung g-string itu dengan hidungnya, membelah dengan hidung mancungnya, menghirup aroma khas kesukaan yang selalu membuat dirinya tergila-gila. Dua daging itu mulai di basahi dengan bibir Kevin, membuat istrinya semakin mengeluarkan suara-suara seksi yang menari-nari di kepalanya, sang istri yang asik semakin dalam melahap kejantanan sampai menekan ke ujung tenggorokan lembut itu, membuat Kevin semakin mengerang panjang


DOG! DOG ! DOG!


"Mamah!!!!! bangun mah!! ini Ivy!!! Ivy mau ketemu Uncle!!Uncle dimana! papah!!! masih sore masa sudah tidur!"


Kevin yang sempat mendengar gedoran pintu anaknya tak mempedulikan, Ia semakin mengangkat kepala dan menenggelamkan wajah ke surga dunia di depannya, menari-nari lidahnya semakin dalam, 'gurih'.


Lala yang blingsatan karena lidah suaminya yang penuh listrik setiap menyentuhnya itu semakin tak tahan, di benamkan inti tubuh ke dalam wajah suami, yang terasa hangat dan bibir tebal panas suaminya yang mencamplok semakin dalam, membuat Lala merem melek, menahan rintihan.


"Mah!!!!!" teriak Ivy dari luar kamar.


"Apa yang kamu lakukan Ivy?" tanya Luca menyentuh bahu Ivy.


"Uncle!!!!! uh kangen, uncle lima tahun kemana saja! nggak kangen sama Ivy! kenapa nggak pernah pulang!" rengek Ivy dalam pelukan Luca.


"Ya kerjaan uncle banyak, yang penting uncle sudah disini kan.


Di dalam kamar, Kevin yang semakin mengobrak-ngabrik lembah penuh kenikmatan itu semakin dalam membuat Lala tak bisa menahan sampai meng erang lepas.


" Ahhhhh!--"


Luca yang mendelik mendengar itu, untung kedua telinga Ivy masih dalam bekapan pelukan lengan. Luca semakin memeluk Ivy.


"Uncle, jantung uncle kenceng banged!"


"Hah iya kah? mungkin uncle perlu olahraga, ayo uncle punya hadiah," kata Luca dengan sedikit keras di telinga Ivy yang kini di tutupi Luca.


"Kenapa telingaku di tutup Uncle?"

__ADS_1


tanya Ivy bingung.


"Ahhhhhh!" Erang Lala terdengar lagi, membuat jantung Luca semakin tak terkendali. Luca mendorong Ivy berjalan menjauh dari kamar orang tuanya tapi dengan terus menutup telinga Ivy. Sementara mata Luca terus terperanjat tanpa berkedip dengan suara-suara di kepalanya, selama menjauh dari kamar.


__ADS_2