Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 124 : 20 TAHUN BERJALAN


__ADS_3

Dua puluh tahun telah berlalu ...


Kedamaian menyelimuti keluarga Kevin Saint Mariano.


Amber dan Lydia sejak SMP meminta hidup bersama ayahnya, Johan, di negara kepulauan. Kini mereka berusia 20 tahun. Amber jurusan Arsitektur, dan Lydia jurusan fashion business.


Sedangkan Lala sesuai dengan hobinya merangkai bunga, dia fokus membesarkan toko bunga.


Sambil memantau pertumbuhan gadis-gadisnya. Isla, Iris dan Ivie. Mereka hadiah yang Tuhan Kirimkan pada Lala dan Kevin, wajah mereka semua mirip papanya, Kevin.


Si kembar tiga, baru masuk kuliah di universitas ternama di London.


Isla ( arti nama island ) -anak tomboy, jurusan seni-


Iris ( arti nama rainbow ) - anak kalem, anak kedokteran-


Ivie (arti nama climbing evergreen) -pendiam, jurusan IT -


-ketiga anak kembar- yang kini berusia 18 tahun, menetap bersama Lala di London karena kesibukan kantor Kevin di London.


Pagi itu di toko bunga, Lala sedang sibuk merangkai bunga-bunga segar pesanan pelanggannya.


"Sibuk?"


Lala menoleh ke belakang, "mas Luca?" Lala meletakan bunga mawar yang baru di potongi gagangnya, dan berjalan menyambut kedatangan Luca.


"Apa kabarmu? ku dengar sakitmu kambuh?" tanya Luca cipika dan cipiki Lala, lalu duduk di tempat Lala tadi duduk.


"Biasalah mas kecapekan, sebentar..." Lala berjalan ke sudut lain toko membuatkan teh vanila yang di sukai Luca.

__ADS_1


Luca mengamati Lala, sudah 5 tahun tak berjumpa, wanita itu justru semakin cantik, tidak terlihat memiliki anak lima, justru bagi Luca, tubuh Lala semakin terlihat seksi, walaupun sudah kepala empat.


Tangan lentik itu meletakan secangkir teh, sekotak macaron dan croissant apple di depan Luca, setah Lala sedikit menyingkirkan bunga warna-warni.


"Kenapa tidak mengabari? apa sudah bertemu Fabio? dia menanyakan mu terus mas," kata Lala, lalu meminum tehnya sendiri.


Luca menyesap teh favorit bikinan Lala yang sudah lama tak dirasakannya, Ia memejamkan mata, 'Teh ini benar-benar nikmat, tidak ada duanya.'


Begitu membuka mata, Luca melihat Lala yang kedua tangan menempel pada pipi, tengah memperhatikannya.


"Apa?" tanya Luca yang merasa di selidiki, "oh, Fabio... aku belum bertemu dengannya, aku dari bandara langsung kemari, apa kamu tak bawa makanan berat, aku lapar," tanya Luca, langsung mencaplok croissant di depannya. Lala masih tahu saja dirinya suka croissant, 'huh wanita ini benar-benar menyebalkan.'


"Kamu mau aku masakin?" tanya Lala, melihat Luca yang kelaparan, sampai kue-kue di depannya telah habis.


"Kita makan di luar saja ayo, jangan kabari suamimu, aku mau kasih kejutan."


"Kamu ini aneh, lihat saja mereka berjaga, kamu pikir detik ini Kevin belum tahu kedatangan mu, salah besar," kata Lala, lalu sedikit menunduk dan tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala.


Lala berdiri, berjalan ke kasir mengambil tas hitam slempang rantai dan berbicara pada pegawainya, wanita dengan spatu stiletto berwarna kulit dan gaun hijau berpotongan V rendah pada bagian dada, dan panjang selengan serta sebawah lutut, itu membentuk lekuk tubuhnya, benar-benar menghipnotis mata Luca.


Lelaki itu berjalan keluar, penjaga yang menghalangi di beri peringatan oleh Luca, karena sekarang dirinya lebih jago bertarung daripada penjaga itu, "apa kalian melarangku pergi dengan adik iparku?" geram Luca dengan aura kuat.


"Sudah-sudah," kata Lala menarik -Luca yang mencengkram leher penjaga dengan kuat, sampai penjaga itu nyaris kehabisan nafas.


"Aku akan pergi dengannya, tak apa," kata Lala pada penjaga. Kemudian Lala memasuki mobil, dan mengemudi.


Luca senyum-senyum sendiri, melihat wanita itu yang jauh lebih tegas dan berani, tampak semakin seksi dimata Luca.


Mata Lala melirik Spion tengah dan samping, di belakang beberapa mobil penjaga mengikuti dengan menjaga jarak.

__ADS_1


"Kamu semakin pandai mengemudi adik ipar," kata Luca yang matanya tidak pernah lepas dari wanita yang sangat terlihat elegan itu, membuat Luca semakin geregetan.


"Hemmm karena banyak musuh menganggu, mengemudi pun harus lihai, sepertinya kamu belum pernah merasakan kemampuanku dalam mengemudi ya mas, lain kali saat jalanan sepi, akan ku tunjukkann ya."


Luca melihat ke depan, "oh ya? La, ngomong-ngomong, bisnisku di New york telah berjalan. Dan rencananya aku mau menetap di London sampai semua berkas siap ... "


"Oh m? baguslah tidak perlu jauh-jauh, putriku Irish pasti akan senang mendengar ini," kata Lala dengan mata berbinar memperhatikan jalan.


Di sebuah restoran negara Kepulauan, Lala memarkirkan mobil 'Buggati Veyron' seri terbaru.


Saat Lala turun semua mata disekitar begitu terpanah melihat wanita cantik elegan dan sangat seksi berjalan penuh elegan dari mobil mewah putih itu.


Luca menggelengkan kepala, matanya tak berkedip, bibirnya terus tersungging, 'benarkah ini Lala Clarissa yang ku kenal, astaga, apa dia tak sadar gayanya ini terlalu mengundang mata lelaki.' Luca melepas jas dan menutupi punggung Lala.


Lelaki itu berjalan dengan tegap dan gagah, nampak kemeja yang mencetak bahu lebar dan berjalan sangat dingin, seakan melindungi wanitanya, sampai semua orang pasti mengira, mereka adalah pasangan.


Di ruangan vvip yang hanya berisi empat meja saling berjauhan, seorang tidak jauh dari mereka tengah bermain biola, Lala duduk di depan Luca.


Lala melambaikan tangan didepan Luca, karena panggilannya tak dijawab Luca yang justru terus senyam-senyum, "mas Luca, kamu melamun? hey makanannya sudah datang."


Luca tersadar, dia sedikit melebarkan mata, "ehm mengapa kamu tambah cantik Lala."


"Tiap malam aku olahraga dengan Kevin__"


"What!??"


Lala mendongak, "workout dan melatih kungfu ku," kata Lala yang mulai membelah rendang daging di depannya dengan tangannya.


"Oh ... kungfu?" Luca mengangkat satu alis, menahan tangannya yang akan mencomot nasi di depannya. "Lawan aku ayo, aku mau lihat sejauh apa latihan mu." Luca mulai menyiramkan kuah pada nasi putih itu, sudah lama dirinya tidak makan nasi. Setiap dengan Lala pasti, wanita ini membawa ke restoran negara kepulauan.

__ADS_1


"Siapa takut, siap-siap saja kamu kecewa dengan kekalahan mu mas." Lala kembali makan nasi padang dengan lahap, apalagi mas Luca teman paling cocok disaat dirinya ingin makan-makanan negara kepulauan yang sudah lama tidak di makannya. Ya, karena Kevin jika makan selalu pilah-pilih.


__ADS_2