
...π¬π§π¬π§...
π€Mimpi panjang Richieπ€
"Richie!!!!" terdengar suara memanggil dari arah belakang. Langkah Richie terhenti, dia menoleh kebelakang, terlihat tidak ada orang.
Richie kembali berlari dalam lompatan besar melewati rumput kuning keemasan.
"Richiiee!!!! Richie... " panggilan itu semakin jelas, Richie menoleh ke belakang. Terlihat di sana hanya rumput hijau.
Richie tersenyum dan kembali berlari ke arah Daddy.
Daddy dan Mommy mengulurkan tangan.
"Daddy! Mommy! jangan !!!!" Teriak Richie saat daddy dan mommy makin menjauh. Sedangan gadis kecil itu tersenyum padanya dan berlari ke arah kanan.
Richie bingung memilih siapa, Daddy dan mommy hanya tersenyum... "Berjuanglah, pergilah," pesan daddy dan mommy melalui sorot mata tanpa berkata-kata.
"Richiieee!!!"
Richie menoleh ke belakang, terlihat disana telah menjadi bukit hijau.
Dan gadis kecil tadi hilang di ilalang kuning. Richie meraih selendang putih si gadis, dan seketika terlihat gadis itu berubah jadi semakin dewasa.
"Richie ... Richie .. Richie.. kue! kue! kue!!" gelak suara itu menggema, dan tawa itu makin terdengar renyah dan terus menggema.
Richie memutar tubuhnya mencari kepergian wanita itu, semuanya menjadi padang rumput yang liar, wanita itu menghilang. Richie berlari terus berlari melewati rumput ilalang yang tinggi dan terus mencari asal suara.
"Richie!!"
"Richie!!"
Panggilan itu menggema.
Cahaya itu berubah putih, dirinya menggigil dan dingin terus menyelimuti tubuh.
...ππ...
π€POV Richie-
"Richiiie...!" suara orang menangis.
__ADS_1
Aku membuka mata, begitu silau. Begitu mata ku menyesuaikan dengan sekitar, disampingku terlihat seorang wanita berambut hitam sedang tertunduk, dan aku menggerakan jariku yang lemas.
"Jangan pergi Richie!! jangan pergi!!huuhhk" tangis wanita itu menggema.
Aku mencoba menggerakan jari ku dan memeras tangan yang menggenggam ku. Aku menggerakan bibir, "hee.."
Terlihat wanita itu terdiam dia sedikit duduk tegap melihat tangan ku yang bergerak dengan pelan. Aku merasakan kehangatan genggaman itu walau tercampur basah air matanya.
"Richie! ini kau? ini kau!! Dokterrr !!! Dokter!!!!"
Wanita itu mencium tangan ku, mengelus pipi ku berkali-kali.
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku, jangan tutup matamu!" teriak-teriak wanita itu yang matanya sudah sembab dan bengkak.
"Siapa?" tanya ku dengan suara sangat pelan.
"Ini aku Lala, kau tak mengingatku?" tanya wanita itu.
Segerombolan orang mulai masuk, memeriksa bola mata ku dengan senter dan memeriksa segalanya.
"Sungguh keajaiban luar biasa. Anda baru saja bangun dari kematian, Tuan Richie," tanya lekaki itu.
"Richie siapa?" tanya ku bingung.
"Siapa nama Anda?" tanya orang yang dipanggil dokter.
"Saya... saya... saya... nama saya ... ahhhhggg!" ringisku, aku memegangi kepala, "Sakit!!" rintih aku saat mencoba menyebut nama.
...ππ...
Tiga hari berlalu...
Wanita itu terus mengikuti, membuatku tak nyaman.
"Pak kepala pelayan, biar saya saja yang membantu Richie," tawar wanita itu dan kepala pelayan mengangguk tanpa minta persetujuanku yang belum menjawab setuju atau tidak.
Wanita itu menuntun ku. "Pelan-pelan," katanya, dia terlihat kesusahan karena tubuhku yang besar dan tubuh dia yang langsing tapi perut wanita itu sedikit buncit.
Aku menggerakan kaki ku pelan, dan aku nyaris jatuh, beruntung kepala pelayan menahan ku.
"Badan kecil begitu mau membantu ku!" gerutu ku kesal, "Pergilah! tak usah sok dekat!" kesal ku, tangan ku memberi kode pada kepala pelayan. Lelaki tua itu membantu ku duduk di kursi roda. "He kamu pergi tak usah muncul lagi!" perintahku.
__ADS_1
Wanita itu tak mendengarkan perintahku daan terus berjalan ke di samping kepala pelayan. Sesampai di kamar ku, wanita itu masih berdiri.
"Hey aku benci melihatmu," teriak ku pada wanita yang melipat kedua tangan di dada, membuatku semakin kesal. "Usir dia!" perintahku pada kepala pelayan.
"Pak Pram biar saya saja ya," kata wanita itu pada kepala pelayan dan mendorong kursi ku masuk, kepala pelayan berlalu setelah memberi hormat.
"Hey kau ya ... ha! rese!" kesal begitu benci melihat wanita itu.
"Namaku Lala, panggil aku Lala, apa ini benar-benar Richie huh!" katanya, lalu dia langsung mendorong obat ke mulutku tanpa memberi tahu.
"Minum obatmu!" Dia memegangi rahangku dan tangan lain memegangi gelas, mau tak mau aku meminumnya, aku meraih gelas itu dan menyentuh tangan itu, hatiku tiba-tiba terasa menghangat.
"Pergilah aku tak suka melihatmu, kau seperti kutu menjijikan," gerutu ku kesal.
"Richie, apa kau mau aku memijat kaki mu? itu mungkin sedikit membantumu."
"Jangan asal menyentuhku, jangan sekali mencoba menyentuhku!" Aku mendorong tubuhnya menjauh dari kursi roda ku. "Pergilah!!! aku mau tidur!!"
Setelah dia pergi aku menjalankan tombol kursi roda, menuju cermin,
"Siapa aku! mengapa aku tak mengingat satupun!!!!!!!!" Aku meninju cermin di depanku.
"Richi kau tak boleh begitu!" teriak wanita itu, suaranya semakin mendekat.
"Sudah berapa kali aku bilang keluar!!!"
Dia tak mempedulikan teriakan ku, tangan ku terasa dingin dan kulihat darah mengalir di sana. Wanita itu mencoba meraih sebuah kotak p3k. Dia lalu mulai membersihkan luka ku.
"Mengapa kau ngotot tidak mau pergi? apa yang kau mau?" tanya ku dengan nada sinis disaat wanita itu mencabut pecahan kaca dari tangan ku.
"Untung lukanya tidak dalam, yang aku mau kamu cepat sembuh," kata wanita itu.
"Manusia baik pasti ada maunnya. Tunggu, kenapa aku mengatakan kalimat ini. Hah! memusingkan!"
"Richie, tak usah terlalu memaksa ... semua ingatanmu pasti akan kembali."
bersambung ...
...*** ...
terimakasih para pembaca, pengumunan novel bagus nih , mampir ya ...
__ADS_1
β―