Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 191 : MENGAMBIL HATI ANAKNYA


__ADS_3

-POV RICHIE-


Vino yang saya rindukan duduk dalam pangkuan saya, lumayan anak ini sedikit anteng.


Saya tak bisa menyembunyikan senyuman saya teringat kejadian semalam di kamar mandi, bukankah Lala terlihat begitu bingung, aku sangat menikmati ekspresinya.


Jadi bagamaina cara mendeklarasikan hubungan kami pada Lydia?


Menaklukan orang-orang diluar sana mudah dengan sebuah cek dan sebut saja nominal, bila ditolak tambahkan saja tekanan.


Namun, ini suasananya sangat berbeda. Apa saya harus menaklukan lima anak perempuannya? Tolong beri tahu aku caranya, Tuhan!


Johan menyentuh lengan saya, "kemana rencana mu siang ini? ada acara di balai kota, ikutlah," tawarnya.


Menatap netra coklat Johan. Jadi, aku baru tahu apa alasanmu terus melajang, sama seperti aku?


"Johan, saya tidak ada acara. Boleh jika begitu, saya ikut sepertinya seru,"kataku dengan tetap senyum. Seharusnya Johan menjadi bawahan ku. Namun, setelah aku mengetahui dia tidak meneruskan klan Bee, dan memilih hidup dengan cara biasa. Tak masalah, kita berteman.


Kami bertatapan dalam, seolah ada sesuatu dalam pikirannya yang ingin dia tanyakan.


"Vino, kemarilah," dia meraih Vino. Dada saya tiba-tiba bergemuruh.


"Kenapa lehermu?" tanya Johan sambil meraba di leher saya.


"Ini," inilah ulah Parker atau Billy sialan. Dia benar-benar menyerang ku dengan pisau tajam, sialan, dan berniat membunuhku saat tidur. Asisten Kevin memang sangat bodoh.


Apa dia benar-benar tolol, tidak tahu siapa aku. Saya benar-benar ingin menghabisinya, hanya saja Kevin datang menghentikan ku, dan lagi-lagi Kevin memohon untuk memaafkan orang lagi.


Sialan, bahkan Kevin tak mengijinkan aku memberinya pelajaran. Hampir saja pisau itu mengenai pembuluh besarku. Sialan.


"Ini, goresan kecil. Biasalah latihan," jawabku dengan sedikit tertawa.


"Latihan apa paman? Lydia juga pintar beladiri," sahut Lydia tiba-tiba dan Lala melirik ku seperti melempar pisau dan menusuk ku. Saya tertawa dalam hati, pasti pertanyaan bertubi-tubi akan Lala tanyakan nanti, jadi.


"Siapa yang mengajarimu? apa kamu mau, paman ajarkan latihan lain?" tanya saya, sedikit mengalihkan perhatiannya saat tangan saya menusuk sosis yang akan diambil Lala, membuat Lala tercengang, dan aku dalam hati tertawa menikmati ekpresi gugupnya.


"Ayah, tentu ayah mengajariku," kata Lydia lalu mengambil hpnya dan mengeser-geser layar, dia menunjukan sebuah foto. Foto saat dia masih kecil dan latihan dengan ayahnya. "Keren kan, paman?" tanya gadis itu, meminta pendapatku.


"Huh ya. Tapi, kamu belum belajar dari paman, kan?" tawar ku.


"Apa kamu mau belajar dengan paman Richie, Nak? Itu akan sangat berguna untuk mu,"timpal Johan dengan tatapan dalam pada Lydia dan di balas tatapan cemberut dari Lydia.


Dada saya berdenyut. Berapa kali lagi saya harus menyaksikan hal seperti ini. Melihat mereka membuat ku iri. Aku benar-benar ingin memiliki anak. Namun, sepertinya Lala tidak mungkin akan menyetujui. Jadi apakah aku tidak memiliki kesempatan untuk memiliki anak sendiri?

__ADS_1


"Hum, apa paman bisa bisa kungfu? paman bisa teknik Ba Ji yang terkenal itu?"


Saya membulatkan mata, sepertinya inilah kesempatan saya mengambil hati Lydia. "Kamu tahu siapa pencipta teknik Ba ji?"


Lydia menggeleng, dia mendorong piring dan dua tangannya melilat di atas meja, persis seperti murid yang mendengarkan penjelasan.


Saya tersenyum, " Kungfu Ba Ji sebagai kungfu tangguh sangat berbeda dengan beladiri. Karena disebut mempunyai karakter sebagai pemimpin. Di masa lalu banyak pejabat dan tokoh politik Cina yang mempekerjakan pendekar Ba Ji sebagai pengawal."


Lydia memiringkan kepala ke kanan, dia terlihat antusias mentapku begitu juga dengan Lala, sementara Johan memainkan tangan Vino.


"Menurut sejarah yang paling awal adalah Wu Zhong, seorang muslim dari desa Meng, kota Dong Nan wilayah Cang," kataku dengan telapak tanganku terangkat, mencoba bergaya.


"Menurut legenda suatu malam Wu Zhong sedang berlatih teknik pedangnya, tiba-tiba seseorang yang berpenampilan mirip pendeta Tao melompat dari atap rumahnya. Saat ditanya pendeta itu menolak menyebutkan namanya. Namun sejak itu mereka bertukar pikiran dalam ilmu bela diri," kata saya menaikan satu alis.


"Dan Wu Zhong belajar selama sepuluh tahun," saya menunjukan sepuluh jari, "Kemudian mengetahui gurunya akan pergi, Wu Zhong berlutut dan menangis karena selama itu dirinya berguru namun belum juga tahu nama gurunya.Pendeta itu menjawab : 'siapapun yang mengenal Lai adalah muridku," kataku dengan suara lebih berat dan sedikit menunduk seperti seorang kakek.


"Kira-kira 2 tahun kemudian seorang pendeta lain datang menemui Wu Zhong. Pendeta yang menurut legenda bernama Pi itu mengaku murid dari Lai, dan menyerahkan kitab rahasia kungfu Ba Ji pada Wu Zhong."


Saya terdiam sejenak. "Lalu?" tanya Lydia terlihat menelan salivanya, matanya semakin bersinar, sementara Lala menghabiskan suapan terakhir sosisnya.


"Lalu, pendeta Pi itu juga mengajarkan ilmu tombak."


"Ilmu tombak???" tanya Lydia terdengar sangat penasaran, sepertinya dia baru mendengar ilmu ini.


"Setelah itu Wu Zhong meneruskan perjalanannya ke Beijing demi mencari lawan tangguh sekaligus menguji ilmu tombaknya. Kesempatan itu datang setelah King Xun Qin, putra kesebelas Kaisar Kan Xi, menantangnya.


"Yang menarik, Wu Zhong tidak menggunakan tombak dan hanya menggunakan bambu yang ujungnya diberi kapur putih. Begitu pertandingan akan dimulai, saat keduanya saling berhadapan, tiba-tiba Wu Zhong meminta lawan memeriksa alisnya.


"Betapa terkejutnya King Xun Qin karena alisnya telah putih karena serbuk kapur. Tentu saja King Xun Qin tidak terima dan menganggap Wu Zhong telah melakukan sihir.


"Untuk meyakinkan lawan, Wu Zhong memberi kesempatan sekali lagi. Namun ternyata hasilnya sama saja.


"Sadarlah King Xun Qin bahwa gerakan bambu Wu Zhong sangat cepat hingga tidak bisa ditangkap mata.


"Merasa kagum, diapun mulai belajar teknik tombak dari Wu Zhong. Sejak itulah nama Wu Zhong terkenal di Beijing dan mendapat julukan “Wu Zhong Si Raja Tombak”.


"PAMAN! Lydia mau ilmu Tombak!" pekik Lydia, dengan mata berbinar. Sepertinya saya menang, saya mengukir senyum.


"Nggak, nggak!" tegas Lala, dua alisnya menyatu dan menatap tajam pada saya.


"Mamah itu keren," rengek Lydia melendot di lengan kanan Lala.


"Iya itu bagus, walau tidak sepenuhnya, dia bisa belajar separuhnya," sahut Johan, dan saya mengangguk pelan saat Lala menatap tajam pada saya. Dia galak, seram.

__ADS_1


"Tidak, dia anak gadis," tegas Lala pada Johan dengan kening mengkerut.


"Dia juga harus bisa menjaga diri, dengan itu sangat baik,"balas Johan lagi tidak mau kalah.


"Nggak, itu terlalu..." Lala menunduk sejenak, di mengelus rambut Lydia, "boleh kok, belajar kungfu, tapi yang biasa saja, bukankah kamu sibuk dengan kerjaan mu? hmm kata ayah Jo, bukankah dalam tiga minggu kamu juga akan ke London kan?" Lala terlihat membujuk anaknya.


Apa saya salah? bukankah semakin banyak teknik yang bisa dipelajari seorang gadis, jauh lebih baik?


"Tapi kan, Lydia bisa bagi waktu mah," rengeknya dalam suara anak kecil. Saya dibuat kaget, mendapati para anak gadis selalu bersikap seperti anak TK pada orang tuanya.


"Kita bicarakan nanti, ayo siap-siap, mama harus bertemu ibu Bupati," kata Lala, membuatku berkerut dalam.


"Apa kamu mengenal Bu Zayn?" tanya Johan terdengar kaget sambil menyuapi Vino dengan omelete.


"Ya, kok kamu tahu, Bu Zayn?" tanya Lala dengan senyum tak menduga.


"Teman bisnis ayah," sahut Lydia dia berdiri lalu merebut Vino.


"Bu Zayn?" tanya Lala.


"Pak Zayn," sahut Johan sambil mengelap tangan dengan tisu, dsn menegaskan pada Lala. Terlihat seperti mencoba mengklarifikasi.


Saya berkerut dalam, ah dada saya terbakar hanya melihat mereka saling tersenyum. Huh, pikiran saya jadi teringat akan siluet ciuman mereka semalam. Menyebalkan.


"E'hem," saya berdeham lalu pura-pura batuk, sialan tenggorokan saya jadi gatal.


"Kenapa? haus?" Lala memberikan gelas air putih yang belum diminum.


"Hum," saya menenggaknya habis saat Lala memberi kode, meninggalkan saya menyusul Lydia.


Johan mengajak saya ke kamarnya, di tengah jalan seorang wanita menabrak saya. Saya mengabaikannya dan dia memukul saya.


"Mas! tidak sopan, setidaknya minta maaf!" katanya dengan sedikit berteriak membuat orang-orang di loby mempeehatikan ke arah kami. Sialan, ingin ku banting, tunggu wanita ini.


"Ah mas, yang bersama ayam kampus!!" suaranya melengking sungguh menjijikan.


"Kenal?" tanya Johan yang berdiri di sebelah kiri ku, dia melirik ku dengan penuh tanda tanya dan satu alisnya yang terangkat.


"Loh Johan!!!" pekik perempuan sialan itu dan langsung menempel, menggelayut pada Johan.


???


 

__ADS_1


__ADS_2