
Semenjak kapan dan untuk apa di rumah ini, aku bertanya padamu sebagai anggota keluarganya."
"Kamu tidak bodoh dan ini menjadi PR mu, jadi tidurlah, " balas Richie membuat -bibir dan mata Guskov- menyempit.
Guskov mengenali teknik bela diri yang digunakan Richie pada dirinya. Krav Maga yang terkenal dengan sistem bela diri yang mengerikan. Bila dirinya tak hati-hati pasti sekarang pun sudah lumpuh total atau berujung pada kematian. 'Sebenarnya siapa lelaki ini? Dia bukan orang biasa, apa motifnya di dekat Lala.'
"Aneh ya, untuk apa lelaki sepertimu berada di kota sekecil ini? aku merasa kamu merencanakan sesuatu hal."
"O, memang saya merencanakan apa? saya jadi ingin tahu."
"Mungkin .... mengganggu hubungan mereka, membuat renggang dan lalu kau mencoba merayunya?" Guskov melotot, berharap itu salah.
Richie tertawa kecil, dia miring ke kiri, memunggungi Guskov dan menarik selimut untuk menutupi semua tubuh.
"Terlebih kaka tidak terganggu, jadi. Sesungguhnya kamu itu siapa?"
"Pacar," kata Richie dingin. Mata terkulai dan rasa kantuk kian tak tertahan.
"Apa?" Guskov menjerit, memiringkan badan ke kiri. "Pacar?" melongok ke Richie yang bibirnya tersenyum sementara mata terpejam. "Hey bercandamu tidak lucu."Guskov menggoyang-goyangkan bahu lelaki itu tapi pria bernama Richie tidak menggubrisnya.
Tak mendapat balasan, Guskov membaringkan kepala. menempelkan jari pada dagu.
'Perlu tidak, memberitahu tempat ini pada mamah dan Kevin. Kasian, mengapa tinggal ditempat sekumuh ini. Sudah enak tinggal dengan Kevin, semua serba tercukupi. Aku benar-benar nggak tahu dengan jalan pikiran wanita.' Batin Guskov dia menarik selimut makin menutupi tubuh.
Setelah lama berperang dengan dirinya. Guskov jadi Ingin menghubungi Kevin. Dia meraba dan meraih ponsel di dekatnya dan mengetik sesuatu.
Nginggggggg-
Plak!
"berisik!" Guskov menampar nyamuk di dekat kepala dan mengenai telinga.
Telepon tersambung ....
Tanpa sengaja Guskov sudah menekan tombol hijau, Guskov cepat-cepat mematikan tapi hpnya eror 'haduh mati aku.'
"Halo, dimana kamu? aku mencarimu?" tanya Kevin. "Halo.. halo? Guskov, Hey_?"
Matanya melebar dengan tangan gemetar segera menekan tombol merah.
TUT -telepon berhasil mati.
"Hah! bodoh bodoh bodoh, hampir saja." Guskov menghela nafas panjang, mengelus dada yang terasa sesak.
Drrrtttt-
Guskov merasakan getaran hp, dia membuka chat :
...Hey, kok tidak ada suara? tadi saya ke rumah dan mamah Rumi bilang kau sedang di luar negeri? kemana? Saya akan menyusul mu. -Kevin-...
"Aku harus menjawab. Huh... apa bilang berlibur saja kali, kenapa aku jadi merinding, ya. Membohongi Kevin bagai mau mati saja, hah." Guskov tersenyum kecut, mengetik pesan dan Lalu dihapus.
Dia mengurungkan niat dan melempar hpnya ke sebelah kanan ke alas empuk tipis. Tangan kiri menekuk di keningnya, mencoba terpejam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia bingung dengan tekadnya menyatukan Lala dan Kevin lagi, terlebih setelah melihat saudaranya itu nampak hidup tenang disini.
Pagi hari jam 5 masih sangat dingin, Richie ikut terbangun karena bunyi jam Weker. Posisi tidur kepalannya tepat di pintu kamar Lala, dia dapat melihat langkah kali Lala, melihat wanita itu baru bangun dengan baju terusan panjang terbuat sari katun, terlihat sangat cantik bagi Richie.
Alis Lala terangkat sementara mata melebar, saat tak sengaja melihat Richie yang melengkungkan bibir membentuk senyuman di pagi hari.
Hingga Lala terpanah sesaat karena ekspresi baru bangun tidur lelaki itu. "Sudah bangun, ya?" Lal beralih melihat Guskov yang meringkuk memunggungi Richie.
Langkah Lala diikuti Richie, insting Lala menangkap aura kuat Richie yang mendominasi di belakangnya. Dia melangkah makin cepat dan menutup pintu kamar mandi tepat sebelum Richie meraihnya.
__ADS_1
"Hahh...." Lala mengedipkan mata berkali-kali, berusaha mengatur nafas, tangannya memegang dada, 'mengapa aku selalu berdebar saat aura itu terlalu mendominasi. Aku benar-benar takut dia melakukan sesuatu.'
Lala mendengar langkah kaki Richie yang menjauh. Air pagi saat dingin untung dirinya mulai terbiasa, dia segera membasuh wajah dan menyikat giginya. Matanya terpaku pada jaket Richie yang tergantung di kamar mandi, kemarin ke minimarket memilihkan jaket itu untuk Richie dan langsung di pakai lelaki itu saat pulang, 'lelaki itu sangat tampan walau di usianya ke 52. Apa dia tak berniat meikah?'
Lala menggelengkan kepala menghilangkan pikirannya yang susah dikendalikan.
Tangan Lala membuka kunci kamar mandi, terlihat tidak ada Richie yang hobi mengganggunya, "Syukurlah."
"Apanya yang syukur?" Sentak Richie muncul didepannya dengan tiba-tiba dari arah dapur, membuat Lala sampai mundur dua langkah dengan menutup mulut rapat sementara jantungnya kian berdebar.
Richie kian mendekat ke Lala. Menatap manik biru langit itu dalam-dalam.
"Setiap pagi kita harus bersyukur," kata Lala tertekan disaat Richie kembali mengamati bibir, akibatnya Lala jadi berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa lama di dalam? Lihat dagu dan tanganmu sangat dingin," kata Richie mere...mas telapak tangan kiri Lala dan memegang dagu wanita yang wajahnya masih terlihat sangat segar dan masih basah.
Lala yang tersandar di kusen pintu kamar mandi kian terhimpit tubuh Richie yang di tahan tangan kiri Lala pada perut Richie agar lelaki itu tetap menjaga jarak.
Aura kuat Richie selalu membuatnya terhipnotis sehingga dirinya kesulitan melawan, menjauh dan menghindar karena Richie selalu punya cara membatasi geraknya.
Lala merasa aneh pada tubuhnya yang sulit sekali menolak.
Dan Perang antara batin, pikiran dan tubuhnya tak pernah usai, dan makin menjadi. Batinnya menghalangi Richie dan pikirannya bertarung dengan dirinya sendiri. Tapi keinginan tubuh ini sangat bertolak belakang sebab selau refleks menanggapi perlakuan Richie.
Wanita itu merasakan tangan hangat Richie yang melingkar di pinggang. Richie semakin menunduk membuat Lalamenoleh ke kiri saat bibir Richie berjarak sangat dekat, hingga bibir itu akhirnya mengenai pipi Lala.
"Matamu tidak bisa bohong, kau menginginkan nya kan?" Bisik Richie hidungnya menekan kuat pada pipi Lala, dia menghirup dalam-dalam kulit itu dan menyukainya berlam-lama disana.
Nafas Richie kian mendekat ke telinga kanan Lala, membuat wanita itu terpejam dan tubuhnya bergetar karena hidung hangat mancung itu bermain di telinganya dengan nafas panas memburu lelaki itu di tengah udara dingin pagi yang begitu menggigit kulit.
Dekapan Richie membuat tangan Lala terhimpit di antara perut Richie dan perutnya, tiba-tiba lelaki itu menggeser Lala menjauh dari kusen kamar mandi, membuat Lala terlonjak saat Richie mengecup pelan bibir Lala dan menarik bibir bawahnya dengan sedikit menggigit, 'manis, segar.'
Sampai kepergian lelaki itu yang langsung mengunci pintu kamar mandi, meninggalkan Lala yang masih mematung memandang pintu kamar mandi sementara dia memegangi bibirnya.
Sementara Richie di dalam kamar mandi, wajahnya menghangat, matanya menatap begitu dalam pada lantai kamar, memegangi bibirnya tak mempercayai apa yang dilakukannya. Getaran hatinya kian menjadi, apa dirinya begitu lancang, dia merasa sangat kesulitan untuk bersikap sopan di depan Lala.
Di dapur Lala mencuci piring, pikirannya masih kosong memikirkan Richue, sampai tak menyadari kedatangan Richie di belakangnya.
"Maaf," kata Richie, dia langsung memeluk perut Lala dari arah belakang, "Aku kesulitan mengontrol ini."
Tangan Lala yang penuh sabun tak bisa mendorong tubuh Richie, lelaki itu menciumi rambutnya membuat Lala sempat terpejam sampai air kran terus mengalir.
Richie yang sadar melihat Lala tak fokus karena terus menyabuni piring yang sama, membuat Richie bertanya-tanya, sebenarnya apa yang dipikirkan wanita ini saat seperti ini.
"Kamu menjauhlah, Guskov bisa salah paham," Bisik Lala mendorong dada Richie dengan sikutnya.
Lutut Richie makin menempel di paha Lala. "Kalau begitu buat dia tahu sekalian hubungan kita, jadi tidak ada salah paham lagi bukan?
"Apa maksudmu, hubungan apa?" Lala tergagap, dia menempelkan paha ke depan agar jauh dari Richie, Lelaki itu justru meletakan kening di bahu kanan Lala.
"Jadilah pacarku!"
"A-apa!!"
Ucapan Richie membuat nampan mengarah padanya, dan air kran pun menyorot ke perut Lala, saat Lala bergeser air pun muncrat ke Richie dan nampan itu jatuh saat bertubrukan karena kekagetan Richie.
KLONTANG!
Richie mematikan kran, sementara Lala mengambil nampan yang jatuh.
"Ah kamu si Tuan Richie, lantainya jadi basah, baju kita jadi basah!"
__ADS_1
"Bukankah kamu yang memegangi itu, mengapa jadi menyalahkan saya nyonya Risa!"
Dari atas kasur, di tempat agak gelap, Guskov yang sudah merekam itu menekan tombol stop.
Karena rumah itu hanya satu kamar, otomatis dari depan tivi bisa melihat dapur. Karena itu Guskov sedikit mendengar percakapan mereka. Tapi Guskov heran dengan sikap Lala yang tak tegas pada lelaki itu.
'Apa hubungan mereka? benarkan ujung-ujungnya lelaki itu nembak Lala, haduh Kevin harus tahu ini kan?'
Karena suara kegaduhan di dapur, Vino menangis. Guskov langsung pura-pura tidur saat Richie berlari ke arahnya.
"Ye jagoan sudah bangun, sini cup boy," ucap Richie dengan penuh kasih sayang mengangkat Vino, anak yang masih terlentang itu menggigiti tangan dalam tangisannya.
Tak berselang Lama Vino dalam gendongan Richie pun mulai diam saat Lala sedang menyalakan kompor.
Vino dan Richie sama-sama memandangi Lala yang uprek di dapur.
"achhhic !" Vino terus bersin karena bau menyengat osengan Lala.
"Bawa dia menjauh," perintah Lala pada Richie. "Kasian anak mamah, uh."
Richie melangkah papasan dengan Guskov yang juga bersin-bersin karena mau ke kamar mandi.
"Masak apa si kak? pedes banged baunya.. huh rumah kecil, dapur pun tak terpisah, ya begini. Biar aku belikan saja rumah untuk mu yang lebih besar, ka," seru Guskov dengan suara bindeng, mengucek-ngucek hidungnya yang seperti tertusuk karena masakan.
"Apa sih kamu, enak banged ya ngomongnya. Sudahlah, aku rebuskan air untuk kamu mandi, ya?" tanya Lala mematikan kompor, mengetahui sayuran telah layu.
"Boleh, tanpa air panas aku tak bisa apa-apa! Tempat ini seperti neraka, bagaimana bisa kau tinggal di tempat dingin ini hah, di Inggris si mending ada mesin penghangat. Heh, aku ingin buang air kecil jadi malas-malas dingin," kata Guskov terus merocos dan langsung masuk kamar mandi.
"Sudah punya anak dua, kelakuanmu masih seperti itu saja. Guskov, Guskov," gerutu Lala.
Di ruang tamu Guskov mendapati Richie yang tengah memangku Vino, mata mereka sama-sama dingin melamun ke depan melihat separuh dinding kaca, melihat orang berlalu lalang di depan
'Wah, orang melihat ini pasti mengira mereka anak dan bapak, kenapa aku cemburu melihat kedekatan Vino dan Richie, sial,' batin Guskov, lalu meraih Ubi ungu yang masih mengepul di meja depan Richie.
"Awww panas!" pekik Guskov dan potongan ubipun jatuh ke meja.
"Apa kamu bodoh? kau lihat masih panas, asal pegang saja!" sentak Richie dengan wajah dingin, tangan kirinya melingkar di perut Vino. Anak kecil itu jadi mengulurkan tangan akan meraih ubi.
"Hah, aku tak tahu sepanas ini," gumam Guskov, melewati Richie dan duduk disebelahnya.
"Kamu mau ini boy? tunggu dingin, ya." Richie mengambil satu potong ubi itu, memindahkan ke tatakan kecil, begitu dibelah dengan sendok, kepulan panas semakin kentara.
Richie mengambil sendokan ubi dan meniupnya
"Tidak boleh meniup makanan panas, bro,"kata Guskov.
"Mendengar panggilan itu, Richie menoleh ke kiri, "saya tidak merasa kita dekat, enak saja kau memangil dengan sesukamu, 'Bro' apa aku saudaramu? Cih."
"Jadi aku harus panggil apa? pak Tua?"
Richie terdiam, dia memegangi ubi di sendok dan menyuapi pada Vino, "makannlah, apa kamu suka boy?" tanya Richie sambil menunduk melihat bibir mungil Vino mengecap-ngecap pelan ******* potongan ubi yang di comot-comot Richie.
"Panggil saya kakak ! seperti kamu memanggil saudaramu itu," jawabnya lalu dia tertawa ringan pada Guskov yang tengah memakan Ubi.
Tak berselang lama, Lala membawa tiga gelas susu hangat di meja. Dia melihat dua lelaki itu mulai akrab dan saling mengobrol tak seperti kemarin yang saling berperang dingin dan sinis,
"Susu murni ini bagus untuk sarapan." Lala mengambil alih Vino dari gendongan Richie.
"O, ini jadi seperti perayaan pacaran kita, Darling?" ucap Richie dengan senyum misterius.
"Apa!?" sahut Lala, "Whatt?!!!" jawab Guskov dan matanya melebar sambil mengucek-ngucek telinganya.
__ADS_1