Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 24 : PANTAI DI PAGI HARI


__ADS_3

Lala pagi itu bangun di kamar yang sangat asing baginya, Ia ingat terakhir semalam sama Mas Luca. Alis gadis itu berkerut saat Ia melihat ada koper miliknya dan milik Bella. Lala menatap keluar jendela yang gordennya sudah terbuka.


...Pantai? Aku kira suara ombak itu cuma mimpi....


“Bella !!” panggil Lala, Ia berjalan keluar dari kamar dan mendapati satu kamar lain, Lala ke kamar itu gak ada siapa-siapa, Ia melihat sesuatu di kamar itu. Sepatu milik Luca.


“Bella!? Mas Luca !?” panggil Lala lagi.


...Apa mereka membawaku semalam?...


“Selamat pagi nona, Anda sudah bangun?” tanya seorang wanita paruh baya dengan baju pelayan.


“Iya bu,” jawab Lala masih bingung mau berbuat apa.


“Tuan Luca sedang berolahraga di pantai, teman Anda sedang pergi ke pasar diantar sopir. Apa Anda mau dibuatkan minuman atau sarapan?”


“Terimakasih informasinya, saya mau menyusul mas Luca saja,” Lala berlalu ke kamar ganti bajunya yang kemarin belum sempat diganti. Ia cuci muka kemudian keluar mencari Luca.


Udara pagi begitu sangat sejuk, matahari masih malu-malu menampakan sinarnya.


Lala sudah menyusuri bibir pantai namun tidak menemukan orang yang dicarinya.


Langkahnya terhenti saat ombak menyentuh kakinya dan sebuah ranting yang hanyut terdampar di hadapannya. Gadis itu mengambil ranting kecil itu, Ia berdoa kemudian menulis nama orang yang paling dirindukannya.


Kini Lala telah mengukir nama cantik Ibunya diatas pasir, Ia berharap ibu di surga bisa melihat ini. Ia coba mengukir kenangan bahwa Ia pernah mengunjungi pantai ini dengan menulis nama orang yang paling dirindukannya.


Seseorang mendekatinya, Lala menoleh, pria dengan tinggi 187 cm yang memiliki bahu lebar, lengan berotot, alis tebal, hidung mancung, rahang tegas, rambut hitam dengan gaya rambut curtain haircut. Ya, dialah Luca. Lala sejenak tertegun.


“Mas Luca?” tanya gadis itu memastikan orang yang biasanya memakai jas, sekarang berdiri mengenakan celana training panjang dan kaos putih.


Lala menggambar nama 'Luca' di pasir.


Dahi Luca berkerut karena gadis itu menggambar emoticon iblis di sebelah namanya.


Lala tertawa.


“Lala, kenapa pakai tanduk?” tanya Luca heran memandangi gambar di depannya.


“Itu? Masa gak tahu? Itu Wajah mas Luca!” ledek Lala kemudian menjatuhkan ranting di tangannya.


“Apa!!” jawab Luca tak percaya. “Lala ! kemari kau,” ancam Luca ingin menjewer gadis itu.


Lala bukannya minta maaf malah tertawa lepas, mencoba kabur dari tangkapan Luca.


Pria maskulin itu terus mengejar gadis di depannya.


“Lumayan cepat juga larinya. Apa Ia seorang atlet?” keluh Luca mengejar Lala yang terus berlari di bibir pantai. Suara kecipak-kecipuk saat ombak menyentuh kaki gadis itu.


“Kamu pikir bisa kabur dariku?!” teriak Luca dengan suara yang dibuat-buat garang sembari mempercepat larinya, bagaimanapun kakinya jauh lebih panjang.


“Haa haa haa..” gadis itu tertawa lepas di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat.


“Ini indah,” gumam Luca semakin semangat mengejarnya.


Tidak berlangsung lama kesenangan itu berakhir. Saat ...


“Awas!! ...” teriak Luca kepada Lala namun gadis itu tidak tertolong.


Bug!


Lala tersandung pakaiannya dan jatuh ke pasir.


Luca menyungging senyum liciknya.


“Agh!” Lala menoleh kebelakang terbelalak saat Luca kini sudah selangkah di belakangnya.

__ADS_1


“Mas Luca ! hih hih hih.” Lala tidak bisa kabur dalam gelitikan luca.Ia terkikik menahan tangan Luca yang tidak bisa dilepaskan dari pinggangnya. Pria itu terus membombardir dengan klitikan yang sangat menyiksanya.


“Ampun ! sudah-sudah!“ Lala menahan tawanya. Ia membolak-balikan badannya di pasir sampai membuat gaun biru tipis dan rambutnya itu penuh dengan pasir.


Luca puas mengerjai gadis itu, namun ia menunggu gadis itu sampai benar-benar menyerah.


“Mas!!! Aggh,” teriak gadis itu terlihat mulai menangis.


Luca melepaskan gelitikannya. Anak ombak hampir menyentuh ujung rambut lala seketika Luca refleks menarik tubuh gadis itu duduk menjauh dari cumbuan ombak. ”Kemari, lihat rambut dan bajumu kotor.”


Lala mengambil dua genggam pasir dan akan melemparkannya pada kaos putih luca


“Apa?” Luca menahan genggaman Lala.”Kau mau mengotori pakaianku !?”


Pyak!


Tangan kiri Lala berhasil menepuk pasir basah ke punggung Luca, membuat baju itu terasa dingin di punggung Luca.


Luca mendesis, meraih kedua tangan Lala membuat lala jatuh terlentang, Luca menahan tubuhnya di kedua tangan Lala, ombak pun membasahi rambut Lala.


“Mas Luca,” Lala menatap Luca. Satu kaki luca tertahan diantara dua paha Lala.


“Bajuku kotor, apa kamu puas?”


Sorotan matahari menyinari wajah gadis itu, netra biru Lala kian memancar.


Luca terus memandangi Lala mencari tahu sesuatu di wajah gadis itu yang membuat hatinya gundah semalam.


“Mas Luca ganteng, minggir!” senyum gadis itu yang masih saja bisa bercanda di situasi ini.


Semakin besar ombak menerpa Lala, sampai telinganya kemasukan air.


“Buahahahaha.” Luca tertawa lepas memandangi sebagian kepala Lala yang kini basah kuyup.


“Ah mas luca si !” kesal Lala, Ia memiring-miringkan kepalanya ke kanan mengeluarkan air di telinganya.


“Mas Luca, mengapa melamun,” Lala menyentuh pipi Luca dengan tangan basahnya namun tak digubris Luca.


Lala duduk di sebelah kanan Luca turut memandangi ombak, kepalanya Ia sandarkan di bahu kekar pria itu.


Mereka membisu sampai orang-orang mulai berdatangan ke bibir pantai dan bermain ombak. Mereka asyik melihat anak kecil yang tengah berlarian bermain ombak.


Begitulah kehidupan kita aku akan mengukir banyak dalam hidup ini, menulis kehidupan kita dengan lebih hakiki.


...Ombak waktu pasti akan menggulungnya tapi tetap saja itu spesial....


...**...


Di festival pantai budaya, Luca, Lala dan Bella, mereka memasuki area festival di pinggir pantai. Mata mereka melihat kesana kemari memandangi berbagai pertunjukan seni dan budaya daerah tersebut.


"Kita coba kesana dulu, yuk," ajak Bella mendatangi pertunjukan di sudut tempat.


"Ini namanya kuda lumping," ujar Lala tanpa sadar.


"Lihat! Mereka makan beling," ungkap luka ternganga.


"Apa mas Luca baru lihat ini?!" lirik Lala.


"Seru juga ya," Bella menimpali.


Tidak lama setelah itu seorang pemain kuda lumping yang kesurupan mendatangi Luca, mengalungkan selendang pada leher Luca. Luca terperanjat dengan pandangan yang tak bisa ditebak.


Pemain kuda lumping itu menarik Luca ke dalam arena pertunjukkan. Semua mata penonton terfokus pada pria tampan itu, sedangkan Lala tidak tahu harus bagaimana, dan Bella malah justru terus terkekeh.


Pemain kuda lumping itu terus menari di depan Luca, Luca yang hanya bingung tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam memandangi orang kesurupan di depannya. Bisa dilihat raut wajah Luca kikuk dan sebenarnya terlihat sedikit takut.

__ADS_1


Bella terus terkekeh, sampai pemain kuda yang lain mengalungkan selendang di lehernya. Bella ditarik masuk ke dalam Arena pertunjukkan, lelaki pemain kuda itu berjoget di depan Bella.


Lala tersenyum sendiri, Iya mengabadikan momen ini di hp-nya, terlihat jelas muka masam wajah Bella. Namun, tidak dengan pengunjung yang sedang menonton mereka, mereka semakin riuh karena kelucuan pemain kuda lumping, terlebih ditambah ada Babang ganteng di dalam pertunjukan.


Lala masih terus menyembunyikan tawanya, kedua temannya itu sungguh kelihatan kesal. Lala memesan jajan sempolan dan telur goreng kesukaan Bella, berharap sahabatnya itu kembali menyunggingkan senyumnya.


Lala memesan 3 Cup, isinya sama campuran sempolan dan telur goreng. Mereka duduk di kursi bundar di bawah pohon ketapang memandangi hiruk-pikuk orang yang berlalu Lalang di depannya.


Awalnya Bella kesal tapi karena sogokan sempolan dan telur goreng kesukaannya hilanglah semua kedongkolannya.


"Apa?" tanya luca saat dagunya ditahan Lala, matanya terbelalak melihat makanan asing di depannya.


"Itu nggak higienis, itu sausnya aja terbuat dari apa? " membungkam mulutnya rapat-rapat.


Lala menatap tajam mata Luca, "Jangan Lihat makanannya, cepet AH" Gadis itu memaksa tak mau kalah.


Luka memejamkan mata, membuka mulutnya, Iya merasakan Lala mendorong makanan itu ke mulutnya.


"Kunyah dulu, cicipin dulu!" perintah Lala masih memegangi dagu luca dan menahan sempolannya untuk tetap di mulut luca.


Luca terlihat mengunyah dan menelannya kasar.


"Bagaimana?" ucap Lala dan Bella bersamaan.


Luca membuka mata, "Apa aku nggak akan sakit perut?"


"Kalau kamu sakit perut karena makanan itu, pasti penjual itu seharusnya sudah nggak di sini. Lihat saja, pembelinya saja laris banget," jelas Bella.


Luca mengambil alih tusuk sempolan itu lalu ia memakannya sendiri. Lala memberikan satu 1 cup berisi 5 telur goreng dan 5 sempolan.


Bella membuka hp-nya, Lala pun membuka hp-nya, sedangkan Luca percuma membuka hp-nya tidak ada kontak siapapun. Luca mengambil sempolan dari Cup Lala.


"Itu punyaku mas Luca ," Lala memasukkan hp-nya dan langsung cepat menghabiskan sempolannya.


"Sempolan aja sih, Kenapa nggak pesen lagi?"


"Tadi katanya nggak doyan Bang, kenapa sekarang minta nambah, lihat tuh antrinya aja banyak." ujar Bella gemas melihat kelakuan Luca.


"Lah kenapa tadi nggak beli banyak," ucap Luca ternyata apa yang dimakannya enak.


Seorang anak kecil berumur 12 tahunan datangi mereka membawa dagangan, "Kak beli layang-layangnya yah? Aku belum makan 3 hari"


Luca berjongkok di depan anak itu "Adik, tidak boleh berjualan dengan cara bohong ya, nanti pembelinya malah Nggak jadi beli. Sini kakak beli satu," Luca mengeluarkan uang tiga ratus ribu.


"Kak, nggak ada kembaliannya, pakai uang kecil saja. Rumahku jauh," anak kecil itu mendorong uang luca.


"Kembaliannya buat kamu untuk ditabung, ya" Luca menerima 1 buah layang-layang beserta benangnya.


Anak kecil itu menyentuh tangan Lala "Kakak cantik, pacarnya Kakak baik banget ya! Aku gak akan berbohong lagi berkatnya!" ucap polos anak kecil laki-laki itu.


Bella dan Lala serentak terkekeh karena ucapan anak kecil itu.


"Iya, pacarnya Kakak cantik ini memang baik banget," ledek Bella kepada luca, Lala sudah terbiasa dengan selorohan Bella tapi mungkin tidak biasa bagi Luca.


Luca menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


____________________________________


...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....


Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.

__ADS_1


Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.


__ADS_2