Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 194 : KAMU BERHARGA BAGI KAMI


__ADS_3

Hi kakak Pembaca maaf ya kak. Sistem sedang eror. Bab ini sama dengan bab sebelumnya.


Terimakasih ------


...*⃣*⃣*⃣...


-POV LUCA-


"Mas Luca, apa pekerjaan mu tidak bisa di tunda?" tanya Ziya yang duduk di sebelah kiri saya.


"Iya habis ini, saya ke kantor lagi. Ada apa?"


"Yah, teman saya ingin bertemu dan mengenal mas, dia kontraktor kecil. Bantu dia, keluarganya sedang kesulitan," kata Ziya sambil mengusap bulir keringat di wajah. Suasana kota mulai panas, banyak orang disini, Tratag yang dipasang kurang tinggi, tiada sejenis kipas yang seharusnya mereka siapkan. Jika bukan karena undangan kabupaten, malas saya ke sini.


"Suruh dia datang ke kantor saja, tapi jangan hari ini."


"Baiklah, apa kita tidak sebaiknya mengontrak rumah atau membeli rumah disini. Lumayan, kan satu tahun lebih, tidak nyaman harus di hotel terus, tiada privacy yang lebih luas."


Saya mengerutkan kening. "Tidak perlu, saya hanya perlu menyelesaikan proyek ini dan kembali ke kota.


"Baiklah, sesukamu. Mas Luca, lihatlah mereka lucu sekali, percaya diri tampil di usianya, seperrinya mereka masih TK."


"Ya, lucu, seperti keponakan saya saat kecil."


"Kamu mungkin lebih tertarik jika memilikinya sendiri mas?"


"Ziya, sudahlah, jangan membahas ini lagi. Bukankah kita baru baikan."


"Bukankah lucu ada mas Luca-junior."


Saya menginginkan tapi tidak dengan Ziya. Dia memang cantik, tapi saya belum bisa sejauh itu. Mata saya terpejam, hati saya telah membeku, saya tidak memerlukan lagi, dan cukup mematikan selamanya.


DZzzt- ponsel saya bergetar, pesan dari Haris.


-Tuan, saya tidak sengaja melihatnya. Apa anda tidak melihat arah pukul sepuluh, Johan bersama Lydia? -Haris


Saya mengikuti arahan Haris. Mendapati Johan, Lydia dan ... Richie?


DZzzt


-Tuan, Anda pasti tidak akan mempercayainya- di arah jam delapan, toilet. Anda akan menyesal bila tidak kemari sekarang- Haris


Berani sekali, kamu main teka-teki, Haris.


"Kenapa mas? apa ada yang mengganggu mu?"


"Ziya, saya ingin buang air kecil."


"Baiklah, jangan lama-lama, saya tidak suka sendirian." Ziya mengusap pinggang belakang saya.


"Iya," melewati orang banyak, saya mundur ke belakang. Di tepi gedung Haris menunggu, dan membawa saya ke toilet perempuan.


"Apa maksud mu, Haris?"


"Pemilik gelang kuda bertanduk."


Saya memegang dagu, mencoba menelaah


"kalung LL, apa anda sudah melupakannya, Tuan?"

__ADS_1


Mata saya membulat, mata berkabut. "Dia???"


"Ya, dia di dalam."


"Oh, jadi Kevin disini karena tahu ini?"


"Sepertinya, Tuan. Untuk apa lagi, Tuan Kevin bolak-balik ke negara ini, padahal tidak ada kerjaan disini."


Saya mengibaskan tangan, "Buat alasan pada Ziya."


"Baik Tuan," kata Haris dan undur diri.


Jantung saya berdetak kencang. Bagaimana Kevin tahu keberadaan Lala. Tetap saja, mengingat beberapa kali Ivy jatuh sakit memanggil mamanya. Seharusnya Kevin memberitahukan pada Ivy. Atau bahkan Kevin belum mengetahui. Mungkin Kevin memikirkan cara untuk membujuk Lala kembali. Namun, mengapa Kevin tidak turun dan menetap sepanjang hari di kamar atau jangan-jangan dia keluar diam-diam.


Saya menatap baik-baik foto yang baru saja dikirim Haris. "Rambut pendek? ini seperti bukan dia." Saya memperbesar gambar, Jadi ini keponakan saya?


Seutas senyuman tersungging, dan kemudian memudar saat seorang yang seperti difoto itu muncul, saya menarik tangannya. Dia melangkah ke tepi dengan wajah pucat dan bibir tergigit.


Dan segala menjadi jelas bahwa dia adalah cintaku. Ada tatapan terkejut di matanya. Saya segera mengenalinya. Saya menarik tubuhnya yang bersama seorang anak bayi.


Tidak peduli pandangan orang, dan dorongan tangan Lala, saya menahannya kuat, mengelus bahunya dalam pelukan saya sementara tangan kiri saya membenam kepala Lala ke bahu saya.


"Bodoh," kata saya terisak. Aku tampaknya akan jatuh pingsan. Saya menatap ubun-ubun kepalanya dalam waktu lama dalam terisak, ingin memahami dengan jelas.


"Mas Luca," kata dia dalam isakan. Bodoh kenapa dia menangis. Baru saya perhatikan tubuh dia yang menyusut dan sedikit kurus.


"Apa kamu tidak makan dengan baik, bodoh, bodoh, bodoh," saya menarik berulang kali ingus saya.Air mata saya jatuh membasahi pipi dan jatuh pada rambutnya. Saya yang bodoh tak bisa menyembunyikan isakan saya di depan diam.


Bahunya bergetar, "mas malu," kata Lala dalam sesenggukan. Saya enggan melepas, kehangatan berdesir di dalam diri saya.Sebuah kerinduan besar. Dia meninggalkan keluarga kami, membuat semua orang terguncang.


"Mas Luca, jangan menangis dong," dia terisak, "aku jadi kebawa."


"Kamu bodoh, kami mencari mu," Srot..srot..srot.. ingus ku meleleh tak tertahankan. "Kau tidak tahu papa Anton menangisi mu, mencari mu, sampai akhir hayatnya, dia masih mencari mu. Kau tidak tahu berartinya dirimu bagi kami Ha?"


Papa, Luca sudah menemukannya. Semoga papa tenang disana.


Lusinan perasaan cinta paling dalam menyerang kepala saya, tapi saya tidak mau mengucapkan satu pun dari mereka.


Saya memeluknya lebih erat, tiga menit bahkan itu tidak cukup. Apapun untuk membuat ku sedikit lebih kuat.


Jatuh cinta padanya seperti anak kecil. Mata almond yang ingin ku lihat setiap hari ditambah sosok yang dipahat. Saya menjadi gila dengan kesenangan setiap bersamanya, saya merasa sangat baik hanya disaat dengannya.


Saya pikir- saya beruntung bertemu kembali dengannya. Tidak masalah, jika kini dia adalah mantan adik ipar.


Teringat, saya bahkan sempat menyakini dia adalah jodoh saya. Dan ternyata fakta bahwa kini Kevin dan Lala sama-sama dalam keadaan terpukul.


Saya membekukan cinta saya, tak ingin menambah luka pada adik saya. Aku menginginkan yang terbaik untuk mereka. Saya tidak ingin mereka hidup dalam kebencian dan mengorbankan anak-anak.


Saya melepas pelukan, menatap dia dalam, mengambil sapu tangan dan mengelap pipi Lala yang sehalus beludru. Matanya merah, dan aku mengelap ingus beningnya dengan sapu tangan saya.


"Siapa namanya?" wajah kami berjarak sejengkal, jantung saya berdetak kencang, aku masih merindukannya.


"Vino."


"Buang ingusmu," kata saya sambil menahan tangan saya di dihidungnya.


"Aku sendiri saja, tolong gendong Vino," kata dia sambil meraih sapu tangan dari saya.


Saya menggendong bayi ringan, tangan kecil hangat menangkup lengan saya, tangan yang sebesar pelepah pisang. Rasa hangat menyelimuti diri saya, saya mengecup pipi mungil, aroma bedak bayi begitu kentara. Uh pipinya lembut sekali. Dia mencoba menggigit jari saya, giginya mungil... mata tajam seperti Kevin saat Kecil.

__ADS_1


"Ikut saya." Saya berjalan melewati lorong, saat Lala membuang ingus pada sapu tangan saya.


Hotel ini di sisi kanan balai kota. Saya mengajaknya ke lounge di lantai dua.


"Mas tapi mereka menunggu saya."


"Kita perlu bicara."


Di lantai dua, saya memesankan dia milkshake strawberry, itu kesukaannya dahulu.


"Dimana kamu tinggal sekarang, apa kamu hidup dengan baik, mengapa kamu kurusan?"


Dia membenarkan posisi duduknya di sofa putih tulang. "Di pinggir kota, mas. Saya hidup sangat baik dengan Vino."


"Aku akan memberi tahu mu. Ivy sedang sakit, apa kamu tak ingin menjenguknya?"


Dia terdiam cukup lama dalam raut yang semakin sedih, seolah menimbang banyak sesuatu.


"Setidaknya kesampingkan perasaanmu sementara waktu, untuk putrimu ... apa mau aku lakukan panggilan video?"


"Sebentar mas, " kata dia sambil memegang kening, sepertinya itu terlihat begitu berat untuknya.


"Dia tidak mau makan, bertahan pada asupan cairan. Aku tidak kuat melihat Ivy," kata saya menghela nafas kasar.


"Setidaknya telepon dia," kata ku lagi. Keponakan saya -Ivy, seperti mayat hidup. Kevin pun tidak bisa mengatasinya, dan mama Sheril terus mengomeli saya karena ini.


Vino menghambur ke pelukan saya, dia memegangi leher saya. "Apa kamu tak membiarkan Kevin menemui Vino?"


"Tolong mas, aku belum siap," katanya bergetar sambil meraup wajahnya dan duduk membungkuk. "Aku belum siap."


"Sampai kapan. Tidak hanya kamu, adik saya juga sama terpukulnya. Dia jauh lebih buruk dibanding sebelum bertemu dengan mu dulu."


Vino duduk meraih pena di saku saya. "Kamu mau ini, Vino?" ujar saya membungkuk menghadap Vino dan memberikan pena saya. Jari-jari itu mencengkram dan lalu melepasnya, dan saya menangkap kembali pena dan memberikan pada Vino. Vino mencoba mere..mas.


Saya menghela nafas panjang, "Kevin telah menceritakan semua kepada saya," kata saya dengan lembut. "Mungkin, ada sedikit kesalah-pahaman."


"Jika mas Luca hanya akan membahas Kevin, aku akan kembali ke bawah. Lydia menunggu ku."


"Ivy, ingat Ivy, Lala," kata saya dalam suara rendah dan penuh penekanan.


Dzzt- Ponsel saya bergetar dari kepala pelayan rumah Kevin.


"Lihatlah, putrimu, apa kau tidak kasian?" saya menyodorkan ponsel, berisi foto terbaru Ivy.


"Dia tidak mau sarapan, membuang piring, telponlah dia." Saya melihat wajah Lala yang tertekan. Saya tidak bermaksud begitu. Namun, kondisi Ivy jauh dari kata sehat.


"Tapi-"


"Telpon lah, sebentar. Saya memberi kamu waktu untuk menghubunginya. Sementara aku membawa Vino sebentar ke kamar, ada yang harus saya ambil. Lantai 3 kamar 501."


"Baik," katanya dengan pasrah, dan kembali menatap layar.


Ponsel itu tidak saya kunci, jadi Lala bebas. Untung, tidak ada pesan saya dengan Kevin.


Di dekat lift, ada Haris di sana.


"Awasi. Jika dia ingin naik, antarkan."


"Maksud Tuan, Nyonya Lala akan bertemu Kevin?"

__ADS_1


"Diam lah, jangan beri tahu padanya jika Kevin di atas."


"Baik Tuan."


__ADS_2