Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 134 : SUDAHLAH


__ADS_3

'Seharusnya obat perangsang itu sudah bekerja, apalagi dia sudah menghabiskan setengah kue." Richie mulai melihat Lala yang lengannya mengelap lehernya tak nyaman dan terlihat gelisah. Richie tersenyum licik.


"Kau mau ngomong apa?" tanya Richie sedikit keras dan tak beranjak dari tempat tidurnya. Dia kembali menenggak wine, kejantanannya kembali mengeras melihat kegelisahan Lala. Kali ini Richie tidak akan menahan lagi.


"Mengapa kau tak cerita soal kepergian Kevin," kata Lala dengan suara lemah.


"Aku tak dengar! kemarilah! aku pusing sedikit mabuk tak dapat jalan kesitu," kata Richie sedikit pura-pura.


Melihat Lala yang kakinya saling menghimpit membuat Richie semakin terpicu. Sedikit lagi saja.


"Lala?"


Richie melihat Lala yang memegangi kening dan mulai berkeringat. Karena tak ada jawaban, Richie mendekat dan bersimpuh di depan Lala yang matanya menatap dalam dan wajah semu-semu merah dan nafas memburu, dada naik turun.


"Kevin, tolong telpon Kevin, badan ku tidak enak."


Richie menyentuh pipi Lala.


Wanita itu refleks mengelus pipinya ke tangan Richie ... seperti anak anjing yang membutuhkan belaian, membuat Richie tersenyum menang.


"Iya aku akan telponin." Richie menarik tangannya, tapi di tahan Lala.


"Kenapa?" Richie membelai dengan lembut bibir Lala dengan jempolnya, tatapan Lala semakin dalam karena perlakuan Richie.


"Mengapa tatapan mu begitu seksi," kata Richie memasukan jari telunjuk dan jari tengah ke mulut Lala, membuat jari Richie penuh dengan liur wanita yang sudah sangat on.


Paha Lala semakin menghimpit, wanita itu terlihat sangat menahan kesakitan.


Sementara di dalam cela na Richie, sebuah rudal telah tegak dan menyentuh ujung kaki Lala yang gemetar.


"Telpon Kevin," kata Lala sangat lemah dengan dua tangan mengepal saling bertumpu di atas paha, sementara ujung jemari kaki saling mencengkram, dan berusaha menyembunyikan wajah, makin menunduk "Jangan lakukan ini," kata Lala merasakan sensasi luar biasa yang tak dapat di tahannya disaat ujung jemari Richie menyentuh punggungnya setelah resleting gaun yang sempat ditutup Lala, kembali di buka Richie. Jari Richie seperti sengatan, Lala melenguh panjang hanya karena sentuhan jari Richie yang terasa begitu hangat.


"Sekali ini saja." Richie yang tadi bersimpuh, lalu setengah berdiri mulai menghirup aroma wangi di leher Lala.


"Anda tidak hh seperti itu tolonghh," kata Lala bercampur lenguhan, saat Richie melahap lehernya dengan penuh nafsu, gaun Lala melorot dan nampak sembulan daging yang terlindungi cup.


"Ini begitu besarhh," kata Richie mengecup dua sembulan. Hidungnya terus menghirup aroma wangi daging yang membuat Richie makin menggila.


Richie tak mau buru-buru dia ke atas lagi memagut lembut bibir Lala, begitu terasa manis dan sangat me..rang..sang tubuh Richie, "terimalah, lepaskan itu, jangan menahannya, darling, akan ku persembahkan keperjakaan ini untuk mu, kekasih masa kecilku, " kata Richie dengan nafas memburu dan badan telah panas.


Sementara di tempat lain, Kevin mulai gelisah karena Lala tak mengangkat teleponnya, "Kau bisa lebih cepat!" bentak Kevin pada Parker.


"Lampu merah tuan, kita sudah memutus anak buah kita kesana, mereka dihalangi anak buah Richie."


"Apa yang mereka lakukan di kamar, Sialan. Sudah berapa lama mereka di sana?"


"Satu jam, Tuan."


Di dalam kamar, Richie telah menggendong Lala yang terkulai dan memindahkan ke ranjang. Richie melepas jubah tidurnya dan dia mulai menjilati kaki Lala yang masih tersisa kue di sana.


Air mata Lala lolos, tubuhnya sangat lemas dan panas.


Lenguhan-lenguhan panjang wanita itu menggema di telinga Richie saat menggigiti punggung kaki Lala.


'Kevin," batin Lala, berharap Kevin menolongnya, dia salah memercayai laki-laki ini. Lala tidak bisa mengontrol reaksi tubuh disaat kegelian dari kaki itu menjalar ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Richie terlalu tahu titik sensitifnya.


Lala merasakan himpitan tubuh Richie yang merangkak lalu mengecup kewanitaannya, refleks pinggulnya mengejan karena usapan hidung richie walau terhalang gaun nafas itu begitu menyembul, dan membuat kewanitaannya merasakan nikmat.


Richie semakin menghimpit dan naik ke atas mengendus dua bongkahan kenyal yang sedang sangat sensitif tak seperti biasanya.


Lala membusungkan dada refleks atas endusan Richie yang kesetanan.


Bau maskulin itu tercium di hidung Lala, dia benar-benar tak bisa mengontrol indra penciumannya yang menjadi sensitif itu. Hidung Lala kembang kempis, ditambah kejantanan keras dalam ce lana itu menekan ujung kewanitaannya, membuatnya semakin mengangkat pinggulnya.


'Tolong aku Kevin!!!' jerit Lala dalam hati saat Richie merobek gaun bagian atasnya jadi dua, memperlihatkan perutnya dan dingin ac menyapu perut Lala yang telah berkeringat dan panas.


Richie mengecupi menggigiti perut Lala dan menjilat tak beraturan, Lala tak kuat lagi dan meng..erang panjang.


Wanita itu yakin bagian kewanitaannya telah basah. Lala merasakan perut Richie menempel diperutnya, 'panas dan keras' keringatnya bercampur dengan keringat Richie.


"Balas aku darling." Richie di atas badan Lala, mulai memagut dengan lembut penuh cinta bercampur nafsu, dia menari - nari dengan lidah manis itu, di se..dot lidah Lala lebih kuat membuat tubuh Lala mengejan menekan dada Richie.


Lala begitu sensitif merasakan nafas laki-laki itu yang memburu, ciuman bibir tebal Richie, lidah Richie yang besar dan hangat, dan liur lelaki itu membuatnya terus mengejan, dan membusungkan dada, terutama karena Richie menekan kejantanannya dengan keras.


"Hahhhhhh." Lala memgambil nafas.


Richie tersenyum dan kembali makin menye..dot kuat lidah mungil itu.


Tubuh Lala yang tak bisa dikontrol menekan kuat pada kejantanan Richie dan semakin menggosoknya, membuat Lala semakin merasakan kegilaan tak terkendali itu, ditengah tangisannya.


Respon tubuh Lala membuat tubuh Richie makin terbakar api, dan ledakan-ledakan yang belum pernah ia rasakan. Untuk pertamakali Richie sampai sejauh ini dengan wanita, itu terlalu luar biasa baginya, seperti ledakan kembang api keluar dari tubuhnya.


Dua tangan Richie membelai rambut Lala yang halus, di tatapnya lekat-lekat wanita yang sudah sangat bernafsu dalam pengaruh obat dengan mata sayunya yang terpejam, dan air mata terus mengalir dari mata.


"Ja ...ngan," kata Lala sangat pelan saat tangan Richie mulai masuk di sela kain kecilnya.


Air mata Lala mengalir menganak sungai. "Ke..vi..n hhh," katanya nyaris tak terdengar.. "Hah!!!" De..sah..nya saat dua jari hangat Richie menempel di kewanitaannya yang telah basah, mata Lala mendelik. Hati Lala begitu hancur. Dia membenci dirinya. Dia sangat membenci dirinya. Dia sangat jijik pada dirinya.


Blak!!


Pintu di banting Kevin, Kevin melarang anak buahnya masuk, dan dirinya mendapati Richie tengah mengelus kejantanannya - dalam posisi duduk di lantai sedang menjilati kewanitaan istrinya yang tengah terbaring tak berdaya, istrinya itu men..desah karena serangan Richie.


Sulit menggambarkan perasaan hancur di dada Kevin, mulut Kevin mengatub, tangannya mengepal kuat melihat Richie yang mencapai puncak dan air kehidupan itu menyemprot ke atas seperti air mancur dan kembali jatuh di paha Lala. Richie yang baru keluar ma..ni itu menyandarkan wajah di kewanitaan istrinya.


Kevin menendang dengan penuh kebencian ke arah rusuk Richie, lelaki bejat itu yang bahkan tak sadar akan kedatangannya.


Terlihat baju istrinya bagian atas telah sobek, menampilkan perut istrinya yang masih rata di usia kehamilan mudanya, menyisakan bra yang masih utuh.


"Menjijikan kau Richie, kau melakukan ini pada istriku, apa benar kau seorang teman!!" seru Kevin sambil membelit tubuh Lala dengan selimut.


Kevin mendesis, urat-urat di kepalanya menyembul. "BAJINGAN!" serunya pada Richie yang tersungkur ke tembok.


Richie yang meringis karena sakit pada tulang rusuknya, segera memasukan rudal yang sudah terkulai, "Aku tak bermaksud, aku tak bisa mengontrolnya, sorry aku_" Richie meringkuk dalam duduk menyembunyikan wajah, menyesali perbuatannya.


Kevin melihat mata Lala yang terpejam dan sembab dan semi tak sadarkan diri.


"KAMU!!! aku tak mempercayaimu lagi. Kerja sama kita selesai sampai disini!"kata Kevin dengan suara gemetar dan penuh penekanan, "aku akan membunuhmu Richie!!"


Richie mendongak dan bangkit, meraih jubah dan memakainya,"Kau pikir kau tak menyakiti dia karena kau selalu sibuk mencari Bella? Mengapa kau tak pergi saja dengan Bella. Dan aku akan membuat Lala melupakanmu, CK.."

__ADS_1


"Tak waras!" Kevin menggendong istrinya dan meninggalkan Richie.


Di lantai berbeda masih di hotel yang sama. Selimut dan sisa baju Lala yang telah sobek telah bercecer di lantai kamar mandi.


Kevin menyalakan kran shower, dilihat Lala yang didudukan di bathtub, masih tak sadar, dengan tangan terus mencengkram.


kevin membasuh muka Lala dengan tangannya sementara shower diarahkan ke leher jenjang itu.


Nafas wanita itu masih memburu dan masih terpejam.


Wanita ini benar-benar tak bisa menjaga dirinya, 'mengapa kau selalu masuk sarang buaya? mengapa kau tak minta bantuan suamimu ini dan malah mencari lelaki lain? kurang apa saya?'


Kevin tak peduli jika dirinya masih memakai jas lengkap dan kaus kaki, bahkan belum sempat melepas jam tangan mahalnya yang kini telah terkena sabun, toh jam anti air.


Dia menyabuni tubuh Lala dengan pelan, dan wanita itu justru semakin mengerang. Kevin ingat betul disaat Lala melenguh kenikmatan karena perlakuan Richie. Hatinya begitu tertusuk.


Kevin yakin, jika Richie tak bermaksud menyetubuhi Lala, lelaki itu berusaha mengeluarkan hastratnya dengan tangannya sendiri. Tapi mengapa lancang sekali sampai sejauh itu.


Begitu sakit, melihat apa yang dilakukan Richie. Walau pada akhirnya Kevin akan menyerahkan Lala pada Richie, 'apa kau tak bisa sabar sedikit saja, Richie? Bila saya tak selamat. Dan mustahil saya akan selamat dari tempat James. Tapi saya tetap harus menghabisi James dan Viktor.'


Kevin membersihkan kewanitaan istrinya, bayangan soal sorot mata Richie yang begitu liar menjilat kewanitaan istrinya, membuat hatinya hancur dan sesak.


"Saya tak bisa melihatmu dengan lelaki lain, sayang. Mengapa kehidupan sepelik ini?"


Gigi Kevin menggertak kuat, dia duduk meringkuk, menelungkup wajah diantara dua lutut dan dua tangan makin mengepal kuat, air hangat yang merendam itu sama sekali tak bisa mengusir kemarahannya.


'Seandainya saya dilahirkan kembali, saya tidak mau mengenal dunia gelap ini. Namun, bagaimana bisa saya melindungi Lala dari musuh-musuh Alen.


'Mengapa mereka semua menargetkan Lala. Bahkan Alen tak tahu putrinya jadi sasaran mereka. Sudah banyak yang saya buru, saya telah membunuhnya! tapi yang mencari Lala seakan tak pernah ada habisnya!


'Viktor benar-benar sialan! berani sekali menyebarkan identitas Lala ke para musuh Alen. Mereka menyerang balik dan membalaskan ke Lala. Saya lelah ...Ini tak pernah usai. Kau akan mati Viktor!'


Kevin kembali merasa tak berdaya, dia merasa begitu lelah. Disandarkan kepalanya pada bahu Lala, air hangat itu telah merendam sebatas bahu Lala, sementara kepala Lala terkulai diatas pinggiran bathtube.


Kevin merasa tak semangat, dunianya seakan gelap, air hangat itu mulai luber dari bathtub. Kevin tetap tak mau beranjak dari bahu Lala. Air bathtub itu sudah menengelamkan sebagian bibir Kevin, Air mata Kevin jatuh bercampur dengan air rendaman, tatapan mata lelaki itu kosong. Sedangkan wanita itu masih tak sadar, dia masih terpejam.


''Bahkan saya mau merelakan nyawa saya demi keselamatanmu, Babe. Saya tidak bisa memilih!! saya lelah ... Benar-benar lelah,"kata Kevin dalam tangisnya.


...🍀🍀...


Lala terbangun di kamar asing, dan terasa getaran di kamar itu, ingatannya kembali ke ingatan terakhir saat bayangan Richie merobek gaunnya.


"Tidak!!!!" Teriak Lala, hatinya terasa pilu. 'Apa yang terjadi denganku? a..ku kotor, a ..ku menjijikan!'


Blak!


Bunyi pintu terbuka keras.


bersambung ...


...***...


Terimakasih, hai pembaca setia, othor ada novel bagus ni , mampir ya ...😘


__ADS_1


__ADS_2