Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 120 : UNO


__ADS_3

Anton begitu kelelahan hari ini, rasanya ingin cepat sampai rumah dan tidur.


Dalam perjalanan Anton benar-benar tertidur, sampai supir membangunkannya.


Dilihat Fabio telah menunggu di depan.


"Ngapain malam-malam di luar, Ahh! apa-an ini," pekik Anton saat sebuah kain menutupi mata, membuat seketika terlihat gelap.


"Papah diam, ikuti aku," kata fabio, sambil menuntun papanya. Setiba di pinggir kolam renang. "Pah buka sendiri," bisik Fabio.


"S U R P R I S E !!! "


"Happy birthday to you PAPA"


Teriakan semua orang menyambutnya, dengan penuh meriah dan dekorasi rumah yang semarak, membuat Anton ternganga. Matanya melebar saat mendengarkan lagu ulangtahun, hatinya ikut meluap bersama luapan air mata tanpa bisa berkata-kata.


Anton terharu mengusap matanya, saat Sheril yang mengenakan gaun merah itu memegang kue di depannya, dan anak-anak, juga Lala disamping istrinya.


"Papa kok nangis!" seru Fabio, hatinya jadi tidak tega.


"Papa make wish," kata Kevin.


"Papa Make wish yang banyak dong!" seru Lala pada mertuanya.


"Suamiku, make wishnya yang banyak bener kata Lala," ucap Sheril dengan lembut dan penuh senyuman.


"Papa lilinnya keburu habis!" seru Luca.


Anton tersenyum mendengar perkataan mereka. 'Tuhan persatukan keluarga kami, berikan kami semua kesehatan dan keselamatan. Dan saya ingin Sheril hamil anak perempuan,' batin Anton dengan khusu'


Anton tersenyum melihat mereka semua yang masih tersenyum menunggunya.


"wuuuhhh..." Anton meniup semua lilin ber angka 51.


"Yeeeeeeee !!! selamat uang tahun papa !!!" teriak mereka bersamaan. Anton mencium bibir istrinya sesaat.


"Papa!!!" pekik Fabio dan Luca bersamaan karena papa dan mamanya terlalu vulgar, sementara Kevin memeluk bahu istri dan mengecup rambutnya.


"Potong kue dulu sayang," kata Sheril dengan lembut sambil memberikan pisau. Sementara Lala kini memegang kue ulang tahun.


"Tahun ini siapa yang mendapatkan kue pertama papah?" tanya Fabio melebarkan mata saat Ayahnya justru menyuapkan kue ke Lala.


Membuat semua mata, tercengang, terutama Lala yang menatap fabio, Luca, dan mama Sheril. Mereka semua mengangguk dengan senyuman yang meyakinkan.


"Ayo Babe, kamu membuat papa menunggu," bisik Kevin di telinga Lala.


"Ayo Lala, kamu spesial di hati Kami," kata Anton dengan senyum tulus.


Beberapa saat semua orang menunggu, akhirnya Lala melahap sendokan besar itu. Anton mendorongdan menarik kembali sendoknya.


"Terimakasih ya, untuk hadiah yang luar biasa ini. Berkat Lala, tahun ini kami berkumpul, peluk sini," kata Anton memeluk Lala, padahal Lala belum siap. Anton mencium rambut Lala. Kevin ikut memeluk istrinya dari belakang.


"Terimakasih juga papa Anton, Lala juga mendapat hadiah yang luar biasa. Semoga papa selalu sehat dan semua keinginan papah cepat terwujud. Terimakasih Terimakasih."


"Jika ada apa-apa bilang papah, kalau suami mu berulah , papah akan menghajarnya," kata Anton dengan tangan kanan mengelus rambut Lala, dan tangan kiri mengacak -ngacak rambut Kevin.


"Iya papah, Lala akan langsung lapor," ucap Lala dan berlalu.


Kevin tersenyum langsung memeluk sang papa. "Pah, Kevin minta maaf, selalu membuat mu marah. Kevin sayang papah."


Anton tertawa sambil menepuk punggung Kevin.


"Baiklah, yang penting kamu tambah dewasa, dan bertanggung jawab pada istri, terimakasih karena sudah jadi anak hebat," kata Anton mengelap ujung mata .


Luca menatap papa yang membuka kedua tangan. "Kemari Luca, jagoan papah."


"Pah, terus sehat ya, cuma itu yang Luca harapkan. Jaga jantung papah, selamat ulang tahun. Luca cinta papah," kata Luca menepuk-nepuk cukup keras punggung Anton.


"Ya thanks, hadiahkan istri untuk papah. Eh! Yang penting ... kamu bahagia dulu deh," kata Anton yang sadar Luca belum bisa memalingkan hati.


Fabio memeluk Anton, " Papa adalah papa terbaik, terimakasih untuk semua papa Anton. Semoga papah bisa kasih adik perempuan!"


"Apa!"pekik Sheril tidak menyangka fabio menginginkan adik, dan Anton memberi kode pada Sheril.


Luca dan Kevin saling merangkul saat melihat tingkah kedua orang tua.


"Ayo kita makan!!!" Sheril mengalihkan perhatian Anton. Walau dirinya sudah menyiapkan malam khusus, bahkan sudah menyiapkan diri untuk bercinta, setelah beberapa tahun tidak melakukan. Sheril memegang dada, yang kembali dag dig dug.


Lilin-lilin merah menghiasi meja makan, pelayan sibuk mengeluarkan kudapan.

__ADS_1


Lilin kecil menghiasi pinggiran kolam renang, lampu warna warni menghias indah disekitar.


Sheril dan Anton menemui tamu yang merupakan tetangga dekat dari Clarkson Road.


Luca memanggang daging dibantu Lala.


Sedangkan Kevin geram dengan Richie. Kevin menarik tangan Richie, agar mengikuti, dan berjalan menjauh dari Julia, "Kenapa kamu membawa julia kemari, Sialan."


Setiba si sudut pinggir kolam renang."Gimana dong, dia memaksaku," kata Richie dusta.


"Omong kosong apa itu, ini acara keluarga, istriku bisa cemburu, Ah kau benar-benar ya," kata Kevin sambil menatap tajam Richie.


"Itu tanggung jawabku, aku juga ingin kelihatan punya pasangan dong," balas Richie, mengikuti pandangan mata Kevin, yang terus mrngawasi Lala.


"Kau tau sendiri, Julia seperti ular. Kalau dia berani sampai menyentuh saya lagi, akan ku tendang dia keluar."


Richie tertawa.


"Kau suami takut istri ya? sudahlah tenang saja."


Richie menghampiri dua orang yang sibuk memanggang, udara disini berasap dan panas, campur bau daging panggang, dan di bawah langit malam, justru terlihat romantis.


Richie menyodorkan piring kosong. Lala memindahkan daging panggang ke piring pelayan, "Eh..." Lala mendongak saat melihat lengan jas biru, "Tuan Richie! saya kira pelayan," sentak Lala, dia tertawa dengan kegirangan.


Luca yang sedang memanggang daging itu menoleh ke belakang melihat Lala dan seorang pria sedang cium pipi kanan-kiri.


Terlihat Kevin tidak jauh darinya, sedang makan kue, 'apa anak itu tidak cemburu melihat istrinya akrab dengan lelaki lain?'batin Luca.


"Asap bahaya buat kandungan, lebih baik ikut saya nyonya Saint." Richie menggaet lengan Lala.


"Eh ini masih banyak, lebih baik kamu bantuin mas Luca, Tuan Richie."


"Apa!?"


"Kan kamu jago masak," kata Lala mendorong Richie ke sebelah iparnya.


"Hey, saya sudah tampan begini, masa___"


Lala mengulurkan penjepit daging ke tangan Richie, membuat lelaki itu menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu melihat penjepit daging dan melihat jas yang dipakai.


"Panggang yang banyak Richie !" seru Kevin sambil tertawa dengan puas. Kevin merasa terhibur dengan sikap Lala.


Luca melirik pria di sebelah yang memakai setelan mahal dan jam tangan limited edition.


"Perkenalkan saya Richie, teman dari Kevin," kata Richie pada Luca, sambil mengulurkan tangan dan disambut tangan Luca.


Richie selalu peka akan pikiran orang lain.


"Saya Luca. Anda bukan teman kuliah Kevin, kan?" Luca mengamati pria yang terlihat lebih dewasa dan usia sangat matang.


Richie membalik jagung," teman bisnis."


"Oh, bisnis dunia hiburan?"


"Yah dunia hiburan bisnisku dengan Kevin. Saya dengar kamu pindah ke New York? saya memiliki bisnis properti di sana."


"Tahu dari mana, jika saya pindah? ... oh dari Kevin," langsung menjawab pertanyaan sendiri.


Luca mengolesi jagung di depan Richie dengan butter. "Eh tapi saat pernikahan Kevin, kenapa aku tidak melihatmu, apakah aku harus memanggil mu 'Kak Richie'?"


Richie tertawa, dia mengambil daging mentah.


"Panggil Richie saja, adikmu juga selalu memanggil begitu. Apa kamu masih butuh pendanaan? aku bingung mau menginvestasikan saham kemana. Ah sorry tanpa bermaksud menyinggung."


Luca melirik ke kiri, 'memang aku masih butuh pendanaan, tapi aku tidak mau berhubungan dengan Kevin, aku lebih baik mandiri', batin Luca


"Tidak usah sungkan, itu ... saya merasa belum memerlukan dana, dan terimakasih atas penawaran mu." kata Luca sedikit berbohong, padahal sangat membutuhkan suntikan dana.


"Ya tidak apa-apa, sayang sekali, ya. Saya jadi ingin cerita, bulan depan saya mau membangun hotel besar di sana, setelah merobohkan gedung lama, dan ingin ku si dapat kontraktor dari teman, apalagi harganya miring-miring dikit Lah, siapa tahu kamu mau bekerja sama," kata Richie, seolah membutuhkan kontraktor dengan penawaran harga bagus.


Padahal berapapun modal tidak masalah, asal uangnya terus berputar. Semakin banyak menguasai orang, semakin mudah Richie memutar uang kotor.


Richie yang tidak pernah mendapat penolakan, ternyata justru ditolak Luca.


Setiap orang yang ditemui Richie biasanya langsung tak berdaya hanya karena melihat jam tangan mewah yang dipakainya.


Richie mengambil sesuatu dari dalam jas, dan memasukan sebuah kartu nama ke saku celana Luca. Sebenarnya Richie sudah menyiapkan itu dari awal, dirinya tahu akan mempunyai kesempatan berdua dengan kakaknya Kevin.


"Hubungi saya jika ada sesuatu, Kevin sudah seperti keluarga saya sendiri, jadi ya begitulah...tolong jangan salah paham. Kita hanya tidak pernah tahu, kapan kita membutuhkannya, bisa saja suatu hari saya membutuhkan pertolongan kamu, kan?" Richie tersenyum pada Luca.

__ADS_1


"Oh ya, aku akan menghubungi mu nanti," jawab Luca, sebagai pembisnis memang Luca tidak bisa menebak, siapa tahu dirinya suatu saat butuh.


Luca merasa hanya perlu menjaga sikap, agar tidak terlalu percaya, dan tidak terlalu mengacuhkan.


"Disitu ada profile company saya, kamu bisa menilai kekurangan property saja, siapa tahu kamu mau bekerja sama, terutama proyek baru saya."


Luca menanggapi senyum, "saya akan melihatnya nanti malam, Richie," kata Luca, lalu memindahkan daging terakhir ke piring yang di sodorkan Lala.


"Wah kalian ngomongin apa sih? keren banged ya tuan-tuan pengusaha!"seru Lala di tengah dua orang itu.


Richie tertawa, dan Luca hanya terdiam menatap Lala yang terlihat bahagia dan bersinar.


"Kamu belum menjamu ku kan, nyonya Saint, keterlaluan," kata Richie menggaet tangan kiri Lala mengajak ke meja berkumpul di tepi kolam renang.


Lala tertawa, lalu berkata, "okelah aku akan menjamu Tuan Richie dan teman cantiknya, pacar baru ya?" ledek Lala karena tahu Richie membawa artis terkenal.


"Apa! pacar? bukan!"


Lala menoleh ke belakang terlihat Luca yang melamun, "mas Luca ayo, mereka sudah menunggu."


"I-iya," jawabnya, lalu menyusul Lala, 'wanita itu memang selalu peka,' batin Luca, menyusul di belakangnya.


Setelah makan malam, Artis bernama Julia yang kebetulan suaranya bagus, menyanyi dipanggung Kecil karena desakan Richie, semua orang terhibur mendengarnya. Mereka asik bercengkrama sesekali para orang tua maju ke depan ikut bernyanyi meramaikan acara.


Di meja bundar Lala duduk di antara Kevin dan Fabio, di depannya Luca dan Richie, mereka bermain UNO stacko sambil mengunyah kacang kulit.


Mereka tertawa dan menggoda setiap salah satu pemain menemukan kesulitan.


"Ayo Babe, kamu bisa..." kata Kevin, menyemangati istrinya. Lala sampai duduk di lantai di alasi bantal, untung meja bundar itu bawahnya bolong, sehingga dia bisa duduk berselonjor.


"Ayo kak La, cetil saja!" kata Fabio merasa gamam karena kakak iparnya tidak kunjung bermain dan hanya memasang tampang serius.


"Ahhhh sabar," keluh Lala, karena fabio terus mengganggunya saat Lala akan menggeser balok.


Lala memilih balok di antara satu layer yang di atas dan bawahnya sudah tinggal dua, dia menggeser sedikit, kemudian menyentil dengan cepat.


"Yeehhh!!" teriak Lala dan Kevin bersamaan meninju ke atas, lalu mereka tos.


"Ahh!" teriak Luca dan Richie bersamaan, mereka menelan salivanya. Dua orang ini menginginkan kekalahan Lala agar bisa mengoles pewarna hitam ke wajah Lala.


Fabio mendengus kesal, karena bukan kakak iparnya yang kalah, justru dirinya yang merobohkan susunan menara balok. "Ahhhhh!!!"


Semua tertawa kegirangan, dan mencoreng di muka Fabio, anak SMA itu yang semakin terlihat cemberut.


Permainan kedua Luca yang kalah, Luca bisa merasakan olesan jari lentik Lala yang mengenai kening alis ke pipinya. Mereka kembali tertawa.


Permainan ketiga Lala yang kalah.


"Aku saja yang menggantikannya," kata Kevin menyodorkan wajahnya sendiri siap di comeng.


"Tidak bisa, enak aja, sportif dong ka Kev!" Fabio langsung mencolek banyak ke wajah Lala, "rasain ini kaka Ipar!!!!!" kata fabio dendamnya telah terbayarkan saat melihat pipi kanan kiri Lala tercomeng seperti badut membuat Fabio dan dan Richie tertawa "Ha ha ha..." dua orang itu sampai sakit perut melihat wajah Lala yang cemberut.


Lala melirik Luca yang akan mencomengnya, terlihat Luca tersenyum lembut dan menempelkan ujung telunjuknya, ke kening Lala.


"Tidak bisa gitu dong ka, curang," kata Fabio sambil memegang jari Luca, lalu membuatnya jari Luca mengitari wajah Lala.


Richie dan Fabio kembali tertawa sampai air matanya jatuh saking senangnya.


Kevin mencomeng wajah istrinya menggeser tangan Luca, membuat senyum Luca sedikit pudar dan langsung menarik tangannya.


"Lihat wajahmu, Babe," kata Kevin sambil menahan tawanya.


Lala memiringkan wajah ke kiri mendongak ke kana ke arah Kevin dan memasang muka kesal pada suaminya.


"Maaf," kata Kevin tak bisa menahan tawanya melihat wajah Lala.


Richie mengoles pewarna hitam dan meraupkan ke wajah Lala, membuat hampir keseluruhan muka Lala tertutupi pewarna hitam.


"Aku akan membalasmu, Tuan Richie!"


Richie tertawa, dia memiringkan wajah kiri, "oh silahkan kalau bisa."


"Richie paling jago main UNO, Babe," kata Kevin sambil mengelus pucuk kepala Lala, kasihan melihat Lala yang pasti tidak bisa membalaskan kekesalannya.


10 permainan mereka lewati, sampai akhirpun Kevin dan Richie menang terus, wajah mereka tetap bersih tanpa comengan.


Muka Luca sudah kotor comeng, terutama muka Lala yang sering kalah, yang mendingan hanya Fabio.


Kevin mengelap wajah istrinya dengan kain basah, sementara fabio dan Richie terus tertawa.

__ADS_1


Sedangkan Luca yang mukanya masih comeng sudah sibuk bercengkrama ringan dengan papah, mamah dan tetangga karena urusan bisnis.


__ADS_2