Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 220 : ULAR-ULAR VEEPER


__ADS_3

-POV AUTHOR-


"Sejauh ini baik, semua dengan suka rela menjual ginjal mereka," Nick melirik Artyom yang membuka pintu dan melirik ke luar ruangan.


***


"Jadi, anda mengendap lagi seperti pencuri?" Daniel menyipitkan mata, menatap Lala dengan tajam.


Lala menggigit bibir, menghitung nafasnya untuk menenangkan detak jantung yang liar. "Anda akan membunuh ayah dan Kevin ..."


"Ya, kamu sudah tahu rupanya. Lalu apa? mau membuat masalah? jika ya saya akan memenjarakan mu dalam kandang Veeper." Daniel meraih seuntai rambut Lala ke belakang telinganya, "LALA."


"Apa? tidak mungkin. Kenapa?" Lala serak, merasakan bagaimana mulutnya menjadi sangat kering, dan mulutnya menjadi sangat kering, lidahnya berubah dengan susah payah. Lala sulit mempercayai kata-kata itu keluar dari mulut Daniel, ataukah ini yang dimaksud Kevin. Bagaimana mungkin head chef yang dulu selalu baik, justru menjadi sangat jauh berbeda.


"Lala, mereka pantas mati." Daniel tersenyum masam, mengamati seluruh fitur wajah dari putri algio, kepala mungil yang berada diantara ke dua tangannya. Wanita yang sangat lemah.


Bibir Daniel berkedut. "Bukankah aku sudah terlalu baik kepadamu," mengamati netra biru langit Lala yangmana bulu mata lentiknya bergetar. "Tidak bisakah kamu sabar menunggu, hingga semua ini beres, dan kamu benar-benar menghabiskan kesabaran ku??" Daniel menggeram, mendengkur, pembuluh-pembuluh darahnya pecah oleh kemarahan, pukulan keras mendarat tepat di samping telinga wanita itu."Oh-LALA!" melirik bawah pada tubuh Lala yang gemetar, Daniel mencium bau ketakutan, dan wanita itu mengigit bibirnya.


"T-n-tidak," Lala dengan cepat menggelengkan kepala. "Ini bukan kamu- Daniel."


Tentu saja, wanita ini mengacaukan rencana Daniel dengan keras, tapi Daniel tidak ingin semua lebih berantakan. "Saya menghukum mu," tegasnya bukan perintah melainkan keharusan.


"Saya akan mengubur mu dalam kaca aquarium di antara ratusan ular Veeper dan jika kau ingin kaca itu turun, lalu ular akan menggiling mu dan mematuki mu, apa kau ingin itu di akhir hayatmu?" Daniel menyeringai.


Dan Lala semakin ingin mendorong tembok besi dingin di belakangnya untuk mundur, sayangnya itu tak bekerja.


Setelah ancaman Daniel, Lala mencoba untuk tidak bisa bernafas ke arahnya, dan hanya beberapa menit kemudian, ketika Daniel mengangkat tangan dan melihat jam, Lala menghembuskan nafas dengan keras. Dan kembali matanya dengan penuh harap memohon ampun.


Lelaki itu menjilat bibirnya sendiri yang sedikit terbuka sambil membuka satu kancing gaun Lala paling atas dan berhasil.


Paru-paru Lala meledak dengan kemarahan, meraih pergelangan tangan besar pria itu dan mencoba mendorongnya menjauh dari dadanya.

__ADS_1


"B-bukankah anda bilang ... akan membantuku ... Daniel."


"Tenang, Lala, tidak ada yang bisa diubah. Semuanya terjadi," menampar Lala pelan dua kali. Kemudian bergeser ke bawah ... menusuk jari-jari di dagu Lancip Lala. "Dan sekarang tidak ada pertolongan untuk mu. Dan aku akan menghancurkan mu." Daniel dengan nada rendah namun untuk berberapa alasan mampu membuat Lala tidak bisa berkutik.


Lala dengan lelah memindah beban tubuh ke kaki lain, di sebelah Daniel, menggosok pipinya yang masih panas oleh tampara Daniel, yang terganggu tidak mau tenang.


Secara umum, Daniel tidak tertarik sama sekali dengan wanita ini. Namun, sudah tiga kali ini, wanita itu selalu mengendap-ngendap.


Pertama, di pabrik, bagaimana mungkin orang luar bisa memasuki tempat terlarang, mungkin wanita itu telah mengetahui sebelumnya, ya terlepas dari sistem keamanan yang sedang down saat itu, bukankah itu terlalu janggal, ataukah Lala pura-pura polos, sedangkan diam-diam bersekongkol untuk menghancurkan Veeper.


Ke dua, semalam Lala berjalan ke area kerja anak-anak, mungkin mau menyusup mencari tahu, dari sekian banyak ruangan dan wanita itu ke lorong itu, mengapa.


Ke tiga, menemukan Lala di gudang bersembunyi dengan tidak bagus, kulit tangannya terlihat, dan dirinya menutupi dari Nick, memberikan Lala kesempatan pergi dengan meninggalkannya.


Namun, sungguh lancang, saat rapat, suara gaduh dari luar. Dia harap dugaannya salah, jika itu Lala, dirinya tidak akan memaafkannya. Ketika membuka pintu dan mengintip ke ujung lorong, dan ternyata punggung wanita itu baru saja hilang di ujung lorong. Jadi, Lala mendengarkan semua rencananya?


Dan saat itu dirinya menutupi dari Nick dan Ars.


Demi apapun, dirinya tidak akan membuat Lala mengacaukannya, dan harus....


Daniel menarik pergelangan Lala dengan jari-jari semakin mere..mas lalu menyeret sampai wanita itu terhuyung terjerembab ke punggungnya.


"Daniel, mohon maafkan saya. Daniel, tolong ... kau mau bawa kemana?!"


Lorong demi lorong, dua kali pindah lift. Sampai di lorong tiada orang, suara mesin kapal cukup keras dari sana.


Mendadak Langkah Daniel terhenti.


Lala melongok ke depan, sebuah harapan muncul di kepalanya dari insting yang mengerikan soal Daniel. "Tuan Ars, tolong saya."


Sebuah tangan Ars keluar dari saku, mengamati Lala yang memasang wajah bersalah dan gemetar.

__ADS_1


"Ada apa Thyoma?" Ars meneliti Artyom yang tampak murka, tidak biasa-biasanya, mungkin sedang ada masalah dengan wanita itu, tapi sejak kapan dua orang itu terlihat dekat.


"Dia mencoba kabur, dan aku memberinya pelajaran."


Ars mengangguk, wanita itu memang hobi kabur. "Bagus." Ars melirik mata wanita itu yang membesar, seolah-olah tak percaya. Memang apa yang wanita itu harapkan? sebuah ampunan? atau pembelaan, jangan mimpi ...


"Mungkin sedikit berlebihan disini, dia akan mati ketakutan," Ars berkata dengan nada menyindir, melirik Lala sambil mengusap bahu Artyom tiga kali dan lalu berlalu begitu saja.


Daniel terkekeh dan kembali menyeret Lala.


Di tempat Lain, di ruang kontrol, Ars memperhatikan di layar monitor bagaimana Artyom memasukan Lala ke akuarium kaca. "Thyoma, kau bisa membuatnya mati, bahkan sebelum itu di mulai."


"Tuan Ars, bukankah anda harus menghentikan Artyom. Itu bisa saja membuat wanita itu pingsan dan menunda jadwal." Nick memperhatikan Ars yang memutar mata, mengetuk-ngetuk jari pada meja dan bergeser selangkah lebih mendekat ke petugas monitor.


Salahkah bila Nick menduga jika Tuan Ars sedikit berlebihan, peduli apa sang Tuan dengan hukuman yang dialami tawanan. Penyiksaan hanya tugas yang di senangi sang adik, Artyom. Mungkin Tuannya mulai peduli dengan penyiksaan para tawanan?


"Tidak. Wanita itu pantas dihukum." Dengan intens, Ars tak berkedip, lalu menyipitkan mata.


Saat mata Lala membesar seolah-olah melihat hantu dan langsung meloncat meraup tubuh Artyom dari samping, Ars dapat menangkap bagaimana cengkraman kuat jari-jari lentik itu mere..mas dada Artyom sampai kemeja itu menyusut, untuk memohon Artyom mengeluarkan dari ruangan.


Namun, sepertinya adiknya terlalu marah. Jadi, ada apa dengan Thyoma hingga marah sejauh itu? pemandangan langka.


Ars mengangkat dua sudut bibirnya membuat senyuman jahat.


"Buat terang, nyalakan semuanya." Ars memerintah dengan mata berbinar, dan tiga orang di kirinya menaikan tuas-tuas hingga lampu-lampu terang menyorot bawah.


Ruangan di monitor menjadi sangat terang seperti Mall. Memamerkan ular-ular yang terlihat lapar. "Rekam-kirimkan salinannya pada Algio, dia harus melihat ini kan."


Beberapa orang lantas merekam layar monitor, dan Nick mengerutkan kening bertanya-tanya, sang Tuan mendapat mainan baru? belakang tuannya menjadi aneh, tampaknya beruang kutub itu mulai meleleh.


Bibir Ars melengkung dengan sendirinya membentuk senyuman saat Lala berteriak histeris dan rambutnya yang acak-acakan saat wanita itu melirik sedikit ke arah kiri dan langsung melotot.

__ADS_1


Ular-ular Veeper dewasa saling bertumpukan di lantai dan saling mendekat ke arah kaca, sekitar dua ratus ekor, satu patukan bisa langsung membunuh dalam sekejap. Dan bila mau kaca itu bisa di turunkan, inilah penjara Veeper, hukuman mati untuk mereka pengusik.


__ADS_2