
Di ruang makan mereka berkumpul. Kevin duduk di ujung meja. Om Anton, nyonya besar, dan fabio duduk di sebelah kanan Kevin.
Begitu aku masuk, mereka memandangiku terutama nyonya besar yang seakan ingin membunuhku. Siska mengarahkan aku duduk di sebelah kiri Kevin.
Semua orang diam, suasana begitu terasa dingin. Kulihat Fabio tersenyum padaku. Aku pun membalasnya, dia calon adik ipar ku, menurutku dia yang paling terlihat normal.
Kevin meletakan serbet di pangkuannya, mereka mengikutinya. Aku jadi berkeringat dingin dan mengikuti gerakan mereka. Tante Sheril terus mengawasi ku dengan tatapan tajam.
Deheman Kevin mengagetkanku.
Pelayan menyajikan sup daging yang dihidangkan dalam cangkir bertelinga dua. Beruntung aku pernah bekerja di restoran milik Ella yang lumayan besar, setidaknya tidak mempermalukan diri di depan calon Ibu mertua.
Tante Sheril mengambilkan makanan untuk om Anton lalu dia berkata padaku sambil melotot. "Apa kamu membiarkan calon suami mu mengambilnya sendiri?!"
DEG
Aku melirik Kevin, ah dia masih marah padaku. Tubuhku langsung terasa dingin, aku coba mengikuti apa yang tadi tante Sheril lakukan.
Kevin memperhatikan setiap apa yang aku lakukan. Aku mengambil dengan mengira-ngira seberapa banyak yang akan dia makan.
Terakhir aku mengambil udang untuk Kevin.
"Stop, kamu mau membunuhnya? kau tak tahu dia alergi udang?"
"Maaf tante, saya tidak tahu," aku meletakan piring itu kembali.
"Yang benar saja, bahkan kamu tak tahu apa yang tidak boleh dia makan," gerutu tante Tiara.
Aku benar-benar malu, mengapa dulu aku masak sapo tahu ada udangnya dia tetap makan. Apa dia menyembunyikannya dariku? hah Kevin... Pantas saja saat itu badan Kevin merah-merah.
Meskipun Kevin terlihat tak mau berbicara denganku, tapi dia mengambilkan aku banyak lauk yang hampir memenuhi keseluruhan piring besar di hadapan ku, dia mungkin berniat menghiburku. 'Aku tak mungkin bisa menghabiskan ini semua?'
Ah lagi-lagi tante Sheril menatapku tajam.
__ADS_1
Aku terlonjak saat menengok ke kiri ada mas Luca yang baru datang dan duduk di sebelahku. Aku tak berani melihat wajah mas Luca, aku kembali meneruskan makanan ku. Aku begitu canggung sampai garpu yang ku pegang jatuh dan aku langsung mengambilnya.
DUK!
Kepala aku dan mas Luca berbenturan. Aku dan dia sama-sama meringis.
"Maaf, kamu tak apa?" Mas Luca bertanya begitu sedangkan dia sendiri terlihat meringis.
"I'm fine," Aku menjawab dengan tawa garing sambil mengelus jidatku yang sakit.
Aku mengambil garpu itu dan meletakan kembali ke meja, menyadari mereka semua memperhatikan -aku dan mas Luca- terutama Kevin dan nyonya Besar.
"Papa mau berbicara empat mata," kata om Anton pada Kevin yang tengah meminum susu.
Kevin mengusap bibir dan jarinya dengan serbet. Parker meminta om Anton mengikuti langkah Kevin.
"Kenapa kamu masih tak angkat kaki dari rumah ini? itu bukan anak Kevin kan? dasar rendahan!"
DEG
"Hah yang benar saja. Kau membelanya Luca?!" keluh tante Sheril, terlihat bibirnya seperti berkomat-kamit mengumpat kearah ku.
Aku sedikit menunduk menatap jemariku yang saling berkaitan di bawah meja dan bahuku semakin terkulai.
Nyonya besar meninggalkan kami dengan umpatan dan kata tajam kepadaku.
Mas Luca menggenggam jemariku, apa dia berniatan memberiku kekuatan?
"Tolong maafkan mama Sheril ya Kak? mama masih kaget, sebenarnya mama orang baik kak," kata Fabio terdengar seperti menghiburku.
Aku mendongak, "Tidak apa-apa Fabio, kakak paham," kataku dengan suara pelan.
Fabio lalu meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Aku menyingkirkan tangan mas Luca, "Aku tak apa mas, yang dikatakan tante memang kenyataan, aku memang orang tak punya dan-"
"Hentikan, aku minta maaf, mewakili perkataan mama." Mas luca memotong roti panggang di piring ku menjadi potongan kecil, lalu dia dia mengambilkan ku dengan garpu."A ..." dia menyuapi dan aku menolak.
"Aku tak akan melewati batas. Jika kau menikah dengan Kevin, artinya kamu adikku kan? jadi buku mulut mu."
Aku melirik ke kiri melihat penjaga takut-takut, meskipun mereka berdiri seperti patung. Entahlah aku tak mau mempedulikan mereka, aku melahap saja suapan mas Luca. Lagian dia sudah menganggap ku adik iparnya.
Lalu aku menghabiskan roti panggang strawberry. Aku teringat perkataan mama Sheril, benar ini bukan anak Kevin, terasa tak adil untuk Kevin.
Currrr
Mas Luca menuangkan susu hangat ke gelas ku dan dia menggeser duduknya lebih menghadap kepadaku, "Berapa usinya?" tanya dia sambil melihat ke perutku.
Aku menelan roti ku, "Lima bulan, mereka peri-peri kecil yang lucu," aku menceritakan beberapa detail lainnya termasuk soal kehamilan beresiko, dan mas Luca mengangguk kadang tersenyum, kadang terlihat raut kesedihan yang coba Ia sembunyikan.
"Kamu senang disini? kau tak rindu negara asal mu? aku mencari Bella, dia menghilang ... pasti kamu juga sudah tahu, mungkin dia pindah tanpa memberitahu kita," ucap mas Luca mengambil sesuatu di ujung bibirku, ternyata itu remahan roti.
Membuat kami terdiam.
"Bella mungkin sedang ada masalah, semoga dia cepat menghubungi kita, tapi nomerku juga sudah ganti. Tentu aku rindu negaraku, disini aku tak mengenal siapapun, sempat aku mengenal pegawai toko bunga, tapi Kevin melarang ku keluar lagi sejak-" Aku terdiam dan tak meneruskan kalimatku.
'Jadi siapa yang berniat meracuniku dengan zat kimia berbahaya?'
"Sejak apa? kau yakin menikahi dia?" tanya mas Luca dan dia sedikit tertawa. " aku bodoh, mengapa aku menanyakan ini, sudah jelas-jelas besok ..." mas Luca tak meneruskan kalimatnya.
Aku melihat ke perutku, dan mengelusnya, "Iya besok kami akan menjadi suami istri," aku tak bisa menyembunyikan senyumanku.
"Ada niatan kabur? aku bisa membawa mu pergi," tawar mas Luca dengan sedikit tawa, aku tahu dia bercanda, namun tatapan matanya terlihat kosong.
Bersambung ...
_______________________________
__ADS_1
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍