
-POV LALA-
Ars jatuh berlutut selama beberapa menit dia bersujud dengan tangan mengepal sampai buku-buku jari memutih.
"Apa anda baik-baik saja?" apa dia sakit? Saya mendekat berjongkok, menyentuh bisep kerasnya. Apa yang tadi berkecamuk di pikiran saya tiba-tiba menghilang, pikiran saya kosong.
Namun, Ars menjauh sehingga saya tidak melihat wajahnya dan dia merangkak ke sudut dengan sangat pelan seolah membawa beban berat pada punggungnya.
Firasat buruk mulai menyerap ke dalam diriku dan detak jantung menjadi lebih cepat.
Menarik lacinya, Ars meraih pistol dan cepat-cepat mengisi peluru.
"Tuan Ars ..." hanya ada saya di kamarnya, apakah dia mau menembak atau mencoba menakut-nakuti. Semua kalimat Daniel terbang membayang di kepala. Saya hanya akan bertanya, jadi salahnya dimana?
"Datang!" Bibir Ars meremas membentuk garis tipis. Bahuku terguncang tidak siap saat dia memasukan peluru ke dalam senjatanya.
Saya mere...mas gaunku. Bila mendekat, saya yakin hanya bertambah buruk. Harusnya sekarang celah untuk berlari, dan kabur menyelamatkan nyawa. Cepat lari!
Saya berbalik, tidak mungkin saya gila untuk diam menunggu mati. Namun, tubuhku terkunci tidak mau melangkah, menatap lantai marmer, kaki ku yang diliputi dingin bagai tertancap sehingga saya kesulitan memindahkan kaki.
"Lala Sergio, datang!"
Seperti robot, tubuh saya refleks berbalik untuk menuruti perintah Ars.
Ini tidak benar. Aku yang harus membunuhnya, bukan dia yang membunuhku. Menatap netra tajam Ars, dia menyipitkan mata menghina, menarik gaunku hingga aku terjun di depannya.
"Buka mulut kotormu." Suara Ars sangat rendah bergetar dan jari-jarinya menusuk daguku sehingga aku meringis menatap kilatan api kemarahan dalam tatapannya.
"Darimana anda tahu nama papa?!" pistol dengan genggaman berwarna coklat, laras itu menempel di dagu Ars yang berjanggut.
Merinding mengigit tengkuk dan tulang rusukku.
Tangan kiri Ars yang besar dan panas berpindah mencangkul ke dalam rambutku dan menarik lebih mendekat padanya sampai nafas panas Ars menyembul diantara kami.
"Jawab!" Ia mulai mengarahkan ke depanku, pistol itu sekitar panjang dua puluh centi dan dingin besi mendarat di keningku.
Nafasku menjadi cepat, "Kenapa anda marah?" saya menatap matanya yang menjadi sangat gelap dan aku menggigit bibir, mengeluarkan sisa keberanian, aku tidak akan menyerah sekalipun akan mati. "Dan mengapa anda berniat membunuh ayah saya?"
__ADS_1
"Ssst."
Perlahan dingin besi turun ke pangkal hidung, saya dapat mengintip lubang pistol, kepalaku berdenyut dan fokus ku seketika meningkat.
"Siapa yang memberi mu ijin menyebut nama suci papa? darimana kau tahu, oh apa ayahmu menceritakannya? luar biasa!" dingin besi melewati hidung dan berhenti di mulutku.
Saya menggeleng hingga nyaris ujung besi itu menyentuh semua area bibirku, memundurkan kepala tetapi di tahan tangannya, "ayah saya bukan pembunuh."
"Tahu apa kamu? hei, bahkan seratus orang lebih melayang di tangan kotor ayahmu. Kau tahu kenapa? itu pekerjaan kotornya! Dan kemana bayarannya?" Dia menjenjalkan ujung besi itu diantara bibirku dan terhenti tertahan di depan gigiku yang mengatub. "Mengalir ke dalam perutmu! kau menggunakannya!!! kau sama saja! apa bedanya denganmu? dan dia? apel jatuh tidak jauh dari pohonnya."
Dia tertawa dan saya seperti di rudal hancur tak berkeping. Saya memakan uangnya! saya memberi makan Vino dengan uangnya!! atas kematian orang-orang? Hati saya hancur melebur menjadi buih. Masih saja sulit menerimanya. Hidup saya hancur!
"Tidak mengijinkan nama suci papaku itu keluar dari mulut kotormu, sampah anak pembunuh."
Kami diantara dinding dan kasur, aku tidak bisa kabur. Kami bertatapan lama dan aku terus menggelengkan kepala, tapi terbatas karena pistol dan tangannya.
"Kau tahu apa yang dilakukan Alen Sergio pada orangtuaku? pembangkang itu meledakan tempat tinggal kami dan kedua orang tua saya disana!" dia memaksa lebih memasukan ujung besi itu lebih dalam ke mulutku. Dalam keadaan mental saya yang berantakan dan bibirku bergetar, ujung besi dingin mendarat tepat di atas lidahku.
"Ars-" Suara terpekik datang dari pintu. Saya mematung dan Ars seperti tersesat inten menatapku tanpa menoleh.
"Diam disitu." Ars memerintah, saya masih mendengar derap langkah sepatu pantofel yang mengendap perlahan.
"Aku dan Thyoma terbakar. Kulit-kulit melepuh berantakan di depan mata kami. Baunya mengerikan." Dia mendelik, "Saya berteriak untuk menghentikan rasa sakit dan rasa sakitnya tidak mau berhenti! Aku mendengarkan teriakan kesakitan adik Tyoma, jeritan kesakitan terburuk," bulir air bening jatuh menetes di pipi Ars.
"Bahkan tidak ada yang sanggup mendengarkan itu, mengerikan!" Bahu Ars terguncang dan gerakan pistol di mulutku bergetar dan aku gemetar entah karena pistol itu, atau telunjuk Ars, atau apa yang dialami Ars dan Thyoma.
"Enam bulan kami menjalaninya pengelupasan yang menyakitkan.
"Dokter tidak bisa memasang infus dan mereka menempatkan garis tengah di saya melalui vena jugularis saya langsung ke jantung.
"Ahli bedah melepaskan semua selempang yang terbakar dan menggantinya dengan kulit mayat! Aku tidak bisa bergerak ada kateter dan oksigen. Penggantian perban yang menyiksa. Kembali ke operasi untuk grafik kulit biasa, mereka melepasnya di paha saya. Mengalami lebih banyak cedera. menstaples kulit dan membalut tubuh saya dengan perban dan kain kasa.
"Kulitku memerah dan sakit seperti neraka. Saya mengalami infeksi. Lalu kulit mengering dan menyatu."
Dia meringis sempurna, merintih menampakan liur diantara gigi-giginya dan dia bergetar seakan-akan dia mengalami rasa sakit itu lagi, "Raja dati segala esakitan: menyiksa kami selama lebih dari enam bulan!" Dia semakin tertunduk, rambutnya menutupinya, dan aku menjadi sesenggukan, aku menangis dalam bisu tak tertahankan.
"Kau kira ayahmu menghadapi sakit seperti yang aku dan Thyoma alami!?" Dia mendongak melotot, matanya merah, "bukan hanya terbakar dan perawatan neraka!" Dia memiringkan kepala terguncang, seakan-akan dia mengutuk mengapa itu terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
Dia menjambak rambutku sampai panas. "Kedua orang tua kami hancur tak berbentuk! bayangkan !!!"
"Ku mohon, kendalikan dirimu. Ini tidak akan sepadan. Biar aku yang menghukumnya, Ars." Daniel dengan suara lemah gemetar, tapi Ars mengangkat tangan kirinya membuat gerakan melarang Daniel datang.
Mata Ars bergetar, "tulang tempurung tersisa separuh, itu milik papaku! yang tersisa hanya itu! dan lainnya hancur! bayangkan buruknya! ya!"
Bahuku terguncang naik turun menahan perih di dadaku, bulir bening mengalir membuat gatal, rasa asin, plastik, rasa pistol besi bercampur jadi satu.
Penglihatanku menjadi kabur tertutup embun. Air liur makin mengumpul oleh ketakutan dan mengalir membasahi gagang pistol yang miring, meleleh melewati bibir saya dan berjatuhan bersama air mata saya. Saya cegukan ketakutan tanpa bersuara. Kata-kata Ars yang serak jelas mengiritasi telingaku menjalar ke hatiku dan titik di bawah tulang rusuk menjadi sangat sakit oleh beberapa alasan yang tidak ku ketahui.
"Letakan itu, Ars. Bukan kamu yang harus merasakan ini. Aku disini Ars, lepaskan itu. Jangan mengotori tanganmu. Jika memang harus, saya akan melakukannya," suara Daniel serak.
"Diam, Artyom. Jika anda maju selangkah lagi, kutembak dia." Ars makin tampak kacau, memegang pistol dengan gemetar, salah-salah dia bisa tak sengaja menarik jarinya. saya bergidik melirik telunjuk Ars di depan trigger, nyawaku bergantung di telunjuknya yang bergetar, ya ampun ...
Di depanku emosi Ars terguncang dan bisa makin tidak terkendali, saya bernafas dengan putus-putus pendek, adrenalin pada kecepatan maksimum terutama karena gerakan telunjuk Ars, sedikit saja bergeser dan saya kira itulah akhir hidup saya.
"Anda tahu siapa Sergey Vladimir? dia papa saya. Orang paling berjasa dalam hidup ayahmu, mengangkat Alen yang yatim piatu dari got kotor di umur lima belasnya; melunasi jeratan hutangnya yang suka berjudi; mengunakan obat-obat-" suaranya serak, aku mendongak dari telunjuk dan beralih menatapnya saat dia menatapku dalam, bibirnya terbuka seperti keputusasaan.
"Dan kau tahu siapa yang selalu menolongnya? papahku sang dewa yang memeliharanya dengan sangat baik dan mengajarinya dengan ketrampilan dan kau tahu balasan apa yang didapatkan papa saya?!"
Ars meludah ke kiri dengan sangat geram, oh Ars sedang menceritakan biografi masa muda ayahku?
benarkah itu semua?
Obat-obatan judi. Guntur seperti menyambar ku, empedu ku seakan-akan pecah dan naik ke tenggorokkan saya, sangat pahit, lebih pahit dari segala obat yang pernah saya minum. Pahit!
Semua orang punya kehidupan, tidak ada yang sempurna. Namun, apakah omongannya terbukti? siapa tahu itu hanya omong kosong.
Atau itu memang kebenaran? dari tatapan Ars sepertinya : jujur. Saya menelan perlahan rasa panas yang mencekik laringku.
Aku menatap matanya sangat dalam dengan keputusasaan seraya tanganku meraih laras itu, dan Ars membelalak karena ulah tangan saya. Saya memindahkan ujung laras ke kening saya dengan gemetar. Persetan bila dia serius itu haknya. "Saya juga berhak untuk berbicara, Tuan Ars."
Tetesan liur di senjata jatuh ke hidungku, pandanganku terbatas karena senjata, tapi aku masih bisa mencari tahu tatapannya. Hati saya linu, saya tidak tahu harus apa, dan saya ingin mencari tahu dengan jelas.
"Semua orang berhak mendapat pengampunan, jika ayah ku melakukan itu. Namun saya meyakini bukan ayah yang melakukan itu, apakah anda telah bertanya langsung pada ayah saya? demi apapun saya yakin itu bukan ayah, apa buktinya?"
Suaraku bergetar, "ayah saya sangat lembut setiap waktu, tidak mungkin melakukan sekeji itu. Bahkan siapapun yang memukul ayah, saya tak pernah melihatnya untuk membalas. Itu mustahil," suaraku mengi dan aku menarik ingusku beberapa kali.
__ADS_1
Saya dengan tulus mutlak, meyakinkan Ars, "Saya minta maaf atas apa yang anda dan adik anda alami, saya tidak mengalami kesakitan luka bakar tapi aku tahu bagaimana menakutkannya itu, saya juga mengalami, bahkan anda pernah mendengarkan itu dari saya, memang tidak ada satu persen dari rasa sakit anda, tapi ... Ayo buktikan sama-sama, saya siap menggantikan sakit itu, Tuan Ars, tapi jangan bunuh ayah dan Kevin. Sekali lagi maafkan saya dan ayah saya ... "