Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 206 : PENCARIAN


__ADS_3

-POV Author-


Ars melangkah ke sebuah nakas di dekat kamar mandi, dia menekan interkom dan menyuruh pelayan membawa kompresan es batu. Dan kembali melewati kelinci kecil dengan kotak p3k di tangannya.


Sebuah telunjuk Ars, mengundang Lala dengan gerakan mengayun jari telunjuk, dan kelinci kecil duduk di depannya. Ars memperhatikan bibir mungil kecil pecah di bagian kiri bawah, dan bengkak. Ars memiringkan tubuh ke kiri membuka laci menarik kain halus dan mengulurkan pada Lala.


Wanita itu pasti telah menelan darah dari bibirnya.


Sekarang Ars terdiam saat Lala terlihat menahan bibirnya dengan kain halus, dan kain putih berubah noda merah, kelinci itu terus menunduk. Suruh siapa membuat masalah.


Menyentuh Lala yang menunduk, Ars menarik dagu wanita itu ke depan.


"Patung?" Ars menekan pipi, dengan bekas tamparan merah muda, perasaan dia hanya melayangkan satu kali, lalu darimana cetakan lain ini.


Mungkinkah wanita ini tidak memiliki rasa sakit, mengapa ini tak membuatnya, setidaknya merintih, atau hukuman yang diberikannya masih kurang.


Melirik mata Lala, Ars mendapati hidung wanita itu yang mengkerut, Ars bertanya-tanya apa yang ada di dalam pikiran wanita itu.


TOK! TOK!


"Tuan Ars, kami membawa es batu."


Ketika pintu terbuka, Ars menarik telunjuk kiri, tanpa menoleh dari pipi Lala.


Mata Lala bergetar menahan nyeri saat Ars menyentuh bekas pukulannya. Semakin bingung ketika seorang pelayang membawa -meja dorong- ke samping kanannya. Lala melirik Ars yang memeras handuk kecil dalam, dalam mangkuk es, sampai punggung tangan putih itu memerah terkena es. Tanpa menatap matanya, Ars menempelkan kain dingin itu pada pipinya.


Orang aneh. Batin Lala, semakin menggigit pipi bagian dalamnya, menahan dingin luar biasa, apakah untuk mengadu nyeri, tidak boleh. Lala bertanya-tanya sampai kapan dia harus terus menutup mulut.


"Hutan luar biasa?" tanya Ars.


"Menakutkan, tidak ada makanan, tidak ada tempat berteduh," sahut Lala sedikit ragu, apakah kalimatnya sudah singkat, padat dan jelas.


"Mau mencobanya lagi?" tanya Ars memperhatikan tangan kiri Lala yang memegang handuk kompres di pipi kiri. Dan tangan kanan memegang kain tipis, menahan darah dari bibirnya.


"Saya menyesal karena menyakiti diri sendiri dan membuat diri dalam keadaan lebih buruk."


"Dua hari tidak makan?" tanya Ars dengan satu alis terangkat.


"Saya makan cacing dan rasanya sangat buruk."

__ADS_1


Lala melirik sedikit, mendapati mata Ars tidak sedingin tadi, pria itu menyingkirkan setumpukan rambut gondrong yang menutupi mata, sepertinya rambut itu sering ke depan, sehingga Ars harus sering menyibak ke belakang.


TOK!TOK!


"Tuan Ars kami datang."


Lala mematung menghafalkan suara pelayan pria yang sepertinya asisten Ars. Pria paruh baya itu mengantar pelayan lain yang membawa -meja dorong-


Ars mengibas tangan.


"Baik, Tuan Ars. Selamat beristirahat."


"Saya memberi mu makanan. Dan Anda memilih cacing. Sekarang-" Ars menunjuk mangkuk di meja dorong. "Ambil bubur itu dan makan."


Ars mperhatikan bola mata Lala yang melirik ke kiri dan kanan masih menunduk. "Tidak mau makan atau mau cacing?"


"Tuan Ars, makanan itu," Lala menunjuk makanan di sudut meja. "Bolehkah, saya juga menghabiskannya?"


Mengangguk sangat kecil, Ars ingin tertawa, tetapi menahannya. Wanita itu begitu rakus setelah tidak makan dua hari, dan satu mangkuk bubur besar, tidak cukup?


Menarik Laci, Ars menarik dan membuka ponsel. Ketika wanita itu makan dengan kesusahan.


Ars melirik jam di ponsel, menunjukkan jam satu pagi. Matanya sedikit berat dan sempat terpejam. Dia teringat akan laporan semalam, bahwa babi hutan tengah memutari tubuh Lala semalam dan melakukan penyerangan.


Hampir saja, Ars saat itu kehilangan nyawa Lala dan bila itu terjadi ...


Tet... Ketika Lala ke kamar mandi,


Ars membuka mata dan bangkit, memperhatikan semua isi piring, telah habis tak bersisa.


Memasukan ponsel dalam Laci, Ars mematikan semua lampu, meninggalkan satu lampu kuning.


Mata Ars terpejam. Beberapa menit suara pintu kamar mandi terbuka.


Derap suara langkah kaki menggema perlahan. Walau mata terpejam, Ars meyakini wanita itu mengendap- ngendap seperti maling. Ars menyeringai.


Seperti mimpi baginya, Lala menepuk pipi, kemudian menahan nyeri, dia sudah minum obat anti nyeri yang dibawah bersama bubur.


Lala menoleh kanan dan kiri, lampunya padam. Jadi, Ars belum tidur? Lala berjalan dan duduk kembali di kursi depan nakas.

__ADS_1


Bagaimana cara aku mengambil hp Ars? haruskah saya menunggu dia tidur. Memutuskan menunggu beberapa jam dan matanya mulai berat, dia terkantuk-kantuk.


Ars terbangun jam menunjukan pukul dua, dia melirik ke samping kiri, wanita itu tertidur sampai kepalanya menggantung di udara, karena sandaran kursi sebatas punggung.


Perlahan Ars mengulurkan tangan kiri di belakang punggung mungil dan tangan kanan mengangkat lutut Lala, sangat ringan, seperti mengangkat kapuk.


"Richie..."


Alis Ars naik, dia menurunkan perlahan dan menyelimuti Lala di tempat tidurnya.


Melangkah ke dekat pintu kaca, Ars menekan sebuah tombol. Dinding kayu bergeser dan lampu redup langsung menyala di ruang sebelah. Dia meraih botol sampanye membawa ke sofa tidur.


Membuka penutup gabus, "Richie?" Ars menyesap perlahan, pikirannya melayang pada rencananya. Setidaknya, 'mereka' mulai pergerakan.


Sampai dirinya tak kuat menahan kantuk, Ars menaikan kakinya ke atas sofa.


...***...


Ketika semua korden telah terbuka dan cahaya matahari menerobos masuk, Lala menyesuaikan mata.


Seketika melempar selimut memperhatikan pakaian. Masih utuh kancing masih pada tempatnya, Lala menghela nafas lega.


Apakah Ars memindahkan saya? apa kami tidur satu ranjang!? oh tidak!


Rencananya gagal untuk mengambil hp Ars, gara-gara kantuknya. Dadanya mendidih, seharusnya semalam kesempatan itu datang.


Lala mendekati pintu balkon, alisnya berkerut melirik ruangan sebelah, perasaan saat itu tidak ada.


Tentu saja, sangat penasaran. Karena keingintahuan yang begitu besar, tanpa sadar Lala telah didalamnya.


Barisan botol minuman beralkohol berharga fantastis, terpampang rapih, lengkap dengan meja lounge. Ruangan ini sangat redup.


Mungkin para pria selalu memiliki bar pribadi? Mereka benar-benar membuang uang untuk membakar dan merusak hati mereka.


Tidak Kevin, tidak Richie, semuanya sama saja,  ya …


Kembali fokus pada pencariannya. Berharap ada sesuatu yang bisa membantunya. Di laci-laci, ke seluruh sudut ruangan, tentunya setelah mengamati tidak ada kamera di ruangan itu.


Tampaknya tidak ada. Perlukah dirinya mencari ke semua sudut rumah ini untuk sebuah telepon.

__ADS_1


Lala menggigit jari, ini akan sulit. Lala cepat-cepat kembali ke kamar, sampai sesuatu jatuh membuatnya tersentak, Jantung berdebar dan mau copot.


__ADS_2