Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 10 : SAMANTHA


__ADS_3

Jam makan siang adalah jam penuh kenikmatan karena seluruh pegawai Saint Mariano Grup bisa melepas penat setelah tugas bertumpuk-tumpuk yang menghabiskan seluruh energi mereka bahkan kerjaan mereka bukannya selesai malah semakin menggunung, pihak kantor sangat ketat terhadap jam kerja mereka.


Kegelapan menguar di ruangan delapan kali delapan meter, Billy yang berkali-kali berusaha memecahkan kesedihan si bos, namun tetap tak direspon, jangankan jawaban, tuannya malah semakin acuh.


Kevin mengunci mulutnya tanpa bersuara sampai Billy kehabisan cara, laporan diletakan di atas meja oleh Billy yang sudah putus dan memilih undur diri.


Di pintu lift Billy berpapasan Johan, dia berharap pada orang yang paling dekat dengan sang bos, "Tuan kambuh, dia dari panti Sinar Kasih."


_________


⬇️POV Johan⬇️


Menghampiri anak manusia yang tertunduk lemas tanpa gairah, aku berdiri di samping Kevin, "pergi ke panti? ini sudah tiga tahun."


Ku elus rambut Kevin dengan pelan, "Ini tidak benar bila menyalahkan semua wanita, hanya karena kemarahan mu pada mama Sheril dan Samantha."


Dia memegangi leher seakan ada beban berat di sana, kepala Kevin masih menunduk, tangan yang lain menyingkirkan tanganku dari kepalanya.


"kau terpuruk sampai kapan? bahkan mantan mu sudah bertunangan, mereka sudah mulai fitting baju pernikahan." Aku bergeser dan kami duduk berhadapan.


"Jangan melampiaskan pada Lala! ini bukan soal uang kan?"


Kevin sama sekali tak merespon, aku tak yakin dia mendengarkan omonganku, " ku urus Lala dan tidak mengijinkan untukmu menemui dia. Aku belum menyentuh dia karena hubungan kita."


Tangan Kevin mengepal. Oke dia masih menyimak, "kau nggak waras menjual dia ke Mafia Se*s, itu akan membunuhnya."


Aku mencoba memancingnya "jika mayat Lala yang kamu inginkan, kenapa tak kau bunuh saja sendiri?


"Aku ingin tahu perasaan kamu soal Lala, sampai sejauh ini? apa yang membuat dia spesial? kau kan tak pernah mau berurusan dengan perempuan. Kau yang menjaga gengsi, mau repot ke pelosok perkampungan?


"Kau biadap, pasti itu alasan mama Sheril tidak PEDULI padamu."


Kevin mengepalkan tangannya kuat. Ideku terlihat membuahkan hasil, " pertemanan kita berakhir! ku pastikan kau MENYESAL."


Blak!


Aku membanting pintu dengan keras meninggalkan Kevin sendiri. Semoga usaha membujuk Kevin akan berhasil.


_________


⬇️POV KEVIN⬇️


"Aghhhh!" mendorong meja sampai Komputer dan berkas-berkas penting jatuh berserakan.

__ADS_1


Saya meninggalkan kantor dengan pikiran kalut, tak mempedulikan orang-orang yang menunduk karena ketakutan.


Blak!


Pintu mobil yang mewah kubanting keras, saya menancapkan gas dengan kecepatan penuh.


Danau di sudut kota, lagi-lagi tempat ini yang di datangi. Turun dari mobil, kaki ini terasa berat untuk melangkah. Pandangan saya melesat jauh ke tengah danau, teringat saat menyelamatkan Samantha kecil yang hampir tenggelam di danau ini.Saya terus berjalan menyusuri setapak yang berujung ke sebuah kursi besi, bercat putih, di bawah pohon besar yang rindang.


Langit tanpa awan, terlihat begitu terang. cahaya siang menyilaukan namun tempat ini sangat rimbun dan menenangkan.


Sepoi-sepoi angin menyapu wajah dan rambut saya, bunga-bunga kecil bermekaran menghiasi sepanjang danau membuat segar di pandang mata.


"Air minumnya? dua ribu rupiah saja," lelaki tua menyodorkan air mineral.


Saya mengambil satu botol kemudian mengeluarkan dompet, semua lembaran merah sekitar dua juta rupiah saya berikan kepadanya.


"Recehannya saja," penjual itu menolak.


"Hanya ini yang ada, ambil, tak apa," Saya memberikannya, namun masih dia tolak.


"Minum, ini gratis." Dia duduk di tempat biasa saya duduk.


Aqua itu, saya memutar dan membuka tutup botolnya. "Bapak butuh uang kenapa gratis, anda bisa rugi."


"Tak apa. Kau terlihat sedang dibelit masalah."


"Iya, sejak dari mobil." Penjual itu terlihat meraih sesuatu dipunggug saya, ternyata itu daun."Jujur dengan diri sendiri, tanya apa yang paling kau butuhkan, anak muda."


Saya menoleh ke kanan, membenarkan apa yang dikatakan penjual.


"Waktu itu pendek, selagi ada waktu ... sayangi mereka! Pada akhirnya seperti daun ini kesepian karena kehabisan waktu, dan yang lebih menyakitkan dari waktu kamu tau? ... 'kehilangan'."


Lantas lelaki itu pergi, saya menatap kepergiannya. "Kehilangan? ya Samantha. Apa itu pilihanmu?"


___


Matahari mulai turun, saya terus melihat jam tangan. Lucu bila saya masih mengharap kedatangan Lala kemari.


Ya, saya telah mengenal Lala sebelumnya, tapi namanya Lisa bukan Lala. Kami bertemu di tempat ini.


Sejak ke rumah Lala, saat saya melihat dia tak mengenakan dress ... sat itu saya sadar jika Lala itu Lisa.


-Lala dengan gaun merah, Lisa penjual minuman di tempat ini yang berpakaian biasa-

__ADS_1


Ternyata itu satu orang, dia terlihat berbeda sampai saya tidak mengenalinya.


DEG


"Air mineral, roti, gorengan."


Orang yang paling saya hindari, masih datang ke tempat ini. Saya membelalakkan mata saat suara itu semakin dekat. Saya menunduk menyembunyikan wajah, tapi kenapa saya harus menghindar?


"Sudah di sini lagi, mas Vino! tumben pakai jas? seperti konglomerat saja!"


"Lama ya tak kemari ! dinas keluar kota ya mas Vino?dapat bonus dong," seloroh gadis itu lalu menempelkan sebotol mineral dingin di pipi saya. Jantungku berdetak cepat, saat gadis itu mulai memutari tempat duduk.


Kotak berisi gorengan itu jatuh terlepas dari tangan dia yang terlihat gemetar, "Kevin?"


"Lala, Lisa," sahut saya, kami lalu terdiam cukup lama.


"Jadi" Ucap kami bersamaan.


"Duduk lah" Saya terus menunduk dan memegangi leher yang terasa begitu pegal.


"Kenapa? apa kamu sakit?" Lala duduk di sebelah saya dan menawari dengan roti dan gorengan namun ku tolak.


Saya melihat Lala duduk tertunduk memainkan jemarinya, dia terlihat kecewa.


"Kevin, jika kamu memang Vino, kamu bisa menggunakan pundak ku seperti dulu."


Badan saya duduk lebih tegak, haruskah saya menurunkan Level dan bersikap seperti sebgai vino yang baik hati?


"Apa kamu sedang ada masalah? mungkin aku tidak bisa membantu, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik," lirih Lala.


"teman masa kecil mu? Samantha?"


Saya hanya diam.


"Boleh aku memijit kepalamu? itu bisa membantu menghilangkan pusing. Tapi aku tak akan menyentuh tanpa ijin."


Saya terus diam sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lala yang bertubi-tubi.


Ponsel terus berdering dan bergetar kubiarkan. Saya menatap danau tanpa bergeming dengan apapun, sampai matahari mulai terbenam saya masih seperti mayat hidup, hanya diam.


Sudah 5 jam berlalu, tanpa melihat saya tahu Lala sudah letih dengan duduk selama ini. Dia terus menunggu -saya yang hanya diam-, setiap Lala hendak pergi tanganku meraihnya.


Saya tahu pengawal dan Billy berada tidak jauh dari saya. Mereka tidak akan berani mendekati saya.

__ADS_1


"Kevin ini sudah mau gelap ! ayo pulang." Lala terus berteriak,"Aku Capek Kevin!"


Ini sudah mau gelap, benar kata Lala. Saya bangkit dan menarik tangan mungilnya. Dia terlihat kegirangan.


__ADS_2