Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 162 : PROYEK


__ADS_3

Breefing pagi dengan para manager divisi telah usai, ketika Lala melangkah pulang, melewati mobil truk yang tengah menurunkan kasur, lemari dan beberapa ibu-ibu berkumpul di pinggir jalan.


"Bu Lala selamat pagi, gasik ya ..." sapa salah satu tetangga dengan senyum hangat diikuti senyuman ibu-ibu.


Lala memiringkan kepala, tangannya menyingkirkan rambut ke belakang telinga."Pagi juga ibu-ibu, iya baru breefing anak-anak. Ada yang mau pindah ya bu?"


"Iya, nanti sore. Namanya, Bu Bianca pindahan dari kota."


Ibu-ibu tersenyum pada Lala dan kembali sibuk bercengkrama setah kepergiannya.


...**...


Pertemuan antar pengusaha lokal rutin diadakan tiap bulan. Hari itu, mereka berkumpul di sebuah restoran pinggir pantai, tentunya Lala membawa Vino di pertemuan santai.


Mereka memesan makanan sambil bercengkrama, berbaur saling mengkolaborasikan antar bisnis mereka.


Di sofa yang dipadukan memanjang mereka duduk saling berhadapan. Tua-muda, lelaki-perempuan, mereka menjalin kedekatan sudah seperti keluarga sendiri. Mencari link untuk semakin mengembangkan usaha mereka.


"Ayo mba Lala nyalon ketua umum tahun depan." Seorang ketua umum yang kini sedang menjabat menawarkan Lala di depan anggota, disambut sorakan yang lain mengangkat dan mengepalkan tangan mendukung menyemangati Lala.


Lala tertawa ringan, "saya jadi anggota saja, Tum. Silahkan yang lain banyak yang mau nyalon, tuh."


Mereka tertawa dengan hangat.


"Silahkan teman-teman yang mau bersinergi dengan mba Lala, seperti yang kita tahu baru-baru ini mba Lala ini baru memulai usaha pemandian air panasnya, mungkin bagi teman-teman yang memiliki produk bisa ikut bergabung disana."


Lala berpandangan sesaat dengan sekertaris organisasi pengusaha itu, lalu beralih memandang ke seluruh anggota yang sedang duduk,"Ya benar apa yang dikatakan Sekum. Kebetulan di dalam area masih ada slot etalase, yang memang sengaja saya khususkan untuk teman-teman pengusaha dan itu gratis."


Teman-teman pengusaha itu manggut-manggut di sambut tepuk tangan, mengetahui cukup banyak produk UMKM dalam komunitas pengusaha itu.

__ADS_1


"Boleh tau pengungjunya sampai berapa mbak Lala?" tanya seseorang pemuda yang paling aktif.


"Untuk sementara, di pembukaan masih 5000an pengunjung sehari, mas Tito. Kebetulan rencana ada pembangunan dua kolam besar lagi, siapa tahu teman-teman contractor mau ikut bergabung, kami dengan senang hati menantinya," kata Lala percaya diri dengan senyuman manis. Para anggota melihat takjub, ingin selalu tersenyum bila Lala mulai berbicara, wanita itu penuh daya tarik yang terpancar dari dalam diri.


Sampai seorang yang duduk paling ujung dan paling jauh masih bisa menagangkap pesona yanng memikat seperti magnet kuat."Apa juga buka pendaftaran untuk menjadi ayahnya Vino?"


"Hum! hum!"


"Macan beraksi!"


"Lanjutkan!"


Gelak tawa terdengar diantara mereka.


"Sampai sekarang belum membuka pendaftaran mas." Lala berkata dengan senyum hangat tanpa bermaksud menjatuhkan, dan para anggota justru menyemangati pemuda itu agar maju terus pantang mundur.


Vino yang dasarnya tidak cengeng, jadi bahan uyel-uyelan mereka. Sampai makanan tiba para anggota masih bercanda dan terus tertawa. Dan pada agenda utamanya, arisan.


...***...


Di sisi lain restoran, di ruang vvip seorang pejabat kembali bercengkrama setelah sekembalinya Johan dari toilet.


Pejabat itu melonggarkan dasi. "Dik, Johan. Central Market sedang mengalami kebangkrutan. Setelah manager keuangan masuk penjara karena korupsi besar-besaran dan, terlebih dia tidak bisa mengembalikan uang korupsinya, meninggalkan hutang banyak. Minggu depan akan dilelang, sayangkan bila jatuh ke pengusaha lain."


"Memang, jika dilihat dari segi lokasi. Sebenernya prospeknya sangat bagus, saya kira, saya akan mengakuisisinya." Johan berkata dengan tenang saat dua tangannya saling melipat.


Baru beberapa kali bertemu bupati kota itu sepertinya pejabat didepannya sangat semangat berbisnis.


Mengetahui banyak prospek menjanjikan di daerah itu, setelah sebelumnya Johan berhasil memenangkan proyek lelang pembuatan Mall di tepi pantai.

__ADS_1


Kini pejabat itu masih menawarkan banyak proyek. Tentunya bukan menjadi rahasia umum, bila ingin banyak proyek dekatilah sumbernya. Dan ditangan pejabat itu sumber proyek, banyak sekali proyek pemerintah dengan sesuka hatinya dia alihkan kemana saja.


Pihak kontraktor yang baik, menyisikan sebagian persen untuk pejabat, itu adalah kerja sama yang saling menguntungkan.


Dan dari Johan, pejabat itu lebih banyak mendapat persenan dibandingkan dengan pengusaha atau kontraktor lokal lain.


"Terlebih di dekat Central Market akan dibangun jalan tol, disana pintu keluarnya, pasti akan semakin ramai," kata pak Bupati.


"Siapa Main Contractor jalan tolnya?" tanya Johan.


"Martini Group."


Johan tertawa, Dunia memang kecil.


"Dua hari lalu saya baru bertemu dengan beliau beserta istri dan anaknya, mengingat proyek jalan tol sudah mulai jalan, kemungkinan beliau sering bolak-balik kota ini. Apa anda mengenal beliau?"


Cangkir putih bermotif itu kembali diletakan Johan setelah dia menyesap dengan penuh kenikmatan, "ya, dia seorang teman lama saya, mungkin saya akan menyapanya kembali. Yang saya tahu terakhir, dia menetap di Inggris."


"Oh, ngomong-ngomong Inggris. Warga kota sedang pada antusias dengan seorang janda pindahan Inggris. Janda itu mengajarkan banyak ketrampilan pada warga setempat lalu karena itu saya membawa janda itu ke tempat para pengusaha, agar mereka lebih saling bersinergi."


"Wah, anda terlihat seperti kasmaran Bapak Bupati, ingat istri di rumah."


Bupati itu tertawa, dan semakin tersipu. "Asal nggak ketahuan istri tidak apa-apa kan?" Pejabat itu mencoba berkelakar.


Mereka tertawa.


Dua tangan pejabat itu saling bertautan mencoba membangun hubungan lebih dekat dengan contraktor besar di depannya,"jadi apa anda juga mau ikut komunitas itu? tidak salahnya dicoba, saya juga jebolan dari sana. Siapa tahu anda juga nantinya ingin menjadi Pejabat, jika begitu jangan lupa dengan saya, ya."


Johan tertawa menatap intens pejabat yang usianya sepuluh tahun diatasnya. "Bapak bisa saja, saya terlalu sibuk untuk jadi pejabat. Sepertinya ide bagus, untuk saya bisa mengenal pengusaha lokal."

__ADS_1


"Kebetulan mereka sedang melakukan pertemuan di tempat ini, tapi lain kali saja, ya? Tidak perlu terburu-buru. Bukankah anda juga cukup lama di kota ini.


Sang pejabat tidak mau hilang kesempatan berbisnisnya, dan itu untuk jangka panjang di tengah masa jabatannya yang tinggal satu tahun. Sebenarnya dia ingin bertemu Bu Lala di komunitas itu, tapi proyek ini jauh lebih penting.


__ADS_2