Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 246 : HARAPAN


__ADS_3

Suara keributan memecah suasana yang tadi hening di sepanjang koridor, di rumah sakit Tampa-Miami.


Para anak buah Richie menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan. Di belakangnya ada Richie dan Johan yang lari bersamaan. Beberapa perawat langsung menyingkir dan terburu-buru menggeser rak steinles beroda ke tepi, memandangi gerombolan para lelaki ras barat.


 Richie dan Johan gelisah saat mendengar Lala mulai bereaksi dengan racun. Dan itu dimulai setengah jam, setelah Lala terpapar racun.


Dokter bilang Lala melepas jubah mandi terus bergulung-gulung kesakitan di lantai seperti binatang, menggeliat dan menggaruk leher dan bahunya dan bilang merasa sakit di punggung.


Wanita itu berteriak histeris menunjukkan gejala kepanasan, kesakitan, dan berkeringat berlebihan sampai basah kuyup. Perawat menanganinya, wanita itu terus kejang-kejang sampai kemudian tidak sadarkan diri.


Richie berkonsultasi dengan dokter untuk mengevakuasi Lala ke Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman. Namun, dokter belum mengijinkan karena kondisinya yang tidak stabil.


Dokter menyatakan kemungkinan besar pasien telah diracuni oleh antipsikotik atau neuroleptik dan bahwa bahan kimia industri seperti 2-ethylhexyl diphenyl phosphate ditemukan.


"Tekanan darah juga menurun rendah bersamaan dengan detak jantungnya. Seiring waktu, paparan zat kimia ini juga menyerang sistem pencernaan yang mengakibatkan pasien mual dan muntah.


"Juga mengenai otot pernapasan, pasien kekurangan oksigen, gagal nafas,  kelelahan ekstrem karena bergerak terus-menerus, sama sekali tidak ada fase istirahat. Racun ini memang berbahaya sekali.”


"Pasien terus menderita kejang, kelemahan neuromuskular, kami berupaya meminimalisir kegagalan fungsi hati dan kerusakan lainnya.


"Lebih parahnya lagi, ini sama sulitnya untuk membersihkannya, karena bahan kimia yang digunakan tidak dapat ditentukan secara pasti. Dan Kami sudah mengirim sampel ke laboratorium untuk diteliti.


"Karena, bahan kimia ini mempengaruhi otak. Mereka yang ikut terpapar juga mengalami kejang-kejang dan kehilangan kesadaran.


"Tapi kalau pasien sudah mendapat atropin, ini akan melawan agen saraf, meskipun itu mungkin berarti memperpanjang komanya. Racun itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk terdegradasi di hati.


Setelah memperhatikan penjelasan dokter dengan seksama, Richie dan Johan tertunduk dan terduduk lemas. Tulang-tulang terasa seperti kapas, apa yang paling dihindarkan dari awal justru tak dapat dielakkan.


Tanpa peringatan apa pun, kehidupan terasa dilemparkan ke dalam kekacauan disekitar ICU, setidaknya itu yang dirasakan Johan dan Richie sekarang, sesekali mereka berpandangan, sesekali mereka mendengus kesal dan hanyut dalam kegelapan.


Kepala Richie terlempar ke belakang, memukul ke tembok, matanya menatap paflon rumah sakit dengan tatapan kosong dan sesekali terpejam saat kepalanya terasa berputar tidak mempercayai semua ini.

__ADS_1


Dia harus ke Jerman meninggalkan kekasihnya, karena harus mengurusi paman Jin yang sudah seperti ayahnya. Sekaligus mengambil cincin paman Jin sebelum Pasukan Sayap Kanan benar-benar mengeksekusi ke dua putra Sergey.


Paman Jin, sudah mewanti-wanti saat dipertemuan terakhir, apapun situasinya, paman memintanya untuk melindungi Ars dan Daniel dari serangan Pasukan Sayap Kanan yang membelot.


Lapochka, Risaa ... Risaa ...jangan begini, bertahanlah, Lapochka. Risaa ... sayangku, Lapochka ... kamu bisa, tolong Risaa, maafkan saya sayang, aku menyesal meningalkan mu sendiri. Maaf ... Kembalilah sayang.(Richie)


Sulit menahan getaran di kepala, tenggorokannya terasa ada benjolan besar yang meremas laringnya, begitu panas sampai ke ulu hati. Kalau, kalau saja dirinya bisa lebih cepat sedikit, mungkin seseorang yang paling dicintainya tidak akan kesakitan.


Hati Richie merasa begitu ngilu, mengapa harus Risaa, mengapa. Seakan-akan empedu dari dalam dirinya pecah, sangat pahit, begitu pahit saat melihat wanita yang paling dikasihinya terbaring lemah dengan ventilator diantara selang-selang. Bibir Richie gemetar, kukunya menusuk paha, ingin rasanya dia membu..nuh Bella, jika bukan permintaan Lala untuk menyelamatkan Bella.


"Oh Risaa!" Richie meremas kening dan matanya yang terpejam. Kepala rasanya seperti mau pecah.


Sementara, Johan yang duduk di samping, kedua tangan menjambak rambutnya sendiri saat membungkuk sampai kening mendekati lutut, menatap lekat-lekat lantai parket.


Johan menyalahkan diri sendiri. Seharusnya, tidak membiarkan Lala sendirian. Sehingga tragedi ini tidak akan terjadi. Hati bergetar, mengingat berapa banyak air yang sudah dituangkan ke punggung wanita itu untuk dekontaminasi.


Dering suara ponsel tidak dihiraukan Johan, tampaknya orang-orang di koridor ... tidak ada yang peduli, termasuk asisten Richie, Damar, yang juga merasa gagal dalam misinya.


**


Dua hari kemudian Lala diturunkan dari dalam pesawat dengan -tandu tertutup- di rumah sakit Charite, Berlin.


Wanita itu dalam keadaan koma yang diinduksi secara medis. Secara mental Richie dan Johan terombang-ambing dalam keputus-asaan.


Dalam ketidakpastian karena tidak mengetahui apakah Lala akan bertahan, membaik atau memburuk, jika harus menghadapi kematian dan kehilangan. Kejutan, kesedihan, harapan, semua berputar-putar di kepala Richie di sepanjang hari demi hari saat kondisi Lala belum ada perubahan.


Seringkali, dokter tidak mengetahui hasilnya, sehingga dirinya tidak punya pilihan selain menjalani hari demi hari, hanya fokus pada momen yang ada. 


Richie dan Johan membuat pengaturan praktis untuk mengunjungi ICU setiap hari. Setiap sore Richie datang ke rumah sakit, menggantikan Johan yang berjaga pagi sampai sore. Sedangkan Johan setiap malam tidur di tempat -Anak buah Richie- yang tinggal sendiri tanpa keluarganya, letaknya tidak jauh dari rumah sakit, sebatas untuk mengistirahatkan selang-selang otak Johan yang carut marut.


Richie dan Johan adalah satu paket dan kompak, bila sudah menyangkut satu wanita itu. Terlepas hubungan mereka dimulai dengan pertemuan yang sangat tidak mengenakkan.

__ADS_1


Kini waktu mereka, karena seluruh keberadaan mereka terfokus sepenuhnya dengan harapan besar untuk kesembuhan Lala di samping terus mencari dokter terbaik untuk memastikan tidak sampai meninggalkan cacat pada tubuh Lala, apalagi sampai kerusakan parah.


Dokter Jerman mengatakan bahwa jika pun Lala sembuh, efek yang bertahan lama tidak dapat dikesampingkan.


Johan baru keluar dari ruang ICU, dia menendang tembok berkali-kali, sudah tiga minggu, bahkan kondisi wanita yang paling dikasihinya naik dan turun. Johan memukul kening pada tembok dengan nafasnya yang pendek cepat, dia sudah tidak tahan lagi, giginya meringis dan hidungnya kembang kemis dengan mata memanas bibirnya bergetar.


Ketika tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pasang surut yang konstan terasa seperti 'roller coaster' emosi - kelegaan dan harapan ketika Lala menunjukkan tanda-tanda perbaikan atau bahkan stabilitas, tetapi ketakutan, kesedihan dan kecemasan ketika Lala embali ke krisis mendekati kematian.


Bibirnya berkedut, menyalahkan pada sang Dewa untuk menukar posisinya dengan Lala. Johan mulai menahan isak memukul kening pada tembok dan tubuh memutar belikat menempel pada tembok lain dan jatuh merosot.Lutut kanan tertekuk menjadi tumpuan tangannya yang mengepal kuat. Rasanya, paru-parunya tenggelam dalam cairan pekat hitam, susah sekali dia untuk menarik nafasnya karena semua diliputi oleh kemarahan dan penyesalan.


"Lalaaaaa!!!!!" teriak Johan tanpa suara, sampai mulut itu terbuka maksimal menghilangkan rasa sesaknya. Bahu terguncang, gatal di pipi karena cairan bening menggelitiknya dengan rasa asin.


Memikirkan masa depan khawatir akan hidup tanpa Lala yang dia cintai atau menghadapi Lala yang cacat, rusak otak, atau lumpuh. 


Semua terjadi begitu cepat dan tidak terduga, rasanya tidak nyata atau tidak nyata pada saat itu dan kadang-kadang bahkan ini sangat tidak mungkin di pikirannya.


Beberapa kali ketika Johan marah ketika berada di bangsal, dan berhenti merasa malu karena terlihat buruk dan menangis di depan umum dan tertawa sendirian. Itu tidak masalah. Dia merasa ketakutan.  Benar-benar takut bahwa ...?


Terkadang Johan kelelahan secara mental dan merasa mati rasa ...


^^^Saya tidak akan pernah kehilangan harapan. Tapi saya benar-benar percaya bahwa jika dia akan mati, dia akan mati di lapangan. Maksudku dia mati dua kali di lapangan dan mereka membawanya kembali. Orang-orang helikopter, petugas medis, membawanya kembali. Dia hampir mati di sana di rumah sakit tetapi mereka membawanya kembali. Jadi jika dia akan mati, maksudku dia bukan kucing berdarah kan? Dia pasti sudah mati di lapangan. ^^^


"Dia tidak akan mati. Dia pasti sudah mati berabad-abad yang lalu jika dia akan mati


"Aku bilang dia tidak akan mati."


Johan benar-benar merasa kekosongan yang membuat kepalanya akan hanyut dalam peperangan ketakutan dan kecemasan. 


Saya pikir jika dia akan mati saya akan merasakannya dan saya tidak pernah merasakannya, bahkan ketika dia berada di titik terendah saya tidak pernah merasa bahwa dia akan mati. 


 

__ADS_1


 


__ADS_2