
-POV Kevin-
Di kamar, Saya memandangi laptop, memeriksa kembali laporan kantor yang semua di hadle Lyra. Lyra asisten pribadi yang khusus menangani perusahaan di kota ini memang cukup bisa dihandalkan, bahkan untuk urusan kantor wanita itu sangat berkompeten, karena kehandalannya jauh di atas Billy. Wanita itu sangat teliti pada sekecil apapun kesalahan dan apalagi sebuah kecurangan.
Saya tersenyum kecil, sesekali menoleh ke kiri untuk melihat istriku yang tidur lebih awal. Dokter bilang istri ku terlalu setres, ‘apa yang kamu cemaskan, Babe? ayah Alen sudah bersama kita kan?’
Sepulang kuliah, saya tak berlama-lama di kantor, hanya menandatangani berkas dan mengaprrove beberapa proposal dan cashflow. Saya tak tenang meninggalkan Lala lebih lama, sebab Lala mau menemui Johan, terlebih tidak ada penyadap yang bisa merekam percakapan mereka. Beda seperti saat Lala dinner dengan Johan karena saat itu cctv online merekam aktifitas mereka, setidaknya itu cukup membuat saya tenang saat itu.
Saya begitu khawatir bila Lala akan meninggalkanku dan memilih Johan.
Setelah Lala menyiapkan makanan tadi sore, istriku ijin ke kamar dan meminta agar saya dan Johan makan terlebih dahulu . Sampai makanan itu habis, Lala tak kunjung muncul. Saya yang mengira Lala tidur, bergegas kembali ke kamar dan justru mendapati kamar mandi itu terkunci dengan suara shower memancur. Saya kira dia tidak mendengarku, cukup lama saya menunggu, hati ku pun tak tenang karena Lala tak menjawab. Saya mengancam akan mendobraknya, tetap tiada jawaban dari dalam.
Saya mendobrak pintunya. Saya membelakan mata dengan jantung saya berdebar kuat, mengejutkan saat saya mendapati dia terduduk dibawah guyuran shower. Dalam kondisi dia tidak sadar dan bibir telah membiru dan wajahnya sangat pucat.
Richie memanggil dokter wanita, yang tersedia di markas. Saya dan Richi menunggu Lala, selama dokter Observasi. Saya melihat Richie mondar-mandir dan matanya berkaca-kaca di depan saya membuat saya kesal dibuatnya.
__ADS_1
Beruntung bayi-bayi itu baik-baik saja.
Dini hari, saya mendengar tangisan memilukan dan memekakan telinga yang bercampur teriakan, saya mengerjapkan mata mengenali suara itu dan bukan lain suara Lala membuat saya langsung tersadar sepnuhnya dan kantukku hilang seketika, saya tak mengerti dia mimpi buruk atau mengigau.
Saya menjagal tubuhnya, tangan dia terus memukul-mukul tak beraturan sampai. Saya menggigit bibir bawahku, saya takut pukulan Lala itu mengenai kehamilannya.
“Ahh..ahh, ahhh, ahh. Tolong aku. Ahhh!!.”
“Lala, bangunlah, Babe, sadarlah,” Panggilku gemetar, dan saya menghapus air matanya dam terus menepuk-nepuk pipinya, wajahnya pucat, dia ketakutan seperti melihat hantu, panggilan saya sama sekali tak diresponya.
“Jangan sakiti aku!! Seseorang, tolong, aku!! Ahhh! Menjauhlah dariku!!”
Paginya, saya terbangun karena suara rintihan memilukan. Tubuh dia begitu bergetar, dia meringkuk dengan isak tangisnya yang tak terkendali. Saya memeluknya dari belakang, dia semakin histeris. Saya terus menanyakan mengapa dia seperti itu, dia tak mau menjawabnya.
Dia tak mau memakan sarapanya, makan siangnya. Richie mencoba membujuknya bahkan mau menyuapinya, tapi dia tak bergeming. Dia justru semakin histeris setelah sepeninggalan Richie.
__ADS_1
Psikiater telah didatangkan dan mencoba memeriksanya. Hari itu seharian saya menunggui Lala, tak kuliah, memonitor kantor dari kamar. Alen telah mengajak telepon Lala, dia tak bersuara. Saya juga mendatangkan Johan, itupun tak berhasil. Semua orang kebingungan menghadapi Lala hari itu.
Sebulan berlalu …
Tiada perubahan signifikan pada Lala. Johan telah kembali ke negaranya. Istriku terus mengurung diri dikamar. Saya memantaunya lewat cctv saat di luar, dan saat dia sendiri, dia sering menangis, bahkan mencoba menyakiti dirinya.
Saya menyiapkan ruang perinatologi sekaligus dokter perinatologi di kediaman. Istriku benar-benar tak mempedulikan bayinya. Terkadang dia marah-marah dan memukul semua orang di sekitarnya. Namun, dia tak pernah melukai saya.
Sampai dokter-dokter itu memberi tahu saya, jika bayi-bayi itu mulai stres, obat-obatan hanya bekerja sedikit. Harapan saya mulai hancur bersamanya. Mama Tiara yang mengetahui itu cucunya pun datang dan saya menyuruhnya tinggal sementara disini. Saya sudah tahu dahulu mama Tiara turut berkonstribusi besar pada saat penyembuhan trauma Lala. Sekarangpun kami berharap itu bekerja.
Sebulan kemudian … kehamilannya sudah menginjak usia tujuh bulan. Kami mulai pupus harapan...
Ayah mertua, papa Anton, bahkan ayah Johan dan Kakek Lewis, mereka semua memberikan saya kekuatan, dan mereka mencoba mengajak bicara Lala. Kami berharap ada keajaiban di depan mata. Kami begitu mengkhawatirkan kondisi si kembar.
Berat badan Lala menurun,itu sangat buruk, wajahnya sangat pucat, dia mencabut infus itu begitu dia siuman setelah beberapa hari dia hanya mengomsumsi sepotong kue, itupun harus menjagalnya, walau dia terus menyemburnya, kami terus berusaha agar dia tetap menelannya.
__ADS_1
Hati kami begitu tercabik, saat kami harus mengikat Lala karena dia berusaha menyakiti kandungannya. Dia terlihat lemas dan lesu. Apa ini karma untuk semua dosa-dosa saya yang telah begitu banyak menghilangkan nyawa.
Tidak. Saya tidak percaya itu.