Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 141 : PENJEMPUTAN


__ADS_3

Mirador Ciernos Del Paine adalah tempat paling indah yang menjadi daya tarik wisatawan selain 3 menara Torres Del Paine.



Setelah mendaki Di depan danau biru, Lala merangkul pundak Ivy. "Ivy, mamah ingin bertanya sesuatu."


"Tanya tinggal tanya, mama bikin penasaran aja."


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari mamah?"


Sepatu yang baru di lepas ivy, di jungkirkan, membuang pasir yang di dalam sepatu. "Ivy menyembunyikan apa emang? mamah ada-ada aja, untuk apa Ivy menyembunyikan sesuatu.


Danau hijau dipandangi Lala dengan mata kosong, "mamah pulang besok."


"Ikut mah! Ivy mau pulang saja."


"Loh, kan kamu masih liburan, untuk apa pulang?"


Ivy menyandarkan ke bahu sang mama, "tidak ada papah, nggak seru."


"Dasar anak papah, yaudah besok Ivy pulang bareng mama!!" Lala mengusap pipi Ivy, bibirnya tersenyum menatap lekat-lekat manik mata hijau itu.


Diantara yang lain, wajah Ivy paling mirip Kevin. Bibir indah, alis tebal dan hidungnya yang mancung, ditambah bulu matanya yang lentik. Hanya saja di bawah ujung mata Ivy terdapat tahi lalat kecil. Namun terkadang tersamarkan oleh bingkai kaca mata.


...🇨🇱🇨🇱...


"Hahhh... hah... hahh..." Nafas lalah terenggah-enggah, dia melepas masker mulut dan hidung, justu bibirnya terasa semakin membeku, sementara suhu sangat dingin di Glaciar Grey, rasanya benar-benar mau mati.


Sementara Lala dan Johan cukup ketinggalan jauh di gua es satu arah itu.


"Ayo aku gendong." Johan menepuk-nepuk punggung.


"Nggak Jo, jalan saja hah.. hah.." kata Lala, memandangi nafas nya yang terlihat di tempat dingin.


"Lihat bibirmu mulai membiru, kau bisa hipoterma.Berikan bibirmu."


Tanpa pikir panjang Johan memagut lembut bibir Lala yang sedingin es batu. Lala yang masih terengah-engah, menerima kehangatan.


Kepala Johan tiba-tiba kosong menikmati moment ciumannya, walaupun ini bukan tujuan utamanya.


Betapa cantiknya kamu Lala, saat ciuman.Batin Johan melingkarkan kedua tangan di pinggang ramping Lala.

__ADS_1


Setah 21tahun lebih dirinya bisa memeluk dan mencium Lala seperti ini.


Johan tetap memperhatikan sekitarnya waspada takut bila anaknya melihat ini.


Apa teknik ciumanku begitu buruk? Ah memalukan! sudah lama sekali aku tak melakukannya, selain terakhir hanya dengan Lala. Apa Lala mau ciuman yang lainnya?Aku harus melakukan apa setelah ini? Apa dia membalasku? mengapa ciuman Lala begitu hebat? apa aku salah sangka, pasti ini hanya kemarahannya pada Kevin kan? apa dia hanya terbawa suasana? atau hanya karena dia berusaha menghilangkan dingin? Batin Johan dia sedikit tersenyum melihat mata Lala yang terpejam dan begitu jago membalas ciumannya.


...



...


Lala menarik dagu, melepas ciuman Johan dan menjauh. "Apa bibirku masih biru?" tanya Lala datar.


"Sudah berkurang."


Lala berjinjit dan meraih bibir johan lagi, jambang yang terawat membuatnya geli, dia meraih kehangatan itu, entah dengan perasaan marah atau apa.


Mengapa jantungku tak berdebar saat mencium Johan? batin Lala.


Lala menjatuhkan tongkat, mengalungkan tangan di leher Johan yang super tinggi itu, menjadikan pegangannya sebagai tumpuan. Dia melepas ciumannya sejenak, "apa aku tak menarik?" tanya Lala datar.


Pertanyaan itu membuat Johan menaikan satu alisnya, "jadi ini karena Kevin? hah!" Johan melepaskan tangan Lala dari lehernya tapi wanita itu menahannya kuat.


Johan mengusap pelan, "apa ini begitu sakit? kau mau aku menyelesaikan ini semua? dan langsung membawamu ke Indo tanpa harus bertemu Kevin lagi? aku lakukan bila kamu mau," katanya, menatap lekat-lekat mata biru langit Lala.


Nafas Lala tertahan, tenggorokannya tercekat, dia bahkan tak tahu caranya pergi dari Kevin bagaimana. Lelaki itu pasti tak akan mau melepasnya.


"Bagaimana anak-anak ku? apa aku salah bila aku berpisah dengan Kevin, mengapa aku begitu menjijikan dan tak berguna," katanya pada Johan seakan meminta jawaban.


Kedua tangan Johan memegangi kepala Lala, jempolnya menempel pada pipi Lala, membiarkan telinga Lala diantara jempol dan telunjuknya.


"Jangan pikirkan orang lain, tolonglah dirimu dulu.Paham? percaya pada ku. Kamu sudah terlalu lama bertahan.Yakinlah ini waktunya, anak-anak pasti akan mengerti. Jangan sakiti dirimu lagi. MENGERTI?" tegas Johan dengan kening menempel pada Lala. Wanita itu mengangguk. Johan memakaikan masker penutup bibir dan mulut Lala.


Mereka berjalan dalam keheningan melewati gua es.


...🇨🇱🇨🇱...


Setiba Lala di hotel terdekat terdapat dua mobil asing terpakir. Pintu itu terbuka. Orang-orang bermantel hitam dan sarung tangan hitam keluar dari mobil dengan mata tertuju ke arah Lala.


Johan menutupi tubuh Lala saat orang-orang itu mulai menghampiri kearahnya.

__ADS_1


"Mamah," kata Isla dan Ivy bersamaan saat mamah sudah di kelilingi orang-orang itu.


"Nyonya Saint Mariano, ikutlah kami,"kata orang berwajah oval dengan rahang tegas dan berkumis, matanya sangat tajam, dan rambutnya sedikit berponi.


"Ada apa ini, kalian darimana?" tanya Johan dengan badan tegap, tangannya sudah ancang-ancang ke belakang akan mengambil sesuatu di pinggang.


"Angkat tanganmu," kata sang pemimpin yang berdiri di tengah, dan para pengikutnya menodongkan senjata ke arah Johan, membuat Johan mengangkat kedua tangan dengan perlahan.


Ivy yang baru datang berlari mendekati, sampai tubuh Lala terdorong Ivy, "mamah siapa mere_" belum sempat Ivy menyelesaikan kata-katanya, Ia langsung mengenal simbol kecil di baju mereka di bagian dada. "Kalian anak buah, Om Richie..."


Sang pemimpin, matanya terbelalak, "bagaimana kau bisa tahu?"


"Richie? oh jadi kalian anak buah Richie? dimana dia?" tanya Johan jauh lebih santai membuat sang pemimpin menatap lekat-lekat mata Johan.


"Tuan Richie? kenapa kalian akan membawa saya?" tanya Lala, dadanya mulai terasa sesak saat mengingat pertemuan terakhir dengan Richie.


Lala yang sempat telpon Richie tidak diangkat, tanya pada kepala pelayan Richie pun tidak diangkat.


Mengapa justru jauh-jauh terbang antar benua dan untuk menjemput? Lala semakin merasa ganjil. "Oke bawalah aku."


"Mah ikut," kata ivy sambil memegangi lengan Lala yang sudah maju dua langkah.


"Tidak, kamu disini dengan Om Johan."


"Tidak! Ivy mau ikut."


"Hei, mengapa kamu tidak menjawab ku? kemana Richie?" tanya Johan.


"Urusan kami bukan dengan anda," katanya, dia memberi kode dengan jarinya, membuat orang-orang itu menyilakan Lala berjalan.


Langkah Lala terhenti, "aku harus ambil ponsel.


"Anak buah kami akan mengurusnya," kata sang pemimpin, memberi kode lagi dan menyilakan Ivy mengikuti.


Sementara Johan di tahan sang pemimpin. "Jangan ikut campur, mereka aman bersama kami. Bersikaplah seperti tidak ada apa-apa, mengerti?" tegas sang pemimpin dengan penuh penekanan, "datanglah sendiri ke markas, jika kau penasaran," imbuhnya lagi, menatap begitu tajam dan meninggalkan Johan.


"Om, mamah!" seru Isla dan Irish.


"Tidak apa-apa, tenang ya," kata Johan merangkul bahu Isla dan Irish, menatap kepergian Lala dan Ivy yang di bawa masuk ke mobil sedan. Dan mereka melaju begitu kencang, semakin tak terlihat dalam dalam hitungan menit di jalan lurus.


bersambung ... *** terimakasih para pembaca, pengumunan novel bagus nih , mampir ya ...

__ADS_1



__ADS_2