
⬇️POV JOHAN⬇️🏀
Pikiranku kosong melayang entah kemana.
Bayang-bayang setiap senyuman Lala, memeluknya membuatku rindu. Otak seperti mau meledak.
Bersama Lala dan Alen saat itu begitu menyenangkan. Suatu kebahagiaan saat berada di antara mereka.
Tak pernah kubayangkan kebahagiaan itu hilang dalam sekejap.
Empat bulan lalu, berminggu-minggu aku disekap musuh, rasanya seperti di neraka. Tak hanya fisik tetapi juga mental. Pikiran bahwa aku tak akan pernah bebas, sedikit demi sedikit membuat aku kehilangan kontrol.
Aku senang bisa pulang ke rumah. Di saat yang sama, aku tak tahu apa yang akan terjadi saat itu dan bagaimana aku menjalani hari tanpa Alen dan Lala. Aku tak tahu harus bagaimana.
Kesedihan menguburku, mama mendatangkan psikiater, tak elak justru mematik api kemarahan dalam diriku. Mereka mungkin tak akan tahu rasanya di tinggalkan.
Saat aku merasa sedih, cemas, dan tertekan. Ketika aku mulai menderita rasa sakit dan kecemasan. Dan ingin menjangkau seseorang yang aku cintai. Aku memerlukan pelukan, belaian dan dekapan Lala melebihi apapun, tanpa itu aku merasa mati.
Keluarga ku kompak memberi tahu ku bahwa mereka ada disisi ku tapi aku merasa begitu kosong. Mereka mencoba mengalihkan pikiran ku dari Lala. Tidak semudah itu.
Aku tegar di depan mereka saat -rasa sepi- terus menggerogoti dari dalam diri. Itu tak bisa dihilangkan.
Mencoba menata hidup yang baru dan melupakan masa lalu yang telah berlalu, itu sudah berulangkali aku jalani tanpa membuahkan hasil. Ada banyak kenangan indah dengan wanita itu.
Rasanya tidur dengan mimpi indah lebih baik dari pada bangun dengan kenyataan pahit.
Ketika masalah terus mendatangiku tanpa henti. Dan masalah datang... satu demi satu... Percayalah, aku memang pecundang.
Kegagalan menyerang musuh - demi melindungi keluargaku menyebabkan aku kehilangan Alen. Tak cukup sampai situ, aku kehilangan Lala dari lingkungan ku dan dia memilih hidup dengan Kevin.
'Apa ini yang dulu dirasakan Kevin saat ditinggal Samantha?'
Kini Lala memberi tembok besar, tak memberi kebebasan untuk mendekati dia. Aku sudah kehilangan segalanya. Hidup tanpa memiliki tujuan.
Kenapa aku lemah? aku ingin lebih kuat berdiri di atas perjuanganku tanpa bayangan Kakek Lewis. Aku ingin seperti Kevin bahkan melampaui dia.
Hampir satu tahun hubunganku dengan Kevin berantakan. Bukan ini yang kuinginkan. Terjebak dalam kekosongan. Bisakah aku dengan Kevin berteman lagi? caranya bagaimana.
__ADS_1
Memang aku tak sehebat dirimu, Kevin. Mungkin ... Aku akan memberikan kesempatan untukmu bahagia dengan Lala.
'Aku si pecundang akan melepasmu Lala.' Hatiku bergetar hebat.
Dan sekarang, aku disekap tanpa Anggota Bee. Tak pernah membayangkan, aku menghadapi ini sendirian tanpa Bee manakala aku yang terbiasa dengan perlindungan Alen dan Pedro. Mereka siap mengorbankan nyawa melindungiku.
Bugh!
Tendangan keras membuyarkan lamunanku di ruangan serba hitam ini.
Waktu dirumah sakit mereka membius kami. Aku terbangun dengan kepala yang ditutupi kain sampai seleher dan tangan terikaat kebelakang. Dalam perjalanan di mobil aku mendengar suara hewan-hewan penghuni hutan, aku yakin sempat melewati hutan dan berakhir di ruangan tanpa pemanas ini.
Kedua tanganku dirantai pada kaki kursi, begitu juga dengan Lala di sampingku. Cukup lama aku terjaga dengan badan begitu lemah, sepertinya efek bius belum sepenuhnya hilang.
Seorang pria paling maskulin yang baru datang menatapku dengan bengis.
Sedetik kemudian mata dia melebar dan mulutnya mengendur saat melihat Lala, cara memandangnya intens seperti mengenal Lala.
Mantel panjang, sarung tangan semuanya serba hitam. Jam limited edition berharga milyaran melingkar di tangannya.
Sepertinya, dia ketua mereka. Dari analisaku dia bukan musuh keluarga Lewis.
Mereka mulai berkonfrontasi.
"Chi osa legarlo?" (Siapa yang berani mengikatnya?)
"Simmons."
"Non sai chi è?" (Tidakkah kamu tahu siapa dia?)
"la ragazza era con lui, quindi l'abbiamo portato noi, capo." (Gadis itu bersamanya, jadi kami membawanya, bos)
Bahasa Itali, aku tahu apa yang mereka ributkan.
Orang yang dipanggil bos itu giginya terkatup, matanya seperti iblis, “Dannazione, osi toccarlo, Simmons!” (Sial, kau berani menyentuhnya, Simmons!)
Aku melebarkan mata manakala Tendangan tanpa bayangan itu mematahkan tulang rusuk orang yang di panggil Simmons.
__ADS_1
Dia tak waras langsung menyerang hati, hanya tiga kali tendangan bisa membuat orang itu tak sadarkan diri. Tendangannya sangat dalam mungkin organ hati Simmon hancur bersama remukan rusuk, darah keluar dari dada dan mulut hingga orang bernama Simmons itu kejang-kejang.
Membuatku bergidik, belum pernah melihat tendangan kuat dan secepat itu, apa dia Raja dari segala monster? sepakan dia seperti kuda yang mematikan.
Sial aku berurusan dengan orang yang salah.
Dua orang melepas rantai yang membelit tangan Lala. Dengan sisa tenaga, aku menghalangi mereka. Tubuhku bergetar. Sial aku tak berguna sekali.
Berdiri dengan susah payah dari kursi, selanjutnya aku ambruk tak memiliki tenaga.
Aku mendongak ke atas, dia menggendong Lala yang tak sadar.
"Don't take him," (Jangan bawa dia) lirihku menahan kaki bos itu. Dia menatap bengis saat meludahiku.
KREK...
Sekali gerakan dia melepaskan cengkraman dan sepatu bot itu balik melindas pergelanganku hingga aku merintih membuat dia menyeringai.
Bugh!
"Ahh!"
Aku tak melepaskan pandangan dari punggung lebar sang bos yang menggendong Lala seiring kepergian dia, manakala anak buahnya menendangku tanpa henti membuat penglihatan mulai kabur, sedangkan hantaman sangat keras membuat kepalaku terasa berputar, sekejap menurunkan kesadaranku.
...☘️☘️...
Richie mengeratkan Lala dalam gendongannya, dia mempercepat langkahnya karena Lala menggigil.
Di lift menuju lantai paling atas markasnya, jantungnya berdebar-debar, mata Richie terus menelisik ke wajah pucat dengan noda darah di wajah dan pakaian, selain itu bibir Lala sudah mulai membiru dan rambut sudah tak beraturan. Badan Lala begitu dingin dalam gendongan walaupun pakaiannya tertutup.
Dia membawa Lala ke kamarnya, maid telah mengganti pakaian Lala dengan -piyama beludru- berlengan pendek dan panjang semata kaki dengan berkancing depan.
Dokter wanita sedang keluar kamar, denyut jantung Lala lemah, Lala tengah diberi terapi infus hangat untuk mengembalikan suhu tubuhnya.
Richie menaikan selimut menutupi tubuh Lala, dia berbaring miring dengan kepala bersandar pada tangannya. Dia terus mengamati wajah Lala.
Matanya melirik ke sisi dinding saat dirinya terus menguap dan matanya tak tertahankan saat jam besar menunjukan pukul tiga pagi. Dia menekan tombol di sisi kiri bed, meninggalkan satu lampu dengan nyala redup.
__ADS_1
Kamarnya dibiarkan tak terkunci, karena perawat wanita akan rutin mengecek kondisi Lala.