
-POV Lala-
"Sayang."
Sebuah sentuhan di telinga saya mengagetkan.
"Sayang, kenapa kamu terus melamun?"
"Mas," kata saya tercekat. "Sudah sampai ya." Menatap sekilas Richie dengan tatapan tajamnya. Dia bercakap-cakap tanpa saya bisa mencerna sebab pikiran saya sangat kacau.
Merebahkan Vino di kasur depan Tivi, putra ku yang tertidur nyenyak dengan senyum indah di bibirnya tidak seperti biasa. Aku baru menemukan senyuman ini.
"Kamu kenapa? sakit?" Richie menangkub kening saya.
"Aku tidak apa-apa, sedikit pening. Setelah istrirahat sebentar pasti akan membaik. Tak perlu khawatir," kata saya sambil mengusap pelan tangan Richie.
Dia berjalan melepas kancing tiap kancing kemeja dan meraih kaos di lemari sebelah tivi. Punggung polosnya dengan bekas satu guratan sepanjang dari bahu kanan ke pinggang kiri, membuatku terpaku.
Dia menyeringai setelah mengibas kaos ditangannya. "Kamu,mengintip sayang?"
"Mengintip? Dari tadi kan saya memang melihat kesitu mas?"
"Tidur sana, nanti jam lima mas bangunin," kata Richie memasukan punggung pada kaus yang kekat.
"Aku harus memeriksa rekap keuangan." Saya bangkit dan pergi membersihkan kaki dan wajah.
"Ini berkasnya?" Richie menunjukan dokumen di atas meja ketika saya baru keluar kamar mandi sambil mengelap bulir-bulir air pada wajah dengan handuk putih. Badan ku remuk, aku tidak tahu apa aku harus menceritakan pada Richie atau tidak, saya ragu.
Saya mengangguk perlahan, "iya betul, biar aku saja yang periksa nanti."
"Ini mudah," dia membolak-balik dokumen.
"Aku nggak kuat, capek," dan kembali meraih Vino memindahkan ke dalam. Menutup pintu. Saya melepas gaun. Melepas bra hitam dan dan g-string merah ke tempat sampah.
Saya melangkah dengan berat seperti ada lem yang menempel dan menahan kaki saya pada lantai. Di depan meja rias, bahu saya semakin merosot, mengusap kulit. Saya mengepalkan tangan,l dan menggigit pipi bagian dalam hingga rasa logam begitu kentara.
Saya memandang dada saya, meraih fondation, mengeluarkan krim dan mengoleskannya, tangan saya gemetar, meratakan- tebal-tebal menutup bekasnya. Mata saya memerjap dua kali perlahan, bahu saya terguncang dan menahan beban tubuh di tangan pada pinggiran meja rias. Tubuh bergidik..
Dan saya jatuh terduduk, menahan berat kepala, langit terasa runtuh menimpa kepala. Kening bersandar pada meja rias. Bulir-bulir air mata jatuh. Dan saya menggigit pipi bagian dalam. Mengapa semua ini harus terjadi padaku! Das*r Ba*ingan!!
"Sayang bisa keluar sebentar, dimana penanya?"
__ADS_1
Panggilan Richie, menekan kemarahan dalam dada. Saya menyeka air mata dan bergegas berdiri entah mendapat kekuatan darimana tiba-tiba. Kembali. Saya menatap cermin, menatap tubuh polos saya, membuat saya makin bergidik.
Krim fondation sebesar kelereng, saya saya oleskan kembali dengan tangan gemetar. Saya bergeser meraih pakaian inti dan memakainya dengan cepat.
"Sayang... kamu tidur?"
Saya menghela nafas dalam-dalam, menelan saliva saya. "Sebentar, mas. Lala ganti baju." Daster terbal sebetis berwarna hijau saya mengenakannya.
Kemudian membungkuk, memeluk dan mengecup Vino. Aroma parfum yang begitu familiar di baju Vino.
Sekali lagi, saya memberikan bedak tipis pada wajah, memastikan tidak terlihat buruk.
Saya beranjak menuju ke sebelah Richie. Tangan kirinya mengangkat selembar kertas dengan mata fokus pada tumpukan berisi draft tagihan.
"Sepertinya, kemarin untuk mainan Vino, mas, jadi nyelip dimana penanya." Membuka Laci di sebelah Richie dan membungkuk meraih satu dus pena.
Sesuatu panas melingkar di pinggangku. Dia mengencangkan cengkraman di pinggang saya dan menarik lebih dekat. "Katakan, apa yang terjadi padamu?"
Saya bergetar dengan tatapan saya semakin tajam menatap dus pena. "Maksud kamu, mas?"
"Kamu banyak melamun semenjak dari toilet?"
Toilet? dia hanya menebak. Saya berdiri, menjepit satu pena dan menaruh di atas kertas.
"Mas," saya menyibak rambut hitam itu perlahan. Dia mendongak menatap intens.
"Aku hanya butuh istirahat," kata ku. "Kamu juga istirahat, mas."
"Sayang, apa ada yang mengganggu pikiran mu?"
Saya menelan saliva, tubuh saya membeku. Menjawab terlalu lama hanya membuat dia semakin penasaran. Kedua matanya terus memindai mata saya, aku sudah bertahun-tahun belajar menyembunyikan perasaan saya di depan Kevin. Saya rasa aku bisa melewatinya.
Berusaha tersenyum ceria dan tulus. "Mas, aku buatkan cobb dan kentang salad ya?"
"Sayang, jawab, siapa yang membuat mu melamun, laki-laki lain?"
Aku menelan saliva ku. Tertawa kecil. Kemudian menggeleng. Saya membutuhkan waktu untuk mencerna semua hal.
Maaf Richie.
"Kamu, ngomong apa sih, kenapa aku harus melamun kan orang?" saya menunjuk dokumen, "ini yang menganggu pikiran saya."
__ADS_1
"Cium aku."
Jantung saya berdebar sekaligus sakit. Maaf mas.
Dia tersenyum nakal. Saya Mengecup pipinya. Aroma cologne bercampur keringat pada rahang keras.
Jari-jari panas Richie menggali kepala saya. Dia memiringkan kepala. Saya tahu apa tujuannya.
mengoles bibir saya dengan Lidahnya dan sedikit memiringkan kepala. Matanya mulai terpejam.
"Sudah kan. Jadi mas mandi dulu, aku akan menyiapkan salad."
Dia tak mendengarkan ku dan membelai telinga saya. Perasaan aneh menggelitik dan saya merinding.
"Mas! tolong, aku cape," kata ku membuat dia tercengang.
"Ada apa dengan mu sayang?" Mata Richie mengembun.Mebuat saya semakin setres, saya ingin menangis, saya ingin berteriak, saya ingin marah. Apa semua lelaki dimatanya hanya S*x!!
Saya melepas tangannya dari kepala saya dengan kuat, "Maaf aku sedang lelah, sepertinya aku mau datang bulan, perasaan saya sedang sangat buruk."
Richie berdiri, dia menggenggam dua tangan ku. "Maaf Honey, saya yang kurang memahami kamu. Tolong maafkan saya."
Aku mengangguk, "mungkin aku terlalu berlebihan padamu, mas, aku yang salah."
Dia mendekap saya, dan saya tidak dapat menahan badan saya gemetar. Tidak, saya harus bertahan. Richie mengelus rambut saya, dan saya justru semakin gemetar, dan bergidik.
"Kamu tahu, aku akan selalu berdiri untuk mu. Jangan menutupi apapun dari ku, Honey."
Tidak Lala, jangan sekarang, tidak ada seorang pun yang boleh melihat kau menangis.
"Mas, aku mengerti. Aku buat salad dulu ya, kamu harus isi perutmu dulu."
Dia mengakat dagu ku. Mata saya bergetar. Bibir saya mere..mas satu sama lain, mengunci kuat-kuat dari serangan badai yang berputar-putar dalam kepala saya.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Aku mengangguk. Saya meraih tengkuk lehernya, dan saya berjinjit mengecup pipi kanan-kirinya, hanya dengan itu mampu menenangkan kecurigaan Richie.
"Kamu ingat, katakan saja padaku, dan tidak ada yang akan mengganggu mu, mengerti?"
"Iya mas," balas saya berusaha tersenyum dan dia mengecup kening ku satu kali dalam-dalam.Dia kembali pada dokumen kantor saya.
__ADS_1
Dan saya melangkah dengan berat. Menatap kosong isi kulkas. Bulir air mata, lolos kembali dari sudut mata.
Saya membuang semua isi kepala saya, mengembalikan fokus sebelum Vino bangun. Meraih alpukat, mentimun, tomat, daging ke dalam baskom.