
Dingin ruangan itu sangat kentara mengigit pipi yang tak terlindungi kain. Begitu Lala duduk di jubin, dingin menyengat kulit kakinya, baju dan mantelnya benar tak mempan.
Begitu lembab, bau karat dan bau lumut. Mengandalkan pencahayaan empat lampu redup dan oksigen yang terbatas, begitu pengap dan sesak.
"Bebaskan dia," seru Lala masih memegangi bahu Johan.
"Anda tengah membuat penawaran?" tanyanya sambil mengetuk sepatu flatnya pada lantai, "apa yang anda tawarkan?"
"Apa yang Anda inginkan? akan saya usahakan Tuan Rick..."
"Apa termasuk tubuhmu nyonya Saint?"
"Brengsek kau!" sentak Johan tak terima, "lawan aku jika kau memang lelaki, sialan."
Richie tertawa.
"Jadi apa tawaranmu nyonya Saint?"
"Apa bisa dengan uang?"
"Anda lucu, apa aku terlihat memerlukan uangmu Nyonya Saint."
"Bajingan! aku mengajakmu bertarung!" seru Johan.
"Kau tidak lihat semalam, kau mau berakhir sama seperti Simmons? kau sudah tak sabar rupanya. Kita lihat hadiah yang cocok untukmu," kata Richie pada Johan sambil menyalakan Cerutunya.
"Matikan itu! kau tidak lihat ada wanita hamil!" bentak Johan.
"Wo wo wo lihat kau coba mengaturku, kau tahu kau harus mati," kata Richie dingin, kaki kanannya terus mengayun-ngayun, tak bisa menahan kesabaran.
Mendengar itu Lala dan Johan tersentak, mereka berpandangan saat adrenalin langsung melejit. Johan mengepalkan tangan dan Lala yang sebelumnya memegang rantai yang membelit Johan, lalu melepaskan Johan dengan gemetar.
"Ucapan anda tak seriuskan, mana kunci rantainya, biar saya melepasnya," kata Lala dengan mulut gemetar, dia berdiri dengan bertumpu pada kursi di belakang Johan.
"Anda tak punya wewenang, lihatlah anda mulai mencampuri wilayah saya,"sahut Richie dengan nada meninggi, dia mengambil kain panjang tebal dari baki yang diberikan anak buahnya, sedangkan dua anak buah yang lain mendorong Lala pelan ke depan Richie.
Richie meraup kedua tangan Lala, "Nyonya Saint, Anda takkan siap dengan konsekuensinya jika terus begini, apa anda tak sayang pada nyawa Ayahmu .... Alen?" tanya Richie, dia mendongak tersenyum licik pada Lala yang terlihat syok, Richie menggenggam tangan Lala dan mengecup telapak tangan kiri Lala, "pilih mana? Alen atau teman mu?" tanya Richie lalu tersenyum mesum, dia menjilat telapak tangan kiri Lala.
DEG.
Bagai dihantam batu besar, kepala Lala terasa berat. Tak disangka jika Richie kembali menjadikan ayahnya sebagai ancaman. Jantung Lala berdenyut dengan tangan gemetar saat Richie mulai mengikat kedua pergelangan tangannya.
"Pasti ada pilihan Lain tanpa harus menghilangkan nyawa seseorang, Tuan Richie. Jika anda melukai seseorang itu bukanlah pilihan terbaikkk," kata Lala meringis saat Richie menarik ikatan tangannya dengan kuat, "Aw!"
"Aaaw!"
Raut wajah Richie berubah lagi, dengan sekali hentakan .... Richie menarik talinya kuat, "Jangan mengajari saya! Berani sekali Nyonya Saint," bentak Richie dengan tubuh Richie bergetar, otot-otot wajahnya menonjol, wajahnya telah merah padam, namun Lala tak gentar karena rasa takutnya semakin sirna.
__ADS_1
Anak buah itu menarik Lala duduk di kursi sebelah Johan, tempat semalam Lala di sekap.
"Tak perlu melukai Johan, kita bisa bicara baik-baik. Anda tidak bisa mengambil nyawa seseorang semau Anda walaupun anda bisa melakukannya," kata Lala dengan tenang.
Richie tertawa.
"Lala, sudahlah ... dia tak kan mendengar mu," lirih Johan.
"Mana bisa begitu, dia mengancam nyawamu... ini bukan kamu yang ku kenal, bukannya berusaha kau justru pasrah!" kata Lala, ritme dan nafasnya mulai naik.
"Lalu untuk apa aku berjuang hidup? percuma,di sisiku sudah tak ada kamu," kata Johan dingin, matanya menyorot keputusasaan pada Lala.
Bola mata Richie memutar ke kanan mencoba mencerna apa yang baru didengar, dengan punggung lebih bersandar pada kursinya.
"Ada apa dengan kamu, Jo. Kami semua menyayangi mu, jika kamu mati lalu kami bagaimana?" tanya Lala, tanpa sadar menyebut kami yang dia maksud dua anaknya.
Hidup Johan yang sudah gelap tak bisa mencerna ucapan Lala, hatinya yang tak karuan telah menenggelamkan dirinya.
"Kevin bilang kamu akan bertanding basket dua bulan lagi kan, seharusnya kamu semangat dan perlihatkan itu padaku, Jo," kata Lala menunduk memandang tangan yang mengepal... yang terikat di pangkuannya.
Satu tetes air mata jatuh ke mantel coklat, sesekali Lala memandangi kandungannya, "jadilah pemain basket yang hebat, tidak hanya untuk kami, tapi untuk negara kita Jo. Buat kami bangga padamu," kata Lala pelan, suaranya bergetar dan berat.
"Hanya selangkah lagi kan? jadi selesaikan sampai akhir. Aku ingin melihatmu memegang medali itu Jo. Sejauh ini kamu hebat, kami sangat bangga padamu, ayo lakukan itu demi kami," ucapan Lala terpotong saat tangan Johan yang terantai menyentuh tangan Lala yang terikat.
"Jika itu yang kamu mau, aku akan melakukannya,-demi kamu," kata Johan,
Suasana Hening, deheman Richie mengalihkan pandangan Johan, "siapa kau hingga kau begitu bernafsu dengan nyawaku?" tanya Johan melihat lelaki di depannya, dia merasa tak pernah berurusan dengan orang itu.
Pintu ruangan terbuka, masuklah empat orang lelaki besar sedang menggendong seorang wanita yang meronta-ronta di tengah mulut dan mata yang terbekap, tangan dan kakinya terikat membuat jantung Lala mulai tak terkendali, keringat dingin Lala mulai keluar, kepalanya berdenyut.
Begitu juga dengan Johan yang wajahnya tak berbentuk karena memarnya, dia melebarkan mata di tengah ketidak jelasan penglihatannya karena tertutupi oleh sekitar matanya yang bengkak, bibirnya yang terasa tebal memar itu mendecak, "lepaskan dia!" seru Johan manakala wanita itu didudukan dan dirantai.
Selanjutnya yang terjadi seperti apa yang diduga Johan. Para preman melukai wanita itu.
Mata Johan menangkap kegelisahan Lala, dia meraih lengan Lala dan terus memanggil Lala yang terbelalak dan air mata menggenang saat melihat wanita itu yang mulai disakiti. Panggilan Johan tak di respon Lala membuat Johan semakin menarik lengan Lala, namun Lala tak merespon bahkan Lala terlihat semakin membeku.
"Sudah ingat?" Tanya Richie, jarinya mengetuk pada kursi, tangan kirinya asik dengan cerutu.
"Lepaskan dia," kata Johan mendelik pada Richie, saat para pengawal itu makin berbuat sadis . Mata Lala semakin membulat, tubuhnya bergetar melihat wanita itu meronta dan menangis dalam bekapan.
"Tenanglah Lala," kata Johan dengan penuh penekanan saat melihat tubuh Lala yang semakin gemetar, "TUTUP MATAMU, dengarkan aku! Lala ! aku disini, semua akan baik-baik saja."
Richie melihat wajah Lala yang pucat pasi. Kristal-kristal air mata Lala mulai jatuh.
'Si keong, apa ketakutan?' Batin Richie.
"LALA! TUTUP MATAMU!" teriak Johan, dia menarik kasar rantai yang membelit pergelangan tangan dan berdiri maju kedepan, dia akan menyerang Riche namun jangkauan tendangannya tak mengenai Richie karena tertahan oleh rantai panjang yang mengikat tangannya.
__ADS_1
"Smettila!" sentak Richie membuat empat anak buahnya berhenti saat akan menyergap Johan. Mereka kembali pada posisinya, sedangkan Richie kini duduk lebih tegak dengan aura mulai mendominasi ke seluruh ruangan, tangan kanannya mengada dan assisten sigap meletakan pistol di tangannya.
Johan menggertak tanpa rasa takut dalam berdirinya, dia menarik-narik rantainya ingin menghajar Richie.
Ujung pistol ditiup Richie dengan tatapan intensnya dan mulut yang mengejek Johan, "Ah tendangan mu cukup cepat, apa kau punya keahlian? sebelum itu mari kita bermain dulu kan," kata Richie memutar-mutar pistolnya.
Johan mendelik tak terpengaruh ancaman Richie, tangan kanannya dia paksakan tarik. Tanpa peduli sakit dia berusaha lepas dari lingkaran besi yang membelit pergelangan tangan.
"Kembali ke tempatmu,"kata Richie penuh penekanan dengan pistol mengarah ke Johan.
Lala menatap nanar pada pakaian wanita itu yang di tarik paksa membuat Lala menjerit ketakutan "LEPAS!!"
Teriakan Lala mengambil alih semua perhatian didalam ruangan, tak terkecuali empat pemerkosa yang sempat terhenti saat menggerayangi wanita itu.
"AKU BILANG TUTUP MATAMU!" bentak Johan.
Lala mulai menutup matanya dengan bibir gemetar. Namun, telinganya seperti mata yang sangat jelas untuknya, setiap rintihan suara wanita terbekap dan suara tawa preman itu membuat pikirannya melayang ke saat malam kelam dirinya, "Sakit! Menjauhlah!! Tolong aku! Siapapun tolong aku!" Teriak Lala dalam tangisannya.
Johan memberontak karena rantai di kedua tangannya begitu kuat, jantung Johan semakin cepat, "Itu tidaklah nyata Lala, tetap disini, lawan pikiranmu Lala"
Richie mengangkat alisnya, tangannya memberi kode. Preman itu membuka penutup mulut wanita itu.
Jeritan memekakkan telinga dari wanita yang kesakitan karena perlakuan kasar preman, membuat Lala ikut menjerit, "MENJAUHLAH ! PERGI DARIKU!"
Johan semakin kuat menarik tangannya, "singkirkan mereka! Sialan kau memicunya!!"
Tak mempedulikan tangannya yang sakit ... Johan terus memaksakan membebaskan tangan kanan.
KRAK, tulang karpal dan metakarpalnya patah, ia berhasil melepas tangan kanan dari borgol, dia meringis kuat menahan nyeri luar biasa. Johan langsung berlari menarik tubuh Lala dari kursi kedalam dekapan Johan.
Tangan kiri Johan yang terantai mendekap perut Lala. Tangan Kanan Johan yang nyeri luar biasa berusaha menutup telinga kanan Lala. Sedangkan telinga kiri Lala di benamkan ke dada Johan.
Richie membelalakkan mata, melihat ambisi lelaki di depannya yang sampai mematahkan tulang tangan tanpa mempedulikan rasa sakit.
"Tak ada yang menyakitimu, Aku disini. Dengarkan ini aku Johan. Lala lawan pikiranmu." Johan memeluk kencang kepala Lala di dadanya. Lala meronta-ronta mendorong Johan, "Jangan sakiti aku!! Menjauhlah!"
Johan memejamkan mata mendengar tangisan memilukan wanita yang disakiti empat orang itu.
Tangisan ketakutan Lala dan tubuh Lala yang bergetar hebat membuat Johan geram dan mengatup mulutnya, sedangkan matanya mulai di selimuti kabut tebal karena Lala memberontak ketakutan.
Begitu Lala ketakutan dalam pelukannya, dia menangis meraung-raung, 'masih saja aku tak bisa membuatmu aman'.
Richie melirik anak buahnya yang lain, sang anak buah mengarahkan pistol ke kepala Johan.
"Kau bisa menghabisi ku, tapi lepaskan Lala," kata Johan dingin.
Mendengar kalimat Johan membuat Lala tersentak dan diam menahan sesenggukan.
__ADS_1
Pikiran Lala mulai kembali, dadanya sesak. Waktu terasa melambat begitu Lala mendongak menatap Johan yang berkaca-kaca. Lala melihat pistol di kepala Johan, bibir Lala gemetar,"Jo..." kata Lala tenggorokannya tercekat.
"Ya, aku ada bersamamu, mereka tak akan menyakitimu," kata Johan berusaha tersenyum.