Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 244 : BELA LALA


__ADS_3

"Ayah, ayo cepat kita keluar," Lala bermodal dengan sedikit cahaya dari jendela kecil, mencabut infus dari tangan ayah dan memapah Alen dengan susah payah, karena dirinya juga lemas.


Alen mengangguk dengan susah payah. Pintu terbuka dan Lala kaget setengah mati. "Pak Damar, dimana Richie?" tanya Lala saat lelaki itu menggendong Alen di punggung belakang.


"Apa anda bisa jalan nona? ayo kita harus pergi, kapal terbakar. Tuan Richie harus ke jerman mengurusi Paman Jin, ini serangan dadakan, cepat Nona," Damar melirik Lala yang jalan kesusahan.


"Sebentar, ada anak kecil, bisakah anda sendirian membawa ayah, saya akan menyusul."


"Tidak bisa, nona," kata-kata Damar terhenti saat orang berbadan besar masuk, dan Damar menyerahkan Alen pada anak buahnya.


"Ayo cepat, kemana yang anda maksud ke atas?" Damar memimpin di depan dan Lala mencoba mengimbangi langkah kaki di sisa tenaganya.


"Lala ..."


Menoleh ke lorong, tidak ada siapa-siapa, beberapa saat muncul seseorang, "Johan? ko bisa?" Lala ternganga masih mengikuti langkah Damar lewat tangga karena lift mati.


"Ya, sebenarnya aku tahu dari Pedro. Lalu Richie merengek dan meminta bantuan ku," sahut Johan berjalan di samping Lala.


"Helinya sebentar lagi akan datang, kau mau membawa kemana, Mar?" Johan bertanya pada Damar


"Ada anak kecil di atas, aku takut Damir terluka," sahut Lala mulai terengah-engah menaiki tangga.


Di depan -ruangan Ars- yang terkunci karena listrik mati, Damar menggebrak, dan Johan menyuruh semua mundur menjauh sampai secara harafiah sekitar sepuluh meter. Johan menutupi tubuh Lala setelah melempar sesuatu ke arah pintu.


BAMMMMM


Ngiiiiingggggggg

__ADS_1


Telinga sakit, jantung Lala ikut kaget karena dentuman, "Jo, kamu merusaknya."


"Sama saja, sebentar lagi akan rusak," Johan melepas jaket, memakaikan pada tubuh Lala dan menaikan resletingnya.


Mereka masuk ke dalam, di tengah asap gelap. Damar naik ke atas, Johan ke kiri dan Lala ke kanan, sementara penjaga satu berjaga di pintu.


Lala mencari, belum ketemu dan kembali ke titik awal, penjaga baru saja menghilang dari pintu, Lala mengikuti dan kembali turun satu lantai. Dia tanpa sadar berjalan terlalu jauh. Sampai dia teralihkan oleh suara minta tolong, dari lorong kamar.


"Bella? kamu terluka ..." Lala berjongkok di depan Bella yang meringis, dan perban yang penuh darah di kanan dan kiri bahu.


"Oh Lala, itu kamu? sakit," Bella merintih dengan badan menggigil.


"Kenapa bisa begini?" Lala menangkap tatapan Bella yang kosong, temannya itu duduk bersandar pada dinding dengan kondisi sangat lemah.


"Kevin menembak ku."


Lala terlonjak tidak percaya, "Kevin?" entah dia harus percaya pada siapa, tapi Bella tampak sangat lemah dengan keringat dingin di tubuh dan wajahnya. "Saya harus apa, saya panggil dokter ya, saya takut kamu kehabisan darah, Bell?"


"Mari kita cari tempat aman, Bell?" Lala merasa tidak tega, semua pikiran buruk tentang Bella seketika lenyap.


"Mengapa hidup saya begini Lala. Kevin memperko..saku," Bella menggelengkan kepala. Lala mengelap cairan bening dari pipi Bella.


"MAksud kamu?" Lala duduk di sebelah Bella. Seakan-akan ditikam pisau tajam sampai dada itu begitu ngilu tanpa alasan yang jelas.


"Saat kamu menghadiri pernikahan samantha, mantan suami mu yang brengs*k mengambil kesucianku." Bahu Bella terguncang dalam nada penuh kebencian, "Billy menyekap ku memaksa ku menelan pil kehamilan, dan aku menyembunyikan diantara gigi dan pipi, lalu meludahnya saat mereka pergi. Sampai aku tak ingat lalu seseorang memindahkan dan itu Kevin menyekap ku di Cambridge. Suamiku juga pacarku yang bernama James, yang cintanya tulus, menjadi enggan menyentuhku gara-gara Kevin sialan!"


Lala terdiam memeluk bahu Bella, tahu betapa kecewa dan sakit saat direnggut sebuah kesu..cian, terkadang membuat kebencian yang tidak hilang bahkan luka hatinya berulang disaat tertentu.

__ADS_1


"Aku membenci Kevin, Lala. Sama seperti kau membenci ku."


"Bell, aku tidak membenci mu," kata Lala dengan tulus, "bagaimana bisa aku membencimu? bukankah kita sekamar tanpa pernah ada masalah. Ayo, kita cari perawatan dulu untuk luka mu."


"Tidak, Lala, aku tidak mau kemana-mana," kata Bella menggenggam jemari Lala.


"Maksudmu, Bell?"


"Mari kita mati bersama."


Alis Lala berkerut dalam, "apa maksudmu, Bella? Oke, mungkin kamu sedang depresi, mari kita temui psikiater, mereka akan membantu."


"Membantu katamu?" Bella tertawa, Lala meyakini itu tawa sebuah keputusasaan.


"Bila dipikir mengapa kisah hidup kita hampir sama ya? masa-masa tanpa ibu, ya walaupun kau bertemu dengan ibu mu. Sialnya, kita sama-sama di perko-sa, lihat semua lelaki di dunia ini brengs*k, ya tentu suami dan abang ku adalah yang terbaik. Kamu tahu tidak, anak buah Kevin membu..nuh suami ku," menghadap Lala yang matanya mengembun, "dan Kevin, akan membu..nuh abangku, lelaki sialan itu menghan..curkan seluruh hidupku, dan aku sangat ingin membu..nuhnya, Lala! semua dia ambil dariku, kau tahu betapa kejamnya dia!!"


"Bell-"


"Kau pasti belum tahu rasanya sakit kehilangan orang yang kamu cintai, Lala. Suatu saat aku yakin kamu akan tahu bagaimana ... Kevin mencuci otak anak ku, Edrick menjadi seperti orang linglung, dan aku ingin membebaskannya dari Kevin, dan aku ingin Kevin mati. Bantu saya, Lala ... kau juga sama sakit kan? bayangkan semua yang pernah dia lakukan pada mu, ya aku mendengar semua masa lalu mu dari Johan soal trauma saat Kevin membawa ayahmu dan mengirim mu pada orang gila. Ayo, kita bukan perempuan yang boleh di injak-injak Lala, Kevin tak pantas hidup, Kevin pembu..nuh banyak orang, Lala, sadarlah!!"


"Hentikan, Bell, kamu membuatku bingung."


"Ku beritahu kau, aku di sekap tiga tahun, dan saat aku hamil dia sangat kasar pada saya! dia selalu mengancam akan menembak ku dan dia menembak di sekitar tubuhku! kau lihat dia psikopat! sampai anak ku lahir, dia masih menyekap ku. Mengapa kau membiarkan orang seperti itu, Lala! dia bukan orang! atau mari kita ma..ti bersama! setidaknya jangan biarkan aku sakit sendirian Lala!"


Lala memeluk Bella, "aku minta maaf untuk semua yang buruk yang telah kamu lewati, aku tidak tahu jika kau banyak mengalami kesulitan karena Kevin, tapi nyawa kita berharga, Bell, kita bisa hidup berdampingan dengan baik ke depan."


"Apanya yang baik! aku kehilangan James! James ku!" Bella mencengkram punggung Lala. "Apa kamu bisa menghidupkan, James ku, Lala? katakan!"

__ADS_1


Bella dan Lala histeris, ada sebuah kebencian di hati Bella, ada sesuatu yang menyakitkan yang tak bisa dikatakan Lala. Tapi Lala tahu bagaimana rasa sakitnya Bella.


"Mengapa Dunia terlalu kejam tak mengijinkan ku hidup dengan cinta! James ku! Mami ku! Bahkan aku belum tahu siapa ayahku! Sialan ... Lala, sampai kali terakhir aku datang ke tempat mami ku, dia masih tidak mau menemui aku, apa salahku coba, Lala? sudah berapa banyak bunga ku bawakan padanya, dan dia sama sekali tidak sudi melihatku. Ayo, Lala, kita mati saja."


__ADS_2