
"Vino!" Lala mengambil Vino dari RIchie, dan mencoba menenangkannya.
"hh kumpulh di hhh rumah saya hh." Pak RT mangap-mangap.
"Pak RT sudah tahu asma masih saja lari," celetuk tetangga.
Richie di bantu bangun pak Dennis .Bagi Richie luka seperti itu biasa, bagi yang melihatnya ketar-ketir.
Bianca memarkiran mobil ke rumah barunya, yang terletak di depan rumah yang paling besar yang tanpa sepengetahuan Lala sudah dibeli Richie. Tinggal menunggu sang pemilik lama pindah.
Jalanan di atur warga, dan mereka bisa lewat begitu saja, tak lupa yang memvideo juga ditahan untuk disidang kepala RT.
Ella Hudson yang mencoba merapikan rambut keritingnya yang semakin berantakan akibat ulah 'si nenek lampir' jalan berdampingan dengan Lala yang masih menenangkan Vino.
"Coba sini dik, dia takut pasti," kata bu Asih mengambil Alih. Biasanya di tangan bu Asih, tangisan Vino mereda.
Sekertaris RT menyuruh warga bubar, setelah para warga memaksa ingin melihatnya, tapi gagal.
Bianca di bersihkan lukanya oleh seorang ibu yang dikelanya.
Sedangkan Lala menyemprot pembersih luka pada lengan Richi sampai ke pergelangan yang terbaret luka. Dia membersihkan butir-butir hitam aspal yang menempel di area kulit mengelupas yang terlihat pink dan darah bercampur kotor akan menggumpal di atasnya.
Richie melipat baju lengannya yang bolong-bolong kena aspal.
Lala memasang melihat Richie sedikit meringis. Gimana ceritanya bisa seperti ini, Kamu telah menolong Vino, Richie. Sampe jatuh tengkurab dan terseret, untung kepala Vino tak kena aspal, jadinya tanganmu begini.
Bianca merasakan aura menakutkan pria itu. Sial berurusan dengan pria ganteng ini lagi. Tunggu, apa aku tidak salah dengar tadi. Apa mereka menyebut nama si kuman? sepertinya telinga ini harus diperiksakan.
"Bu Lala bisa ceritakan, bagaimana awal kejadiannya bisa-"
"Sorry, maxudnya Lala siapa ya?"tanya Bianca, dia memandangi wanita yang ditatap pak RT. Ja*ang itu mengapa disini? sial semprotan anti nyamuk terakhir diserobot dia, ayam kampus. Apa mereka suami istri? wah kesenangan ayam kampus dapat daddy sugar. Jangan-jangan dia menjual tubuhnya? Cih.
__ADS_1
"Sebelumnya saya perkenalkan." Pak RT mengarahkan tangan ke Bianca, "Bu, Lala perkenalkan dia ibu Bianca tetangga baru kita, baru pindah tadi siang."
"Apa?" Lala melebarkan mata. Jadi, Orang yang tadi pindahan, Mak Lampir. Wah, sudah dua kali ketemu saja hidupku sudah tidak tenang, apalagi tetangga, bisa-bisa aku mati jantungan.
Richie semakin menatap dingin pada Bianca seolah memberi peringatan keras, membuat Bianca membuang muka.
Tangan pak RT mengarah ke Lala, "Bu Bianca, dia Ibu Lala sekaligus pemilik kolam renang di ujung jalan depan."
Bianca memutar bola mata malas, terlebih mendengar nama itu menjadi ingat kuman. Tunggu, kenapa Ella kenal Ja*ang ini?
"Saya Ella Hudson teman dari Lala," ucap Ella saat Pak RT akan bertanya namanya.
"Jadi, begini Pak RT... " Lala menjelaskan kejadian sebenarnya dengan gamblang.
Kepala RT berusaha bersikap netral, dia tidak mau menyalahkan Richie yang sampai menendang Bu Bianca karena reflek menangkap bayi Vino, terlebih lelaki itu sudah menyumbang Solar Cell pada seluruh warga RTnya. Tuan ini seperti Milyader, pantas posturnya sangat Elegan dan selalu nampak tenang dalam setiap kondisi. Terkadang matanya, menyeramkan. Aku kan ketua RT, tidak boleh begini.
Ketua RT sedikit menyembunyikan rasa tidak nyaman, dia memegangi lututnya yang gemetar.
"O ..o ti-dak." Ketua RT berdeham dan duduk lebih tegak tapi lututnya tetap gemetar dan kakinya dingin, "Jadi, hari sudah mau gelap. Kalian juga ingin cepat beristirahat. Dan semua jelas berawal dari ketidak sengajaan. Sebagai sesama warga RT 05, mari hidup guyub rukun. Maka dari itu kita sama-sama legowo dan saling memaafkan. Silahkan berjabat tangan dan kita harus kembali ke rumah masing-masing."
Dengan terpaksa kubu Lala berjabat tangan dengan Bianca yang memasang wajah ketus ditekuk.
Saat pulang ke rumah, Lala mendapati ada yang berbeda saat dia melangkah sepanjang jalan, tapi tidak tahu apa.
Richie sudah masuk dalam rumah menggendong Vino. Dan Ella meminta nomor telepon Lala.
"Kamu bertetangga dengan Bianca? eh dia baru pindah ya?" Ella memasukan handphone ke sakunya.
"Bianca?"
"Kamu, lupa? dia ratu Bully sepupunya budi. Yang memukul kursi saat awal-awal kuliah deh, sampai kamu masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Oh, Bianca itu? penggila Johan?"
"Ya!"
"Astaga yang benar saja. Oh." Lala menggeleng dan tangannya memegangi jidat dengan postur tubuh condong ke depan seakan mau jatuh. "Wah,tidak bisa dibayangkan ke depan. Hari-hari ku akan jadi neraka!"
Bukannya karena takut, Lala bisa melawan secara fisik, tapi wanita itu bisa menghabiskan kesabarannya. Dia tahu betul sikap Bianca yang tidak pernah mau kalah dalam segala hal, terutama bila menyangkut popularitas.
"Kamu baik-baik saja? tenang saja aku akan membelamu bila dia macam-macam. Kudengar usaha garmen peninggalan mamah Bianca bangkrut, mungkin karena itu dia melarikan diri. Ha...ha..ha..."Ella Hudson melihat langit sudah biru gelap dan kabut mulai turun, dia menepuk bahu Lala, wanita itu terlihat banyak pikiran. "Ya sudah, mau gelap ini, duluan ya."
"Hati-hati di jalan! pelan-pelan saja." Lala melihat Ella melambaikan tangan lalu memutar balik mobilnya. Jalan di depan rumahnya, masih cukup rame akan pengunjungnya yang mau mengunjungi taman berlampu di sisi utara kolam renang, karena di sana terdapat kafe kecil kolaborasi dengan para tetangga.
Hari semakin petang, wanita itu menggeser tubuh, menutup pintu gerbang kecil. Dia mendapati ada yang aneh tapi entah apa. Dari luar terdengar teriakan cekikikan Vino. Anakku sudah kembali ceria, maafin Ibu, Vino.
Memasuki ruang tamu yang tidak terlalu besar dimana lampu sudah menyala, Wah Richie sudah seperti di rumah sendiri ya, cocok jadi penjaga rumah deh.
Lala terkikik, tapi tak berselang lama dia langsung mematung melihat mainan Vino yang banyak. TV berubah jadi besar lebar dengan VCD, alas tipis di depan tivi sudah terganti dengan yang lebih tebal dan terlihat empuk, di tambah kasur depan TV lebih lebar.
Lala melangkah cepat ke kamar. Kasur tuanya sudah terganti dengan spring bed dan tidak jauh dari sana ada keranjang bayi cukup besar bisa untuk satu orang dewasa, dan kamar yang sudah sempit itu kian ...
"Lala, saya tahu kamu tidak suka, hanya ini saja tidak lebih, jangan ditolak, disini begitu dingin-"
"Tuan Richie, " Kata-kata Lala terpotong saat menatap lantai dia berbalik dan mengetahui lantai kamar dan lantai ruangan tengah hingga ke dapur bahkan sampai ruang tamu yang tak disadarinya saat melangkah semua lantai jubin kini sudah tertempel lantai kayu, memang menjadi tidak terlalu dingin saat dipijaki. Bagaimana bisa berubah secepat ini, aku hanya pergi pagi dan pulang sore.
Lantai kamar mandi telah berubah motif batu alam dan ada shower dan kran baru simbol air panas dan air biasa.
Lala menggeser tubuh ke dapur. "Microwave? Oven?"
"Daya listriknya sudah ditingkatkan tak masalah, kuat kok."Richie mendekat pada Lala yang bertopang ke meja dapur, seolah wanita itu mau jatuh. "Jangan marah, kamu teman kecil terbaik ku, saya belum pernah melakukan hal baik padamu, jadi-"
"Teman masa kecil apa?" Lala mendongak menatap kosong Richie saat Vino minta beralih ke gendong Lala.
__ADS_1